Lima mahasiswa mendaki Gunung Arunika untuk hiburan sebelum skripsi. Awalnya biasa—canda, foto, rasa lelah. Sampai mereka sadar gunung itu tidak sendirian.
Ada langkah ke-enam yang selalu mengikuti rombongan.
Bukan terlihat, tapi terdengar.
Dan makin lama, makin dekat.
Satu per satu keanehan muncul: papan arah yang muncul dua kali, kabut yang menahan waktu, jejak kaki yang tiba-tiba “ada” di tengah jejak mereka sendiri, serta sosok tinggi yang hanya muncul ketika ada yang menoleh.
Pendakian yang seharusnya menyenangkan berubah jadi perlombaan turun gunung… dengan harga yang harus dibayar.
Yang naik lima.
Yang turun… belum tentu lima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmann Nhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — Saat Keinginan Itu Bukan Milikmu
POV RAKA
Kami tidak tidur.
Bukan karena takut mimpi buruk —
tapi karena kami tahu mimpi adalah pintu paling lemah.
Jam di jam tangan Sari berhenti di 01:33.
Jarumnya tidak rusak.
Waktunya saja yang tidak bergerak.
Di luar pos, hutan bernapas.
Bukan angin.
Bukan daun.
Tarikan napas panjang… lalu hembusan pendek.
Seperti paru-paru raksasa yang tersembunyi di balik pepohonan.
Kayla duduk memeluk lutut, matanya merah tapi kering.
Dia sudah tidak menangis — tapi itu justru lebih berbahaya.
Orang yang tidak bisa menangis menyimpan semuanya di dalam.
Aku memerhatikan tangannya yang gemetar pelan.
Bukan ketakutan murni.
Lebih seperti… keinginan untuk berhenti.
Sari menyadarinya juga.
“Kay,” katanya pelan tapi tegas, “lihat gue.”
Kayla menoleh.
Sari menatapnya tanpa emosi berlebihan.
Tidak menghibur.
Tidak menyalahkan.
“Kalau di kepala lo muncul pikiran kayak:
‘kalau gue nggak ada, semua lebih gampang’
atau
‘kalau gue hilang, orang lain selamat’
itu bukan pikiran lo.
Itu Arunika.”
Kayla mengangguk… terlalu cepat.
Dan itu jawabannya.
---
HUTAN MULAI BERGERAK
Jam 01:33 masih diam.
Dari luar pos terdengar bunyi langkah pelan, tapi tidak berirama.
Bukan enam langkah.
Banyak.
Berantakan.
Seperti banyak kaki dengan ukuran berbeda berjalan tanpa tujuan.
Aku mengintip dari celah papan.
Dan apa yang kulihat membuat perutku mual.
Di antara pepohonan…
banyak sosok berdiri saling membelakangi, tubuh mereka menyatu di bagian punggung, seperti manusia yang dilelehkan lalu dibekukan ulang.
Ada yang tanpa kepala.
Ada yang kepalanya terbalik.
Ada yang kepalanya utuh tapi wajahnya bukan milik siapa pun.
Mereka tidak mendekat.
Mereka hanya… menunggu seseorang keluar sendiri.
Sari berbisik: “Mereka nggak boleh nyentuh kita.
Kalau mereka nyentuh, siklus langsung aktif.”
“Jadi gimana mereka masuk?” tanya Kayla lirih.
Aku menjawab: “Lewat izin.”
Dan izin itu adalah pikiran ingin hilang.
---
KAYLA (POV)
Kepalaku sakit.
Bukan sakit biasa.
Seperti ada suara berbisik dari dalam tengkorak.
Capek, ya…
Kalau kamu berhenti, semua selesai…
Mereka nggak perlu jaga kamu lagi…
Aku menutup telinga.
Tapi suara itu tidak dari luar.
Itu dari aku sendiri.
Aku melihat Raka dan Sari.
Raka berdiri seperti tembok.
Sari seperti pisau — tajam dan sadar.
Dan aku?
Aku lelah.
Aku bukan pahlawan.
Aku bukan pendaki tangguh.
Aku cuma orang biasa yang terseret ke tragedi orang lain.
Dan di titik itu…
aku sadar pikiranku mulai membentuk keinginan.
Bukan mau mati.
Tapi mau hilang.
Mau berhenti jadi beban.
Mau berhenti jadi alasan orang lain bertarung.
Tanganku mulai dingin.
Gelang biru di tangan Sari bergetar keras.
Ukirannya muncul satu baris baru:
> KEINGINAN TELAH MUNCUL
TINGGAL MENUNGGU KALIMAT
Sari langsung menoleh ke arahku.
“Kayla,” katanya keras, “JANGAN NGOMONG APA-APA.
Apa pun yang lo rasain, JANGAN DIUCAPIN.”
