Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?
"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"
"Kenapa kalian bohong kepadaku?"
"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Dua wanita dengan masalah yang sama
Yudis membawa wanita itu ke salah satu rumah sakit terdekat untuk mengobati lukanya sekaligus untuk pemeriksaan lebih lanjut. Khawatir kalau sampai ada luka dalam pada bagian lututnya itu.
Tapi begitu mobil berhenti di area parkir, ponsel dari gadis itu berdering beberapa kali. Gadis itu hanya melirik sesaat. Namun, ketika telepon itu bersuara sekali lagi, ia mengambil ponsel tersebut dan mengecek. Senyuman mereka dan sepasang mata gelapnya bersinar setelah melihat nama orang yang memanggilnya.
Keraguan yang sempat tersirat dalam benaknya seakan menghilang. Ia langsung menekan tombol menerima.
"Dimas, ini beneran kamu yang telepon aku?" Ujarnya dengan antusias. Beda sekali dengan sikapnya yang dingin tadi.
"Wanita ini aneh...," ucap Yudis dalam hati.
"Kamu mencariku? Aku tau kamu khawatir dan masih cinta sama aku." Senyumannya semakin melebar.
"Gak, aku gak mau pulang kalau bukan kamu yang jemput!" Hanya dalam sekejap ekspresinya berubah menjadi muram.
Yudis yang memperhatikan gerak-gerik gadis di sebelahnya mengernyit. Rasanya ia mirip sekali dengan Liana.
"Aku ada di rumah sakit...." Tiba-tiba saja wanita itu membuka pintu mobil dan turun keluar.
Gadis itu berlalu begitu saja berjalan tanpa berkata apapun atau melirik ke arah Yudis yang sudah menolongnya.
Yudis tergerak untuk mengikutinya karena penasaran apa sih yang mau dilakukan gadis itu ketika ia berbelok dan tertutup pepohonan sekitar.
Tatapannya berubah dari penasaran menjadi takut. Ia menyaksikan sendiri bagaimana wanita yang baru diselamatkannya sedang melukai kakinya sendiri dengan sebuah batu besar yang mungkin ia temukan di jalan.
"Kau gila!!"
Yudis reflek menghampiri wanita itu, menariknya ke belakang dan berusaha menggapai batu yang dipegang. Tapi jelas wanita asing itu melawan.
"Jangan hentikan aku!!" Dia mendorong tubuh Yudis ke belakang.
"Kakimu berdarah!" Yudis menatap ngeri dengan cairan merah yang mengalir turun membahasi aspal pada jalanan.
"Bukan urusanmu!" Ia berteriak menoleh ke belakang untuk sesaat. "Kau tidak mengerti..., aku harus melakukan ini...," ucapnya terdengar lirih, lalu ia kembali melukai kakinya dengan batu tersebut hingga akhirnya ia sendiri terjatuh karena sudah tak kuat menahan sakit.
"Ahhh...." Wanita itu duduk lemas dengan kedua kakinya yang menyamping.
"He-hei...!" Yudis mendekatinya, sekali lagi berusaha menolong, tapi lagi-lagi wanita itu menolak.
"Kalau dia datang, tolong bilang kalau kau tak sengaja menabrakku hingga seperti ini," ujarnya tiba-tiba dengan semua rencana tanpa persetujuan Yudis.
"Apa? Kau suruh aku berbohong?" Tentu saja Yudis tak bisa mengikuti aturan itu dan menolak.
"Kalau kau pergi aku akan berteriak di sini dan menuduh mu telah melukaiku!" Dia menarik kaki Yudis yang hendak pergi dan malah memberinya ancaman.
"Dia benar-benar gila!" Ujar Yudis dalam hati.
"Baik, baik akan aku ikuti maumu!" Yudis terpaksa setuju daripada ia jadi sasaran amuk warga.
"Bagus, sekarang tolong buang batu itu." Ia menunjuk ke arah batu yang berlumuran darahnya sendiri.
