Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. PWB
...~•Happy Reading•~...
Orang tua Lenox terkenal di sekolah SMA Pelita sebagai donatur tetap sekolah bersama orang tua Niclas dan Jeku. Sehingga kadang pimpinan Yayasan kalah suara jika mereka sudah bersatu untuk menekan dalam mengatur dan memaksakan kehendak.
Oleh sebab itu, kepala sekolah berupaya adakan perdamaian. Agar orang tua Lenox dan lainnya tidak datang ke sekolah untuk mengacak-acak. Karena jabatannya bisa terancam, jika mereka tidak suka pada kebijakannya dan mulai menggoyang.
Apa yang diminta kepala sekolah untuk berdamai tidak masalah bagi Hernita. Dia sendiri tidak mau bermusuhan dengan siapa pun, terutama sesama teman. "Iya, Pak. Terima kasih." Ucap Hernita, pelan.
Hernita menerima saran kepala sekolah untuk berdamai, karena menyadari kebenaran yang dikatakan kepala sekolah. Dia melihat Lenox dan kedua temannya dengan perasaan berkecamuk.
Dia ingat yang dikatakan Sarah. 'Dalam keadaan terdesak atau didesak siswa seperti Lenox, lebih baik mengalah atau minta maaf. Hernita menundukan mata sambil berdoa dalam hati.
"Walau saya tidak tahu mengapa dada mereka bisa seperti itu, saya minta maaf." Ucap Hernita perlahan sambil mengulurkan tangan kepada Lenox yang ada di dekatnya.
Namun maksud baik dan uluran tangannya diabaikan. Tangannya dibiarkan menyalami angin oleh Lenox, diikuti oleh Niclas dan Juke. Mereka meninggalkan ruang guru begitu saja, tanpa permisi. Hernita menarik tangan perlahan dan kembali memegang lengannya yang sakit.
Kepala sekolah yang menyaksikan kejadian itu, hanya bisa menarik nafas panjang. Perilaku ketiga muridnya, mulai merongrong kewibawaannya. "Hernita, ke ruang KS sebelum lukamu infeksi. Pak Murai, tolong temani dia, supaya lekas ditangani petugas medis." Kepala sekolah minta Murai membantu Hernita.
"Baik, Pak." Murai menggerakan tangan ke arah Hernita, agar segera keluar bersamanya dari ruang guru menuju Klinik Sekolah.
Sambil berjalan, Murai menggunakan kesempatan untuk mengajak bicara Hernita. "Nita, apa yang terjadi di toilet?" Murai ingin tahu, karena khawatir terjadi perundungan atau pelecehan terhadap Hernita.
"Saya tidak tahu, Pak. Saya sedang bersihkan tangan di wastafel setelah buang hajat. Tiba-tiba ada yang menarik rambut saya...." Hernita menceritakan yang terjadi di toilet
Murai heran mendengar penuturan Hernita. "Lalu memar yang ada di dada mereka dari mana?"
"Tidak tahu, Pak. Saya hanya mendorong mereka supaya bisa lari keluar dari toilet." Hernita coba ingat tanpa mau katakan yang dia tidak mengerti.
"Pak, apa mungkin roh penjaga toilet kirim pukulan tanpa bayangan kepada mereka?" Hernita meneruskan dengan wajah serius sebelum masuk ke klinik.
Pak Murai hampir tertawa mendengar yang dikatakan Hernita. "Otakmu digunakan untuk menyelesaikan perhitungan matematika yang rumit saja. Tidak usah gunakan untuk berimajinasi." Murai hampir memoles kepala Hernita.
Namun Hernita tercengang melihat Murai yang menganggapnya bercanda. Padahal dia sedang serius ingat yang terjadi di toilet atas Lenox, Niclas dan Juke.
"Sudah, masuk. Bapak hanya bisa bilang hati-hati, kalau berhubungan dengan mereka. Sekarang obatin lenganmu dan fokus latihan untuk kompetisi." Murai menasehati, karena sikap permusuhan yang diperlihatkan Lenox dan temannya.
Hernita masuk ke klinik sekolah sambil memegang lengannya dan memikirkan peringatan Murai. "Terima kasih, Pak."
Setelah Hernita ditangani petugas medis, Murai segera meninggalkan klinik menuju toilet yang diceritakan Hernita. 'Anak-anak itu memang sengaja mau mencelakai Nita.' Bisik hati Murai saat melihat cctv sudah rusak.
Tanpa balik ke klinik, Murai segera balik ke ruang guru. Dia mulai khawatir sedang terjadi rekayasa kejadian yang tidak sesuai peruntukan sekolah. Dan hal itu harus diketahui oleh kepala sekolah.
