Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi menjadi pengantin pengganti
Setelah sampai di lantai dua, Amara berjalan ke arah pintu kamar, di samping kamar itu adalah kamarnya dulu, wanita itu hanya melirik nya sedikit, lalu langsung membuka kamar adik nya, Dia sudah tahu adik nya di sana karena dari cerita Glen yang bilang adik nya di pindahkan di rumah.
Mata tajam itu menatap sosok yang tampak terlihat terpejam dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya, Dia langsung berjalan mendekat, melihat wajah yang sama dengan dirinya hati nya merasa sesak.
Dia mengingat perpisahan saat 7 tahun yang lalu, adiknya waktu itu juga mengalami kebutaan akibat masalah itu, sekarang pertemuan setelah 7 tahun itu justru juga adik nya malah koma.
"Malang banget sih nasib mu, kupikir kau sudah hidup lebih baik dari diriku, tapi fakta nya kau jauh lebih menyedihkan, bahkan mencintai orang yang gak setia," ucap Amara sambil tersenyum getir, menatap Amira yang masih terpejam.
"Mira, kamu tau gak? Tunangan mu bahkan lebih memilih terbang menjemput ku daripada menunggu mu sadar, itu brengsek banget kan?" lanjut nya, nada bicaranya seperti sebuah ejekan untuk Amira, 'bahwa jika dirinya tidak sadar secepatnya maka semuanya akan di ambil oleh nya'.
Amira sama sekali tidak bergerak atau bangun, wanita itu masih setia dengan tidur panjang nya, yang terdengar hanya suara monitor dan jarum jam.
"Amara, gak seharusnya kau bersikap begitu pada Bunda, yah. Dia gak salah itu semua salah Aku dan Ayah," ucap Darel yang baru saja masuk, pria itu merasa tidak terima jika ada yang menyakiti Bundanya termasuk adik nya sendiri.
"Apa sih Lo? itu juga kesalahan Dia, kalo Dia gak lemah jadi wanita pasti semua hal gak akan terjadi," ketus Amara menatap Darel dengan benci.
"Stop membela nya lagi, Gue muak dengerin nya," lanjut nya saat Darel hendak berbicara.
"Lo Gue? Kenapa gak sopan begitu sih? dulu aja kamu gak gini," ucap Darel merasa tidak terima dengan panggilan itu.
"Bahkan Gue juga bisa memanggil mu dengan nama langsung, Darel Maherza Argadinata, brengsek, sialan, bodoh, bucin," sarkas Amara dengan mengejek.
"Kau keterlaluan." Darel yang kesal hendak menampar pipi Amara, namun wanita itu langsung memegang tangan Darel dan meremasnya kuat-kuat.
"Ha-ha-ha, jangan macam-macam dengan Gue, Lo bisa saja Gue balas lebih kejam," balas Amara sambil tertawa jahat, lalu setelah nya menghempaskan tangan Darel membuat Darel menjerit kesakitan.
"Kuat banget dia, sampai tangan ku hampir patah," batin Darel sambil memegangi tangan nya kesakitan.
Sedangkan Amara langsung melangkah keluar dari ruangan itu, setelah nya membuka kamar nya, kamar yang menemani Masa kecil dan remaja nya, di situ banyak sekali lukisan dan gambar-gambar anak kecil, dia dulu sudah bermimpi menjadi dokter anak namun karena menikah muda dan terjadi insiden, mimpi nya pun iya lupakan dan di lanjutkan oleh Amira yang menjadi dokter kandungan.
Wanita itu merebahkan tubuhnya di kasur, merasa lelah dan capek, terlebih tidak bisa tidur selama di pesawat.
Baru saja memejamkan matanya, suara ketukan pintu sudah terdengar, membuat wanita itu mendengus kesal, lalu berjalan ke arah pintu.
"Maaf Nona, Saya di suruh mengantar tukang rias, sekaligus untuk mewarnai rambut anda," ucap Lina pelayan yang sudah bertahun-tahun kerja di rumah itu.
"Silahkan masuk." Amara hanya pasrah tidak mau bertanya lagi, karena sedang tidak punya banyak energi untuk berdebat.
Pukul 4 Sore Amara sudah di rias seperti pengantin,Dia menggunakan singer Sunda dan kebaya putih sesuai keinginan Amira sebelumnya, wanita itu tampak cantik dengan rambut yang sudah berwarna coklat seperti warna rambut Amira.
Wanita itu kini sudah berada di kamar adiknya, menatap wajah yang terpejam itu dengan tatapan mengejek.
