Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kambing Hitam (Visual)
Aku incar dia, menunggu apa yang akan keluar dari mulutnya.
Ayo, sayang.
Bohongi aku lagi.
Berani coba lagi?
Dia jelas berpikir dia bisa melakukan semacam sihir ke aku. Membuatku hilang ingatan. Membuatku lupa kejadian itu. Membuatku lupa dia.
Itu yang dia mau, kan?
Dan itu bikin hatiku terbakar.
“Kenapa kamu enggak duduk?” tanyanya lembut.
Dokter terapisku yang sempurna ini ternyata aktor kelas berat. Dan di balik topeng itu ada sesuatu yang lain.
Aku incar matanya, mencari si pembunuh itu. Tapi yang aku lihat cuma warna ungu aneh yang seperti bertanya balik ke aku. Aku akhirnya duduk di kursi seberangnya, masih mengincar dia.
“Selamat pagi, Rowena. Semoga transisi kamu di sini enggak terlalu bikin bingung.”
Keinginan untuk bilang ke dia kalau aku tahu yang sebenarnya, hampir membuatku meledak. Aku ingin banget lihat apa yang akan dia lakukan kalau aku buka mulut. Aku ingin melucuti semua senyum palsu dan tatapan datarnya.
Dia bakal marah?
Atau dia bakal coba membunuhku lagi?
Aku merinding, tapi bukan takut, lebih ke … yah, semacam excited.
Aku geser lututku. Ya, ternyata itu benar-benar membuatku terpancing. Soalnya dia memang gila.
“Senyummu lebar banget. Ada yang menyenangkan?” tanyanya. Aku gigit bibir nahan tawa.
“Oh, aku enggak tahu,” jawabku santai, senyum-senyum sok polos.
“Bisa dijelasin?” Dia menyandar di kursinya, menyatukan jari-jarinya. Mata ungunya menancapku, tajam banget.
Ada sesuatu dari dirinya yang seperti memintaku untuk menurut.
Aneh.
Dan aku enggak tahu, efek samping apa yang timbul dari meminum darah vampir.
“Rowena?” Dia memanggilku lagi karena aku belum jawab.
Aku menutup mata sebentar, merasakan sensasi dingin naik melewati tulang punggung. Aku suka banget waktu dia menyebut namaku. Begitu aku buka mata, aku cecar si pembunuh di depan aku. Tangannya bersih. Tapi aku tahu, dia lebih suka kalau tangan itu belepotan dengan darah.
Mataku turun lagi ke dadanya yang bidang, dan sialnya, imajinasi aku langsung lari kemana-mana.
Aku membayangkan kakinya terbuka di bawah meja, pahanya yang besar dan berotot itu menempel ke kursi, memanggilku buat duduk di atasnya.
“Dua malam lalu, kamu dibawa pihak berwenang. Kamu ngelakuin pembunuhan massal di pom bensin dekat rumahmu. Mayat-mayat yang dimutilasi ditemukan di bagasi mobilmu.”
Omong kosong yang manis.
Aku langsung tersenyum ke pembohong gantengku itu.
Belahan jiwa aku.
Jadi dia belum meninggalkanku sepenuhnya. Dia enggak mau buang aku. Dia di sini, bareng aku. Dokter Terapi sempurnaku. Kita memang ditakdirkan buat kayak begini, kan?
“Bohong,” kataku. Aku tarik napas dalam-dalam. Dia akan sadar kalau aku ingat semuanya. Dan aku enggak sabar lihat reaksi dia. Senyum di bibirku susah banget ditahan.
“Enggak. Mereka pikir kamu salah satu Bloodveil Butcher. Pembunuh berantai terkenal itu udah lama enggak muncul di kotamu, kan?”
Kegembiraanku langsung meledak.
Jadi ini rencananya.
Dia mau aku yang disalahkan. Biar semua mata menjauh dari dia. Biar dia bisa terus berkeliaran, membunuh sana-sini, tanpa gangguan, dan kebasan buat melakukan itu.
“Aku … aku enggak bunuh orang-orang itu,” geramku. Aku tatap dia tajam. “Kamu yang bunuh. Kamu itu Bloodveil Butc—”
Kalimatku terputus ketika dia bangkit dari kursinya dan langsung menerjangku. Amarah yang keluar dari tubuhnya seperti badai. Semua otot yang biasanya tampak seksi berubah menjadi ancaman, dan dia meraih leherku.
...જ⁀➴୨VISUALৎ જ⁀➴...
...જ⁀➴୨VISUALৎ જ⁀➴...