NovelToon NovelToon
Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Cintamanis / Office Romance / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: LyaAnila

"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."

Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.

Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.

Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 31: Retakan yang Tak Terlihat

Langit pagi ini cerah, warna biru muda mulai muncul di ufuk timur. Awalnya masih redup, tapi makin lama makin terang. Matahari belum kelihatan, tapi sinarnya sudah mulai menyebar. Udara masih sejuk, pas banget buat mulai hari.

Berbeda dengan suasana hari ini, kehidupan Selena perlahan berubah menjadi labirin yang tak menemukan jalan keluar.

Waktu itu, Selena terbangun terlebih dahulu karena perutnya bunyi. Ia menoleh ke arah Rani yang masih terlelap di sleeping bag di dekatnya. Dengkuran kecil juga terdengar dari Rani. Saat ini, dengkuran Rani saat ini adalah hal yang membuat nyaman Selena.

Ia bangun dan memeluk lututnya. Kepalanya masih terasa berat. Seolah yang istirahat hanya raganya saja, jiwanya tidak.

"Misal ini hanya kebetulan aja, kenapa rasanya kek nyata banget sih. " Ia bergumam pelan.

"Eung.... Jam berapa nih Sel," tanya Rani yang masih menggeliat dan berusaha membuka matanya dengan sempurna.

"Setengah tujuh. Kenapa?"

Rani berusaha bangkit dan menyelaraskan posisi duduknya dengan Selena.

"Gila, gue semalem mimpi aneh. Gue mimpi lu hilang, bodoh."

Selena terkejut sejenak, "Apalah. Aneh-aneh aja lu. Nggak mungkin gue ilang. Gue disini aja sama lu kok," ujar Selena berusaha menghibur Rani.

"Betul Len. Gue udah berusaha nyari lu kemana-mana. Tapi lu nggak ketemu. Nah, bangun-bangun kok rasanya aneh gini," terang Rani pada Selena.

"Ckckck. Makanya jangan suka nonton drama waktu mau tidur Ran. Jadinya kebayang kan. Mana yang diculik gue lagi, nggak akan Ran." Selena tertawa kecil, meskipun perasaannya was-was tiba-tiba.

Karena kesal, Rani menepuk punggung Selena pelan. "Jangan remehin mimpi, bongak. Siapa tau mimpi itu pertanda."

Selena terdiam. Ia kemudian berjalan ke jendela. Ia membuka tirai sedikit. Jalanan masih lenggang, angin sepoi-sepoi mulai menyusup di kamar Selena.

"Ran."

"Apaan?"

"Misal gue berubah suatu hari...... Lu bakal sadar nggak?"

Rani langsung menegakkan badannya, menatap lama sahabatnya itu. "Berubah gimana?"

"Nggak tau, siapa tau nanti gue jadi pendiem. Atau malah jadi lebih tenang."

"Hemthh.... Misalkan lu jadi terlalu tenang, justru itu yang buat gue khawatir."

Kalimat itu membuat perasaan Selena makin hangat karena setidaknya ada yang peduli sama dirinya.

******

Grafik saham pagi ini terpantau masih stabil. Bhima, laki-laki yang ada dibalik layar laptop itu semakin gelisah. Perlahan ia memutar kursinya, menatap jendela besar yang memperlihatkan suasana kota dari ketinggian. Gawainya diletakkan di meja dengan layar yang mati.

"Nggak masuk akal sampai sini lu, Gatra." Gumamnya.

Bhima tau seluk beluk Gatra. Gatra terlalu pintar untuk bergerak tanpa memperhitungkan semuanya. Semakin rapi permainan itu, semakin Selena sulit menyadari bahwa ia sedang dipermainkan.

Gawainya kembali bergetar dan nama yang sangat ia benci muncul di layar ponselnya. Ia tak langsung mengangkat panggilan itu.

"Ngapain lu nelpon?" Suaranya terdengar dingin, seolah siap untuk berperang melawan Gatra.

Dari seberang telepon, terdengar suara gelak tawa ringan, seolah meremehkan Bhima. "Tanya kabar Selena. Masa tanya kabar kamu. Nggak sudi."

Rahang Bhima seketika mengeras. Dadanya terasa panas mendengar cibiran yang dilontarkan untuknya. "Sejauh apa lu ngawasin dia?"

"Tergantung definisi apa ngawasin nya," jawab Gatra ringan. "Gue cuma mau mastiin dia nggak sendirian lagi.

"Dengan bikin dia ragu dia sama semua orang?"

Kembali terdengar kekehan kecil dari Gatra. "Ragu itu awal dari sadar, Bhim."

Telepon terputus. Bhima kembali menghembuskan napasnya kasar. Pertama kalinya, ia tidak yakin bisa menghentikan langkah Gatra.

******

Matahari sudah semakin tinggi, memancarkan sinarnya untuk menambah hangatnya suasana hari ini. Setelah selesai sarapan, Rani pamit karena harus kembali bekerja.

"Dengerin gue Len. Kalau Aksa ngajak ketemuan lagi. Lu harus info sama gue. Lu nggak harus temui dia sendirian, ingat. Lu masih punya gue sebagai temen lu.

"Ya. Gue bakal hubungin lu," Selena mengangguk.

"Beneran lho. Awas aja kalau cuma "iya-iya" aja lu. Gue kepret juga nanti." Tegas Rani.

"Beneran Rani. Nggak boong dah. Beneran," Selena sambil mengangkat kelingkingnya tanda ia telah berjanji.

Setelah mendapat janji dari Selena. Rani buru-buru pergi karena ia sudah terlambat. Ia tak mengajak Selena juga karena Selena masih disuruh istirahat oleh bu Prita.

