Gagal menikah dengan calon tunangannya tidak membuatnya putus asa dan tetap kuat menghadapi kenyataan.
Kegagalan pertunangannya disebabkan karena calon suaminya ternyata hanya memanfaatkan kebaikannya dan menganggap Erina sebagai wanita perawan tua yang tidak mungkin bisa hamil.
Tetapi suatu kejadian tak terduga membuatnya harus menikahi pemuda yang berusia 19 tahun.
Akankah Erina mampu hidup bahagia dengan pria yang lebih muda darinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Niat hati hanya ingin mengantar makanan makan malam untuk kedua pasutri itu, malahan berakhir dengan menyaksikan dan merasakan gempa tektonik yang sungguh luar biasa besarnya.
Bukan karena rumah minimalis itu yang bergoyang yang terbuat dari kayu itu, tapi karena suara yang terdengar hingga ke cuping telinganya membuatnya harus berlari terbirit-birit akibat suara-suara ajaib dan gaib yang didengarnya.
“Astaghfirullahaladzim, apa mereka ga bisa mengecilkan suaranya yah? Kenapa mesti seperti orang yang teriak-teriak segala,” gerutunya Arsyila sambil memutar stok kontak kunci motornya.
Arsyila hanya menyimpan rantang susun di depan pintu masuk penginapan dimana pengantin baru itu berbulan madu tanpa bertemu langsung dengan mereka.
“Entar sampai di rumah gue chat saja kalau Bunda nitip makanan untuk mereka,” gumamnya sambil mengemudikan kendaraan roda duanya.
Hingga pukul sebelas malam, barulah kegiatan kedua pasutri itu selesai. Arshaka tersenyum bahagia karena ini kali pengalaman pertamanya dan berhasil dengan sempurna membobol gawang lawan.
Walaupun banyak adegan drama yang mewarnai pecah telur, akhirnya Arshaka dengan gagah berani memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
“Ternyata melelahkan juga rupanya, bikin nagih banget. Pantesan banyak orang yang masih pacaran saja melakukannya karena memang bikin nambah lagi dan pengen lagi,” gumamnya Arshaka sambil mengingat-ingat kegiatannya yang barusan dilakukannya bersama istri tersayang.
Arshaka menutupi tubuhnya Erina yang tertidur pulas setelah membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa kegiatan berbagi peluhnya.
Arshaka mengecup keningnya Erina penuh kelembutan,” makasih banyak sudah berikan pengalaman pertama yang sangat berkesan, berharga dan penuh bersejarah dalam kehidupan rumah tangga kita sayangku.”
Erina sama sekali tidak bergerak sedikitpun padahal Arshaka kembali mencium bibirnya Erina yang sedikit bengkak dan masih basah.
“Aku mulai merasa nyaman, suka dan mencintaimu istriku. Sejujurnya aku bahagia banget karena aku adalah orang yang pertama merasakannya. Thanks sudah menjaganya hanya untuk suamimu seorang,” gumamnya.
Arshaka berjalan ke arah depan karena ingin menyalakan lampu depan yang kelupaan tadi magrib dinyalakannya. Keningnya berkerut ketika, Ia melihat ada rantang besi yang terletak di atas lantai kayu.
Arshaka menyapu ke seluruh penjuru penginapannya, tapi tidak menemukan tanda-tanda kehadiran orang lain di sekitarnya.
“Mungkin kak Arsyila yang membawa ke sini pasti disuruh sama Bunda,” tanyanya pada angin yang bertiup kencang.
Arshaka meraih rantang itu dan memperhatikan langit malam yang begitu gelap pekat tanpa taburan bintang-bintang dan tidak ada rembulan malam ini.
“Sepertinya akan turun hujan,” cicitnya kemudian menutup rapat pintu penginapan yang ditempatinya.
Arshaka memeriksa isi rantangnya dan memanasi satu persatu makanannya karena tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring minta segera diisi. Ada balado telur, ikan bakar kakap, sayur gulai nangka, sambal hijau, rendang daging serta nasi putih.
Satu persatu makanan itu dipanaskannya ke atas kompor. Masalah perdapuran, Arshaka masih muda dan seorang lelaki tapi kemampuannya memasak tak perlu diragukan lagi.
“Alhamdulillah semuanya sudah beres,” ucapnya sambil menaruh beberapa piring dan mangkuk ke atas lantai yang sudah dialasi karpet atau tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.
Arshaka berjalan ke arah kamar karena hendak ingin membangunkan istrinya, tapi belum dibuka pintu itu Erina sudah berdiri dari balik pintu. Berwajah bantal tapi, tak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki oleh polwan cantik itu.
“Sayang, kamu kenapa jalan sendiri? Mas bisa bantuin kamu berjalan loh,” Arshaka berjalan cepat ke arah istrinya.
Arshaka merasa menyesal karena gara-gara ulahnya, Erina harus berjalan mengangkang seperti seekor pinguin.
“Kamu enggak sakit atau mungkin ada rasa perih yang masih kamu rasakan seperti tadi?” Arshaka cemas karena Erina sempat mengeluh kesakitan dibagian daerah sensitifnya.
Erina tersenyum malu-malu,” Alhamdulillah, aku sudah baikan karena dirawat oleh suami yang ganteng, baik hati kayak Mas Shaka.”
“Seriusan nggak ngeluh kesakitan lagi? Tadi, kamu kan teriak-teriak katanya sakit makanya suamimu ini takut,” jelasnya Arshaka.
Kedua sisi pipinya Erina semakin memerah mendengar ucapan suaminya,” kan dikasih ramuan khusus sama Bunda, aku sudah minum dan pakai disitu jadi udah mendingan kok.”
“Kalau gitu kita makan yuk, Mas sudah siapkan makanan untuk kita berdua,” Arshaka menggandeng tangan istrinya.
