NovelToon NovelToon
Kebangkitan Zahira

Kebangkitan Zahira

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

pernikahan selama 20 tahun ternyata hanya jadi persimpangan
hendro ternyata lebih memilih Ratna cinta masa lalunya
parahnya Ratna di dukung oleh rini ibu nya hendro serta angga dan anggi anak mereka ikut mendukung perceraian hendro dan Zahira
Zahira wanita cerdas banyak akal,
tapi dia taat sama suami
setelah lihat hendro selingkuh
maka hendro sudah menetapkan lawan yang salah
mari kita saksikan kebangkitan Zahira
dan kebangkrutan hendro

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KZ 31

"Anggi, kenapa kamu bisa sampai lupa menutup akun media sosialmu?!" hardik Hendro dengan nada kesal.

Anggi tidak menjawab. Ia terus menatap layar ponselnya, membaca satu per satu hujatan netizen yang memenuhi kolom komentarnya. Wajahnya tegang, matanya tak lepas dari layar.

"Anggi!" teriak Hendro, kini lebih keras.

"Apa sih, Pah?!" balas Anggi dengan nada tinggi, masih terpaku pada ponselnya. "Lihat nih... semua orang ngejelek-jelekin aku. Ini semua gara-gara Papa!"

"Kamu ini gimana sih bisa sampai lalai mengontrol media sosialmu?!" bentak Hendro geram, nadanya tinggi penuh emosi.

"Pah... aku mau mati aja..." ucap Anggi lirih, suaranya nyaris tak terdengar, penuh kepedihan.

"Astaga, Anggi... istigfar, Nak!" seru Romlah, terkejut dan panik mendengar ucapan keponakannya.

"Tante... kenapa netizen kejam banget sama aku..." tanya Anggi dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.

Romlah menarik napas panjang, lalu mencoba menenangkan.

"Sabar, Anggi... tenang. Justru makin kontroversial, makin besar cuan yang bisa kamu dapatkan. Ini bukan akhir, tapi peluang."

"Maksud Tante apa?" tanya Anggi dengan dahi berkerut.

"Konten kamu itu viral, Anggi. Kamu pasti akan dapat uang dari situ," ucap Romlah dengan nada penuh keyakinan.

"Tapi aku malu, Tante... semua orang menghina aku," suara Anggi mulai bergetar, matanya memerah.

Romlah mencibir pelan lalu berkata, "Alah, mereka itu cuma sok suci. Hidupnya belum tentu lebih baik. Lagipula, mereka nggak tahu cerita sebenarnya. Siapa juga yang betah punya ibu kampungan dan kekanak-kanakan kayak Zahira? Di zaman sekarang, kamu harus kuat, Anggi. Jangan cemen!"

Anggi menunduk, masih belum bisa menerima kenyataan.

Hendro menimpali, "Sudahlah, sekarang saatnya kita atur semuanya... kita buat Zahira menyesal telah meninggalkan kita."

Romlah langsung menoleh, matanya berbinar. "Caranya gimana, Mas?" tanyanya penuh antusias.

Sejak dulu Romlah memang mengagumi Hendro. Apalagi sekarang, dengan jabatannya yang tinggi di kota besar, ia makin terpikat. Maka saat Hendro meminta bantuannya untuk menghancurkan Zahira, tentu saja Romlah menerimanya dengan senang hati.

"Karna, tolong jelaskan rencanamu," ucap Hendro serius, sorot matanya tajam.

Karna mengangguk pelan, lalu menjawab, "Langkah pertama, aku akan minta RT setempat mengumpulkan data—SPT, KTP, dan KK milik si Edi. Setelah itu, kita akan proses pengalihan kepemilikan rumah itu... termasuk beberapa rumah di sekitar tempat tinggal Zahira."

"Untuk apa semua itu?" tanya Romlah penasaran.

Hendro menyeringai kecil, "Ada rekan bisnisku yang tertarik membangun bungalow di daerah situ. Lokasinya strategis dan cocok untuk investasi jangka panjang."

"Ya, dengan bantuan Pak Hendro, rumah itu akan jadi milikku. Setelah itu, langsung aku jual ke pengusaha yang tertarik dengan tanah di sana," ucap Karna penuh percaya diri.

"Apa... bisa seperti itu?" tanya Romlah dengan nada ragu, tak percaya rencana sekejam itu bisa dilakukan.

Karna tersenyum sinis, "Tentu saja bisa. Untuk urusan begini, Mas Hendro jagonya. Semua bisa diatur—asal ada uang dan koneksi."

