Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belva dan Aera
Di sisi lain, Belva tengah mengamuk dan membanting semua file diatas meja.
Ia sedang berada di ruang kerjanya, ia pulang ke perumahan yang di berikan Reno kepada Belva dengan hati yang bergemuruh hebat.
Ia juga sudah tau siapa dalang di balik semua kekacauan hari ini.
Tak lama pintu terbuka dan terlihat Luxas, yang sedang berjalan dengan tertatih, bahkan keningnya di perban.
"Sayang, kok kamu nggak nyusulin aku kerumah sakit?" kesalnya.
"Kacau! Semuanya kacau gara-gara anak sialan itu," ucapnya dengan amarah yang sudah memuncak.
"Apa maksud kamu?"
Belva melempar ponsel pada lelaki itu, Luxas melihat dan seketika ia membulatkan matanya.
"Aku rasa gadis itu memata-matai kita?" Tebaknya masih dengan wajah yang terkejut.
Belva mengamuk membenarkan, "Jadi dia mau main-main sama seorang, Belva?" Tanyanya menyeringai.
Tak lama ia mencari nomor seseorang, "Bunuh anak itu malam ini!"
Luxas yang mendengar itu seketika terkejut, namun tak lama ia tersenyum miring, tentu saja ia merasa senang.
...----------------...
Teriknya sinar matahari tidak membuat remaja cowok, yang saat ini tengah duduk bersila di samping gundukan tanah itu, berniat pergi dari sana. Siang ini, suasana di sekitar Pemakaman Umum Jakarta Selatan terlihat sangat sepi. Hanya ada sekitar enam orang, termasuk Leonar, yang sedang berziarah di sana.
Sejak satu jam yang lalu, Leo masih saja menatap kosong ke arah nisan bertuliskan nama seorang perempuan hebat yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya. Kehilangan orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya dari kecil sampai berusia 12 tahun itu sangat berat, apalagi Leo menjadi anak tunggal satu-satunya dari keluarga Andromedra Sky. Dia tidak punya tempat untuk bersandar kecuali ibu kandungnya sendiri.
Setelah Ibu kandungnya meninggal hidupnya terlalu hampa. Jika di perbolehkan, mungkin Leo akan memilih untuk ikut pergi bersama ibunya. Dia memang hidup, tetapi jiwanya ikut mati bersama raga yang pernah di peluknya.
"Bunda," panggil Leo, Suaranya parau, terdengar seperti menahan tangis. Rasanya, dia selalu berubah menjadi sosok yang cengeng jika sudah menginjakkan kaki di tempat ini.
Tangan kanan Leo bergerak meraih tas sekolah yang tergeletak di sampingnya. Dirogohnya tas warna hitam itu untuk mengambil sebuah buku yang sudah menguning dari dalam sana. Senyuman sendu terukir dari bibirnya setelah berhasil mengeluarkan buku yang selalu menemaninya selama ini.
Serunya Jadi TNI [Angkatan Udara]
Leo masih ingat. Waktu berumur lima tahun, ibunya memberikan buku itu di hari ulang tahunnya. Gentari tahu kalau Leo ingin sekali menjadi seorang TNI [Angkatan Udara]. Gentari membelikan buku itu lantaran tahu kalau anaknya seringkali berceloteh ingin menjadi seorang TNI [Angkatan Udara] ketika sudah dewasa nanti.
"Tiap naik pesawat, aku nggak pernah mau tidur dan selalu natap ke arah jendela. Meskipun nggak mungkin, aku selalu berharap bisa lihat Bunda di sana," kata Leo seolah tengah bercerita kepada bundanya, Gentari.
"Ayah belum bisa kasih restu sekarang. Kalau di minta buat nerusin bisnis properti, jelas aku nggak mau." Leo mengusap pelan sampul buku kesayangannya itu dengan lembut.
"Doain Leo ya, Bun?"
"Ayah selalu paksa aku. Ngerjain berbisnis sedini mungkin. Padahal Ayah tau kalau aku nggak pernah suka. Tiap didikan yang Ayah kasih... Aku ngerasa dia punya dendam sendiri."
...----------------...
Sedangkan Aera sedang berjalan menuju ke minimarket, ia akan membeli gunting yang akan ia gunakan untuk berjaga- jaga.
Karena feelingnya mengatakan kalau dia sedang dalam bahaya.
Ia keluar dan berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Ekor matanya menangkap beberapa orang berpakaian serba hitam tengah mengikuti dirinya. Aera berjalan dengan cepat, ia menuju ke ruko-ruko yang sudah tutup mengingat hari sudah malam.
Ia mencari tempat persembunyian, ia juga merogoh ponsel dan mengetikkan sesuatu pada seseorang.
