NovelToon NovelToon
Wajah Tersembunyi

Wajah Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Pengganti / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Mafia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

Dara, seorang detektif yang menangani kasus pembunuhan berantai harus menelan kenyataan pahit. Pasalnya semua bukti dan saksi mengarah padanya. Padahal Dara tidak kenal sama sekali dengan korban maupun pelaku, begitu juga dengan anggota keluarga dan saksi-saksi yang lain.


Dalam keadaan yang terpojok dan tanpa bantuan dari siapapun, Dara harus berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dalam aksi pembunuhan keji tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Apa yang sebenarnya terjadi Firman?" tanya Ardi seraya menghampiri Firman yang sudah duduk di sofa dan membuka laptopnya.

"Aku juga tidak tahu, aku baru akan memeriksanya," jawab Firman yang juga sudah melihat berita seharian ini di kantor.

Ardi pun duduk di sebelah Firman dan terus memperhatikan dia yang tengah bekerja. Dengan lihai Firman memainkan jari-jarinya di atas keyboard dan menatap ke layar laptop.

Suasana menjadi hening untuk waktu yang cukup lama, karena mereka semua tidak mau mengganggu Firman yang tengah bekerja. Hanya ada sesekali suara mereka yang sedang makan keripik, ataupun membuka minuman kaleng.

"Bagaimana tempo hari aku tidak menyadarinya," celetuk Firman yang membuat semua orang segera menatapnya.

"Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Ardi.

"Hmb, ternyata CCTV di rumah sakit tersebut terhubung ke tiga server. Satu rumah sakit itu sendiri, dua aku dan ketiga adalah orang lain."

"Tapi aku tidak bisa melacaknya," ucap Ardi.

"Apa dia lebih ahli darimu?" celetuk Maria.

"Sepertinya iya," jawab Firman.

"Apa kita harus minta tolong pada temannya Arum?" tanya Ardi.

"Siapa?" tanya Firman.

"Itu, anak yang tempo hari juga membantu," jawab Ardi sembari menatap ke arah Arum.

"Putri?" tanya Arum.

"Iya, mungkin saja jika dua otak genius digabungkan bisa menemukan titik terang," jelas Ardi.

"Boleh saja, undanglah dia kemari," ucap Firman dengan sangat terbuka. Firman tidak keberatan untuk mengakui bahwa ada orang yang lebih hebat darinya.

"Oke, aku akan menghubunginya kalau begitu," ucap Arum seraya merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.

"Lebih baik kamu bersembunyi saja di ruang kerja Natasha, nanti jika dia bertanya, kami bisa mengatakan bahwa kamu sudah pulang," ucap Ardi sembari melihat ke arah Dara. Dara pun mengangguk pelan.

"Sepertinya itu tidak perlu," sahut Firman.

"Kita sedang menyelidiki bagaimana bisa wajah Dara terekspos di CCTV, tidak mungkin dia tidak ada di sini, sementara kita sedang menyelidikinya," jelas Firman.

"Ah iya, benar juga," gumam Ardi.

"Lagian selama dia ada di sini juga belum ada yang tahu, padahal Putri juga ikut membantu saat itu. Sepertinya dia bisa dipercaya," sahut Arum.

"Oke, terserah kalian saja," ucap Ardi akhirnya.

"Oh iya, bagaimana tadi? Apa kalian menemukan sebuah ponsel?" tanya Dara sembari menatap ke arah Ardi dan Arum secara bergantian.

"Tidak ada," jawab Ardi singkat, sementara Arum masih sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Putri, sehingga dia tidak begitu memperhatikan pertanyaan Dara.

***

Putri tiba di rumah Natasha.

Glek.

Putri menelan saliva ketika melihat wajah-wajah yang tidak asing ada di hadapannya saat ini, tapi sebisa mungkin dia tetap mencoba untuk bersikap biasa. Putri segera membungkuk dan tersenyum dengan manis, sehingga menampakkan lesung pipinya, membuat semua orang yang ada disana seakan tersihir oleh wajahnya yang sedap dipandang.

"Masuklah," ucap Natasha dengan lembut dan juga ramah.

