NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Sang Putri dan Sang Monster

Siang harinya, suasana Akademi Sihir Royal Aethelgard lebih panas dari biasanya. Bukan karena matahari, melainkan karena gosip yang menyebar seperti api liar.

​"Kau dengar? Putri Aeliana menantang murid baru itu!"

"Si anak Baron miskin? Varian Valdris?"

"Ya! Katanya dia bersikap kurang ajar pada Putri di perpustakaan. Putri ingin memberinya pelajaran tata krama."

​Arena Duel Akademi, sebuah colosseum mini yang mampu menampung seluruh siswa dan guru, sudah penuh sesak. Di tribun utama, para profesor duduk mengamati, termasuk Kepala Sekolah. Mereka tertarik melihat kemampuan Sang Putri, calon Pahlawan masa depan.

​Di tengah arena berpasir putih, Putri Aeliana berdiri dengan anggun.

​Dia mengenakan Light Battle Dress, baju zirah ringan berwarna putih-emas yang dirancang khusus untuk penyihir perang. Rambut peraknya diikat kuda, melambai tertiup angin. Di tangannya, dia memegang Starlight Staff, tongkat sihir kelas legendaris yang ujungnya bertahtakan kristal cahaya. Wajahnya cantik, namun tatapannya tajam dan penuh determinasi.

​"Dia terlambat," gumam Aeliana, mengetukkan kakinya dengan tidak sabar.

​"Maaf, tadi antre di kantin. Rotinya enak."

​Suara santai itu datang dari pintu gerbang lawan.

​Varian berjalan masuk. Dia tidak memakai armor. Dia hanya memakai seragam akademi biasa dengan lengan digulung sebatas siku. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Tidak ada tongkat sihir. Tidak ada persiapan.

​Sikapnya yang santai itu membuat penonton riuh.

​"Dia meremehkan Putri!"

"Dia pasti mau mati!"

​Aeliana mengerutkan kening. Rasa kesal yang dia rasakan semalam di perpustakaan kembali memuncak. "Varian Valdris. Kau akhirnya datang. Kuharap kau sudah siap untuk meminta maaf di depan semua orang."

​Varian berhenti sepuluh meter di depan Aeliana. Dia menguap kecil.

​"Langsung saja ke intinya, Tuan Putri," kata Varian, suaranya diperkeras sihir agar terdengar ke seluruh stadion. "Apa taruhannya?"

​"Jika aku menang," seru Aeliana lantang, "Kau harus berlutut, meminta maaf atas ketidaksopananmu, dan menjelaskan jujur apa yang kau cari di Sektor Terlarang semalam."

​"Dan jika aku menang?" tanya Varian.

​Aeliana mendengus. "Mustahil."

​"Jika aku menang," potong Varian, nadanya tiba-tiba menjadi dingin dan tajam, memotong sorak-sorai penonton. "Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Wajahmu mengganggu pemandanganku."

​Hening.

​Satu stadion terdiam. Kata-kata itu begitu kasar, begitu menghina. Mengatakan wajah Putri Kerajaan "mengganggu" adalah penghinaan tingkat tinggi.

​Wajah Aeliana memerah padam karena marah. "K-Kau... Baik! Kita lihat siapa yang akan menyesal!"

​Wasit, seorang guru senior, mengangkat tangannya dengan ragu. "Kedua belah pihak siap? MULAI!"

​BOOM!

​Aeliana tidak membuang waktu. Dia langsung merapal mantra tanpa chanting (rapalan bisu), tanda jenius sejati.

​"Holy Arrow!"

​Lusinan anak panah yang terbuat dari cahaya padat muncul di udara di sekeliling Aeliana. Dengan satu ayunan tongkat, anak panah itu melesat serentak ke arah Varian seperti hujan peluru.

​"Mati kau!"

​Penonton menahan napas. Anak panah cahaya itu cepat dan mematikan.

​Varian tidak bergerak.

Dia tidak menghindar.

Dia tidak mengeluarkan tongkat sihir.

​Dia hanya mengangkat satu tangan kanannya ke depan, telapak tangan terbuka.

​Semua orang menunggu Varian mengeluarkan sihir kegelapan (seperti rumor hasil tes masuknya yang error) atau elemen tanah untuk bertahan.

​Tapi yang keluar dari tangan Varian membuat satu stadion terbelalak.

​Cahaya.

Cahaya Putih yang menyilaukan.

Lebih terang, lebih murni, dan lebih padat dari milik Aeliana.

​"White Wall (Dinding Putih)."

​Varian menciptakan dinding persegi panjang dari energi False Divinity.

​Blaaar! Blaaar!

​Anak-anak panah Aeliana menabrak dinding cahaya Varian.

​Secara teori sihir, jika elemen yang sama beradu, yang lebih lemah akan hancur dan meledak. Tapi anehnya, tidak ada ledakan.

