NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Naura menuntun Maya masuk ke dalam kafe milik Risa dengan langkah yang protektif.

 Lonceng pintu berdenting, dan Risa yang sedang berdiri di balik meja bar langsung menangkap sinyal dari ekspresi Naura. Tanpa perlu banyak bicara, Risa segera mengarahkan mereka ke ruangan privat di lantai dua yang biasanya digunakan untuk meeting terbatas.

"Duduk, Maya," ucap Naura lembut. Ia melepas jaketnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. "Ris, minta cokelat panas paling enak yang kamu punya. Pakai marshmallow banyak-banyak. Dan... comfort food apa saja yang manis."

Risa mengangguk mengerti, memberikan tatapan simpati pada Maya yang masih gemetar, lalu meninggalkan mereka berdua.

Setelah suasana agak tenang dan cokelat panas sudah tersaji di depan Maya, Naura menyandarkan punggungnya. Ia tidak lagi memakai senyum ceria palsunya. Tatapannya tajam, namun penuh empati.

"Oke, sekarang cerita," buka Naura pelan.

 "Siapa yang bikin lo sampai mau menyerah di jembatan itu?"

Maya memegang cangkirnya dengan kedua tangan, seolah mencari kehangatan.

 "Mereka... anak-anak geng The Roses, Naura. Kelompoknya Tasya. Mereka bilang gue sampah beasiswa yang nggak layak napas di udara yang sama dengan mereka."

"Tasya?" Naura mengingat-ngingat. "Si anak menteri yang hobi pamer tas baru setiap minggu itu?"

Maya mengangguk pelan, air mata kembali menggenang. "Awalnya cuma ejekan. Tapi belakangan, mereka mulai main fisik. Mereka ngunci gue di toilet, nyiram tas gue pake air kotor, dan yang paling parah... mereka ngancem bakal bikin bokap gue dipecat dari pekerjaannya kalau gue lapor ke sekolah."

Naura mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia paling benci dengan orang-orang yang menggunakan kekuasaan orang tua untuk menindas orang lain.

"Mereka juga punya foto gue yang... yang mereka edit," lanjut Maya dengan suara nyaris berbisik. "Mereka bilang bakal sebarin ke seluruh grup angkatan kalau gue berani muncul di depan Nadira. Mereka tahu gue takut banget."

"Jadi itu alasannya lo menghindar setiap kali ada keramaian?" tanya Naura.

"Gue nggak punya siapa-siapa, Naura. Gue cuma anak biasa di sekolah para raksasa. Gue pikir... kalau gue nggak ada, semuanya bakal selesai."

Naura menarik napas panjang, lalu meminum tehnya perlahan. "Dengerin gue, Maya. Mati itu gampang, tapi bikin mereka bayar itu yang seru. Lo udah ketemu orang yang salah buat diajak menyerah. Karena gue... gue nggak bakal biarin Tasya dan antek-anteknya tidur nyenyak mulai malam ini."

"Tapi mereka punya kuasa, Naura..."

"Kuasa itu kayak balon, Maya. Kelihatannya besar, tapi kalau ditusuk di titik yang tepat, bakal meledak dan nggak sisa apa-apa," sahut Naura dengan senyum tipis yang terasa dingin. "Mulai besok, lo masuk sekolah kayak biasa. Jangan tundukin kepala lo. Gue bakal ada di belakang lo. Dan soal foto itu? Biar gue yang urus."

Maya menatap Naura dengan rasa tidak percaya. "Kenapa lo mau bantuin gue? Kita bahkan nggak kenal."

Naura terdiam sejenak, bayangan masa lalunya yang kelam melintas sekilas. "Karena gue tahu rasanya nggak punya siapa-siapa saat dunia terasa mau runtuh. Dan karena gue benci banget sama orang yang ngerusak estetika hidup gue dengan cara yang pengecut."

Tepat saat itu, ponsel Naura bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal

“Lain kali kalau mau jadi pahlawan, pastiin nggak ada saksi mata. Gue masih pegang silet lo. – A”

Naura mendengus. Arkan. Si cowok kulkas itu ternyata benar-benar mengikutinya.

......................

Naura meletakkan cangkirnya dengan dentingan yang cukup keras hingga Maya sedikit berjengit. Ia bangkit berdiri, matanya menyapu seisi kafe yang mulai temaram.

