Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Nancy melirik wajah sahabatnya yang masih kesal dengan kejadian dipinggir lapangan tadi.
"Jangan kesal terus seperti itu!" Katanya pelan.
"Sekarang sudah jelas mereka berkencan, apa kau tidak ingin menyerah?"
"Menyerah?" Dengus Hanna.
"Tidak akan."
Hanna berhenti sebentar.
"Syerly seperti gadis pendiam dan tidak banyak teman, tapi Aku tidak menyangka Syerly akan sangat genit dan centil." Nadanya penuh ejekan.
Hanna memalingkan muka dengan kesal.
"Dia benar-benar membutku kesal."
Nancy tertawa kecil.
"Belum terlambat untuk menyerah, Han!" Katanya pelan.
Nancy tidak menyembunyikan kekagumannya ketika bercerita.
"Aku melihat Syerly berjalan tenang di sisi Felix, dengan tangan yang digenggam erat. Felix terlihat sangat bangga dengan perempuan disampingnya." Kata Nancy sambil tersenyum, seolah-olah moment itu sangat manis dilihat.
Lalu Nancy menoleh kearah Hanna.
"Menurutku, kau seharusnya memikirkan semuanya kembali dengan lebih baik." Katanya pelan.
"Atau..." Nancy berhenti beberapa detik.
Ia tersenyum kecil kepada Hanna
"Jika kau ingin mendapatkan hati Felix, kau dapat mengubah wajahmu agar sama persis dengan Syerly." Katanya sambil tertawa.
Hanna yang melihat temannya yang terus mengejeknya semakin membuatnya kesal.
Ia meliriknya dingin.
"Apa kau pikir aku takut." Dengusnya keras.
"Aku punya banyak uang, hanya mengubah wajah, aku dapat melakukannya dengan mudah."
---
Felix dan Syerly berjalan sambil bergandengan. Saat sampai di parkiran, Syerly menarik tangannya.
"Cukup, Fel!" Nadanya berubah dingin.
"Mantanmu tidak akan mengikuti kita sampai sini."
Felix merasakan tangan kosong, menatapnya sekilas lalu tersenyum tipis kearah Syerly.
"Bagaimana kau tahu dia pacarku?" Tanyanya.
"Aku mendengar mereka membicarakannya, bahkan mereka bilang kau playboy." Kata Syerly tenang.
Kata-kata terakhir Syerly membuat Felix hampir tersedak.
"Aku dulu memang playboy." Katanya.
"Tapi sekarang aku sudah bertobat."
Wajahnya mendekat sedikit. Senyum kecil tampak diwajahnya.
"Karena aku ingin memilikimu sebagai satu-satunya milikku."
Syerly mendesah pelan.
"Kau benar-benar tidak bisa berhenti bicara manis." Katanya pelan.
Senyum kecil muncul dibibir Syerly.
"Tapi aku sudah terbisa. Lapi pula, kita hanya teman tapi mesra."
Meski Syerly mencoba bersikap tenang, tapi ada rasa sakit didadanya.
Bukan saja, Syerly yang merasakan sakit didadanya ketika mendengar kata-kata teman tapi mesra. Felix juga tidak jauh berbeda. Lagi-lagi ia harus terjebak didalam hubungan ini. Tapi yang harus ia lakukan adalah hanyalah bersabar sampai hati Syerly benar-benar terbuka dan mau menerimanya.
"Kau memang benar, kita hanya teman tapi mesra." Kata Felix lirih.
Ia menatap Syerly dengan tenang.
"Tapi aku hanya ingin tetap bersamamu."
Tanpa peringatan sedikitpun, Felix mencium bibir Syerly. Ciuman itu sedikit lebih kasar. Ia ingin memberikan hukuman kepada gadis itu karena berbicara yang menyakitinya.
Syerly mendorong Felix keras.
"Apa kau gila?" Nadanya lebih tajam.
Lalu ia menoleh sekelilingnya, takut seseorang akan melihatnya.
Lalu mendesah lega.
Sekali lagi, Syerly menatap Felix dengan wajah kesal. Lalu masuk kedalam mobil.
Felix yang mendengar pintu mobil terbanting keras, hanya dapat tertawa pelan, dan segera mengikuti Syerly masuk kedalam mobil.
---
Peter dan Thea berjalan berdampingan. Hari ini mereka ingin menonton film. Senyum lembut terukir diwajah Thea sambil memeluk lengan Peter dengan hangat.
