Aurora terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di dunia asing yang begitu indah, penuh dengan keajaiban dan dikelilingi oleh pria-pria tampan yang bukan manusia biasa. Saat berjalan menelusuri tempat itu, ia menemukan sehelai bulu yang begitu indah dan berkilauan.
Keinginannya untuk menemukan pemilik bulu tersebut membawanya pada seorang siluman burung tampan yang penuh misteri. Namun, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan—bulu tersebut ternyata adalah kunci dari takdir yang akan mengubah kehidupan Aurora di dunia siluman, membuatnya terlibat dalam rahasia besar yang menghubungkan dirinya dengan dunia yang baru saja ia masuki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Menuju Kekuatan Sejati
Aurora dan Raviel kembali ke Kerajaan Aetheroin dengan tubuh yang penuh luka dan hati yang dipenuhi kegelisahan. Mereka telah mengalahkan Azarel, tetapi Noctyros adalah ancaman yang jauh lebih besar. Jika mereka tidak cukup kuat, dunia akan jatuh dalam kegelapan abadi.
Saat mereka tiba di istana langit, para penasihat dan ksatria kerajaan segera menyambut mereka dengan kekhawatiran. Namun, Aurora dan Raviel tidak punya waktu untuk beristirahat.
“Aku ingin berbicara dengan Zephiron,” kata Raviel dengan suara tegas.
Zephiron, salah satu tetua bijak Aetheroin, telah hidup selama ribuan tahun. Ia adalah penjaga Kitab Emas, kitab suci yang berisi rahasia tertinggi tentang kekuatan para raja langit.
Di dalam Balairung Cahaya, Aurora dan Raviel berdiri di hadapan Zephiron, yang menatap mereka dengan mata tajam dan penuh pemahaman.
“Aku tahu apa yang telah terjadi,” kata Zephiron. “Noctyros bukanlah musuh biasa. Bahkan leluhur kita harus mengorbankan banyak hal untuk mengurungnya. Jika ia benar-benar bangkit sepenuhnya, tidak akan ada tempat di dunia ini yang aman.”
Aurora mengepalkan tangannya. “Kami ingin menjadi lebih kuat. Beritahu kami bagaimana caranya.”
Zephiron menghela napas dalam sebelum membuka Kitab Emas. Cahaya keemasan berpendar dari halaman-halamannya.
“Hanya ada satu cara,” katanya. “Kalian harus menjalani Ritual Penggabungan Jiwa.”
Aurora dan Raviel saling berpandangan.
“Ritual itu ...,” Raviel berbicara pelan. “Bukankah itu hanya mitos?”
Zephiron menatap mereka serius. “Bukan. Itu adalah satu-satunya jalan agar kalian dapat melawan Noctyros dengan kekuatan penuh.”
Ia membalikkan halaman kitab, menunjukkan sebuah ilustrasi kuno—sosok bersayap emas dan cahaya putih yang menyatu menjadi satu entitas yang lebih kuat.
“Jantung Cahaya dan Sayap Emas bukan hanya gelar,” lanjut Zephiron. “Kalian berdua terhubung lebih dalam daripada yang kalian sadari. Jika kalian bisa menyelaraskan energi kalian sepenuhnya, kalian akan menjadi entitas yang lebih kuat dari sebelumnya.”
Aurora menelan ludah. “Dan bagaimana caranya?”
Zephiron menutup kitabnya. “Latihan yang tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga ikatan batin kalian. Jika kalian gagal, kalian bisa kehilangan diri kalian sendiri.”
Raviel menggenggam tangan Aurora. “Kita harus melakukannya.”
Aurora menatapnya, lalu mengangguk. “Ya. Tidak ada pilihan lain.”
"Sebelum, itu. Kalian harus melakukan pengobatan,"
Mereka berdua saling tatap. Zephiron menatap Aurora, "Bulu emas itu ... Kau harus menggunakan bulu itu untuk memulihkan stamina Raviel."
Aurora menyipitkan matanya, "Bagaimana caranya?"
"Ikuti saja instingmu, karena kau pewaris garuda. Kau Jantung Cahaya, penguasa cahaya dan kegelapan. Hanya kau yang tahu caranya."
Aurora mengambil bulu emas itu di kepalanya, sebuah bulu yang terlepas dari tubuh Raviel. "Aku?"
"Ya!" Zephiron menatap bulu itu. "Kembalikan energinya ke tubuh Raviel, karena kau jantungnya."
Aurora mengangguk, walau pun dia masih belum paham bagaimana caranya. Aurora meminta Raviel untuk rebahan. Ia meletakkan bulu emas itu—tepat di bagian jantung Raviel. Aurora menggerakkan tangannya, membentuk sebuah bola emas yang begitu bersinar terang.
Perlahan, ia mengarahkan bola emas itu ke dada Raviel. Tepat di mana bulu itu berada. Saat itu pula tubuh Raviel bergetar hebat, ia kesakitan dan berteriak. Semakin keras dorongan Aurora, bulu itu semakin bersinar terang, seakan-akan ia ingin membelah dada Raviel.