 Benar saja, di sudut paling gelap dekat jendela yang menghadap ke arah jalan raya, seorang cowok dengan jaket hitam sedang duduk sendirian. Hoodie-nya menutupi sebagian wajah, namun aura "dingin" itu tidak bisa disembunyikan.

"Maya, tunggu sebentar di sini. Habisin cokelatnya," ucap Naura singkat.

Naura berjalan menghampiri meja pojok itu. Tanpa permisi, ia menarik kursi di depan Arkan dan duduk dengan kaki menyilang.

"Sejak kapan lo jadi penguntit, Kan? Kurang kerjaan banget ya?" desis Naura, suaranya pelan namun tajam, terjaga agar tidak terdengar oleh pelanggan di meja sebelah.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser sebuah buku sketsa kecil di atas meja, menatap Naura dari balik tudung hoodie-nya yang hitam legam. "Gue nggak ngikutin lo. Gue cuma lewat jembatan itu pas mau ke sini. Tapi ternyata, drama di jembatan itu jauh lebih menarik daripada sketsa gue."

"Tujuan lo kirim pesan itu apa? Mau meras gue pakai silet itu?" Naura mencondongkan tubuhnya, menatap Arkan dengan intimidasi.

Arkan mendengus pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Meras lo? Nggak ada untungnya. Gue cuma mau pastiin kalau lo nggak bikin masalah yang bisa narik perhatian polisi ke sekolah. Itu bakal ngerusak rencana gue."

"Rencana lo, rencana lo... Lo pikir dunia ini cuma soal labirin bawah tanah lo itu?" balas Naura sengit. "Ada orang yang hampir mati tadi, dan lo malah mikirin 'rencana'? Kulkas kayak lo emang nggak punya perasaan ya?"

"Justru karena gue punya otak, gue tahu lo nggak bisa nanganin The Roses sendirian cuma modal nekat," Arkan memajukan posisinya, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh Naura. "Gue tahu Tasya. Bokapnya punya akses ke keamanan digital sekolah. Kalau lo main kasar, lo yang bakal didepak dari Pelita Bangsa sebelum sempat kedip."

Naura terdiam sejenak. Ia benci mengakuinya, tapi Arkan benar soal akses digital itu.

 "Terus? Lo mau sok jadi pahlawan juga sekarang? Mau nawarin bantuan?"

"Gue nggak nawarin bantuan gratis. Kita kerja sama," ucap Arkan datar. "Gue butuh lo buat dapet akses ke ruang server di lantai tiga yang dijaga ketat. Sebagai gantinya, gue bakal bantu lo hapus semua data atau foto yang dipakai Tasya buat ngancem anak beasiswa itu. Gimana? Win-win solution."

Naura memutar bola matanya. "Lo bener-bener oportunis ya. Di saat orang lagi kena musibah, lo malah jualan jasa."

"Ini namanya strategi, Naura. Bukan jualan jasa," balas Arkan tenang. "Jadi, mau tetep jadi 'Gadis Ceria' yang sok jagoan sendirian, atau mau pake cara yang lebih bersih bareng gue?"

Naura menatap Arkan lama, mencari celah kebohongan di mata tajam itu. "Oke. Tapi satu hal, Arkan. Kalau lo berani khianatin gue atau pake data itu buat kepentingan pribadi lo... gue bakal pastiin denah 'labirin' lo itu sampai ke meja Keluarga Abraham."

Arkan hanya mengangkat bahunya ringan, seolah ancaman Naura hanyalah angin lalu. "Sepakat. Sekarang, mending lo urus temen lo itu. Muka lo udah mulai kelihatan capek, 'topeng' lo mulai retak."

Naura mendengus keras, berdiri dari kursinya sambil menyambar tasnya. "Silet itu... simpen baik-baik. Kalau hilang, lo yang gue cari."

"Tenang aja. Barang bukti selalu aman di tangan gue," sahut Arkan sambil kembali fokus pada buku sketsanya, seolah pembicaraan barusan tidak pernah terjadi.

Naura kembali ke meja Maya dengan perasaan campur aduk. Ia benci harus berhutang budi pada Arkan, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa dengan bantuan si jenius kaku itu, rencana menjatuhkan Tasya akan jauh lebih mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!