NovelToon NovelToon
Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Suami amnesia / Perjodohan / CEO
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.

Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.

Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 19.

Ingatan itu tidak datang sekaligus, ia datang seperti hujan deras yang menampar tanpa aba-aba.

Rangga terbangun dini hari dengan napas tersengal. Kaosnya basah oleh keringat, jantungnya berdegup liar seolah ingin keluar dari dada. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana ia berada.

Lalu ia melihat punggung Milea.

Istrinya tidur menyamping, membelakangi dirinya, napasnya teratur. Ujung jari Rangga gemetar saat menyentuh bahu Milea, untuk memastikan wanita itu adalah nyata.

“Lea…” suaranya serak.

Milea terbangun perlahan. Begitu menoleh dan melihat wajah Rangga, ia langsung duduk.

“Kamu mimpi buruk?”

Rangga mengangguk, tapi ini bukan mimpi... ini ingatan.

“Aku bisa ingat, tidak semuanya… tapi cukup banyak.”

Milea tidak bertanya. Ia hanya menarik selimut, duduk lebih dekat.

Rangga menatap kosong ke depan.

“Aku ingat ruang ICU, aku masih siuman sebelum akhirnya kritis. Aku ingat Mama berteriak histeris. Aku ingat Papa bilang… ‘yang satu harus diselamatkan’.”

Napasnya tercekat.

“Aku ingat mereka akhirnya menandatangani persetujuan itu.”

Milea memejamkan mata, dadanya ikut terasa sesak.

“Aku ingat Radit,” lanjut Rangga, suaranya pecah. “Di dalam mobil setelah kecelakaan, aku memegang tangannya. Begitu dingin, tapi aku masih bisa mendengar napasnya… Sangat pelan.”

“Aku ingat Papa bilang, Radit anak yang baik, dia pasti mengerti kita lebih memilih kakaknya.“

Rangga tertawa kecil yang nyaris histeris.

“Radit nggak ngerti, Lea. Dia kritis waktu itu...” Seluruh tubuhnya bergetar menahan tujuh tahun penyangkalan.

“Aku hidup, karena keputusan mereka yang egois. Dan aku dihancurkan… oleh keputusan itu selama bertahun-tahun ini.”

Milea memeluk Rangga semakin erat, membiarkan lelaki itu menangis tanpa ditahan. Tangis yang tidak bersuara namun berat, seluruh penyesalan dan amarah yang dipendam bertahun-tahun akhirnya menemukan jalan keluar.

“Selama tujuh tahun ini, aku marah Milea.“ Bisik Rangga lirih di bahu Milea. “Bukan cuma pada mereka, tapi juga pada diriku sendiri. Aku hidup… sementara Radit mati. Dan aku membiarkan kemarahan itu membuatku jadi orang yang kejam, terutama padamu.”

Milea menggeleng pelan, jemarinya mengusap punggung Rangga dengan sabar.

“Kau bertahan dengan cara yang kau bisa saat itu, meski caramu salah.” Ucapnya lembut.

Rangga menutup mata. Kalimat itu tidak menghapus rasa bersalahnya, tapi setidaknya memberinya ruang untuk bernapas.

Pagi itu, Rangga bangun dengan kepala berat namun tekad yang bulat. Ia menatap Milea yang masih terlelap, lalu mencium kening istrinya pelan. Setelah itu, ia bersiap tanpa banyak suara.

“Aku mau menemui Papa dan Mama,” katanya saat Milea akhirnya terbangun.

Milea menatapnya khawatir. “Kau yakin?”

Rangga mengangguk. “Aku tidak bisa menyimpan ini lebih lama.”

Milea tidak menahannya, ia hanya menggenggam tangan Rangga sebentar. “Cepat pulang, ya.”

Rangga tersenyum lega, dia mengecup bibir Milea sekilas sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Rumah keluarganya masih sama, terlalu sunyi, dan menyimpan banyak kenangan yang selama ini Rangga hindari.

Nyonya Atalia terkejut saat melihat putra sulungnya itu berdiri di ambang pintu, wajah wanita itu pucat seketika. “Rangga…”

Ayah Rangga berdiri dari sofa, tidak ada senyuman, hanya tatapan waspada. Setelah tujuh tahun lamanya, akhirnya Rangga menginjakkan kakinya lagi di rumah itu. Ia tahu, hari ini bukan kunjungan biasa.

“Ingatanku sudah kembali,” ujar Rangga tanpa basa-basi, suaranya datar tapi bergetar. “Tidak semuanya, tapi cukup untuk mengingat tentang kejadian tujuh tahun lalu.”