Sepeninggalan Rani, suasana kost nya sepi lagi. Ia mencoba menghibur dirinya dengan membuka laptop dan mulai menulis. Baru beberapa menit setelah ditinggal Rani. Notifikasi WA muncul.

Aksa Maheswara

Sebelum membuka pesan tersebut, Selena takut.

"Hai Selena. Apa hari ini kamu sudah lebih tenang?"

Kembali ia membaca kalimat itu berulang kali. Suasana nya tenang dan kata itu lagi yang muncul.

"Lumayan." Jawabnya singkat.

Tak ada satu menit ada balasan masuk dari Aksa.

"Syukurlah. Kalau kamu mau, kita bisa ngobrol sebentar malam ini. Santai, tak harus bertemu. Lewat telfon juga boleh."

Membaca teks itu, Selena tak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak. Ia harus berhenti berhubungan dengan Aksa. Mengingat semua perintah Rani. Namun sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam ia merasa sendirian.

"Nanti aku kabarin lagi," akhirnya kalimat itu berhasil ia ketik dan segera ia mengirim kembali kepada Aksa.

"Ah, kenapa gue jawab," gumamnya setelah ada centang biru terlihat.

******

Hari ini menjadi hari yang paling melelahkan untuk Selena. Ia terus berkutat dengan pikirannya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kalau diluar sudah mulai gelap.

Dalam lamunannya, tiba-tiba ada panggilan masuk. Siapa lagi kalau bukan Aksa. Sebelum mengangkat nya, Selena menarik napas dalam-dalam.

"Halo."

"Hai Selena. Aku harap aku tidak mengganggu waktu istirahat mu," kata Aksa begitu ramah.

"Enggak ganggu kok. Ada apa memangnya?" Tanya Selena to the point.

Hening....

"Kadang, diam itu diperlukan. Supaya kita bisa mendengar diri kita sendiri ingin meminta apa." Tekan Aksa.

"Kamu sering ngomong gitu." Selena terkekeh kecil mendengar respon Aksa.

"Tapi itu memang benar, Selena."

"Iya, tapi kan itu menurut kamu. Menurut orang lain bisa berbeda." Sergah Selena terkait pernyataan Aksa.

Setelah Selena berkata demikian, telepon berakhir. Tak ada salam seperti waktu ditelfon pertama kali tadi. Selena tidak merasa lega, namun tidak takut juga. Yang ia rasakan sekarang adalah ia berdiri di antara dua langkah serta satu langkah lain seolah sulit untuk ditarik kembali.

Di dalam mobil yang gelap dan terparkir jauh dari kost Selena. Gatra menurunkan ponselnya.

"Bagus," ia bergumam pelan.

Kembali Gatra menatap layar tablet yang menampilkan layout kamar Selena.

"Pelan-pelan, keretakan sebenarnya akan muncul." Gumamnya lagi.

Di kota yang sama, di waktu yang sama dengan dua orang pria yang sama-sama memikirkan Selena dengan cara yang sangat sangat berbeda. Serta, Selena tanpa ia ketahui sedang bergerak menuju titik dimana kebenaran dan manipulasi nyaris serupa.

******

1
putri bungsu
perbanyak sabar nya ya sel
Vᴇᴇ
selena itu udaa pusing mikirin cobaan bertubi tubi malah denger tuduhan begini /Speechless/ siap" si bima hutang kata maaf sama selena
Risa Sangat Happy
Bhima kamu harus melindungi Selena dari kejahatan Gatra
@dadan_kusuma89
Selena, berpikirlah positif! Mungkin saja dengan hadirnya Bhima dalam hidupmu, akan bisa membantu dan meringankan problematika yang sedang kau alami. Kau tak perlu menutup diri untuk itu.
@Yayang Suaminya Risa
Tujuan Gatra meneror Selena kira kira apa ya
Risa and My Husband
Bhima kamu harus ada di dekat Selena terus
@dadan_kusuma89
Selena, kau butuh seseorang untuk berbagi keluh kesah, meski hanya sekedar untuk mendengarkan ceritamu. Kau harus menumpahkan itu semua, jangan kau pendam, karena lama-lama bisa konslet kalau di pendam diri sendiri terus.
Yayang Risa Always Together
Kasihan mental Selena pasti terganggu akibat teror terus menerus
Risa Nikah Dong
Bhimaa dan teman temannya cari bukti kejahatan Gatra biar cepat di tangkap polisi itu Gatra
Risa Yayang Married
Selena lain kali ke kamar mandi dulu sebelum tidur supaya ngga kebelet dong
Risa Selalu Teristimewa
Rani nyenyak tidurnya sampai Selena ke kamar mandi tetap masih tidur Rani
Risa Selalu Beautiful
Selena kamu tenangkan dirimu dulu soalnya sahabat kamu sedang menyelidiki pelaku yang teror kamu
Risa Happy With Yayang
Kasihan Selena sendirian karena sahabatnya sibuk bersama Bhima dan teman temannya
Yayang Guanteng Milik Risa
Rani kamu berbohong demi kebaikan jadi ngga usah merasa bersalah
Yayang Guanteng Milik Risa
Selena kamu pengertian banget ngga mau ganggu Rani yang sedang tidur
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Rani, Bhima, dan teman temannya Bhima ngga tidur buat bahas rencana penyelidikan Gatra
Risa Yayang Couple Selamanya
Bhima dan teman temannya cepat tangkap orang yang meneror Selena
Risa And My Husband
Selena jangan banyak pikiran sahabat kamu sedang menyelidiki kasus kamu
Wida_Ast Jcy
tetap semangat ya bima
Wida_Ast Jcy
nggk... itu maksudnya apa Thor. nggak ya. usahakan jangan disingkat begitu ya thor🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!