“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat Raras
Bayu mengambil map cokelat itu dari tangan kurir dengan gerakan yang disengaja lambat, jemarinya yang terawat rapi menyentuh permukaan kertas dengan kepura-puraan teliti.
“Cuma memastikan semuanya lengkap. Dokumen penting soalnya,” ujarnya, lebih ditujukan pada kurir yang menunggu, tetapi matanya tak lepas dari Raras.
Raras hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya terasa kering. Setiap detik terasa seperti satu jam. Di depan matanya, surat perintah eksekusi untuk keluarga Cokrodinoto sedang diperiksa oleh sang algojo sendiri.
“Oke, sepertinya sudah benar,” kata Bayu akhirnya, senyumnya kembali terpasang. Ia menyerahkan kembali map itu kepada si kurir.
“Terima kasih, Mas. Tolong pastikan sampai hari ini juga.”
“Siap, Pak.” Kurir itu mengangguk, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu kaca lobi yang berputar.
Kini hanya ada mereka berdua di sudut lobi yang agak sepi. Keheningan yang ditinggalkan terasa berat dan penuh ancaman.
“Kerja bagus, Rara,” bisik Bayu, nadanya merendahkan.
“Lihat, kan? Kalau kamu nurut, semua jadi gampang.”
Raras tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di dalam saku seragamnya, kukunya menancap ke telapak tangan, mencoba menyalurkan amarah dan ketidakberdayaannya ke dalam rasa sakit fisik yang bisa ia kendalikan.
“Sudah, sana kembali kerja. Lantai ruang rapat kotor tuh,” perintah Bayu seenaknya, sebelum berbalik dan melangkah menuju lift eksekutif dengan angkuh.
Raras mematung sejenak, menatap punggung Bayu yang menjauh. Ia baru saja membantu musuhnya selangkah lebih dekat menuju kemenangan.
Bukti digital di ponselnya terasa begitu rapuh, begitu tidak nyata dibandingkan map cokelat yang kini melaju di jalanan kota menuju kehancuran keluarga ini.
Raras tidak bisa kembali bekerja. Tidak bisa menyapu lantai atau mengelap meja seolah tidak ada apa-apa. Otaknya berputar kencang.
Dokumen itu adalah apa. Sekarang ia butuh kenapa. Dendam Bayu terlalu dalam untuk sekadar urusan uang. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih pribadi. Sesuatu yang tersembunyi di jantung kediaman Cokrodinoto.
Paviliun Tua.
Dengan langkah yang terasa otomatis, Raras meninggalkan gedung kantor. Ia tidak peduli jika ada yang melihatnya pergi di jam kerja. Ia naik ojek daring, pikirannya melayang-layang, mencoba menyusun kepingan teka-teki yang masih berserakan. Lilin berbau aneh, obsesi Bayu pada pusaka, sabotase bisnis, dan kini kudeta warisan. Semua itu pasti punya satu titik awal.
Setibanya di kediaman utama yang sepi, Raras langsung menuju paviliun belakang. Udara di dalamnya terasa lebih dingin dari biasanya, pekat dengan aroma kayu cendana dan debu yang tak tersentuh zaman. Tempat ini adalah saksi bisu kejayaan dan, mungkin, rahasia tergelap keluarga Cokrodinoto.
Matanya menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang. Lemari-lemari ukir, guci-guci porselen, dan sebuah gamelan perunggu yang tertutup kain beludru. Ia pernah melihat Bayu di sini, dekat rak tempat pusaka disimpan. Tapi ia mencari sesuatu yang berbeda dari lainnya. Sebuah catatan. Sebuah sejarah...
Instingnya menuntunnya ke sebuah peti kayu besar yang tergeletak di sudut ruangan. Peti itu terkunci. Namun, saat ia meraba-raba permukaannya, ia merasakan ada yang aneh pada papan lantai di bawahnya. Salah satu papan kayu jati itu terasa sedikit goyang saat ia injak.
Dengan jantung berdebar, Raras berlutut. Menggunakan ujung kunci kamarnya, ia mencongkel celah di antara papan kayu itu. Dengan sedikit usaha, papan itu terangkat, menampakkan sebuah rongga gelap di bawahnya. Di sana, terbungkus kain sutra yang sudah kusam, tergeletak sebuah album foto tebal bersampul kulit rusa.
Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat album itu. Debu halus beterbangan, menari-nari di seberkas cahaya matahari yang menembus celah jendela. Ini dia. Ia bisa merasakannya. Jawaban yang ia cari ada di sini.
Raras duduk bersila di lantai yang dingin, membuka album itu dengan hati-hati. Halaman-halaman pertama berisi foto-foto hitam putih Eyang Putra di masa muda.
Eyang yang gagah dengan setelan beskap, Eyang bersama mendiang istrinya, Eyang bersama ayah Radya saat masih kecil. Semua potret kebahagiaan keluarga terpandang.
Raras terus membalik halaman, matanya memindai setiap wajah, setiap detail. Hingga ia sampai pada sebuah halaman di bagian tengah. Di sana, sebuah foto besar terpajang sendirian. Foto tiga orang pemuda yang berdiri dengan latar belakang pendopo megah.
