NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Burung yang Terkurung dalam Es"

Setelah menangis berjam-jam, Dewi merasa lelah sampai ke tulang. Dia berbaring diam di kasur, mata menatap langit malam yang gelap. Tiba-tiba, bunyi genta kamar berdering keras, diikuti dengan suara Paman Kelima yang keras: “Dewi, buka pintu sekarang juga! Jangan membuat kita lagi capek menunggu!”

Dewi tidak mau bergerak. Tapi bunyi ketukan pintu semakin keras, sampai seolah-olah pintu akan roboh. “Dewi! Kalau kamu tidak buka, aku akan mendobrak nya!” seru Paman Kelima lagi.

Dewi terpaksa bangkit, langkahnya lemah. Dia membuka pintu dan melihat Paman Keempat, Paman Kelima, ayah, dan ibunya berdiri di depan kamar. Wajah paman-pamannya terlihat marah dan tidak sabar.

“Sudah cukup menangis! Sekarang kamu ikut Arif pulang, seperti yang kita suruh,” ujar Paman Kelima dengan tegas. Dia menggenggam lengan Dewi dengan kuat, membuatnya terasa sakit.

“Ayo, nak. Jangan membuat masalah lagi,” tambah Paman Keempat dengan nada yang seolah-olah memaafkan.

Ayah Dewi hanya bisa mengangguk, wajahnya penuh rasa malu. Ibunya melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca, tapi tidak berani berkata apa-apa. Dewi merasa hati nya semakin dingin—bahkan orang tuanya tidak mau melindunginya.

Dia dipaksa berjalan keluar dari rumah, menuju Arif yang berdiri di depan gerbang. Arif melihatnya dengan wajah yang penuh harapan, tapi tidak melihat betapa dinginnya mata Dewi. “Yuk, Dewi. Kita pulang,” ujar Arif, mencoba memegang tangannya. Tapi Dewi menarik tangannya kembali dengan cepat.

Perjalanan ke rumah Arif terasa begitu lama. Dewi duduk di kursi belakang motor, mata menatap jalan yang bergulir di depan. Dia tidak berkata apa-apa, hatinya seolah-olah dibungkus oleh lapisan es yang tebal. Semua perasaan yang dia miliki—rasa sakit, rasa marah, rasa tidak dipahami—semua hilang, digantikan oleh dingin yang tak terhindarkan.

Ketika mereka tiba di rumah Arif, yang sederhana tapi bersih, Arif menawarkan minum dan makanan. “Kamu pasti lapar ya, Dewi? Aku masak apa yang kamu suka,” ujarnya dengan senyum. Tapi Dewi hanya menggeleng, tidak mau membuka mulut.

Dia masuk ke kamar tidur yang sudah disiapkan Arif untuknya, duduk di sudut kamar sambil menatap dinding. Arif mendekati, mencoba mencium pipinya. Tapi Dewi mundur, menjauh dari sentuhan dia. “Dewi, apa yang salah? Kamu tidak mau bicara sama aku?” tanya Arif dengan suara yang cemas.

Dewi hanya diam, mata tidak bergerak dari dinding. Dia merasa seperti orang asing di rumah sendiri, seperti tubuhnya ada di sana tapi hatinya sudah pergi jauh—ke desa neneknya, ke tempat di mana dia pernah merasa bahagia.

Malam itu, Dewi tidur dengan posisi tubuh membungkuk, menutup diri dari dunia luar. Arif tidur di sisi lain kasur, mencoba tidak mengganggunya. Dia belum menyadari bahwa tingkah aneh Dewi bukan hanya karena lelah atau sedih—tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang telah merusak bagian dalam dirinya.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Dewi tetap diam, tidak pernah berkata lebih dari satu atau dua kata. Dia membantu pekerjaan rumah dengan cara yang pasif, makan hanya sedikit, dan menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di sudut kamar atau menatap jendela. Arif sering mencoba berbicara dengannya, menceritakan tentang pekerjaannya, tentang hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Tapi Dewi hanya mendengarkan diam-diam, tidak pernah memberikan tanggapan.

