NovelToon NovelToon
Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.

Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.

Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Hati Belajar Pulang

Langkah Arga terdengar tenang tapi berat ketika pintu ruangannya tertutup di belakangnya.

Udara dingin dari pendingin ruangan menyambutnya, namun tidak cukup untuk mendinginkan sesuatu yang samar bergejolak di dadanya. Ia berdiri sejenak di depan meja kerja, menatap pemandangan Jakarta dari balik kaca besar yang menjulang. Langit siang itu biru muda, awan bergerak perlahan di atas gedung-gedung tinggi. Tapi pikirannya tidak di sana.

Percakapan singkat dengan Dinda masih menggema samar. Suaranya, caranya menatap, bahkan tatapan itu, tatapan yang dulu membuatnya jatuh, kini justru terasa asing. Arga menghela napas panjang, menekan keningnya dengan jari. “Sudah cukup, Din,” gumamnya pelan, seolah bicara pada masa lalu. “Kamu sudah jadi bagian dari cerita yang selesai.”

Ia menatap jam tangan di pergelangan kirinya. Pukul 11.45. Masih ada waktu sebelum pertemuan berikutnya. Entah kenapa, pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Nama yang belakangan ini mulai mengisi ruang yang lama kosong di hatinya, Alya.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih ponsel di meja, mencari kontak bernama Alya dan menekan ikon hijau kecil. Satu dering, dua dering, hingga suara lembut itu menjawab dari seberang.

“Assalamu’alaikum, Mas.”

Nada suara itu hangat, lembut, dan menenangkan. Seolah seluruh penat Arga luruh dalam sekejap.

“Wa’alaikumussalam. Lagi ngapain, Al?” tanyanya, duduk perlahan di kursi.

“Lagi di panti, Mas,” jawab Alya sambil terdengar riang. “Baru aja selesai ngajarin anak-anak ngaji. Sekarang mereka lagi makan siang bareng. Mas gimana? Udah makan?”

Arga tersenyum samar. “Baru selesai meeting. Belum makan. Kayaknya nggak lapar.”

“Mas Arga,” tegur Alya lembut tapi serius. “Nggak boleh gitu, loh. Kesehatan itu amanah. Kalau Mas nggak makan, nanti sakit. Terus siapa yang aku cerewetin tiap hari?”

Arga tak bisa menahan tawa kecil. “Cerewet tapi ngangenin juga, ya?”

“Mas!” seru Alya sambil tertawa pelan. “Udah ah, jangan gombal di siang bolong. Beneran, abis ini makan ya. Nggak boleh cuma kopi doang.”

“Hmm,” gumam Arga pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Kayaknya kalau makan siang dimasakin sama kamu terus dimakan bareng di kantor, aku nggak bakal lupa makan lagi.”

Suara tawa kecil terdengar dari seberang. “Mas ini, ya, ada-ada aja. Tapi boleh juga, nanti aku bawain bekal. Biar teman-teman kantor Mas tahu siapa yang jagain Mas Arga sekarang.”

Arga menahan senyum. “Heh, jangan pamer-pamer istri cantik di depan Bima, nanti dia iri.”

“Kamu tahu? Dia itu bawain kopi tiap pagi. Kadang lebih cerewet dari kamu.”

Mereka tertawa bersama. Percakapan itu ringan, tapi cukup untuk membuat ruang kantor yang dingin terasa lebih hidup.

Setelah tawa mereda, Alya tiba-tiba bicara pelan.

“Mas, udah masuk waktu Dzuhur. Jangan lupa sholat ya. Aku juga mau sholat sekarang.”

Arga terdiam sejenak. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu terasa menenangkan sekaligus menampar halus sisi dirinya yang sering lupa beristirahat.

“Iya, siap, ustazah kecilku.”

“Mas!” protes Alya dengan nada manja.

“Hehehe, iya, iya. Aku sholat, janji.”

“Bagus. Udah, sana. Aku tutup dulu ya, biar Mas siap-siap.”

“Oke. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Begitu sambungan terputus, Arga masih menatap layar ponsel beberapa detik. Ada senyum di wajahnya, senyum yang jarang muncul bahkan untuk orang-orang terdekatnya di kantor.

---

Pintu ruangan terbuka pelan. Bima masuk sambil membawa dua kopi hitam.

“Bro, lo baik-baik aja?” katanya santai, tapi matanya mengamati wajah Arga yang tampak lebih lembut dari biasanya.

Arga menoleh sekilas. “Kenapa emangnya?”

“Gue liat lo senyum-senyum sendiri. Itu aneh banget buat ukuran Arga Maheswara.”

Arga menyeringai tipis. “Lo kebanyakan perhatiin gue.”

“Ya abis gimana, bos gue yang satu ini jarang banget nelpon orang dengan muka kayak orang jatuh cinta.”

Arga mengangkat alis. “Lo ngomong terus, kopinya gue lempar nih.”

Bima tertawa lepas. “Oke-oke. Santai bos.”

Arga tidak menjawab, hanya meneguk kopi perlahan.

“Gue nggak pernah liat lo segini tenangnya,” lanjut Bima, masih penasaran. “Biasanya lo stres, bentak-bentak, atau sibuk sampe malam.”

“Sekarang nggak perlu,” jawab Arga pelan. “Gue punya seseorang yang bikin semua itu… jadi terasa nggak penting.”