Yang satu ia kenali dengan jelas Eyang Putra, dengan senyum percaya diri khas keturunan Cokrodinoto. Di sebelahnya, seorang pria dengan perawakan mirip, mungkin saudara Eyang.
Tapi pandangan Raras terkunci pada pemuda ketiga. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam dan penuh ambisi. Garis rahang dan bentuk hidungnya… persis seperti Bayu.
Di bawah foto itu, sebuah tulisan tangan kuno dengan tinta yang mulai pudar menjelaskan segalanya.
Putra Cokrodinoto, Suryo Cokrodinoto, dan abdi dalem kinasih, Danu Adinegoro.
Adinegoro. Nama keluarga Bayu.
Napas Raras tercekat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Ini kakek Bayu. Tapi bukan itu yang membuatnya ngeri. Di bawah nama Danu Adinegoro, ada coretan tinta merah yang lebih baru, seolah ditambahkan bertahun-tahun kemudian. Sebuah coretan yang menyilang nama itu dengan kasar, dan di sampingnya tertulis dua kata yang menusuk jiwa.
Sumpah Pengkhianat.
Raras membalik halaman itu dengan cepat. Halaman berikutnya kosong, kecuali selembar guntingan koran tua yang menguning. Judulnya terpampang jelas.
“KONFLIK PUSAKA COKRODINOTO: KERIS KYAI JAGAD DILAPORKAN HILANG, SEORANG ABDI DALEM DIUSIR.”
Semuanya terhubung. Kilasan visi yang pernah ia lihat saat menyentuh tempat penyimpanan keris. Perseteruan. Pengkhianatan.
Bayu bukan hanya seorang ajudan yang serakah. Ia adalah cucu dari seorang abdi dalem yang diusir karena dituduh mencuri pusaka utama keluarga. Ini bukan soal uang. Ini adalah dendam turun-temurun. Sumpah seorang kakek yang diwariskan pada cucunya untuk merebut kembali apa yang ia anggap sebagai haknya.
“Mencari apa, Nyonya Raras?”
Suara dingin itu memecah keheningan, membuat Raras tersentak hebat hingga album itu hampir jatuh dari pangkuannya.
Ia mendongak dengan panik. Di ambang pintu paviliun, bersandar dengan santai seolah ia pemilik tempat itu, berdirilah Bayu. Senyumnya yang biasa ramah kini lenyap, digantikan oleh seringai tipis yang penuh kemenangan dan kekejaman.
“Kelihatan menarik sekali,” lanjut Bayu, matanya tertuju pada album di tangan Raras. Ia melangkah masuk, suara sol sepatunya menggema di lantai kayu.
“Buku dongeng keluarga, ya? Biar kutebak, kamu sudah sampai di bagian favoritku. Bagian tentang ... pengkhianat.”
Raras segera menutup album itu dan bangkit berdiri, memeluk benda itu erat-erat ke dadanya seolah itu adalah perisai.
“Apa maumu sebenarnya, Bayu?” tanyanya, suaranya bergetar tetapi tegas.
“Mauku?” Bayu tertawa kecil, tawa yang tidak mencapai matanya.
“Mauku sudah hampir tercapai, Raras. Kamu terlambat, sangat terlambat.”
Ia berhenti beberapa langkah di depan Raras, tatapannya menusuk dan dingin.
“Kamu pikir dengan menemukan album usang itu kamu bisa mengubah sesuatu? Kamu pikir ada yang peduli dengan cerita versi kakekku atau versi kakeknya Radya?”
“Radya akan peduli. Eyang akan…”
“Eyang?” potong Bayu dengan nada mengejek.
“Eyangmu itu sekarang terbaring di ranjang rumah sakit, Raras. Koma. Mungkin tidak akan pernah bangun lagi. Dia tidak bisa menolongmu.”
Setiap kata adalah tusukan belati es. Raras merasakan harapan di dalam dirinya terkuras habis.
“Dan Radya?” Bayu mendengus.
“Pria itu sedang sibuk menandatangani dokumen yang kuletakkan di mejanya. Dokumen pengalihan kuasa sementara atas seluruh aset Cokrodinoto kepadaku, demi ‘menjaga kestabilan perusahaan’ selagi Eyang sakit. Dokumen yang sama dengan yang kamu kirim ke notaris tadi. Semuanya sudah diatur dengan rapi.”
Seringai di wajah Bayu melebar menjadi senyum sadis. Ia menatap Raras dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapan predator yang sudah berhasil menyudutkan mangsanya.
“Jadi, sekarang katakan padaku,” bisiknya, suaranya rendah dan penuh ancaman.
“Siapa yang akan percaya pada seorang penjual jamu sepertimu saat semua bukti hukum dan keadaan ada di tanganku?”
Raras mundur selangkah, punggungnya menabrak lemari ukir yang dingin. Ia kalah. Di setiap lini, ia sudah kalah.
Bayu maju selangkah, mengulurkan tangannya.
“Sekarang, serahkan album itu. Sudah saatnya sejarah ditulis ulang oleh pemenangnya.”