Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Sungguh bodoh dirimu Luna, mudah percaya dengan laki-laki yang selama ini menjadi suamimu. Bodoh..bodoh... Haaaaa"teriak Luna meluapkan rasa sesal diihatinya.
Air matanya bahkan tak bisa berhenti mengalir, suaminya yang ia pikirkan ternyata benar. Suaminya berkhianat dibelakang dan ternyata bukan cuma hubungan biasa melainkan sejak awal pernikahan dimulai.
Bahkan saat ini Dita sedang mengandung anak dari Akbar, sesuatu yang hampir selama tiga tahun ini tak pernah bisa ia berikan.
Tin..tin..
Suara klakson di samping mobilnya mengagetkan Luna yang sedang di kuasai oleh amarah.
"Lun, minggir dulu jangan bawa mobil dalam keadaan emosi!" teriak Akbar dari dalam mobil yang berada disamping mobil Luna.
Luna tak menghiraukan teriakan khawatir dari Akbar, ia terus melaju dengan kecepatan tinggi tak peduli apapun disektiarnya.
Suara klakson dan teriakan dari para pengendara lain yang merasa terganggu dengan kecepatan mobil Luna yang melaju diatas rata-rata, semakin membuat jalanan terlihat mencekam.
Tiiiinnn.. Brak..
Mobil Luna berhenti tepat diparkiran taman kota dan sedikit menabrak pembatas jalan. Luna keluar tergesa-gesa dengan air matanya yang masih menetes sejak tadi tanpa menghiraukan dari orang-orang sekitarnya.
Tepat ditengah taman ada sebuah danau buatan, Luna duduk kursi taman yang terletak persis didepan danau. Dengan tatapan kosong melihat ke depan pikirannya kacau tak dapat memikirkan apa yang harus dilakukan kedepan nantinya.
Satu jam Luna berada disana, dan akhirnya memutuskan pergi ke salah satu butik miliknya yang berada tak jauh dari taman kota.
Berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam butik, dengan memakai kacamata hitam agar para karyawan tidak melihat wajahnya yang sembab.
"Anna, kalau nanti ada yang mencariku bilang kalau Luna tidak mau diganggu siapapun itu." ucap Luna penuh penekanan diakhir kalimatnya.
"Baik nona" ucap Anna.
Anna dan karyawan butik yang lain bingung melihat bos Luna yang tampak sedang tidak baik-baik aja. Tapi mereka juga tidak ada yang berani untuk bertanya langsung pada bos mereka itu.
Tak lama Luna masuk ke dalam ruangannya, Akbar masuk ke dalam butik dengan nafas tak beraturan seperti habis berlarian ia mencari Luna diseluruh penjuru kota tak menemukannya.
"Selamat siang pak Akbar." sapa para karyawan butik menyapa suami bos mereka.
"Apa ada Luna didalam?" tanya Akbar pada Anna yang berada di meja kasir.
"Bos Luna ada didalam tapi tadi bos Luna bilang tidak ingin diganggu siapapun." jawab Anna.
Akbar langsung berjalan cepat menuju ruangan Luna yang berada dilantai dua butik itu.
Luna duduk diam dibelakang pintu, ia menangis kembali menumpahkan semua rasa sakit di dalam hatinya yang sejak tadi tak berhenti.
Tak ada niatan untuk menjawab panggilan beruntun dari suaminya yang terus memanggil namanya dari luar.
Kecewa, benar dirinya sungguh sangat kecewa dengan semua keadaaan yang selalu saja membuatnya sakit.
- -
Luna duduk menyederkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, memenjamkan matanya seolah ini semua hanya rekayasa bukan sebuah kenyataan kebenaran. Air matanya sudah tumpah bahkan semenjak Luna masuk kedalam ruanganya beberapa waktu lalu.
Bayangan saat ia berbicara dengan Akbar siang tadi kembali terbayang didalam ingatannya.
Flashback on..
"Lun, mohon maafkan mas jangan diam seperti ini. Maafkan, mas sungguh menyesali semua itu." kata pertama Akbar yang langsung terucap ketika Luna membuka pintu ruangannya setelah satu jam lebih ia terus mendengar permohonan maaf dari suaminya.
Luna diam..
Hanya diam tanpa menjawab apapun..