Hendro hanya tersenyum tipis, matanya dingin penuh perhitungan.

Percakapan mereka pun terus berlanjut, penuh siasat dan rencana jahat yang disusun rapi, seolah semuanya hanyalah permainan yang tinggal menunggu waktu untuk dijalankan.

..

..

Sementara itu di rumah Zahira, setelah Hendro pulang, suasana justru semakin ramai. Warga sekitar masih berkumpul, menunjukkan simpati dan dukungan untuk Zahira. Beberapa membawa makanan, yang lain hanya duduk menguatkan.

Saat Zahira berjalan ke ruang tamu, ia terkejut melihat Adit datang.

"Adit? Kamu ke sini?" tanya Zahira dengan nada heran.

Adit tersenyum santai. "Bu, emangnya aku nggak boleh ke sini?" sahutnya sambil melirik ke arah Yusni.

Yusni ikut tersenyum. "Jangan sungkan, Nak Adit. Sebelum kalian resmi, kamu boleh nginap di rumah Zahid dulu," katanya dengan nada menggoda penuh arti.

"Resmi apaan sih, Bu?" tanya Zahira, bingung tapi juga geli dengan arah pembicaraan.

Edi ikut angkat suara, nadanya tenang dan bijak. "Ya, tunggu saja proses perceraianmu, Zahira. Bapak lihat, Hendro itu nggak akan menyerah semudah itu. Sebaiknya kamu gugat cerai saja lewat pengadilan."

"Iya, habis itu baru deh kamu bisa resmi sama Adit," timpal Yusni sambil tertawa kecil.

"Aku sih dukung banget kalau sama Mas Adit," ucap Zenab sambil mengacungkan jempol.

"Aku sih yes!" sahut Zahid sambil tertawa lepas.

Zahira menutup wajahnya dengan tangan, merasa malu sekaligus kesal. "Kalian ini ngomong apa sih? Aku sama Adit nggak ada hubungan istimewa!"

Edi tersenyum menatap Adit. "Ya, sepertinya kamu harus berjuang lebih keras lagi, Dit."

Yusni menimpali, "Zahira, Adit itu masih bujangan, loh. Kamu pikir, kenapa dia belum juga nikah sampai sekarang? Dia nunggu kamu."

"Ibu apaan sih..." balas Zahira pelan, pipinya memerah malu.

Adit lalu menatap Zahira, wajahnya serius namun tetap lembut. "Begini, Zahira... aku sudah melamar kamu ke Bapak dan Ibu. Mereka sih jawabannya yes. Tapi yang paling penting... aku juga perlu dengar jawaban dari kamu."

Zahira menatap Adit, sedikit terkejut. "Kamu melamar aku ke orang tuaku... sedangkan aku sendiri belum tentu mau sama kamu." ucapnya, nada suaranya sedikit kesal—tapi tak bisa menyembunyikan rona malu di wajahnya.

"Ya, baguslah, Mbak," ucap Zaenab dengan tulus. "Mas Adit ini beda jauh sama Mas Hendro. Dia banyak bantu keluarga kita, bahkan waktu Mbak masih menikah sama Hendro."

Zahira tersenyum, lalu menoleh pada Adit. "Emang kamu belum menikah, Dit?"

"Aku masih perjaka ting-ting!" jawab Adit bangga, dengan gaya bercanda.

"Aku nggak percaya," balas Zahira sambil menyipitkan mata.

"Mau bukti?" sahut Adit cepat.

"Dasar gila!" Zahira menepuk lengan Adit, mereka pun tertawa.

Percakapan hangat terus berlanjut. Keakraban yang mereka rasakan malam itu terasa begitu istimewa—sebuah suasana yang tak pernah Zahira rasakan selama dua puluh tahun menikah dengan Hendro. Hubungan persaudaraan yang dulunya terasa seperti permusuhan perlahan mencair… hanya karena Zahira mulai membuka hati pada sosok yang benar-benar menghargainya.

Zahira lalu menyodorkan ponselnya ke Zaenab. "Zaenab, aku mau tanya soal ini."

Zaenab menerima ponsel itu dan membaca isi layar. Matanya langsung membelalak.

"Oh, jadi penulis Wanita Sekeras Baja itu... Kaka?" tanyanya kaget.

"Iya, memang kenapa?" sahut Zahira, penasaran.

"Soalnya tiap kali aku buka aplikasi novel online, buku itu selalu muncul di halaman depan!" jelas Zaenab antusias.

"Oh, begitu... tapi sebenarnya bukan itu yang mau aku tanyakan," ucap Zahira cepat.