~▪︎▪︎▪︎~
Di sisi lain ; Kepala sekolah sedang duduk merenung kejadian di ruang guru sambil memutar kursi mengikuti pikirannya yang berpikir ke berbagai arah. Sikap ketiga murid terus mengganggu pikiran dan emosinya.
Tok tokk. "Masuk." Kepala sekolah mempersilahkan masuk setelah merapikan duduk dan kursinya. "Oh, Pak Murai. Silahkan duduk." Kepala sekolah menggerakan tangan ke sofa.
"Terima kasih, Pak. Saya berdiri saja. Hanya mau melapor, tugas sudah diselesaikan."
"Duduk sebentar. Saya mau bahas yang terjadi tadi." Kepala sekolah memaksa Murai duduk.
Murai mengalah dan duduk di depan kepala sekolah. "Tugas mana yang sudah anda selesaikan?"
"Mengantar murid Hernita ke klinik, Pak."
"Lalu bagaimana dengan TKP?"
"Cctv rusak. Jadi kita tidak punya bukti. Apakah mereka bertiga ke toilet wanita, atau Hernita ke toilet pria."
"Baik. Sepertinya kondisi ini makin liar jika orang tua anak-anak itu datang ke sekolah ini. Padahal kita sedang fokus untuk persiapkan peserta kompetisi." Kepala sekolah mengutarakan kegundahannya.
"Pak Jotam, saya tidak bisa berkomentar dalam kondisi seperti ini. Saran saya, lebih baik Pak Jotam ajak bicara Ibu Sance sebagai wakil bapak."
"Anda tidak usah merasa sungkan. Anda tahu, mengapa saya tidak bisa berembuk dengan Ibu Sance. Sama saja, saya sedang publikasi kejadian tadi." Kepala sekolah tahu karakter wakilnya yang bocor.
"Padahal kita sekarang harus menyelamatkan sekolah ini dengan tidak menarik perhatian publik pada perilaku anak-anak itu."
"Anda tahu, masyarakat sekarang cepat bereaksi pada hal perundungan. Padahal kita sedang gencar-gencar mempromosikan sekolah ini lewat para murid yang akan ikuti kompetisi."
"Jadi Pak Jotam mau mengatakan, sedang terjadi perundungan di sekolah ini?" Murai bertanya serius.
"Apa yang terjadi di ruangan guru tadi bukan perundungan? Apa Hernita bisa memukul mereka?"
"Yang itu saya tidak bisa jawab, Pak. Mungkin sedang terjadi perundungan atau ketidakadilan di sekolah ini."
"Bukankah semua anak yang bersekolah di sini memiliki hak dan kewajiban yang sama?"
"Bukankah semua murid punya hak yang sama untuk ikuti perlombaan yang diselenggarakan sekolah?" Murai bertanya serius.
"Iya. Idealnya seperti itu. Tapi ini adalah sekolah swasta. Aturan dan kebijakan sesuai dengan pemilik dan orang kuat yang mengendalikan."
"Jadi Pak Jotam mau mengalah begitu saja terhadap kelakuan anak-anak itu?"
"Tidak mengalah, tapi mengajak anda mencari solusi untuk mengatasi dan menyelesaikan sesuatu di luar kemampuan sebagai kepala sekolah yang dibatasi peraturan."
"Baik, Pak. Jika pemikiran Pak Jotam seperti itu, saya akan menjadi bayangan untuk membantu yang bisa dibantu."
"Terima kasih Pak Murai. Kita tinggalkan kesepakan tidak tertulis ini. Saya mau tanyakan sesuatu yang sudah bikin penasaran."
"Apa itu, Pak?"
"Saya tergelitik dengan pertanyaan Pak Murai pada ketiga anak itu mengenai rusuk yang retak. Apa tanda telapak tangan di dada mereka itu real? Bukan rekayasa mereka untuk menekan Hernita?"
"Oh, mengenai itu, saya lebih condong real. Karena percaya pada Hernita. Dia mengakui mendorong mereka, agar bisa keluar dari toilet."
"Tapi dia hanya gadis lemah dan tidak memiliki kekuatan super." Kepala sekolah coba berpikir.
"Kadang seseorang yang sedang takut, tanpa sadar bisa mengeluarkan semua kekuatannya, Pak."
"Kalau anda yakin itu real, kita akan bermasalah dengan orang tua anak-anak itu." Kepala sekolah jadi memegang kepalanya dengan kedua tangan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...