"Jalang sialan! Nggak bisa apa yah sehari aja bikin hidup gue tenang," gumamnya dengan emosi.
Aera melonggokkan kepalanya, ia melihat orang-orang itu tengah mencarinya.
Dengan sengaja ia melemparkan batu ke arah yang berlawanan.
Dug!
"Itu pasti dia, ayo kejar!"
Sedangkan Aera bernafas lega, ia sangat bersyukur mempunyai otak yang cerdas.
Ia juga mengakui bakatnya sebagai penipu yang ulung.
Saat akan membalikkan badanya, satu pukulan sukses membuat tubuhnya terpental ke belakang.
BUGHHH!
"Hallo anak sialan," sapanya tersenyum miring.
Aera mengusap sudut bibirnya yang berdarah, ia merasakan sakit yang luar biasa sampai membuat kepalanya berputar hebat. Namun ia mencoba untuk berdiri, jangan sampai perempuan itu tau kalau dirinya tengah menahan sakit.
"Berani sekali anak ingusan kaya kamu mengusik hidup saya!" Belva menjambak rambut Aera sampai gadis itu mendongak ke atas.
"Lepas sialan! Gue pastikan setelah ini lo membusuk di penjara!"
Sedangkan Belva tertawa mengejek, "Sebelum kamu melaporkan saya, nyawa kamu sudah melayang menyusul wanita gila itu," tekannya semakin menarik rambut Aera dengan brutal.
Aera merasakan kulit kepalanya terasa sakit dan perih seperti ingin terlepas dari tempatnya.
Belva menghempaskan tubuh kecil Aera dan membentur pilar besar yang berada di samping gadis itu.
Darah mengalir dari pelipisnya karena terkena ujung pilar itu.
Belva seperti kesetanan, dengan tega ia menyeret rambut Aera dan membawanya ke dalam salah satu ruko yang terbengkalai.
Aera terus saja memberontak, namun lagi-lagi ia harus kalah. Karena tenaganya tidak sebanding dengan perempuan itu.
Belva melempar tubuh Aera sampai gadis itu memejamkan matanya.
"Kamu mau melawan saya?" Tanyanya sambil melepaskan gesper yang ia pakai.
Belva mencambuk tubuh Aera tanpa ampun, ia juga tak segan-segan untuk menendang perut gadis itu yang sudah meringkuk di bawah sana.
Aera menunduk, ia membayangkan wajah Leonar, ia berharap laki-laki itu bisa segera menolongnya.
Sementara Belva melihat satu besi panjang yang sudah berkarat tepat di belakang Aera, ia berjalan dan mengambil besi panjang itu.
Ia memundurkan langkahnya dan bersiap mengayunkan besi itu tepat di kepala Aera.
Namun, belum sempat besi itu mengenai kepala Aera, satu tendangan dari arah belakang membuat Belva tersungkur ke depan.
BUGHHH!
"Aakhhh..."
"Keparat! Perempuan biadab!" Laki-laki itu segera berlari dan membantu Aera untuk berdiri.
"Leo..." panggilnya dengan suara lirih.
"Diem! Nggak susah banyak bicara!"
Leo melihat wajah Aera yang sudah di penuhi oleh darah.
Bahkan kaos putih yang ia pakai sudah berubah menjadi warna merah karena tetesan darah dari wajahnya.
Tubuh Aera sangat lemah, namun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Ia tidak mau membuat Leo khawatir.
Belva yang melihat ada celah, dengan segera ia berdiri dan mengambil besi panjang itu dan dengan segera mengayunkannya ke arah Leo.
Aera yang melihat itu langsung mendorong tubuh Leo kesamping, ia langsung mengambil benda yang ia beli di minimarket.
Dengan pasti Belva melemparkan besi itu mengenai kepala Aera berbarengan dengan gadis itu yang menusukkan gunting itu ke perut Belva.
BUGH!
JLEB!
Leo yang melihat itu langsung melayangkan pukulan nya pada wajah Belva sampai perempuan itu terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari perutnya.
"Banjingan! Lo nggak pantas di jadikan seorang ibu." Makinya dengan keras.
"Gue mohon bertahan!" Leo membawa tubuh Aera dalam pelukannya, laki-laki itu berjalan cepat menuju mobil yang ia parkir kan tidak jauh dari ruko tersebut.
Aera sendiri merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di bagian kepala yang terkena hantaman besi panjang itu.
Aera memejamkan matanya, ia mencoba untuk tetap tersenyum. Tangan laki-laki itu bergetar, bahkan jantungnya berdegup kencang.
Ia melihat darah yang terus mengalir dari pelipis dan kepala Aera.
"Sorry, aku telat. Aku telat datang buat selamatin kamu dari monster itu," tuturnya penuh dengan penyesalan.