Berjalan menuju sofa yang berada didepannya. Air matanya hanya menetes tak berucap apapun dengan suaminya. Suami yang telah memberikan luka yang sangat mendalam untuk dirinya.
"Pukul mas, jangan diam seperti Lun. Mas rela kamu pukul, kamu tampar mas rela asalkan Luna mau memaafkan mas." Akbar berlutut di hadapan Luna yang duduk menyender di sofa.
Luna masih diam aja dengan tatapan mata kosong.
"Lun, jawab mas jangan diam dari tadi. Jawab Luna!!"teriak Akbar yang udah tak tahan melihat istrinya hanya diam aja.
Akbar tak sanggup melihat Luna yang hanya diam sambil menangis sedari tadi, ia lebih baik menerima caci maki dan ledakan amarah istrinya dari pada perlakuan seperti ini. Berdiri dan mengusap wajahnya kasar, tak pernah menyangka reaksi Luna malah seperti ini.
Tadinya Akbar mengira Luna akan menangis meraung dan melepaskan kemarahannya padanya dan Dita. tapi apa ini ia malah dibuat merasa sangat bersalah karena melihat Luna yang bahkan tak menyalahkan dirinya dan hanya diam dengan air mata yang terus mengalir.
"Diam, bukan berarti tak mengerti apapun." kata Luna dengan tatapan mata kosong.
"Semuanya hanya akan sia-sia aja kan?" lirih Luna memberanikan diri melihat wajah Akbar dengan perasaan hancur.
Diam...
Akbar membisu mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut bergetar Luna.
Ia tertohok..
Benar apa yang dikatakan Luna, semuanya udah sia-sia apapun yang akan Luna katakan tak akan bisa merubah yang udah terjadi.
Percuma.. yah.. semuanya akan percuma..
Manik indah istrinya yang selalu di penuhi binar kebahagiaan dan semangat itu, sebelumnya redup dan kini semakin redup berganti dengan sorot penuh luka dan kekecewaan.
Hati Akbar sakit melihat semua itu, terlebih sekarang diri sendirilah yang memberikan luka pada wanita yang sudah bertahta didalam hatinya sekarang.
Wanita yang selama ini selalu mendukung meskipun terlihat sangat manja dan bawel suka menghabiskan perawatan diri untuk mempercantik penampilan saat dihadapannya tanpa pernah membantah semua lontaran perkataan jelek atau tidak untuknya.
Luna...
Luna lah yang selalu ada untuknya..
Menjadi luka sekaligus obat untuknya..
Tapi sekarang apa yang ia berikan untuk wanita ini?
Akbar menggengam erat tangan Luna, ia menciumnya berkali-kali seolah tak ingin melepaskan genggaman tangan mungil istrinya.
"Maafkan aku.."hanya kata berulang itu yang mampu keluar dari bibir Akbar sedari tadi.
Kata berulang sama terus ia ucapkan berharap istrinya mengampuni kesalahan yang ia lakukan. Luna memalingkan wajahnya, ia bahkan tak sanggup melihat wajah penuh penyesalan suaminya.
Terlalu menyakitkan walau hanya untuk memandang wajah seseorang yang sudah menggoreskan luka mendalam di hatinya.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan semua ini, aku mau menenangkan diri dulu." ucap Luna lirih.
Akbar menatap wajah cantik istrinya yang sekarang sudah sangat kacau dengan penuh deraian air mata.
"Tapi Lun.." cela Akbar
"Aku mohon mas.."kata Luna.
Belum sempat Akbar menyelesaikan perkataannya, Luna sudah berkata.
"Luna mohon mas, ini semua terlalu sulit diterima sakit disini.." Luna memberanikan diri menatap mata suaminya dan menunjuk tangannya kearah dadanya.
"Sakit mas..!" lanjut Luna dengan penuh penekanan sambil menepuk dadanya beberapa kali.
Flashback off..
Luna beranjak ke atas tempat istirahat pribadinya yang berada tepat disebelah ruang kerjanya di butik yang selalu diperuntukan untuknya dikala lelah dengan semua pekerjaannya.
Merebahkan badannya yang terasa lemas, dengan matanya masih sembab. perlahan ia meringkuk memeluk lututnya seperti seorang bayi, menutup matanya masih sesekali air mata itu menetes.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