"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Rava terpaku.
Nama Citra yang baru saja disebut Cantika menggema di kepalanya seperti gemuruh jauh yang tiba-tiba mendekat.
"Apa tadi kamu bilang?" suaranya serak, napasnya tercekat. "Citra… menikah?"
Cantika menatapnya bingung. "Iya, setidaknya begitu kata Mama. Katanya, pernikahan tetap dilanjut, tapi bukan sama kamu."
Ia mendesah pelan, mengusap rambut yang menempel di dahinya. "Aku juga nggak tahu siapa yang jadi suaminya. Tapi… katanya cuma dimaharin lima ribu. Lucu, ya?"
Rava terdiam.
Lima ribu…
Kata itu berputar-putar di benaknya, memukul sisi egonya yang paling dalam.
Ia menatap langit-langit, senyum getir terbit di wajahnya.
"Citra pasti sangat putus asa sampai rela dimaharin 5000. dan yang kudengar lagi, lelakinya pun udah tua. Seumuran sama Mama."
"Jadi, dia tetap lanjut… Tanpa aku? Dengan mahar semurah itu, dan lelaki tua?"
Suaranya pelan, seperti berbicara pada diri sendiri.
Cantika menatap wajahnya yang berubah muram. Ada sebersit rasa tak nyaman di dadanya, entah karena cemburu, atau takut kehilangan.
"Rava…" bisiknya, mencoba menyentuh wajah lelaki itu. "Kamu nyesel, ya?"
Rava menoleh. Ada tatapan campur aduk—penyesalan, ego, dan sisa hasrat yang belum padam. "Kamu tau, kan? Karena ada anak ini," ujarnya lirih seraya melirik perut wanita yang kini ada di bawah tubuhnya.
"Jadi kamu mengakui kalau menyesal?"
"Tapi, sudahlah. Semua sudah terjadi. Aku bertanggung jawab atas anak ini. Begini cukup, kan? Atau, kamu menginginkan yang lebih dariku?"
Cantika menatap, ada kilatan amarah yang terpendam di matanya. Tapi, tak ada satu katapun yang berhasil keluar...seolah semua tertelan... Cantika menahan napas.
"Di perut ini ada anakmu! Kenapa kamu masih mengharapkannya? Dia sudah jadi milik orang lain. Dan kamu juga sudah jadi milikku."
Kata-kata itu menancap di dadanya seperti duri. Ia tahu, di antara mereka, masih ada bayangan Citra yang tak bisa ia lenyapkan. Namun, ia juga tahu dirinya kini punya sesuatu yang membuat Rava tak bisa benar-benar pergi.
Tangannya bergerak ke perut yang masih rata, matanya menatap Rava penuh makna. “Kamu harus ingat ini, Rava. Kamu mungkin masih mengharapkan Citra. Tapi kamu nggak bisa lari dariku. Karena aku bawa bagian dari kamu.”
Suara Cantika lembut, tapi ada ketegasan di dalamnya.
Rava menatapnya lama, lalu menarik napas dalam. Ia mendekat, memeluk Cantika dari belakang. “Maaf,” bisiknya pelan.
“Kau harus bertanggung jawab penuh, Rav.”
Cantika membalas pelukannya tanpa suara. Hatinya penuh tanda tanya, tapi bibirnya tersenyum samar. Ia tahu, selama nama Citra masih terucap, hatinya belum sepenuhnya dimiliki.
"Namun, setidaknya aku sudah memiliki tubuhnya..."
*****
Sebuah mobil hitam berhenti di halaman rumah besar keluarga itu.
Bu Lilis turun dengan langkah cepat, wajahnya masih menyimpan sisa jengkel. Suaminya, Pak Bram, sedang duduk di kursi teras, membaca koran sore.
“Loh, Mama dari mana? Mukanya kayak habis berantem,” tanya Pak Bram tanpa menurunkan koran.
Bu Lilis menghela napas panjang, menjatuhkan diri di sofa. “Bukan berantem, Pak. Tapi hampir mati jantungan.”
Pak Bram menurunkan koran setengah, menatap istrinya. “Kenapa lagi?”
“Anakmu itu, Rama!” suara Bu Lilis meninggi lagi. “Bikin Mama pengin dikubur hidup-hidup aja!”
Pak Bram menegakkan badan. “Rama kenapa? Dia udah tua, enggak mungkin berantem, kan? Apa main judol? Ah, nggak mungkin.”
“Lebih parah!” Bu Lilis menunjuk suaminya dengan ekspresi dramatis. “Dia nambah anggota keluarga!”