"Ck...." Yudis hanya berdecak kesal dan mengambil baru tersebut, lalu membuangnya di pinggiran secara sembarang, yang penting jauh dari posisi gadis itu terduduk agar tak dicurigai.
"Lho, kamu kenapa Mbak?" Seorang wanita yang kebetulan melintas, baru keluar rumah sakit melihat wanita itu tergeletak di area lahan parkir. "Mau saya bantu?" Melihat adanya darah responnya langsung ingin menolong.
"Gak, gak perlu! Pacar saya mau datang kemari, gak usah dibantu!" Wanita itu menolak keras dan malah menyuruh orang tadi untuk pergi.
"Beneran? Kakinya sudah berdarah banget itu...," ucapnya yang melihat cairan merah yang mengalir segar.
"Udah dibilang pergi ya pergi!" Dengan kasar ia pun membentak agar wanita itu pergi.
"I-i-iya, astaga..., saya hanya mencoba menolong...." Dia pun cepat-cepat pergi dengan menggerutu.
Yudis berlari kecil menghampiri wanita itu lagi yang masih memiliki tenaga untuk memarahi orang lain.
"Jangan bersikap kasar seperti itu, dia hanya ingin menolong saja tadi." Yudis secara reflek menasehati sikap si wanita.
"Aku tidak meminta bantuannya," jawab si wanita cepat dengan sikap angkuh.
Tidak lama teleponnya berdering dan ia kembali merintih sambil mengatakan dirinya berada di area parkir bersama dengan pria yang telah menabraknya. Yudis memutar kedua-bola matanya mendengar semua kebohongan yang keluar dari mulut si wanita.
"Dia akan segera datang dan bersikaplah yang benar untuk meyakinkannya," ucapnya kepada Yudis dengan nada memerintah.
Perkataan wanita itu benar, karena setelahnya ada seorang pria datang bersama dengan wanita paruh baya.
Yudis terkejut saat mengetahui pria yang datang itu ternyata adalah Dimas, psikolog yang ia kenal lewat Liana.
Keduanya hanya saling bertatapan tanpa bersuara, seakan tahu ini bukanlah saat yang tepat untuk berbicara..
"Adelia!" Wanita paruh-baya yang ikut bersama Dimas langsung berlari, menangis, dan memeluk tubuh wanita asing itu. "Kita langsung ke rumah sakit ya, sekarang," ucapnya dengan suara gemetar setelah melihat luka yang dialami oleh Adelia.
"Dimas, kamu bakal nemenin aku 'kan?" Tapi tampaknya fokus Adelia hanya terpusat pada Dimas yang berdiri tak jauh darinya.
"Dimas bakalan ikut, kok!" Dimas tak sempat menjawab karena pertanyaan itu langsung disambar oleh wanita paruh-baya tersebut.
"Iya, saya ikut," jawab Dimas pada akhirnya meski terlihat ia sudah capek dengan semua hal yang bersangkutan dengan Adelia.
Gadis itu tersenyum puas setelah mendengar pria itu bersedia menemaninya.
"Kamu, kamu yang nabrak anak saya 'kan? Kenapa masih di sini? Cepat panggil perawat untuk bantu bawa anak saya!" Wanita itu meraung marah pada Yudis yang sedari-tadi diam. Dia bingung dan berusaha untuk mencerna semua hal.
"I-iya...." Pria itu reflek terkejut ketika pemikirannya belum utuh sepenuhnya dan bergegas berlari menuju gedung rumah sakit.
.
.
Selang 10 menit Yudis sudah kembali bersama seorang perawat wanita yang berjalan dengan membawa kursi roda.
Adelia saat itu merengek untuk dibantu oleh Dimas duduk di kursi roda tersebut.
"Dimas, tolong ya...," ujar sang ibu yang menyerahkan Adelia kepada Dimas.
Dimas sendiri tak banyak bicara. Ia langsung membantu Adelia berdiri dengan memapahnya sampai duduk di kursi roda tersebut.