​Saat anak panah Aeliana menyentuh dinding Varian, anak panah itu... hilang. Lenyap tanpa suara.

​Sebenarnya, dinding Varian (Void) sedang "memakan" serangan itu. Tapi secara visual, terlihat seperti cahaya Varian begitu dominan hingga menelan cahaya Aeliana.

​"Apa?!" Aeliana terbelalak. Serangannya tidak mempan? "Elemen Cahaya?! Kau pengguna Elemen Cahaya?!"

​"Kau terlalu banyak bicara, dan sihirmu terlalu lemah," ucap Varian bosan.

​Dia menurunkan dindingnya. Tapi energi itu tidak dibuang. Varian memadatkan sisa dinding itu menjadi satu titik di ujung jari telunjuknya.

​"Biar kutunjukkan bedanya cahaya lilin dan cahaya bintang."

​Varian menjentikkan jarinya.

​"False Judgment (Penghakiman Palsu)."

​Sebuah tombak cahaya raksasa terbentuk instan di atas kepala Varian. Ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari tombak cahaya manapun yang pernah dilihat siswa di sana.

​Dan tombak itu melesat.

​Kecepatannya tidak masuk akal.

​Aeliana panik. Insting bahayanya menjerit. "Shield of Light! Aegis! Sanctuary!"

​Dia merapal tiga lapis perisai pertahanan terkuatnya secara beruntun. Kubah emas melindunginya.

​CRAAAASH!

​Tombak "Cahaya" Varian menghantam perisai Aeliana.

​Lapisan pertama hancur seperti kaca.

Lapisan kedua meleleh.

Lapisan ketiga... tembus.

​Tombak itu menghancurkan segala pertahanan sang Putri, lalu berhenti mendadak dengan kontrol yang mengerikan. Ujung tombak itu berhenti tepat satu sentimeter di depan hidung Aeliana.

​Angin dari serangan itu menerbangkan rambut perak sang Putri dan merobek sedikit lengan bajunya.

​Aeliana jatuh terduduk. Kakinya lemas. Matanya yang emas bergetar menatap tombak putih di depan wajahnya.

​Dia bisa merasakannya. Aura dari tombak itu. Warnanya putih suci, tapi rasanya... Dingin. Kosong. Hampa. Itu bukan kehangatan Dewa Cahaya. Itu adalah dinginnya kematian yang menyamar.

​"Itu... bukan cahaya biasa..." bisik Aeliana, air mata ketakutan menggenang di sudut matanya. "Apa... apa kau ini?"

​Varian menjentikkan jarinya lagi.

​Poof.

​Tombak raksasa itu pecah menjadi butiran debu cahaya yang indah, menghujani Aeliana seperti salju berkilauan. Pemandangan yang sangat cantik, namun mematikan.

​Varian berjalan mendekat perlahan. Suara langkah kakinya adalah satu-satunya suara di stadion yang hening itu.

​Dia berdiri menjulang di atas Putri yang masih terduduk syok. Varian menunduk, wajahnya datar, kacamata sihirnya memantulkan wajah Aeliana yang ketakutan.

​"Menyerah?" tanya Varian singkat.

​Aeliana menelan ludah. Bibirnya gemetar. "A-Aku... menyerah."

​Wasit meniup peluit dengan canggung. "PEMENANGNYA... VARIAN VALDRIS!"

​Sorak sorai membahana di arena. Meledak seketika.

​"HEBAT! DIA MENGALAHKAN PUTRI DENGAN ELEMEN YANG SAMA!"

"Dia pasti jenius Cahaya yang tersembunyi!"

"Kuat sekali! Tombak itu luar biasa!"

"Varian! Varian!"

​Para siswa yang tadi mengejeknya kini meneriakkan namanya. Para guru mengangguk kagum, mengira mereka baru saja menemukan berlian mentah. Kepala Sekolah tersenyum puas.

​Varian berdiri di tengah sorakan itu. Dia melihat ke sekeliling tribun. Dia mengangkat tangannya dan melambai sedikit, lalu tersenyum ramah pada penonton—senyum palsu yang dilatih sempurna di depan cermin.

​"Terima kasih, terima kasih," ucapnya pelan.

​Namun di dalam hatinya, di balik senyum ramah itu, Varian tertawa mengejek. Suara hati iblisnya berbisik kejam.

​Lihatlah domba-domba bodoh ini. Mereka bertepuk tangan untuk serigala yang baru saja menunjukkan taringnya, hanya karena taring itu dicat putih. Mereka memuja pembunuh mereka sendiri.

​Varian berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Aeliana yang masih menatap punggungnya dengan tatapan campur aduk: takut, benci, dan... kekaguman yang tak ingin diakui.

​Langkah pertama menguasai Akademi: Selesai.

1
pengemar novel
Gareth nyebelin banget 😡
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔
pengemar novel
wih... kuat banget
pengemar novel
endingnya di luar dugaan di kirain bakal berpetualang bersama adiknya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!