Aku menangis — tapi tanpa air mata.
Dadaku sesak.
Mulutku bergetar.
Karena kalimat itu hampir keluar:
> “Kalau aku nggak ada…”
Dan di luar pos…
satu dari sosok menyatu itu memutar kepalanya ke arahku.
Hanya satu.
Itu tandanya.
Aku menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan.
Raka langsung mendekat, memegang kepalaku dari samping, menempelkan kening ke keningku.
“Denger gue,” katanya pelan tapi masuk ke tulang,
“keinginan itu bukan lo.
Itu rasa capek yang lagi dipakai Arunika.”
Aku menggeleng keras.
“Aku… aku nggak kuat…”
Dan itu kalimat paling berbahaya.
Sari berteriak: “KAYLA, BUKAN KAMU YANG HARUS KUAT!
KAMU CUMA HARUS ADA!”
Kalimat itu seperti tamparan.
Aku terisak — dan air mata akhirnya jatuh.
Satu tetes.
Satu.
Gelang biru MENYALA TERANG.
Di luar pos, sosok-sosok itu bergerak serempak.
Bukan masuk.
Tapi mendekat.
Dan jam di tangan Sari bergerak lagi.
01:34.
Waktu mulai jalan.
Artinya…
pintu mulai terbuka.
---
SESUATU YANG BUKAN MANUSIA
Tanah di tengah pos retak.
Bukan hantu pendaki.
Bukan tiruan manusia.
Sesuatu yang tidak pernah hidup naik dari celah tanah.
Tubuhnya hitam seperti akar basah.
Tidak punya bentuk jelas.
Tidak punya wajah.
Tapi ia berbicara langsung ke kepala kami semua.
> “Yang ingin hilang… tidak perlu dilindungi.”
Kayla menjerit.
Sari mengangkat pisau, tapi tangannya gemetar.
Aku berdiri di depan Kayla — refleks, tanpa berpikir.
“Aku di sini,” kataku keras.
“Kalau ada pintu… lewat aku.”
Dan SEMUA BERHENTI.
Sari berteriak: “RAKA, JANGAN—!”
Terlambat.
Entitas itu berbalik menghadapku.
Dan gelang biru BERUBAH TOTAL.
Ukirannya terhapus.
Digantikan satu kalimat yang membuat darah kami membeku:
> PENGGANTI TELAH MENAWARKAN DIRI
Aku sadar apa yang kulakukan.
Aku tidak mengucapkan ingin hilang…
tapi aku menawarkan diri sebagai pengganti.
Kesalahan yang sama.
Versi lain.
Dan Arunika menerima logika itu.
Entitas itu bergerak ke arahku.
Sari menangis keras: “Raka, lu ngulang lagi!
Lu ngulang siklusnya!”
Kayla menjerit: “JANGAN! JANGAN GANTIIN AKU!”
Aku menatap mereka berdua.
Dan di detik itu aku sadar:
Keberanian tanpa kesadaran
sama bahayanya dengan keputusasaan.
Aku hampir mengulang tragedi —
dengan wajah pahlawan.
Entitas itu mengulurkan sesuatu seperti tangan.
Dan dari belakang…
terdengar suara Lintang.
“RAKA!
BERHENTI MAU JADI ALASAN ORANG SELAMAT!”
Sosok Lintang berdiri di ambang pos —
bukan utuh, bukan hantu, tapi jejak kesadaran.
“Lu bukan penjaga pintu kalau lu masih mau jadi pengganti.”
Aku tersentak.
Tanganku gemetar.
Aku menarik napas, lalu berteriak sekuat yang kubisa:
> “AKU TIDAK AKAN MENGGANTIKAN SIAPA PUN!
AKU TIDAK AKAN MENJADI ALASAN KEHILANGAN LAGI!”
Entitas itu menjerit — bukan suara, tapi tekanan di kepala.
Tanah menutup kembali.
Sosok-sosok di luar pos membeku.
Gelang biru retak.
Tidak pecah.
Retak.
Ukirannya berubah terakhir kali malam itu:
> SATU KESALAHAN LAGI
MAKA SIKLUS AKTIF
Kami jatuh terduduk, napas tersengal.
Kayla menangis — kali ini boleh.
Sari memeluknya erat.
Aku menunduk, tubuhku gemetar hebat.
Aku hampir gagal.
Bukan karena lemah.
Tapi karena aku masih membawa kebiasaan lama:
mengorbankan diri agar orang lain tenang.
Dan Arunika tahu itu.
Malam belum selesai.
Dan sekarang…
aku yang menjadi titik lemah berikutnya.
pintu tertutup terbuka aja
lama banget horonrnya datang
geram sekali sama mereka main kabur aja
terasa banget horor nya.
aku suka horor