Keheningan menekan ruangan itu.

Nyonya Atalia menutup mulutnya, air mata langsung jatuh. Ayahnya menarik napas panjang, ia menyiapkan diri.

“Kalian lebih memilihku, tanpa memikirkan… apakah aku sanggup hidup dengan semua pengorbanan Radit.” lanjut Rangga, menahan gemetar. “Kalian menandatangani persetujuan itu, kalian menyerah pada Radit. Kalian membiarkan adikku… mati.”

Mama Rangga terisak, tubuhnya melemah hingga harus berpegangan pada meja.

“Dia anakku juga…” suara Mamanya parau. “Aku ibunya… bagaimana mungkin aku tidak hancur?”

“Hancur?” Rangga tertawa pahit. “Aku hidup membawa kehancuran itu selama bertahun-tahun! Kalian tahu apa yang kalian lakukan padaku?!”

Ayahnya hanya bisa menatap lantai. “Kami tidak punya pilihan, Rangga.”

“Kalian punya,” bentak Rangga, akhirnya meledak. “Kalian hanya memilih yang lebih mudah untuk kalian tanggung!”

Suara itu memantul di dinding rumah, Mama Rangga menangis semakin keras.

“Aku melihat Radit sekarat,” lanjut Rangga, matanya merah. “Aku mendengar napasnya yang mulai mengecil, dan setelah itu… aku hidup dengan jantungnya. Dengan rasa bersalah yang tidak pernah selesai.”

Ayahnya akhirnya mendongak, matanya basah, dan suaranya bergetar. “Kami kehilangan satu anak hari itu… dan hampir kehilangan yang lain. Kalau kau mati juga, Mama-mu tidak akan bertahan!“

Rangga terdiam, dadanya naik turun.

“Sejak mengambil keputusan itu, kami membayar harganya setiap hari. Dengan melihat kau hidup… tapi menjauh. Dengan kebencianmu yang kami tahu ada, meski kau tidak pernah mengatakannya.” Lanjut sang Ayah.

Mamanya Rangga mendekat, gemetar. “Maafkan Mama… Maafkan kami, Nak.”

Rangga menutup mata, kini ia melihat mereka bukan sebagai orang tua yang egois, melainkan manusia yang ketakutan.

“Aku masih marah, dan aku belum bisa memaafkan kalian sepenuhnya.” Ucap Rangga lirih namun tidak lagi sekeras sebelumnya.

Mama Rangga mengangguk, meski air matanya tak berhenti. “Mama tidak memintamu memaafkan kami sekarang.”

Rangga membuka matanya. “Tapi aku juga lelah membenci.”

Kalimat itu membuat sang Papa menunduk, bahunya bergetar.

“Aku akan memaafkan kalian,” lanjut Rangga. “Bukan hari ini, mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi... aku tidak ingin lagi hidup dengan amarah ini selamanya.”

Ia menatap kedua orang tuanya bergantian. “Aku butuh waktu, jangan memaksaku kembali seperti dulu.”

Papanya mengangguk pelan. “Kami akan menunggu, selama apa pun yang kau butuhkan.”

Rangga berdiri.

Saat dia melangkah menuju pintu, Mamanya memberanikan diri memeluknya dari belakang. Tubuh Rangga kaku sesaat… tapi dia tidak menepis pelukan ibunya.

Pelukan itu singkat, namun cukup untuk menjadi awal.

Saat Rangga keluar dari rumah itu, napasnya terasa lebih ringan. Bukan karena semuanya telah selesai, melainkan karena ia memilih untuk berhenti membenci.

Dan di rumah mereka, Milea menunggunya. Ia pulang ke tempat yang memilihnya.

Rangga pulang dengan tubuh lelah dan mata sembab, Milea langsung menghampiri.

Tanpa kata, Rangga memeluk istrinya. “Aku akan mulai menjalani hidupku lagi, bukan karena aku telah diselamatkan oleh jantung Radit… tapi karena aku ingin hidup.”

Milea mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu.

“Dan aku memilihmu, tanpa bayangan Radit sebagai rasa bersalah. Tanpa... rasa takut.” Ia mencium kening Milea, lalu pipi wanita itu. Saat akan mencium bibirnya, Rangga menahan diri.

Milea mendekat lebih dulu, ciuman itu lembut. Rangga pun memeluk Milea erat, seperti rumah yang akhirnya ia izinkan untuk ditempati. Dan hari itu, tidak ada masa lalu yang berdiri di antara mereka.