Ketika mereka melewati sebuah restoran jepang, ia melihat gadis yang sangat mirip dengan Syerly, tapi cara berpakaian mereka sangat berbeda.
Thea menarik Peter untuk berhenti.
"Bukankah itu Syerly?" Tanya pelan.
Peter mempertajam penglihatannya, gadis yang sangat mirip dengan Syerly itu sedang duduk bersama dengan laki-laki tampan.
Lalu Peter tersenyum.
"Itu Shayna... kembaran Syerly." Jelasnya pelan.
"Ohh." Gumam Thea lembut.
Lalu mereka berjalan berdampingan lagi.
"Apa kau dan Syerly sering pergi menonton?" Tanya Thea hati-hati.
Peter mengangguk.
"Ya." Jawabnya.
"Sebagian besar, dia akan tertidur didalam bioskop. Tapi, ketika ia menemukan film yang dia sukai, Syerly akan menontonnya dari awal sampai akhir tanpa berkedip."
Tanpa sadar Peter tertawa pelan, membuat pacarnya sedikit cemburu.
"Sepertinya kau sangat dekat sengan dia." Kata Thea dengan nada pelan.
Peter yang melihat Thea menundukkan kepalannya, sedikit mendesah.
"Aku dan Syerly memang dekat sejak kecil. Bukankah aku sudah menjelaskan hal itu." Kata Peter.
"Syerly juga teman satu-satunya yang aku punya, karena itu semua orang mengira kita berpacaran." Katanya pelan.
Peter menatap Thea.
"Aku benar-benar tidak mempunyai perasaan kepada Syerly lebih dari itu."
Kata-kata Peter yang tulus, membuat kekesalannya yang dirasakan Thea tadi menghilang.
Thea menyentuh lengan Peter kembali.
"Aku tahu." Katanya dengan senyum lembut.
Lalu mereka pergi untuk membeli tiket, popcorn dan cola. Menikmati kencan mereka dengan damai dan manis.
---
Setelah pergi makan bersama, Syerly dan Felix mampir di super market untuk membeli banyak bahan sekali makanan.
Felix dengan tenang mengambil sayuran segera sambil berjalan mendorong troli. Syerly mengikutinya dibelakang sambil mengamati Felix yang begitu fokus memilih bahan makanan segar.
"Mengapa kau membeli banyak sekali bahan makanan?"
Syerly menatap isi troli yang hampir penuh itu.
"Makanan yang baru saja aku telan tadi, bahkan belum dicerna dengan sangat baik."
Felix yang sedang mengambil saos diatas berhenti sejenak, lalu menoleh.
"Aku ingin mengisi kulkasmu yang kosong itu." Katanya sambil tersenyum.
"Tapi kau tidak perlu sampai membeli sebanyak ini! Bukankah kemarin kau juga baru saja mengisinya?" Tanya Syerly.
"Bahan makanan didalam kulkas itu hanya akan bertahan beberapa kali makan. Dan juga aku ingin memasak malam ini untukmu." Kata Felix tenang.
Lalu Felix mendekatkan wajahnya dengan senyum kecil.
"Dan aku pikir, kamu akan kelelahan malam ini." Bisiknya.
Syerly hanya tertawa datar sambil mendorong wajah itu menjauh.
"Dasar mesum." Katanya.
"Aku sangat penasaran dengan isi didalam kepalamu itu." Kata pelan.
"Mungkinkah hanya seks saja?"
Syerly meraih kepala Felix dan mulai mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.
Tawanya ringan dan manis. Felix mencoba menghindarinya, tapi Syerly terus mengejarnya.
Mereka terus bermain-main, membuat orang-orang disekitarnya tidak dapat menahan untuk melirik kearah mereka lalu berbalik dengan senyum kecil.
Felix meraih tangan Syerly, menghentikan kenakalannya itu.
"Cukup!" Katanya.
"Kau membuat membuat rambutku berantakan."
Felix merapikan rambutnya dengan tangannya dengan gerakan ringan.
Lalu mereka berjalan berdampingan dengan langkah santai dan tawa yang manis.
Keluar dari supermarket, Felix meletakkan barang-barangnya didalam bagasi mobil.
"Nanti aku mau mampir ke rumah dulu." Kata Felix sambil menutup pintu bagasi.
"Ada beberapa barang yang harus aku ambil."
Syerly yang sedang berdiri tidak jauh darinya, hanya mengangguk santai.