Bima memiringkan kepala. “Aduh, berat banget kalimatnya. Lo yakin itu Arga yang ngomong, bukan penyair?”

Arga berdiri, mengambil jasnya. “Lo berisik banget. Gue ke kamar belakang dulu.”

“Mau tidur siang?”

“Enggak. Mau bertapa. Keluar sana.”

Bima tertawa sambil mengangkat tangan tanda menyerah. “Siap, Guru Arga. Bertapalah dengan damai.”

Begitu Bima keluar, pintu kembali tertutup. Hening.

Arga berjalan menuju ruangan kecil di sisi barat ruangan khusus yang disediakan untuk beristirahat. Tapi di sudut ruangan itu, bukan ranjang yang menarik perhatiannya, melainkan sebuah sajadah hijau tua yang tergelar rapi di lantai kayu.

Ia membuka kancing manset, menggulung lengan kemeja, dan berdiri menghadap kiblat.

“Allahu Akbar.”

Suara adzan dari masjid di kejauhan samar-samar terdengar. Setiap gerakan yang ia lakukan terasa ringan, tapi bermakna. Takbir, rukuk, sujud, semuanya mengalir tanpa beban. Dalam keheningan itu, Arga merasa damai, sesuatu yang tak pernah ia rasakan bahkan ketika memimpin proyek terbesar hidupnya.

Ketika ia duduk di antara dua sujud, tiba-tiba muncul bayangan wajah Alya, senyum lembutnya, suaranya yang menenangkan, dan caranya menatap dunia dengan penuh keyakinan.

Ia tersenyum kecil tanpa sadar.

Sujud terakhir terasa lebih lama dari biasanya.

“Allahu Akbar…”

Selesai sholat, Arga duduk tenang di sajadah. Jari-jarinya bergerak pelan menghitung tasbih, tapi pikirannya melayang pada satu hal: ketenangan yang selama ini ia cari ternyata sederhana. Tidak ditemukan di puncak proyek atau keberhasilan, melainkan dalam doa dan cinta yang tulus dari seorang perempuan yang ia sebut istri.

“Terima kasih, Al,” bisiknya pelan. “Kamu nggak pernah banyak omong, tapi selalu bisa bikin aku inget arah.”

Ia menghela napas pelan, memejamkan mata sejenak.

Hening.

Cahaya mataharimenembus tirai, jatuh di lantai kayu tempat ia duduk. Di luar, kota Jakarta sibuk bberlari, mobil berseliweran, suara klakson bersahutan, dan gedung-gedung menjulang menantang langit. Tapi di ruangan itu, semuanya terasa berhenti.

Arga Maheswara, pebisnis sukses yang dikenal dingin dan rasional, kini hanya seorang suami yang tengah belajar memahami makna rumah dari seseorang yang membuatnya ingin pulang.

Ia berdiri, melipat sajadah perlahan, lalu berjalan kembali ke meja kerja. Di layar ponselnya, notifikasi pesan masuk dari Alya.

“Mas, anak-anak di panti kirim salam. Katanya terimakasih untuk jajanannya tadi pagi, mereka doain Mas sukses kerjaannya hari ini."

Arga tersenyum lagi.

Jarinya mengetik pelan.

“Sampaikan makasih ke mereka. Doa dari kamu dan mereka udah cukup buat bikin hari aku tenang.”

Ia letakkan ponsel, menatap langit biru di luar jendela. Tadi pagi, Arga sempat menitipkan sejumlah uang untuk Alya membeli makanan ringan untuk anak-anak di panti. Dunia di sekelilingnya berubah, hatinya kini ada seseorang yang mengajarkannya arti pulang.

1
Ma Em
Semoga Alya dan Arga selalu bahagia semakin cinta dan dijauhkan dari pelakor seperti si Dinda .
Ma Em
Dinda sdh nyerah saja kamu tdk akan bisa menang melawan Alya dia itu istri yg Solehah dan sangat penyabar Arga tdk akan berpaling lagi .
Ma Em
Dasar pelakor sdh tdk diajak malah maksa .
Ma Em
Bima iri tuh Arga dapetin istri yg Solehah seperti Alya .
Ma Em
Arga jgn sampai kamu tergoda lagi dgn Dinda kalau tdk ingin menyesal biarkan masa lalu jgn di ingat lagi dan lbh fokus pada istrimu Alya , karena tdk ada kesempatan dua kali kalau Alya dikecewakan pasti Alya akan pergi meninggalkan mu
Ma Em
Semoga Alya selalu bahagia bersama Arga walau akan ada ulat bulu yg akan nempel pada Arga semoga tdk akan mengganggu hubungan Arga dgn Alya serta langgeng pernikahan nya .
Rosvita Sari Sari
alya mah ngomong ceramah ngomong ceramah, malah bikin emosi
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
Ma Em
Dengan kesabaran Alya dan keteguhan hatinya akhirnya Arga sadar dgn segala tingkah perlakuannya yg selalu kasar pada Alya seorang istri yg sangat baik berhati malaikat
Ma Em
Semoga Alya bisa meluluhkan hati Arga yg keras menjadi lembut dan rumah tangganya sakinah mawadah warohmah serta dipenuhi dgn kebahagiaan 🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!