Mampukah janda muda menahan diri saat godaan datang dari pria yang paling tabu? Setelah kepergian suaminya, Ayana (26) berjuang membesarkan anaknya sendirian. Takdir membawanya bekerja di perusahaan milik keluarga suaminya. Di sana, pesona Arfan (38), paman direktur yang berkarisma, mulai menggoyahkan hatinya. Arfan, duda mapan dengan masa lalu kelam, melihat Ayana bukan hanya sebagai menantu mendiang kakaknya, melainkan wanita memikat yang membangkitkan gairah terpendam. Di antara tatapan curiga dan bisikan sumbang keluarga, mereka terjerat dalam tarik-ulur cinta terlarang. Bagaimana Ayana akan memilih antara kesetiaan pada masa lalu dan gairah yang tak terbendung, di tengah tuntutan etika yang menguji batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Kebangkitan dari Kubur
“Rio…?”
Bisikan itu nyaris tak keluar dari kerongkongannya, diiringi teriakan putus asa yang tertahan saat sosok itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi.
Gerakan Rio begitu cepat, nyaris tak terlihat. Hanya pantulan tajam bilah pisau di bawah cahaya bulan yang menjadi penanda. Ayana memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang tak terhindarkan.
Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang.
Sebuah sentakan kuat menariknya ke belakang. Tubuhnya menabrak dada bidang Arfan. Paman Direktur itu merangkul Ayana erat, membawanya mundur beberapa langkah.
“Jangan macam-macam, Rio!” suara Arfan menggelegar, penuh peringatan. Ada nada terkejut dan marah yang tersirat, namun ketegasannya tak goyah.
Rio mendengus, pisau di tangannya diturunkan perlahan. Senyum tipis, dingin, muncul di bibirnya. Senyum yang dulu begitu Ayana kenal, namun kini terasa asing dan mengerikan.
“Macam-macam? Apa yang kau harapkan, Paman? Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku,” kata Rio, suaranya serak dan berat, jauh berbeda dari Rio yang dulu ia kenal.
Vina melangkah maju, tangannya mengusap punggung Rio dengan ekspresi puas. “Ayana, Ayana… kau pikir bisa lari dari takdirmu? Dan kau, Arfan… beraninya kau merebut istri orang mati?”
Ayana membuka matanya. Pandangannya kosong, menatap Rio yang berdiri di depannya. Pria yang ia tangisi setiap malam, yang ia kira telah meninggal dalam kecelakaan tragis dua tahun lalu, kini hidup, berdiri di hadapannya sebagai ancaman.
“Bagaimana… bagaimana mungkin?” Ayana berbisik, suaranya bergetar.
Rio tertawa sinis. “Kau terkejut, Sayang? Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak semudah itu mati.” Matanya menyala, penuh amarah dan kebencian. “Kematianku… itu hanyalah awal dari rencanaku.”
Arfan mengeratkan pelukannya pada Ayana. “Rencana? Rencana apa, Rio? Dan Vina… apa semua ini ulahmu?!”
Vina tertawa kecil. “Tentu saja. Semua ini adalah mahakaryaku. Bukankah begitu, Rio?” Ia menatap Rio dengan tatapan penuh arti.
Rio mengangguk, matanya tak lepas dari Ayana. “Ayana, kau tahu betapa aku membenci pengkhianatan. Aku meninggalkanmu kekayaan, nama baik, dan putri kita. Dan apa balasanmu? Bermesraan dengan pamanku sendiri?”
Hati Ayana mencelos. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri, pada Rio, pada Vina, pada seluruh situasi ini. “Kau meninggalkan kami? Kau memalsukan kematianmu sendiri? Demi apa, Rio? Demi uang? Demi ambisimu yang gila?”
“Demi kebebasan, Ayana!” Rio membentak. “Kau pikir enak hidup di bawah bayang-bayang ayahku? Menjadi penerus yang tak pernah diinginkan? Aku butuh jalan keluar. Dan kecelakaan itu… itu adalah tiket emas-ku.”
Arfan mendengus. “Tiket emas untuk menghilang dan membiarkan keluargamu berduka? Membiarkan Ayana mengurus semua sendiri? Kau pengecut, Rio!”
“Pengecut? Aku telah merencanakan ini selama bertahun-tahun! Aku ingin lepas dari semua kekangan itu! Aku ingin hidupku sendiri!” Rio melangkah maju, pisau di tangannya kembali terangkat. “Tapi semua hancur saat aku melihatmu. Saat aku melihat kau berani-beraninya bersenang-senang dengan Ayana. Dengan milikku!”
Ayana merasakan ketakutan yang dingin menjalari tulangnya. Ini bukan Rio yang dikenalnya. Ini adalah monster yang penuh dendam. Pria di depannya bukan lagi suaminya, ayah dari putrinya. Dia adalah orang asing yang mengerikan.
“Milikmu?” Arfan maju selangkah, menempatkan Ayana sepenuhnya di belakangnya. “Ayana bukan barang, Rio. Dan dia tidak pernah menjadi milikmu sejak kau memalsukan kematianmu sendiri.”
