'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risau
"Mana kaki kamu yang sakit biar aku lihat," Rayan bertanya setelah Zafirah menyelesaikan minumnya.
"Ini, kaki kananku. Sepertinya keseleo," kata Zafirah menunjuk kakiknya yang sejak tadi ia luruskan.
"Biar aku lihat ya .." kata Rayan. Sebelum Zafirah menjawab, Rayan sudah lebih dulu membuka sepatu Zafirah dan melihat jika kaki Zafirah memang bengkak dan berwarna biru.
"Aduh sakit.." rintih Zafirah saat Rayan memegang kakinya.
"Ini sepertinya parah. Aku tidak berani memijat nya," kata Rayan dan diangguki oleh Zafirah. Keduanya saling bertatapan kemudian Rayan tersenyum.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa menggendong kamu sampai pos pendaftaran. Setelah itu kita cari bantuan," kata Rayan.
"Jangan. Itu tidak perlu. Kamu tidak perlu menggendong ku apalagi sampai pos pendaftaran. Itu masih sangat lama. Lebih baik kamu turun sendiri saja kemudian kamu minta bantuan agar ada tim yang menolong ku," saran Zafirah tapi ditolak oleh Rayan.
"Aku ini pria sejati. Mana mungkin meninggalkan seorang perempuan sendirian di tengah gunung seperti ini. Bagaimana nanti kalau ada genderu.."
"Husstt.. Jangan ngomong yang tidak-tidak. Sudah tau ini gunung dijaga omongannya," kata Zafirah sebal. Tangannya refleks menutup mulut Rayan.
Bukannya marah, Rayan malah tertawa kemudian mencium punggung tangan Zafirah.
"Baiklah, aku akan menjaga mulutku ini. Ngomong-ngomong siapa nama kamu ?" tanya Rayan yang sejak tadi ingin tau.
"Firah," jawab Zafirah cepat.
"Baiklah, Nona Firah. Kalau kamu tidak mau aku menggendong mu secara cuma-cuma kamu bisa membayar ku setelah kita turun nanti. Bagaimana," tawar Rayan. Ini hanya trik nya saja agar Zafirah mau digendong dan mereka turun bersama.
"Bayarannya apa ?" tanya Zafirah menyipitkan matanya.
"Katakan padaku, kamu di hotel seruni itu bekerja atau hanya mampir saja ?" tanya Rayan tidak sabar.
"Aku bekerja disana. Aku membantu kepala chef membuat hidangan. Kenapa ?" Zafirah bertanya balik
"Tidak apa-apa. Baguslah kalau begitu kamu harus mentraktir ku makan disana dan kamu yang memasak nya. Bagaimana ?" tanya Rayan menawarkan kesepakatan. Wajah tampannya terlihat menyebalkan dengan alisnya yang bergerak naik turun.
"Baiklah.. baiklah. Tapi jangan macam-macam ya," kata Zafirah pasrah. Ia juga tidak yakin akan tinggal disini sendirian saat Rayan turun. Apalagi tidak tenda yang bisa melindunginya dari hawa dingin ataupun hewan.
Setelah memastikan kondisi Zafirah aman akhirnya Rayan mengajaknya turun. Rayan meletakkan tas carrier miliknya di depan dadanya. Milik Zafirah dikenakan di punggung Zafirah sendiri kemudian Zafirah naik keatas punggung Rayan.
"Aku tidak yakin kita bisa turun dalam keadaan seperti ini. Kamu akan kesulitan," kata Zafirah seperti berbisik di telinga Rayan.
"Kamu sedang mengkhawatirkan ku ya ?" goda Rayan yang mulai berjalan perlahan. Kedua tangannya memegang tongkat hiking milik Zafirah.
Satu tangannya ia gunakan menopang tubuh Zafirah agar seimbang sebelah lagi ia gunakan untuk menggunakan tongkat.
"Maaf ya, aku merepotkan kamu" kata Zafirah setelah mereka berjalan sekitar sepuluh menit. Mereka tidak melihat ada orang lain yang sedang naik ataupun turun. Hanya ada mereka berdua di gelapnya belantara.
"Tidak apa-apa. Aku sanggup menggendong kamu," jawab Rayan dengan menoleh ke kanan agar Zafirah mendengar suaranya.
"Kamu tidak berat kok. Sebagai seorang chef, harusnya kamu makan yang banyak" canda Rayan namun tidak di balas oleh Zafirah.