Erina dan Arshaka berjalan ke arah dapur, Erina terkesan melihat tempat makan mereka yang melantai tapi sudah ada beberapa lilin yang mengelilingi tikar bermotif abstrak.
“Masya Allah indahnya, ini mengalahkan dinner romantis di restoran bintang lima loh suamiku,” ujarnya Erina yang memuji keindahan suasana tempat makan mereka yang sudah disulap Arshaka menjadi tempat yang nyaman.
Erina kesulitan untuk duduk karena bagian daerah sensitifnya masih sedikit perih dan ngilu setelah mereka beraktivitas ranjang.
“Auh,” keluhnya Erina yang tertahan karena langsung mengatupkan bibirnya.
Arshaka yang melihat istrinya kesulitan untuk duduk gegas membantunya,” kalau kamu sakit untuk duduk melantai, sebaiknya kita pindah ke sofa saja.”
“Nggak apa-apa kok sayang, aku pasti bisa. Cuman awalnya saja yang kesulitan lama-lama udah baikan dan nyaman kok,” ujarnya Erina.
Arshaka sedih melihat istrinya yang sesekali masih terlihat meringis kesakitan.
“Mas, nggak mau kamu kesakitan. Kita pindah saja yah,” bujuknya Arshaka.
Erina tersenyum simpul,” insha Allah aku bisa. Masa cuma sakit gini malah dibawa manja. Apa Mas meragukanku?”
Arshaka menyerah untuk membujuk istrinya,” baiklah kalau gitu.”
Arshaka melayani istrinya dengan baik, Erina dilayani dan diperhatikan oleh arahan begitu hati-hati dan penuh perasaan.
Suasana semakin romantis karena ditemani oleh sinar cahaya lilin. Keduanya sesekali berbincang-bincang santai.
“Mas, masakannya bunda itu semuanya enak-enak yah. Nggak pernah ada yang gagal rasanya,” pujinya Erina yang mencicipi semua jenis makanan yang tersaji di depannya.
“Alhamdulillah, Bunda sejak dari masih gadis katanya memang sudah hobi masak apalagi mertuanya Bunda nenek Laila itu jago masak jadi kemampuan Bunda memasak semakin bagus,” ujarnya Arshaka.
Keduanya kembali menyantap makanan tersebut hingga menghabiskan beberapa porsi makanan. Keduanya seperti orang yang habis nguli karena beberapa kali menambah nasi beserta lauk pauk ke atas piring masing-masing.
Mereka baru-baru menghabiskan banyak tenaga setelah melewati malam pertama mereka yang sempat tertunda karena Erina yang berhalangan sehingga terpaksa ibadah itu baru bisa dijalankan padahal usia pernikahan mereka hampir sebulan.
Arshaka membereskan semua peralatan makannya dan masaknya. Dia akan mencuci semua peralatan itu di wastafel pantry dapurnya.
“Mas, aku saja yang cuci piring. Masa suamiku yang mencuci piring padahal aku ada disini,” ujarnya Erina.
“Pekerjaan rumah itu dikerjakan bersama-sama bukan karena kamu adalah istriku sehingga semua pekerjaan rumah aku bebankan padamu. Kamu itu bukan pembantu tugasmu hanya melayani suamimu ini di kamar ga lebih,” putusnya Arshaka.
Erina hanya terdiam mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulut suaminya tanpa berniat membantah lagi, karena percuma saja membujuk Arshaka tetap menolak bantuannya.
Arshaka mengecup pipi istrinya,”Sama-sama kita selesaikan agar lebih ringan dan cepat selesai juga,” imbuhnya Arshaka sambil memakai celemek ke tubuh atletisnya.
“Kalau gitu aku bantuin yah biar lebih cepat beresnya,” Erina pun mengambil celemek yang tergantung di dekat wastafel.
Fasilitas di penginapan itu cukup memadai meskipun memakai perlengkapan dapur dan perabot rumah yang sederhana.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, hujan turun deras mengguyur seluruh kampung Mekarjaya. Suara petir bergemuruh dan semakin membuat malam semakin terasa sunyi hanya suara dari gemericik air hujan dan petir yang terdengar di tengah malam itu. Listrik padam seiring dengan hujan semakin turun dengan lebatnya.
“Argh!” jeritnya sembari memeluk suaminya karena terkejut suasananya tiba-tiba gelap.
Arshaka memeluk Erina agar bisa tenang,” kamu nggak apa-apa kan?”
“Aku baik-baik saja cuma kaget doang tiba-tiba lampunya mati, padahal cucian piringnya belum beres,” balasnya Erina.
“Kamu jangan banyak gerak, Jangan kemana-mana. Mas mau ambil lilin dulu,” pintanya Arshaka.
Erina terkekeh mendengar perkataan larangan suaminya yang seolah menganggapnya anak kecil.
Erina memperhatikan apa saja yang dilakukan suaminya yang selalu membuatnya terkagum-kagum dan bahagia.
“Usiamu boleh muda dari aku tapi Kamu cukup dewasa dan bijaksana sanggup membimbingku. Ya Allah, makasih banyak sudah mempertemukan aku dengan jodoh terbaikku dan makasih banyak aku menjadi istrinya yang Engkau pilih untuk Mas Shaka,”
Erina memandangi kepergian suaminya mengambil lilin yang masih menyala tapi apinya bergerak-gerak tertiup angin.
Janganlah berbuat kejam pada Elma pak dokter karna naluri seorang ibu itu biar apapun yg terjadi akan selalu melindungi anaknya dari marabahaya..
Kamu ga tau hal apa aja yg menimpa Elma semasa mengandungkan putramu.. Ùh sesak dadaku author.. 😭😭😭😭😭
Sabarlah pak dokter..