Tangan Rangga menyusuri tubuh Milea dengan gerak yang penuh hasrat. Mata Milea terpejam, larut dalam kebersamaan yang kali ini hadir tanpa sekat. Mengalir begitu saja, hangat oleh cinta.

Beberapa saat kemudian setelah semuanya selesai, Milea menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rangga. Rambutnya kusut, napasnya belum sepenuhnya teratur, peluh membasahi kulitnya.

“Kamu menikmatinya, sayang? Mau lagi?” goda Rangga dengan senyum nakal.

Milea refleks mencubit perut suaminya. “Jangan goda aku lagi, untuk hari ini sudah cukup. Aku capek, tenagamu terlalu kuat.”

Rangga tertawa pelan. “Sejak aku bangun tanpa ingatan, aku sudah menginginkanmu. Sekarang semua ingatanku kembali, kau pikir aku bisa berhenti begitu saja? Ayo, sekali lagi!”

“Arggh!” Milea terkejut ketika Rangga kembali menindihnya.

Jeritan itu segera luruh, tenggelam bersama desah napas dan erangan yang menyatu di antara keduanya.

Beberapa hari kemudian, Rangga berdiri di depan makam Radit.

Sendirian.

Ia berjongkok, meletakkan bunga putih.

“Dit,” ucapnya lirih. “Kakak hidup.”

Kalimat itu dulu terasa seperti dosa. Sekarang, ia mengucapkannya sebagai pengakuan.

“Aku hidup… dan aku jatuh cinta.”

Angin berembus pelan.

Rangga tersenyum kecil. “Matamu baik-baik saja, Milea melihat dunia dengan mata indah milikmu. Terima kasih karena telah memberikan warna untuk kakak iparmu...“

Dadanya sesak, tapi kali ini bukan oleh nyeri yang menghancurkan melainkan pelepasan.

“Kalau kamu marah, kakak terima. Tapi kakak nggak akan berhenti hidup, kakak ingin mencintai Milea tanpa beban.“

Rangga mengucapkan beberapa patah kata lagi, lalu ia berjalan lebih tegak saat pergi. Bukan karena lukanya telah hilang, tapi karena ia tidak lagi tenggelam di dalamnya.

1
Miss Typo
oh ngilang karna lumpuh dan dibawa ke luar negeri, tapi harusnya ngabarin Milea hadeh
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
Desyi Alawiyah
Ternyata Ethan juga mengalami lumpuh yah.. Tapi, kenapa Ethan ngga memberi kabar ke Milea sih.. Ya minimal lewat chat atau apa gitu... 😅
Desyi Alawiyah: Cowok mah gitu Kak, suka ngilang pas lagi sayang-sayangnya... 😅😅🤭
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Ethan kamu mundur aja deh, jangan deketin Milea lagi... Dia udah jadi istri orang, jangan sampe kamu jadi pebinor.. 😌
Tiara Bella
obsesi bahaya itu bt milea....semoga, Rangga, Arga,sm jenny bs ngadepin Nathan ya....
tinie
oooh jadi dia juga sama ,TPI kenapa orang tuanya tidak memberi kabar sampai sekarang
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Rita
alasannya kshn juga sih salahnya disini dia obsesi,Milea jg sdh bahagia sama Rangga harusnya bs merelakan
Rita
bagus biar kmunya g merasa sendiri aplg ini menyangkut mantan ma sahabat
Aditya hp/ bunda Lia
ooh, ... jadi ternyata si Ethan juga parah yah saat kecelakaan dia lumpuh
Miss Typo
ceritakan semua ke Rangga dan Arga ya Jen, biar ada solusi. Ethan gila dia bener² msh terobsesi ke Milea
Nie
baru juga bahagia udh ada aja yg mengganggu ,ayo Jen,kasih tau Arga ma Rangga dan Milea mulai saat ini ga boleh sendiri ya
tinie
si sethan 🤔🤔🤔
Rita
duhhh kurang ajar nih S ethan😜😂😂😂😂
Rere💫: Setan kagak tuh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nadiyah1511
trbuka sama Rangga+milea Jen cari solusinya sama2...jgn bertindak gegabah
Desyi Alawiyah
Jangan mau Jen.. Jangan mau kamu diperalat sama Ethan..

Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍
Aditya hp/ bunda Lia
apa hubungan si Ethan sama keluarga Vano?
Tiara Bella
Ethan bener² terobsesi sm milea...segala cara dilakuin sm dia bt misahin milea sm Rangga
Aditya hp/ bunda Lia
waduh Ga tahan dulu dong jangan langsung esmosi gituuuuu ... buahayaaa
Rita
waduh Rangga awas ada masa lalu ma fans baru istrimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!