Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Darurat
Panggilan untuk mengadakan rapat, dimana tersiar kabar tentang kedatangan Pengst atau orang menyebutnya sebagai pengikut iblis. Mereka terdiri dari berbagai jenis makhluk, termasuk manusia.
Ada seorang Raja dan Pendeta yang hadir dalam rapat. Pendeta itu telah meramalkan tentang kedatangan Pengst dan karena itu, mengumpulkan orang-orang kuat untuk bersama mempertahankan kota Dunggos.
Pendeta Rantao Musbeskus berdiri dengan sikap sopan terhadap raja. Ia lalu sedikit membungkuk pada semua orang yang hadir. Dia adalah orang yang mengumpulkan semua orang.
Sebagai seorang pendeta yang telah memanggil pahlawan (Rapphael dan Rent) ia merasa kontribusi cukup besar. Bersama para Pendeta lainnya, telah meramalkan tentang kedatangan Pengst.
"Paduka Raja, semua orang ... izinkan saya yang menjelaskan, maksud dari ramalan yang telah kami laksanakan. Di luar kota Dunggos, tepatnya lima kilometer dari gerbang, Pengst sudah mengumpulkan puluhan ribu tentara. Mereka sudah siap menyerang kota Kerajaan Dunggos ini."
Baru setelah mendengar perkataan pendeta itu, orang-orang mulai berbisik. Tidak menyangka, akan kedatangan Pengst secepat itu. Padahal pahlawan baru saja tiba belum lama. Masa harus menghadap pasukan iblis?
"Lalu, bagaimana kita harus menghadapinya? Lyra, kamu yang melatih pahlawan. Bagaimana latihannya?" tanya salah satu petinggi kerajaan. Karena tahu siapa yang bertugas melatih pahlawan.
"Saya baru melatihnya selama dua hari. Bukankah ada instruktur pedang yang lebih lama melatihnya daripada saya? Namun jangan khawatir, dia sudah bisa menggunakan sihir api. Juga bisa menggunakan sihir di pedangnya."
"Oh, baiklah ... bagaimana kami akan melawan musuh? Pahlawan baru tiba dan kita belum mempersiapkan pasukan. Apakah kita harus membiarkan ini terjadi?"
"Benar, kita butuh waktu untuk mengumpulkan pasukan. Mereka sedang berjaga di luar dan banyak yang tengah menjalankan misi di luar kota. Tidak mungkin mengumpulkan semua pasukan dengan singkat, bukan?"
Para petinggi itu saling berdiskusi dan terasa sulit karena sesaat lagi kota Dunggos akan segera hancur. Namun kesiapan berperang cukup sulit karena kurangnya pasukan yang memadai.
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Bagaimana jika kita menugaskan pada Guild Petualang? Mereka bisa menahan untuk sementara, kita bisa memobilisasi pasukan setelahnya."
"Itu ide yang bagus. Mau bagaimanapun, mereka tetap harus berkontribusi untuk kerajaan kita. Tuan Pendeta, bagaimana menurutmu?"
Bukannya bertanya pada raja yang ada di depan mata, justru mereka lebih percaya pada pendeta. Namun sang raja tidak bereaksi. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Rantao Musbeskus.
"Paduka, bagaimana jika kita melakukan apa yang dikatakan oleh mereka?" Barulah Pendeta Rantao Musbeskus berbicara, mengatasnamakan sang raja untuk memberi perintah.
"Baiklah ... seperti yang kalian inginkan. Segera buat laporan, kerahkan para Hunter dari Guild Petualang. Oh iya, kota Swrisdk juga dekat dengan kota Dunggos. Jadi, kabari mereka juga untuk membantu."
Mereka sama-sama menjawab, "Baik, Paduka." Karena sudah mendapat persetujuan, maka mereka pun bubar dan segera melaksanakan perintah.
Begitu perintah diturunkan, dengan segera memanggil semua yang berkepentingan. Sambil menunggu pasukan siap, mereka mulai bersiap-siap untuk bertarung.
Pengumuman telah disiarkan lewat surat dan beberapa media lainnya. Hal itu juga sampai di kota Swrisdk yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh. Hanya belasan kilometer dari kota Dunggos.
Begitu mendapatkan perintah atas nama Guild Petualang, Rapphael juga tidak terlepas dari perintah. Karena termasuk anggota Guild Petualang kota Swrisdk.
Meski berada di Rank F, itu masih berguna bagi guild. Seberapa banyak pasukan yang disiapkan, akan menentukan kemenangan. Meski hanya dijadikan umpan peluru, tetap harus menjalankan tugas.