"Lihat Mira, bahkan pakaian mu Aku pakai. Ku Akui kau memang lebih tinggi dari ku, tapi Aku selalu lebih unggul dari mu, dalam hal apapun," ucap Amara sambil menunjukkan penampilan nya di hadapan adiknya, Dia merasa kesal sekaligus iri pada adiknya, karena adiknya lebih tinggi dari nya, karena hal itu dia sampai memakai high heels setinggi 17 cm agar kebaya yang di pakai tidak kepanjangan.
"Mira, kamu gak niat bangun apa? Aku gak mau jadi pengganti, jujur yah walaupun hubungan kita sering gak baik, tapi Aku gak mau rebut milik mu," lanjut nya menatap ke arah Amira, namun wanita itu hanya bergeming tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
"Nona, acaranya akan segera di mulai," suara Lina membuat Amara langsung mengurungkan niatnya untuk bicara banyak, dengan terpaksa Amara pun meninggalkan kamar adik nya.
Di tangga Dia berpapasan dengan Dinda, tapi wanita itu memilih untuk acuh saja, membuat wanita paruh baya itu sedih, tapi Dia tidak ingin memaksa.
Sampai di bawah sudah ada beberapa orang yang Amara kenal tidak banya hanya keluarga inti saja, acara ijab qobul itu sengaja di buat tertutup agar tidak banyak yang tahu, kalo Amara adalah pengantin pengganti, itulah hal yang harus di tutupi agar tidak menjadi perbincangan banyak orang, terutama ibu tiri dan saudara tiri Glen dan Kakek nya yang sering kena hasutan jahat, yang bisa saja nanti nya akan malah menjadi bumerang.
Sedangkan untuk resepsi nya nanti malam baru akan di gelar secara besar-besaran di hotel.
"Cantiknya calon istri ku," bisik Glen pada Amara, saat Amara sudah menghampirinya, seorang diri tanpa ada yang menggandeng nya.
"Harus menikah dengan nama itu yah?" tanya Amara berbisik di telinga Glen, tanpa menghiraukan perkataan pria itu, dia tidak mau baper atau terpengaruh dengan godaan dan rayuan pria itu.
"Tentu, Ayahmu sudah membuatkan identitas baru, karena KTP lama mu pasti sudah gak ada," jawab Glen panjang lebar, mempersilahkan Amara untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Ayahnya.
Namun wanita itu lebih memilih untuk membuang muka saja, saat tidak sengaja matanya bertemu pandang dengan Ayahnya, karena ego dan benci nya yang menguasai dirinya.
"Bener-Bener copy paste diriku, tapi ini fersi Adin, lebih mengerikan, wajah imut dan menggemaskan tapi mode dingin dan penuh dendam, Bener-Bener kombinasi yang sempurna," Batin Farel sambil menatap ke arah putrinya, ada rasa puas tersendiri.
"Bisa di mulai, ijab qobul nya?" tanya Pak penghulu menatap ke arah Farel, membuat pria itu membuyarkan lamunannya.
"Tentu," jawab Farel sambil menganggukkan kepalanya lalu menjabat tangan Glen yang tampak terlihat gugup.
'Bagi anak perempuan cinta pertama adalah Ayah, begitu pula dengan ku, dulu Aku mengecewakan Ayah karena menikah dengan orang yang salah, hingga Ayah membuang ku, sekarang Aku juga menikah karena sebuah kesepakatan, sungguh dunia tidak adil,' Batin Amara menerawang jauh ke masa lalu, Dia ingin memanfaatkan Ayah nya dan memeluknya, mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja,tapi ego dan benci nya terlalu besar.
"Sah?"
"Sah"
Kata sah sudah terdengar menandakan bahwa Amara sudah resmi menjadi seorang istri, hal itu membuat Amara yang melamun kini tersadar, saat Glen meminta wanita itu mengulurkan tangannya untuk memakaikannya cincin pernikahan.
Dengan berusaha untuk tidak terkejut wanita itu pun mengulurkan tangannya, dan kini sebuah cincin berlian berbentuk hati sudah melingkar di jari manis nya, dia jadi mengingat pernikahan sebelumnya yang tanpa persiapan apapun bahkan cincin pun tidak ada.
Kemudian dia pun memakai kan di jari Glen membuat pria itu tersenyum tipis, lalu Amara mau tak mau menyalami Glen dan pria itu mengecup kening Amara, membuat Amara merasakan desiran aneh dari tubuhnya, tapi wanita itu tepis karena tidak mau berpikir yang tidak-tidak.
BERSAMBUNG