Rina menemukan pesan mesra dari Siti di ponsel Adi, tapi yang lebih mengejutkan: pesan dari bank tentang utang besar yang Adi punya. Dia bertanya pada Adi, dan Adi mengakui bahwa dia meminjam uang untuk bisnis rekan kerjanya yang gagal—dan Siti adalah yang menolong dia bayar sebagian. "Dia hanyut dalam utang dan rasa bersalah pada Siti," pikir Rina.
Kini, masalah bukan cuma perselingkuhan, tapi juga keuangan yang terancam—rumah mereka bahkan berisiko disita jika utang tidak dibayar. Rina merasa lebih tertekan: dia harus bekerja tambahan di les setelah mengajar, sambil mengurus Lila dan menyembunyikan masalah dari keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zuliyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Waktu berlalu cepat—sekarang Mimpi sudah berusia 4 tahun dan mulai masuk TK. Dia semakin cerdas dan selalu menyebarkan cerita tentang Adi dan jendela asli ke sekolahnya. Setiap hari pulang sekolah, dia akan langsung ke galeri, mencari Rina atau Lila, dan menceritakan apa yang dia pelajari hari itu.
"Bu, hari ini guru ajarkan menggambar rumah! Aku gambar rumah dengan jendela besar dan Papa Adi di depan!" ujar Mimpi sambil menunjukkan buku gambarnya. Rina mencium pipinya dan berkata "Cantik banget, sayang. Papa Adi pasti senang banget."
Pada bulan Januari, Ruang Belajar Seni di galeri asli mengadakan lomba seni untuk anak-anak TK dan SD dengan tema "Rumahku Bersama Papa Adi". Mimpi langsung mendaftar, dan dia membuat patung dari tanah liat, gambar jendela asli dengan Adi yang berdiri di depan, dan dia sendiri yang membawa bunga melati.
Pada hari pengumuman pemenang, Mimpi menang juara pertama! Dia naik panggung dengan bangga, menerima medali dan hadiah berupa set alat seni baru. Di panggung, dia berkata dengan suara jernih "Terima kasih! Patung ini untuk Papa Adi—dia buka jendela sehingga semua orang punya rumah. Aku ingin jadi seperti Papa Adi nanti!"
Semua orang menangis senang. Cinta yang sekarang sudah di kelas 3 SMA mendekati Mimpi dan berkata, "Kakak bangga banget sama Mimpi! Kamu benar-benar penerus impian Papa Adi."
Pada bulan Maret, keluarga mengadakan acara khusus di Taman Adi untuk merayakan hari kelahiran Adi yang keempat setelah dia meninggal. Mereka mengajak semua anak-anak dari Ruang Belajar Seni untuk datang dan membuat karya seni bersama. Anak-anak membuat papan hias dengan gambar Adi, jendela, dan bunga melati.
Mimpi memimpin anak-anak menyanyi lagu yang dibuat untuk Adi, "Papa Adi, kamu di hati kita, buka jendela untuk semua, kita akan lanjutkan impianmu..." Semua orang menyanyi bareng, dan bau bunga melati memenuhi udara.
Sementara itu, cabang galeri di Jakarta semakin berkembang. Mereka membuka Ruang Belajar Seni kedua di sana, dan banyak anak-anak Jakarta yang bergabung. Arif membuat program baru di aplikasi "Jendela Kita" yang dinamakan "Proyek Mimpi Adi"—tempat anak-anak dari seluruh Indonesia bisa mengajukan ide proyek seni untuk membantu orang lain.
Mimpi langsung mengajukan ide: dia ingin membuat "jendela kasih" untuk anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Dia mengusulkan untuk mengumpulkan bahan seni dari orang-orang, kemudian membuat jendela kolaboratif bersama anak-anak panti asuhan. Ide itu langsung diterima, dan banyak orang bersedia membantu.
Selama sebulan, Mimpi dan keluarga mengumpulkan bahan seni—kain, cat, kertas, dan kayu. Kemudian, mereka pergi ke panti asuhan di sekitar daerah, bersama anak-anak dari Ruang Belajar Seni. Mereka bekerja sama membuat jendela kolaboratif yang besar, dengan gambar rumah, bintang, dan tulisan: "Kita semua punya rumah di hati."
Anak-anak panti asuhan senang banget. Satu anak kecil berkata"Ini jendela pertama yang kita punya yang dibuat bersama. Sekarang panti ini lebih seperti rumah karena ada Papa Adi dan Mimpi." Mimpi tersenyum dan berkata: "Ya! Semua orang punya rumah, termasuk kamu!"
Pada bulan Juli, "Jendela Kasih" itu dipasang di panti asuhan. Acara peresmian dihadiri oleh banyak orang, termasuk pejabat daerah dan media. Rina berkata "Proyek ini adalah bukti bahwa impian Adi terus hidup melalui anak-anak, terutama Mimpi. Dia telah mengajarkan kita bahwa cinta bisa disebarkan melalui seni."
Mimpi berdiri di depan jendela yang baru dipasang, membawa bunga melati, dan berkata "Papa Adi, lihat ya! Kita sudah buka jendela kasih untuk teman-teman ini. Aku akan buka lebih banyak jendela lagi nanti!"
Pada malam hari itu, keluarga berkumpul di galeri asli, melihat foto proyek "Jendela Kasih" di aplikasi "Jendela Kita". Arif berkata "Sekarang sudah ada lebih dari 100 proyek 'Mimpi Adi' yang berjalan di seluruh Indonesia. Semua itu dimulai dari ide kecil Mimpi."
Rina melihat ke patung Adi dan jendela asli, menangis senang: "Kamu lihat, sayang? Anak kecil yang kamu cintai sekarang sudah mulai membangun impianmu. Dia adalah jendela baru yang terbuka, dan dia akan membawa cintamu ke lebih banyak orang."
Angin segar bertiup melalui jendela, menyebarkan bau bunga melati dan kebahagiaan yang terus menyebar. Patung Adi tampak seolah-olah tersenyum, dan Mimpi berdiri di sampingnya, tersenyum lebar sambil memegang bunga melati. Keluarga tahu bahwa impian Adi tidak akan pernah berhenti—karena sekarang ada Mimpi yang akan melanjutkannya, membuka jendela baru untuk semua orang, hari demi hari.