"Perhatian semuanya, mengenai datangnya pasukan Pengst yang datang menuju kota Dunggos, kita sebagai petualang adalah membantu. Misi ini adalah misi darurat yang wajib diikuti semua petualang. Tenang saja, pihak kerajaan sudah mengumumkan, bagi yang banyak berkontribusi, akan mendapatkan hadiah misi dua kali lipat dari misi biasa yang kalian kerjakan ...."
Pemimpin Guild Petualang kota Swrisdk menyampaikan apa yang telah disepakati dengan Kerajaan Dunggos. Karena untuk menahan sementara pasukan Kerajaan Dunggos, maka ditentukan pasukan baris depan. Itu sebagai umpan bagi mereka untuk mengulur waktu. Pada akhirnya, akan banyak petualang yang kehilangan nyawa.
"Kalau mendapatkan hadiah misi, aku juga akan membantu. Baiklah, ikuti saya untuk membunuh Pengst!" Seorang pria berotot, gagah berani menyatakan kesediaannya. Tampak bersemangat dan penuh energi percaya diri.
Sementara yang lain, mereka ada yang bereaksi berlebihan karena mendapatkan dua kali lipat hadiah. Namun ada seorang yang tidak bereaksi. Justru menjadi malas karena ada misi itu.
Rapphael, orang yang tidak bereaksi berlebihan. Hanya mengingat kejadian dahulu. Ketika menghadapi Pengst di luar kota Dunggos, ia masih lemah dan hampir mati. Sebagai seorang pahlawan, justru disalahkan oleh berbagai pihak karena kota Dunggos telah dibobol dan hampir hancur.
Maka di kehidupan ini, ia tidak akan turut membantu. Niatnya hanya ingin melihat keramaian. Sementara Gwysaa telah mendaftarkan kelompok mereka yang hanya terdiri dari dua orang.
Pendaftaran dipercepat dan hanya perlu satu orang disetiap regu untuk mendaftar. Karena jumlah kelompok yang berjumlah cukup banyak, ada beberapa kelompok petualang yang bergabung. Mereka mengharapkan hadiah yang lebih besar.
Inginnya, setelah mendapatkan banyak anggota, maka kesempatan untuk berkontribusi lebih besar. Mereka beramai-ramai menawarkan kerja sama dalam kelompok.
"Hey, kamu yang di sana! Apakah kamu berminat bergabung dengan kelompok kami? Kami masih membutuhkan pelayan untuk membawa barang bawaan."
Mendengar kata-kata itu, Rapphael masih diam. Tidak ingin menanggapi orang yang meremehkannya. Apalagi orang yang lemah dan hanya mengandalkan jumlah kelompok besar.
"Hey, apakah kamu tuli? Aku mengundangmu masuk ke dalam kelompokku. Seharusnya menjadi kebanggaan buatmu. Karena memiliki kelompok kuat sepertiku. Jangan khawatir, kamu akan tetap mendapatkan komisi. Hanya cukup memberi setengah komisinya padaku."
"Tuan, kita sudah terdaftar. Apakah akan berangkat sekarang?" Gwysaa datang membawa surat rekomendasi. Setiap mendapatkan misi, maka akan membawa surat misi.
Itu akan berguna nanti ketika melaporkan misi telah selesai. Namun jika Hunter atau petualang mati dalam menjalankan misi, misi dianggap gagal. Nantinya jika mereka tidak kembali setelah perang, maka mereka bisa dianggap gagal dan tidak mendapatkan komisi.
Melihat Gwysaa, pria itu pun langsung berpaling arah. "Hey, nona cantik, masukah kamu satu kelompok dengan kami? Ku jamin, kamu akan mendapatkan perlindungan dan mendapatkan bonus misi. Akan ku tambahkan dua kali lipat, bagaimana?"
"Kita pergi dari sini," kata Rapphael yang langsung berjalan menjauh. Sementara diikuti oleh Gwysaa.
"Tunggu dulu! Apa yang kamu katakan? Kamu mau pergi bersama dia? Apa hakmu untuk membawa nona ini pergi? Apa kamu sudah bertanya padaku terlebih dahulu?"
Gwysaa berbalik dan memegang tangan pria tersebut. "Kamu tidak berhak berkata seperti itu pada tuanku." Langsung saja mematahkan tangan pria tersebut dengan satu gerakan.
"Akhh!" jerit pria sombong itu dengan suara nyaring. Rasa sakit begitu terasa ketika tulangnya patah menjadi dua bagian.
***