Putri dan Arum sedang berdiri di ambang pintu untuk beberapa saat, karena Putri tengah mempersiapkan mentalnya untuk masuk kembali ke rumah itu. Sementara Arum hanya mengikuti langkah Putri saja, karena tadi memang dia yang menjemput Putri di depan.

Dengan perlahan, Putri melangkah mendekati semua orang yang saat ini tengah duduk di sofa, sudah ada beberapa laptop juga diana. 

"Perkenalkanz aku Firman," ucap Firman saat Putri sudah duduk di sebelahnya.

"Putri," ucap Putri dengan sedikit membungkuk.

"Baiklah, untuk perkenalan lebih lanjut nanti saja," ucap Ardi.

"Apa Arum sudah memberitahumu kenapa kamu diundang kemari?" tanya Ardi.

"Hmb," jawab Putri seraya mengangguk pelan.

"Lalu, apa kita bisa bekerja sekarang?" tanya Ardi.

"Bisa," jawab Putri singkat sembari mengulas senyum.

"Aku akan mendampingimu," ucap Firman.

"Baiklah," jawab Putri.

Firman dan Putri segera fokus pada beberapa laptop yang ada di depan mereka, sementara yang lain diam dan memperhatikan. Mereka berdua sama-sama lihai memainkan jari-jari mereka di atas keyboard, hingga terlihat seperti sedang berlomba.

"Aku menemukannya," ucap Putri setelah membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Benarkah?" tanya Firman dengan terkejut.

"Hmb," jawab Putri sembari mengangguk dan terus fokus pada laptopnya.

"Bukankah server itu dikunci?" tanya Firman, tanpa menoleh ke arah Putri, melainkan mantap layar laptopnya dengan tajam.

DEGH.

Putri terhenyak sejenak. "Iya, server tersebut memang terkunci," ucap Putri akhirnya, setelah dia berhasil menguasai emosinya.

"Lalu bagaimana kamu bisa membukanya?" tanya Firman yang kali ini menatap ke arah Putri.

Entah kenapa suasana menjadi berbeda, seperti Firman telah melakukan sidang pada Putri.

"Coba lihat ini," ucap Putri seraya menunjuk ke layar laptop yang ada di hadapannya.

"Aku menekan ini dan keluar banyak sekali kode, coba perhatikan lagi."

"Angka-angka ini sangat sering berulang," ucap Putri seraya menunjuk ke layar laptop.

"Aku mencoba menggabungkan dan memikirkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan rumah sakit ataupun kode rahasia."

"Aku mencobanya beberapa kali, hingga akhirnya aku bisa membuka server tersebut," jelas Putri.

Firman terus memperhatikan laptop yang ada di hadapan Putri sembari berpikir tentang penjelasan yang dilontarkan oleh Putri tadi. "Binggo, hebat sekali kamu," ucap Firman sembari mengulas senyum. Membuat semua orang yang ada di sana juga tersenyum dengan lega.

"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan lokasinya?" tanya Firman.

"Sudah," jawab Putri yang kemudian mengklik gambar dan menunjukkan lokasi server tersebut.

Firman memperhatikan layar laptop dengan seksama, hingga akhirnya dia tahu lokasi yang sedang mereka cari.

"Tepat seperti dugaan kita," ucap Firman beberapa saat kemudian.

"Apanya?" tanya Ardi dengan tidak sabar.

"Server itu ada di kastil," ucap Firman.

"Benarkah?" tanya semua orang secara bersamaan.

"Hmb." Firman hanya mengangguk.

"Sayang sekali di atap rumah sakit tidak ada CCTV, jadi kita tidak bisa memeriksa, Pak Tama bunuh diri, ataukah dibunuh," ucap Firman.

***

"Apa kamu ingin makan?" tanya Arum sembari membawa minuman dan juga makanan ringan untuk Putri.

"Tidak perlu," jawab Putri sembari mengulas senyum.