Pak Bram berkedip. “Maksudmu? Nambah pembokad?”
"Bukan, Pah!"
"Lah, terus? Enggak mungkin dia nikah, kan?"
“Benar pah! Dia memang sudah nikah! Sudah punya istri!”
Pak Bram refleks berdiri. “Apa?!"
"enggak usah heboh kali, Pah! Biasa aja!"
"Enggak usah heboh gimana?! Dia nikah, dan kita enggak tau?" Pak Bram mengepel tangan."Perempuan mana lagi yang sudah menipunya kali ini?"
Bu lilis memutar mata malas.
Pak Bram menatap istrinya serius. “Kita harus ke sana. Sekarang.”
Bu Lilis langsung melotot. “Aku capek, Pah! Tadi aja udah mau pingsan!”
“Rama dan perempuan itu harus dikasih paham.”
Nada suaranya tegas.
Begitu dengar kata “kasih paham”, wajah Bu Lilis langsung berubah. “Eh, tunggu, tunggu. Kalau Papa mau ngomelin Rama, Mama ikut!”
“Katanya capek?”
“Ya capeknya nanti aja,” gumam Bu Lilis sambil meraih tasnya lagi. Lalu batinnya menyambung,"Jarang-jarang lihat papa mengomel. Hehehe..."
Sementara itu, di rumah Rama, suasana jauh berbeda.
Cahaya lampu temaram membentuk nuansa hangat di kamar. Dua bibir masih menyatu, bergerak pelan, meski yang satu bergetar pelan. Rama membuat jarak, meski hidung mereka saling menempel.
"Kamu... Belum pernah ciuman ya?"
Pipi Citra masih merah, kini justru makin merambah ke telinga.
"Enggak usah dijawab, aku sudah tau."
Tangan Rama mengusap punggung Citra, lalu menarik tubuhnya ke pangkuan.
“Berapa lama kamu pacaran sama Rava?”
Citra menunduk, rasanya aneh duduk di atas paha seorang pria. Ia tak pernah begini sejak ia di kelas 2 SD.
"Pertama Rava ngenalin Citra ke Bapak. Saat itu... Kami baru pacaran," aku Citra jujur.
"Ohh, 2 tahunan, ya?" Tangan Rama menyentuh pipi istrinya.
"Selama itu... Kalian enggak pernah ciuman?"
Citra langsung menatapnya, wajahnya memerah sampai ke telinga. “Kenapa tanya hal kayak gini? Malu tau,” rajuknya.
Rama terkekeh kecil, lalu menatapnya dengan hangat. “Citra... Aku harus pastiin kamu benar-benar boleh aku sentuh. Kalau kamu pernah disentuh Rava, aku tak boleh nyentuh kamu.”
"Pak! Walau kami pacaran 2 tahun. Aku sangat tau batasan. Walau kami bukan dari keluarga berpendidikan tinggi, tapi ayah dan Ibu tidak pernah mengajari kami melampaui batasan!"
Citra jadi kesal, dadanya sampai turun naik karena terlalu marah. Dia hendak turun dari pangkuan suami. Tapi, Rama tahan dengan cepat.
"Jangan marah, dong. Aku cuma nanya kok," katanya lembut.
"aku merasa seperti dituduh," ujar Citra, "Lepasin aku, pak!"
Rama menahan lebih erat. "Enggak!" tegasnya.
"Iihh, lepasin Citra! Citra benci sama bapak! Bapak tukang tuduh! Uummpp!"
bibir Citra langsung terbungkam oleh ciuman Rama. gadis itu coba mendorong dada suaminya, tapi Rama jauh lebih bertenaga. Ciumannya pun semakin rakus. Hingga akhirnya Citra pasrah. Tak lagi memberontak. Ciuman Rama perlahan melembut, gerak bibirnya lebih pelan seolah takut menyakiti, seolah kaca yang mudah pecah.
Saat ia melepaskan pangutanya, bibir Citra sudah membengkak, bibir itu juga sedikit luka karena terkena gigi Rama.
"Maaf, aku enggak bermaksud melukaimu.." katanya mengusap lembut bibir istrinya.
Mata Citra sembab, walau tak ada air mata yang lolos.
"Maaf karena aku sudah menyinggungmu," sambung Rama seraya menyelipkan anak rambut Citra ke belakang telinga. "Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?"
Citra menatap Rama, lama.
"Bapak sungguh-sungguh akan melakukan apapun?"
Rama mengangguk.
"Cari Rava!"
meninggal Juni 2012
😭😭