"Aargh!" Raviel teriak lebih kencang saat bulu itu meresap ke dalam tubuhnya.
Raviel semakin bergetar, tubuhnya tak bisa diam. Sampai cahaya emas itu mulai meredup—perlahan-lahan dan tubuhnya mulai melemah.
Cling!
Satu detik cahaya emas muncul selayaknya petir. Bulu itu kembali muncul di atas dada Raviel, secara bersamaan Aurora terkulai lemah dan terjatuh di tubuhnya.
"Aurora!" Raviel menepuk wajahnya dengan lembut. "Aurora! Apa yang terjadi?!"
"Dia hanya kelelahan, itu hal biasa." Zephiron mendekat, ia melihat tubuh pucat Aurora. Tanpa menyentuh, dia tahu tubuh itu terasa sangat dingin. "Hangatkan dia menggunakan sayap emasmu, dia akan pulih dengan sendirinya."
Raviel mengeluarkan sayap emasnya, bulu halus berwarna perak tercampur keemasan muncul di tubuhnya. Raviel mengubah tubuhnya menjadi burung garuda sesungguhnya.
"Lalu apa?" Raviel terlihat khawatir, sebab itu terjadi karena dirinya.
"Aurora akan pulih pagi hari. Itu hal biasa bagi jantung sang pangeran. Tugasnya tak hanya menjadi jantung kerajaan langit. Tapi, dia juga yang menjaga keseimbangan tubuhmu, Raviel."
"Dia begitu berharga," Raviel baru menyadari hal itu.
"Ya, dia berharga ... Karena terikat denganmu. Semua karena bulu emas itu,"
Raviel mengambil bulu emas itu, menyisipkannya kembali di kepala Aurora—sebagai hiasan rambutnya yang kembali menghitam.
"Kau pelindungnya, lindungi dia menggunakan sayap emasmu. Semakin cepat dia pulih, semakin cepat kalian latihan untuk penyatuan jiwa."
"Baiklah," Raviel semakin paham sekarang. Bulu emasnya semakin tumbuh lebih lebat—memberikan kenyamanan untuk Aurora.
---
Pagi hari yang terlihat berbeda, seakan-akan para penghuni Aetheroin mengetahui kekuatan lain yang akan mereka hadapi nanti.
Aurora terbangun dari tidurnya. Perlahan bulu halus di tubuh Raviel menghilang, seakan-akan bulu-bulu itu mengetahui sang Jantung sudah membaik. Aurora menyentuh tubuh Raviel yang kembali seperti manusia. Hanya sayap emasnya yang masih melingkar—menutupi tubuh mereka berdua.
"Raviel," panggilnya pelan.
Raviel langsung terbangun, ia memeluk pinggang Aurora—membawanya untuk turun dari atas awan yang menjadi tempat tidur mereka. "Kau sudah sadar?"
"Hem, Ya. Apa yang terjadi?"
"Kau memberikan energimu untukku, Aurora."
Aurora mengingat kembali kejadian itu. "Kau baik-baik saja, Raviel?"
"Ya. Aku baik, karena kau."
"Sudah menjadi tugasku, kan?"
Raviel tersenyum, "Kau nyaman tidur dengan tubuh asliku,"
Aurora terkekeh pelan, "Ya, itu sangat hangat dan lembut. Tapi aku lebih menyukaimu versi saat ini,"
"Ya, karena aku menjadi manusia." Katanya sambil menghilangkan sayapnya, saat itulah Raviel terlihat selayaknya manusia normal.
Wajah tampannya dengan rambut perak yang sedikit kehitaman. Mata pekat yang gelap, namun terkesan tegas.
"Kau mirip manusia yang ada di alamku, Raviel. Andai kau ada di sana, kau bisa menjadi perhatian orang banyak."
"Duniamu sudah cukup maju, bukan?"
"Ya, kau tahu?"
Raviel mengangguk, "Perbedaan tahun kita cukup jauh, Aurora. Jika usiamu di alam manusia masih seumur jagung, maka aku ribuan tahun."
"Wah, itu luar biasa. Ternyata aku menikah dengan siluman tua."
Raviel terkekeh, "Anggap saja begitu."
"Ah, iya. Bagaimana rasanya?" Aurora memperhatikan tubuh Raviel. "Ilmu barumu?"
"Aku merasa lebih kuat, sama seperti yang kau alami waktu itu."
"Oh, ya?" Aurora sedikit menantang. "Kalau begitu, bisa kita bertarung? Wahai pangeran Garuda emas,"
Raviel menggenggam tangannya, "Bagaimana caranya, pangeran bertarung dengan jantungnya sendiri, hem?"
"Aku bercanda!" Aurora memberikan satu tinjuan pelan di dada Raviel. "Bisa kita latihan hari ini, Seng?"
"Seng?" Raviel terlihat bingung.
"Sebutan 'sayang' di duniaku."
"Ah, begitu."
Ternyata dunia mereka tercampur, antara dunia siluman dan dunia modern. Yang bahkan, kehidupan di dunia siluman juga tak kalah maju seperti dunia manusia. Hanya saja, dunia mereka penuh kegelapan.