“Kau pikir kata-kata kosong itu bisa menyelamatkanmu, Paman?” Vina menyela, senyumnya semakin lebar. “Kami sudah lama mengawasi kalian. Kami tahu semua. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap kebohongan yang kalian sembunyikan.”
Di balik pepohonan, suara langkah kaki semakin mendekat. Para pengejar yang tadi sempat mereka lompati kini kembali. Kali ini, mereka jauh lebih banyak. Beberapa dari mereka memegang senter, menyorotkan cahayanya ke arah Arfan dan Ayana.
Mereka terkepung. Tidak ada jalan keluar.
“Apa yang kau inginkan, Vina? Rio?” tanya Arfan, mencoba tetap tenang meski situasinya semakin mendesak. “Kau ingin uang? Atau kau hanya ingin melihat kami menderita?”
Rio tertawa. “Uang? Aku akan mengambil semua uangku yang kau kelola, Paman. Dan Ayana… dia akan kembali padaku. Dan kau, Arfan… kau akan membayar mahal atas pengkhianatanmu.”
“Kau sudah gila, Rio!” seru Ayana, air matanya tak terbendung. “Kau tidak akan mendapatkan putri kita! Kau tidak pantas menjadi ayahnya!”
Ekspresi Rio berubah bengis. “Oh, ya? Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan percaya pada janda gatal yang berselingkuh dengan pamannya sendiri, atau pada suami yang baru kembali dari kematian?” Ia menunjuk Ayana dengan pisaunya. “Kau akan menyesal telah mengkhianatiku, Ayana.”
Vina mendekat, matanya berkilat-kilat. “Dan untuk Ayana, kami punya kejutan lain. Kejutan yang akan membuat hidupmu lebih ‘berwarna’ dari yang bisa kau bayangkan.”
Para pengejar kini sepenuhnya mengepung mereka. Lingkaran cahaya senter menyorot ke wajah Ayana, membuatnya menyipitkan mata. Ia bisa melihat seringai di wajah beberapa pria asing itu.
Arfan menarik napas dalam, matanya menatap tajam ke arah Rio dan Vina. “Kau tidak akan bisa lolos begitu saja dengan ini, Vina. Semua perbuatanmu akan terungkap.”
Vina hanya mengibaskan tangannya. “Terungkap? Siapa yang akan percaya? Kau akan berakhir di penjara, Arfan. Dan Ayana… dia akan kehilangan segalanya. Putrinya, hartanya, bahkan harga dirinya.”
Rio melangkah maju, tangannya mencengkeram lengan Ayana dengan kasar. “Ikut aku, Ayana.”
Arfan segera memukul tangan Rio, menarik Ayana kembali ke pelukannya. “Jangan sentuh dia!”
Sebuah senter tiba-tiba menyorot tajam ke mata Arfan, membuatnya terpaksa berkedip. Di saat yang sama, salah satu pria dari kelompok pengejar melayangkan pukulan keras ke wajah Arfan. Pria itu tersungkur, Ayana berteriak panik.
“Arfan!”
Rio memanfaatkan kesempatan itu. Ia kembali mencengkeram Ayana, menyeretnya menjauh dari Arfan yang masih terhuyung. Air mata Ayana bercampur dengan debu, ia berusaha meronta, tapi cengkeraman Rio terlalu kuat. Ia merasakan pisau Rio menekan punggungnya, memberinya peringatan untuk tidak melawan.
“Lepaskan aku, Rio! Kau sudah gila!” Ayana memekik, menatap Arfan yang kini dikeroyok oleh beberapa pria. Kakinya menendang, tangannya mencakar, namun Rio tidak bergeming. Ia hanya menyeret Ayana semakin dalam ke kegelapan hutan.
Dari kejauhan, Vina tersenyum puas, menyaksikan Arfan yang tak berdaya. Ia melambaikan tangan kepada Rio, seolah memberi isyarat agar cepat bergerak. Rio menarik Ayana lebih cepat. Ia bisa merasakan air mata dan ketakutan Ayana.
“Ini belum berakhir, Ayana. Ini baru permulaan dari nerakamu,” bisik Rio dingin di telinganya, sementara Ayana hanya bisa melihat bayangan Arfan yang mulai tak terlihat lagi di tengah kepungan orang-orang itu. Satu-satunya yang bisa ia dengar kini adalah suara Rio yang semakin menjauh dan jeritan putus asa yang tertahan di dalam dirinya.
Ia berteriak, memanggil nama Arfan, namun suaranya tenggelam dalam kehampaan hutan yang kelam. Sebuah tangan kasar membekap mulutnya. Ayana diangkat, dan pandangannya mulai kabur saat ia melihat Arfan, yang kini tergeletak tak berdaya di tanah, dikelilingi kegelapan.
“Arfan…” gumam Ayana, sebelum kesadarannya direnggut oleh kegelapan yang sama pekatnya dengan hutan di sekitarnya.
Benar2 membingungkan & bikin gw jd malas utk membaca novel ini lg
Jgn membingungkan pembaca yg berminat utk membaca novel ini