“Saya sudah berubah, Dewi. Kamu lihat kan? Saya tidak lagi marah-marah seperti dulu,” ujar Arif satu hari sore, sambil menunjukkan dia sudah membersihkan rumah dan memasak makan malam. Tapi Dewi hanya mengangguk, mata kosong. Dia tidak peduli apakah Arif berubah atau tidak—karena hatinya sudah terlalu dingin untuk merasakan apapun.

Suatu hari, Arif membawa teman-temannya ke rumah. Mereka ingin bertemu Dewi, mengucapkan selamat karena mereka akhirnya bersatu lagi. Tapi Dewi hanya duduk diam di sudut ruang tamu, tidak mau menyapa atau berbicara. Teman-teman Arif terlihat heran, dan Arif merasa malu. “Maaf ya, dia masih sedih karena baru pulang dari desa,” ujarnya dengan senyum yang paksaan.

Setelah teman-temannya pergi, Arif mendekati Dewi dengan suara yang marah. “Dewi, apa ini? Kamu tidak mau menghargai usaha saya? Saya sudah berubah untukmu, tapi kamu tetap seperti ini—dingin dan jauh!” seru dia.

Tapi Dewi hanya diam, mata menatap lantai. Dia tidak merasa marah, tidak merasa sedih. Dia hanya merasa lelah—lelah berjuang, lelah mencoba membuat orang lain memahami, lelah berusaha bahagia.

Pada saat itu, Arif menyadari bahwa ada yang salah. Dia melihat mata Dewi yang kosong, tubuh yang kurus dan lemah, dan dia menyadari bahwa tingkah aneh Dewi bukan hanya karena kesedihan sementara. Dia telah kehilangan bagian dari diri nya yang paling penting kemampuan untuk merasakan cinta, kebahagiaan, dan semua perasaan yang membuat hidup berarti.

Dewi melihat Arif dengan mata yang dingin. Dia tidak bisa berkata apa-apa, tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa dia sudah berubah. Dia bukan lagi gadis yang ceria yang pernah bersenang- senang di pantai bersama Rafi, bukan lagi gadis yang berharap akan masa depan yang cerah. Dia telah berubah menjadi seseorang yang dingin, diam, dan hilang—seseorang yang telah kehilangan cara untuk merasa hidup.

Semua paksaan yang dia terima, semua tuduhan yang dia terima, semua rasa tidak dipahami yang dia rasakan — semuanya telah mengubah nya menjadi orang yang tidak dikenal nya lagi. Dan dia tidak tahu apakah dia akan pernah bisa kembali ke dirinya yang lama.

...

Dewi menutup mata, merasakan dinginnya hati yang semakin membanjiri dirinya. Dia adalah orang baru sekarang—orang yang hidup dalam diam dan dingin, jauh dari semua yang pernah dia cintAi.

Beberapa hari kemudian, Arif menerima panggilan dari ibunya Dewi. “Bagaimana kabar Dewi? Dia sudah baik-baik saja?” tanya ibunya dengan suara yang cemas. Arif terdiam sebentar, tidak tahu apa yang harus dikatakan. “Dia… dia baik-baik saja, Bu. Tapi dia jarang bicara. Seperti ada dinding di antara kita,” jawabnya dengan lemah.

Di kamar, Dewi mendengar panggilan itu. Dia tahu ibunya merindukannya, tapi dia tidak bisa merasakan apa-apa. Dia hanya berdiri di depan jendela, melihat langit yang mendung. Tiba-tiba, dia melihat seekor burung yang terbang bebas di langit—seperti Rafi yang pernah memberinya kebebasan untuk merasa bahagia.

Tetapi kebebasan itu sudah hilang. Semua paksaan dari paman-pamannya, semua tekanan yang dia terima, telah mengunci hatinya dalam sel yang gelap dan dingin. Dia tidak bisa lagi terbang, tidak bisa lagi merasa senyum yang tulus, tidak bisa lagi merasakan cinta yang sesungguhnya.

Arif mendekati dia, tangan ingin menyentuh pundaknya. Tapi Dewi mundur lagi. Dia melihat Arif dengan mata yang kosong, dan dalam hati dia berpikir: ini adalah hidup yang telah dipilihkan orang lain untuknya—hidup yang dingin, diam, dan tanpa harapan. Dan dia tidak tahu apakah dia akan pernah bisa melarikan diri dari sana.

 

 

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!