"Terus, apa dong yang Kaka mau tanya?"

Zahira menarik napas, lalu berkata pelan, "Aku bingung... apakah aku dapat uang dari nulis itu?"

"Coba aku lihat," ucap Adit yang penasaran.

Ia mengambil ponsel dari tangan Zaenab dan mulai memeriksa aplikasi dengan teliti. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.

"Ini serius kamu yang nulis, Zahira?"

"Iya," jawab Zahira pelan.

"Astaga... saldo akun kamu udah 3.500!" seru Adit tak percaya.

"Astaga... tahun 2025 gaji penulis masih kecil aja," keluh Zahira, kecewa.

"Eits, tunggu dulu. Kamu tahu nggak itu 3.500 dolar? Kalau dirupiahin, itu sekitar 52 juta, Zahira." jelas Adit penuh semangat.

"Apa?! Lima puluh dua juta?!" Zahira terkejut, tak percaya dengan nominal itu.

"Kaka hebat banget!" Zaenab berkata dengan mata berbinar, terharu dan bangga.

"Dan ini belum semua, loh," tambah Adit sambil scroll aplikasi lain. "Di platform satu lagi, banyak banget yang nawarin buat angkat novel kamu jadi film pendek."

"Dari mana kamu tahu?" tanya Zahira dengan mata melebar.

"Ini, loh. Ada banyak pesan masuk di sini. Emang kamu nggak pernah buka kotak masuknya?"

Zahira hanya menggeleng, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

1
Elfia Yusma
apa suami dan anak2 ny g pakai android? ini keterlaluan cerita ny, dlm 20 th pernikahan wlu tak di cintai dan di hargai, kan bs melihat gaya hidup suami dN anak ny,
Tamirah Spd
Zahira wanita yg cermat dan teliti ia bisa menguasai medan dan waktu ,ia bisa menjelaskan secara detail kronologi kejadian yg sebenarnya.
Tamirah Spd
Hanya ada dlm dunia halu anak kandung sdh remaja justru menyuruh ayahnya menceraikan ibunya sendiri dan lebih menghargai istri kedua ayahnya.....wes angellllll.
Derma S
Luar biasa
Nila Sari Sari
bagus nih cerita nya singkat padat ga bertele tele 👍
Nasiati
ceritany ok bangrt👍👍👍
Nasiati
alhamdulillah makin seru cerita ny
Nasiati
tunggu azab anak durhaka
Wiliam Zero
Novelnya bagus dan happy ending 👍
Mei Saroha
masa sih zahira ngga ngenalin
Mei Saroha
Zainab bukannya ud punya anak, koq suaminya ngga pernah disebut ya
budak jambi
kutuk be kedua ank tu.tidak akan kebahagiaan di hidup mereka dan Ratna jg Hendro hidup sengsara
Hana Nisa Nisa
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Dedeh Dian
sungguh bagus alur ceritanya..banyak terselip kisah hidup insan manusia ...sebagai contoh yg baik dan buruk untuk diambil hikmahnya... makasih author
Ihay Hairunnisa
keren ceritanya.. perjalanan kehidupan...
itin
kok lama lama flat ya 🫣
zahira terlalu mulus sekali perubahannya
dan ceritanya hanya disitu situ ajjah. maap. maap. maap
itin
apa begitu kali ya jalan cerita dunia perpolitikan uang dan jabatan. menggulingkan terbukti yang bersalah mengangkat naik jabatan bagi sekutunya yang kemudian nanti akhirnya justru terbukti sebagai pelaku/oknum kejahatan. pdahal ini masih tentang garment belum yang lahan basah tapi banyak sekali intriknya 😁😄
itin
angga anggi seumuran kan ya dgn senja dan kembarannya tp knp pendidikannya kayak lbh tinggi senja ya. anak magang status pendidikan sdh S1 atau setara kan ya sesgkan anggi msih anak kuliah ingusan
itin
kampung mana ini tempat tinggalnya zahira sekarang kok bodoh semua penduduknya. patutlah adit bilang kliniknya bisa tutup krn satu hasutan sekampung percayaan ternyata memang sesempit itu pola pikir sekampungnya zahira tinggal.
itin
padahal ada kata bijak "SEBURUK BURUKNYA INDUNG KANDUNGMU MENGASUH TAPI BILA MENDADAK DIDIKAN YANG BAIK DARI ORANG ORANG TERDEKAT YANG MENGASIHIMU SEDIKITNYA BISA PUNYA SISI BAIKNYA ITU ANAK ANAK BEDJATT" 😁🫣🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!