Update Every day
Qing Lou tak tahu kenapa, ia terjebak di dunia entah apa ini. Dan di paksa melakukan hubungan dengan pria asing, yang katanya akan menikahinya.
mengira itu omong kosong seorang pria, siapa sangka pria itu membawanya..tidak, tidak...lebih tepat menculiknya.
dan ya...
cari sendiri kelanjutannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NINI(LENI), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Setelah acara perkenalan akan siapa dirinya, bahkan tunangan dari orang yang sangat kuat itu, tak ada yang bisa membuatnya tertarik lagi.
Perjamuan berlangsung megah, namun bagi Qing Xian, keramaian itu perlahan menjadi pengap. Aura dari para pemimpin benua terlalu pekat, terlalu bising. Bahkan dengan kekuatan sucinya, ia bisa merasakan emosi setiap orang yang berbaur menjadi kabut di udara.
Dan jelas terlihat, setiap orang yang hadir perjamuan itu memiliki tujuannnya masing - masing. Bahkan pria itu yang dari tadi melihatnya.
Lian Zhen.
Jujur tatapan itu membuatnya tak nyaman, bahkan semakin lama rasanya semakin pengap.
Sedangkan, Rui Yan menyadarinya lebih cepat daripada siapapun.
Ketika tatapan Qing Xian mulai kosong, dan ujung jarinya meremas gaun putih keperakannya seolah menahan sesuatu, Rui Yan mendekat. Jemarinya menyentuh punggung tangan Qing Xian, lembut namun penuh otoritas.
"Qing Xian," gumamnya.
"Apakah kamu bosan? ingin keluar sebentar?" sambungnya bahasa yang lembut.
Qing Xian menoleh pelan. Mata suci yang biasanya tenang memantulkan kelelahan. Ia mengangguk dengan perasaan pasrah, tak tahan lebih lama disini.
Rui Yan tersenyum kecil—senyum yang hanya muncul ketika bersama tunangannya ini.
"Baik. Kalau begitu, pergilah. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku akan mengikutimu setelah membereskan semua orang disini."
Itu terdengar bukan sebuah perintah. Itu izin, izin yang hanya diberikan seorang pria kepada perempuan yang benar-benar ia hargai.
Qing Xian menatapnya sejenak, kemudian tanpa pikir panjang ia condong sedikit dan mencium pipi Rui Yan dengan cepat dan lembut.
Namun cukup untuk membuat seluruh dunia Rui Yan terdiam dan membeku di tempat.
"…Qing Xian?"
Rui Yan terpaku, mata melebar, wajahnya memanas hingga ke telinga. Perbuatan itu terlalu manis, terlalu spontan, dan terlalu intim untuk dilakukan di depan para pemimpin benua.
Beberapa tetua yang melihat adegan itu tertawa kecil, tidak mengganggu namun jelas senang. melihat kegiatan anak muda sekarang.
"Lihat itu," ujar salah satu pemimpin Benua Selatan sambil mengelus jenggot.
"Calon istri Yang Mulia Rui sangat… hangat dan manis."
"Tidak heran," tambah pemimpin Benua Tengah.
"Keduanya sama-sama keturunan suci. Sudah seharusnya mereka menyatu dan sangat serasi."
Pujian itu terus mengalir.
Namun…
Tidak untuk semua orang, satu orang itu, Lian Zhen. Pujian yang dilontarkan bagaikan sebuah panah yang menancap jantungnya.
Dari kursinya, Lian Zhen meremas gagang kursi sampai kayunya retak. Matanya menatap ke arah Rui Yan yang masih terpana, dan Qing Xian yang melangkah keluar dengan senyum kecil di bibirnya.
Bahkan Qing Lou dulu tak pernah melakukannya padanya, sekarang bisa melakukan dengan yang lain.
Melihat pipi Rui Yan yang masih menyala akibat kecupan tadi…
Melihat Qing Xian yang tampak begitu… bebas…
…begitu bahagia…
Sesuatu dalam diri Lian Zhen marah, sangat marah.
Jari-jarinya bergetar, urat-urat di tangannya memutih.
"Yang Mulia!" Jiang Yu segera berbisik keras sambil menahan pergelangan tangan Kaisar.
"Tenanglah, Tuanku! Kau hampir kehilangan kendali!"
Namun mata Lian Zhen tidak berkedip.
Ia menatap Rui Yan dengan kebencian yang sangat padat, sangat pekat, bagaikan cahaya hitam yang siap menelan cahaya apa pun di hadapannya.
Cahaya itu…
…lebih angkuh dari kegelapanku.
Ia memejamkan mata. Sesuatu bergetar di dalam dadanya, amarah… campur perasaan yang tidak bisa ia dijelaskan lagi.
Jiang Yu menggenggam lebih keras, hampir seperti menahan seekor binatang buas.
Percakapan perjamuan kembali berlangsung. Para pemimpin saling memuji kecocokan antara Rui Yan dan Qing Xian, tanpa sadar memperburuk suasana di sisi lain meja.
"Beruntung sekali Pangeran Rui Yan," kata pemimpin Benua Barat.
"Tunangan secantik itu… aura sucinya bahkan menenangkan ruangan."
"Jarang ditemukan keturunan suci seperti itu," sambung yang lain.
"Pantas ia menjadi calon Permaisuri masa depan!"
Lian Zhen menutup matanya, rasanya sangat muak.
Setiap pujian mengenai Qing Xian di bibir orang lain…
terasa seperti belati, yang menyayat kulitnya.
Ia berdiri.
Semua menoleh.
"Saya… izin pergi," ucapnya datar, suaranya dalam namun mengandung getaran samar.
Jiang Yue menatapnya khawatir, tapi tidak menghalangi.
Rui Yan hanya mengangguk kecil, penuh sopan, meskipun sorot matanya mencerminkan waspada.
Dengan kepergiannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi itu. tak ada memberikan respon lebih dari itu.
bahkan Rui Yan raut wajahnya, yang tadinya bahagia dan kini lebih terlihat sangat masam.
Jelas tahu kalau Lian Zhen pasti mencoba mencari Qing Xian. pasti juga pasti penasaran wajah mereka yang sama dan kekutan mereka yang amat berbeda itu.
Rui Yan mengirimkan transmisi suara dan tak ada hanya tahu kecuali, Kaisar Qing An. Dan ia hanya tersenyum pada kaisar dan minum gelas berisi araknya.
tatapannya menakutkan tapi beberapa detik kembali menghangat.
Keduanya cahaya dan kegelapan, saling mengangguk sebagai bentuk penghormatan.
Lian Zhen berbalik dan berjalan keluar dari ruangan megah itu, bayangannya memanjang, membawa hawa dingin yang membuat beberapa orang merinding.
membuat aula yang tadi penuh rasa ketenangan dan penuh rasa aman. kini tergantikan rasa penuh dengan mencengkam.
Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sedikit sekilas, namun cukup jelas. Bukan ke arah Rui Yan.
Ke arah tempat Qing Xian menghilang.
Dan tatapan itu…
tatapan seorang pria yang telah kehilangan, dan baru menyadari bahwa ia sebenarnya belum bisa melepaskan seseorang yang sudah pergi darinya.
..._BERSAMBUNG_...