Sang perawat yang hendak mendorong dicegah oleh Adelia yang meminta Dimas untuk mendorongnya. Lagi-lagi pria itu hanya menghela napas saja dan mematuhi permintaan gadis itu.
Yudis mengikuti dari belakang secara spontan. Jujur dia tak mengira akan menemukan kehidupan Dimas yang lain dibalik jas profesionalnya.
Sesampainya di dalam gedung rumah sakit, Dimas pun menyuruh ibunya Adelia segera masuk ke ruangan dokter bersama Adel, sementara ia menggunakan alasan untuk berbicara kepada Yudis, 'sang penabrak.'
Adelia tak curiga dan membiarkan Dimas untuk pergi bersama dengan Yudis berbicara di luar.
"Dengar, sebelum kau bertanya ada satu hal yang perlu kau tau kalau bukan aku yang membuat gadis itu terluka," ucap Yudis menjelaskan duluan. Ia tak mau terjadi salah-paham dan dituduh.
"Tak usah khawatir, aku tau, kok," balas Dimas yang lagi-lagi menarik napas panjang. "Aku hanya ingin tau apa yang dia lakukan sampai kakinya bisa terluka seperti itu?" Dimas sepertinya sudah sangat mengenal bagaimana watak dari Adelia.
"Percaya atau tidak dia melukai dirinya sendiri dengan batu," jawab Yudis jujur apa adanya, meski memang terdengar gila buat sebagian orang. Tapi Yudis sudah gak heran, karena dia pun pernah berurusan dengan orang seperti Adelia.
"Hah, bagus...." Dimas mengusap wajahnya sendiri.
"Lalu, kau akan membiarkan dia?" Tanya Yudis penasaran apa yang akan dilakukan oleh Dimas.
"Aku tak mau berurusan dengannya, aku sudah menemukan dia dan tugasku selesai." Jawaban Dimas terkesan dingin.
"Wow, kau tidak takut dia berbuat macam-macam?" Yudis agak terkejut, dibalik penampilan dan sikap sopan dari Dimas, pria itu ternyata bisa mengambil sikap lebih tegas dari yang ia perkirakan.
"Orang seperti itu tidak bisa diberikan celah untuk masuk kembali. Mereka harus diberi batas yang jelas." Pungkasnya seolah seperti sedang memberi nasehat untuk Yudis sendiri.
"Kau harus bisa tegas, itu kuncinya," ungkapnya sebagai kalimat terakhir yang begitu mengena untuk Yudis.
Dimas kemudian berjalan menjauhi gedung rumah sakit. Pria itu sepertinya hendak meninggalkan rumah sakit. Yudis mengikutinya dengan setengah berlari.
"Apa yang kau lakukan kalau dia nekad? Kau tidak takut? Kalau kau disalahkan dan berurusan dengan polisi?" Tanya Yudis dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin tahu sikap apa yang akan diambil Dimas.
"Kalau dia bertindak nekad, itu bukan salahku tapi pilihannya." Dimas berbalik menatap kearah Yudis dengan sebuah jawaban yang kuat. "Aku tidak mau menghabiskan waktu dan hidupku untuk orang-orang yang bisa menguras energi. Kalau keluarganya menyalahkan ku, itu hak mereka, tapi mereka tak bisa mengontrol untuk membuatku bersama dengan anak mereka dengan dalih 'demi kebaikan.' Itu trik klasik yang bakal menghancurkan hidup ku, kau sudah mengalaminya bukan...." Dimas berbicara sambil berjalan mundur.
Ah, perkataan Dimas benar-benar telah membuat Yudis merasa seperti orang bodoh.
"Sudahlah, aku mau pulang...." Dimas kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah parkiran mobil.
Apakah Yudis pada akhirnya dapat menentukan keputusan yang terbaik setelah mendapat pencerahan dari Dimas?
.
.
.
Bersambung....
A/N : Mohon dibaca dengan hati-hati dan lebih dipahami.
Terimakasih sudah mampir (≧▽≦).
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...