Saat ini mereka berdua tengah bersantai di halaman belakang seraya menikmati senja. Putri mengatakan bahwa dia butuh bersantai sejenak setelah otaknya bekerja cukup keras. Natasha pun menawarkan untuk Putri bersantai di teras samping atau di teras belakang, karena disana banyak tumbuhan, mungkin bisa membantu pikirannya untuk relax.

"Terima kasih," ucap Putri saat Arum meletakkan nampan di atas meja bulat, Arum hanya mengulas senyum.

"Putri, apa kamu pernah mengambil foto saat para juri berkumpul makan-makan di restoran cepat saji milik Fara?" tanya Arum.

"Tidak, aku tidak pernah mengambil foto," jawab Putri.

"Kenapa?' tanya Putri.

"Tidak apa, pamanku hanya ingin tahu saja aku bergaul dengan siapa. Sejak kejadian tempo hari semua orang menjadi lebih protektif," dusta Arum.

"Baguslah, masih ada yang peduli denganmu," ucap Putri seraya mengulas senyum.

"Benar juga," ucap Arum.

"Arum, kenapa disana banyak sekali batu nisan?" tanya Putri yang sudah penasaran sejak tadi.

"Kata Tante, salah satunya adalah makam teman mereka," jawab Arum.

"Lalu yang lainnya?" tanya Putri.

"Aku tidak begitu tahu, karena baru kali ini juga aku tinggal bersama mereka. Aku tidak ingin mempertanyakan hal-hal seperti itu," jelas Arum.

"Aruuuum ... " Maria memanggilnya.

"Aku akan masuk sebentar," pamit Arum pada Putri.

"Hmb," jawab Putri seraya mengulas senyum dan mulai membuka minuman kaleng.

Arum pun segera masuk, mencari Maria yang tadi memanggilnya. Sementara Putri segera beranjak dari duduknya. "Temannya? Siapa yang meninggal? Apa itu orang aku pikirkan?" gumam Putri sembari berjalan ke arah makan sembari membawa minuman kaleng yang tadi dibukanya.

Perlahan Putri berjalan ke arah makan, sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa Arum masih ada di dalam rumah. Putri juga menoleh ke arah teras samping yang terdapat gazebo, memastikan juga bahwa tidak ada orang di sana. 

DEGH.

"Clara," gumam Putri saat membaca tulisan di batu nisan tersebut.

"Apa itu adalah Clara yang ada di pikiranku?" gumam Putri yang saat ini tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Bahkan kepalanya juga terasa pusing, hingga minuman kaleng yang dipegangnya pun jatuh ke tanah.

"Kenapa dia?" gumam Dara yang saat ini melihat semua gelagat aneh Putri dari jendela kaca ruang kerja Natasha.

Putri berkeringat, nafasnya tersengal dan seakan berhenti di tenggorokan.

"Apa dia sedang sakit?" gumam Dara lagi.

Dara pun segera keluar dari ruang kerja Natasha dan berlari dengan sangat cepat menuruni tangga, serta keluar melalui pintu belakang. 

"Ada apa?" tanya Maria yang saat ini ada di dapur sedang memasak untuk makan malam, tapi pertanyaan Maria tidak dihiraukan, Dara terus berlari dengan cepat menuju pintu belakang.

"Kenapa dia?" Natasha segera mematikan kompor dan berjalan dengan cepat mengikuti langkah Dara. Begitu juga dengan Maria, Arum, dan yang lainnya yang ada di ruang makan maupun dapur. Karena memang untuk pergi ke halaman belakang, mereka harus melewati ruang makan dan juga dapur. Sehingga setiap orang yang ada di dua ruangan tersebut segera beranjak dan mengikuti langkah Dara.

Bugh.

Tepat saat Dara tiba di depan makam, Putri ambruk. Beruntung Dara masih sempat menangkap punggungnya, sehingga Putri tidak jatuh ke tanah. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dara. 

Dara mendapati wajah Putri sudah pucat pasi dan berkeringat dingin, dengan tatapan sayu, yang kemudian Putri pun akhirnya tidak sadarkan diri.

"Biar aku saja." Ardi yang baru saja tiba segera mengambil alih untuk membopong Putri dan membawanya masuk. Sementara Natasha segera menghubungi dokter keluarga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!