Zafirah merasa dadanya berdebar dengan kencang. Antara malu dan risih. Ia berada sedekat dan seintim ini dengan laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya.
..
"Pa, Mama kok kepikiran sama Zafirah ya.." kata Mama Febi menelfon Papa Yusuf yang sedang bekerja.
"Mama doakan saja Zafirah selamat, Ma. Berdzikir supaya hati Mama tenang," balas Papa Yusuf dari seberang telfon.
"Iya pa. Semoga ini hanya perasaan Mama saja. Setelah ini Mama pulang. Papa pulang jam berapa ?" tanya Mama Febi.
"Mungkin Papa akan pulang malam, Ma. Di kampus sedang ada kegiatan," kata Papa Yusuf. Lalu keduanya mengakhiri panggilan.
"Sebaiknya aku sholat dulu," putus Mama Febi. Ia keluar dari ruangannya menuju mushola rumah sakit karena jam prakteknya sudah hampir habis.
Disisi lain, Zahra yang sedang bekerja juga merasakan hatinya gelisah. Seperti ada sesuatu yang tertinggal dan membuatnya tidak tenang.
Zafran yang tidak ada kerjaan masuk ke dalam ruangan Zahra dengan membawa dua cup kopi.
"Serius sekali.." goda Zafran.
"Eh, Tuan Zafran. Anda tidak ketuk pintu dulu ?" tanya Zahra menutupi kegugupannya.
"Sudah. Tapi kamu tidak menyahut. Jadi aku langsung membukanya," jawab Zafran.
"Mau makan siang apa ? biar Tomi yang memesankan untuk kita," tanya Zafran.
"Saya tidak ingin makan. Saya minum ini saja," kata Zahra mengambil cup kopi yang ada di hadapannya.
"Kenapa ? apa kamu sedang sakit ?" tanya Zafran panik. Sebab dilihat-lihat wajah Zahra sedikit pucat.
"Tidak. Saya tidak apa-apa," Zahra terkejut sebab Zafran ingin menyentuh keningnya. Mungkin maksud pria itu ia ingin memastikan sendiri kondisi Zahra.
"Eh maaf. Saya refleks saja," Zafran menggaruk kepalanya.
"Tidak, Tuan saya tidak apa-apa. Saya hanya mengkhawatirkan Zafirah. Tiba-tiba saja saya merasa dia sedang dalam bahaya," lalu Zahra mengatakan pada Zafran jika Zafirah sedang mendaki gunung sendirian. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya ia naik gunung sendiri, namun keluarganya tetap merasa khawatir.
"Kalian kembar, saya pernah baca perasaan anak kembar saling terhubung. Kalau kamu merasa dia dalam bahaya, kamu bisa mendoakannya," kata Zafran mencoba mengerti perasaan Zahra.
"Iya, Tuan"
"Zahra, apa sekarang kamu masih belum memiliki jawaban dari pertanyaan saya ?" tanya Zafran.
"Apa anda yakin dengan saya, Tuan ? saya hanya perempuan biasa dan mungkin nanti akan sulit untuk hamil jika kita menikah. Saya tidak mau mengalami hal yang sama dengan rumah tangga sebelum nya," kata Zahra serius.
"Saya tidak apa-apa jika memang bersama kamu tidak bisa mendapatkan keturunan. Elio saja sudah cukup. Saya mencintai kamu karena memang mencintai bukan karena ingin kamu memberikan apapun," kata Zafran tidak kalah serius pula.
"Saya butuh seorang pendamping dalam hidup saya, Zahra. Apa menurut kamu saya terlalu tua untuk kamu hingga kamu tidak juga menerima saya ?" tanya Zafran murung.
Zahra terkejut dengan pernyataan Zafran. Apa maksudnya. Zahra selama ini tidak juga menerima Zafran karena ia merasa tidak percaya diri. Bukannya menganggap Zafran terlalu tua untuknya.
"Apa benar kalau Tuan Zafran mencintai saya dan mau menerima semua kekurangan saya ?" tanya Zahra.
Zafran mengangguk mantap. Tidak ada keraguan dalam tindakannya. Matanya menyiratkan keseriusan.
"Besok saya kasih tau jawabannya.m," kata Zahra tersenyum.
"Baiklah, saya akan menunggu. Calon Nyonya Zafran.."
..
Waktunya Zafran diterima gak sih ???
karma tak Semanis kurma rasakno.