Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah berjam-jam berdiskusi dengan Miss Claire, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Langit sore mulai berwarna jingga, menandakan waktu sudah semakin larut.
Meski banyak hal telah dibahas, masih ada beberapa detail yang belum mencapai kesepakatan, dari konsep dekorasi hingga pilihan menu. Namun, mereka tidak terburu-buru.
Pertunangan Keynan masih satu bulan lagi. Jadi, masih ada waktu yang cukup untuk menyempurnakan semuanya. Untuk itu, mereka sepakat untuk melanjutkan diskusi di lain waktu.
Keynan mengemudikan mobil dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang mulai dipenuhi cahaya lampu kota.
Di kursi penumpang, Axeline duduk diam, sesekali melirik ke luar jendela, menikmati pemandangan sore yang mulai meredup.
Dia beruntung, jam kerjanya sudah selesai, jadi setelah sampai rumah, ia bisa langsung beristirahat.
Berbeda dengan Keynan. Pekerjaannya masih menumpuk, dan malam ini, ia harus lembur hingga entah jam berapa.
Tapi, sebelum kembali ke kantor, ia harus mengantar Axeline pulang terlebih dahulu, lalu mengantar Nayya ke rumah.
Tidak lama, mobil Keynan berhenti di depan pagar rumah mewah keluarga Wiratama. Axeline hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari Nayya yang hanya diam.
“Aunty tidak mau mampir sebentar?” tanyanya, menoleh.
Nayya tersenyum lembut. “Tidak, sayang. Lain kali saja. Lagipula, sudah sore. Aunty harus pulang sebelum uncle-mu sampai.”
Axeline mengangguk paham. “Kalau begitu, terima kasih tumpangannya, Aunty.”
“Sama-sama, sayang. Aunty juga berterima kasih karena kau sudah bersedia menemani Aunty seharian.”
Axeline tersenyum kikuk, lalu membuka pintu dan turun. Sebelum mobil itu benar-benar melaju menjauh, Axeline membungkuk sedikit dan melambaikan tangan pada Nayya.
Nayya membalas lambaian itu dengan senyuman hangat, sebelum akhirnya Keynan kembali menginjak pedal gas dan membawa mobil menjauh.
Axeline menatap mobil itu sampai menghilang di ujung jalan, sebelum akhirnya menghela napas pelan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Sementara itu, suasana di dalam mobil mendadak hening.
Keynan terlihat fokus mengemudi, tatapannya lurus ke depan, seolah tidak ingin terlibat dalam pembicaraan apa pun. Berbeda dengan Nayya. Wanita itu duduk dengan tegak, matanya tajam menatap putranya, seolah bisa membaca pikiran yang berusaha disembunyikannya.
“Ada yang kau sembunyikan dari Mommy?” tanyanya, tiba-tiba.
Keynan mengkerutkan keningnya. Dia melirik kaca spion, mendapati ibunya masih menatapnya dengan penuh selidik.
“Apa maksud Mommy?” tanyanya, berusaha tetap tenang.
"Saat Agnes dan keluarganya datang ke rumah, dan membicarakan tentang pertunangan kalian, kau tidak menolak. Seolah kau juga menginginkan pertunangan itu. Tapi sekarang, saat Mommy mengajakmu menemui Miss Claire, kau justru bersikap seolah tidak peduli.”
Nayya berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung sejenak, sebelum akhirnya menatap lebih dalam ke arah putranya.
“Jadi, apa maumu sebenarnya, Keynan?”
Keynan terdiam. Jemarinya menggenggam erat setir, seolah mencari pegangan untuk menyusun jawaban yang tepat. Namun, sebelum ia bisa menemukan alasan yang masuk akal, suara ibunya kembali terdengar.
“Kau mencintai wanita lain. Mommy benar, kan?"
Bukan pertanyaan. Ucapan Nayya lebih terdengar seperti kesimpulan yang sudah lama ia simpan.
Tapi, Keynan tidak segera merespons. Hanya saja, tanpa sadar, kakinya semakin dalam menekan pedal gas, membuat mobil melaju lebih cepat.
Nayya bisa merasakan perubahan sikap putranya. Senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya saat ia mengucapkan sesuatu yang langsung membuat tubuh Keynan menegang di tempat.
“Apa wanita itu … Axeline?”
...****************...
Keynan memarkirkan mobilnya di depan perusahaan. Dia turun dari mobil, masuk ke perusahaan dan mendapati suasana di dalamnya yang sepi.
Lorong-lorong terasa hampa, hanya terdengar suara derap langkahnya sendiri yang menggema di antara dinding.
Lampu-lampu kantor sebagian sudah dimatikan, menyisakan cahaya temaram yang berasal dari ruangannya di ujung koridor.
Tapi, Keynan tidak peduli. Dia terus berjalan, membuka pintu ruangannya, lalu melepas jas dan menggulung lengan kemejanya sebelum duduk di balik meja.
Tumpukan dokumen masih menunggu untuk diselesaikan. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil pena dan mulai bekerja.
Detik demi detik berlalu. Keynan mencoba untuk fokus, tapi ucapan ibunya masih terdengar di kepalanya.
"Kau mencintai wanita lain, Mommy benar, kan?""
Apa wanita itu … Axeline?"
Jemari Keynan berhenti menulis. Ia membuang napas panjang, meletakkan pena di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan mata terpejam.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, bayangan seseorang muncul dengan jelas.
Axeline yang tersenyum padanya, Axeline yang menangis karenanya dan Axeline yang mulai membencinya.
Keynan membuka matanya dan mengusap wajahnya, frustrasi. "Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengikuti saran Mommy?"
Tapi, ada keraguan dengan keputusan yang akan ia ambil. Jika ia mengikuti apa yang ibunya katakan, apa Axeline akan menerimanya? Dan jika ia tidak melakukannya, apa dia bisa terus berpura-pura tidak menginginkan Axeline di depan semua orang?
Keynan menghela napas berat. Kepalanya terasa penuh, dan entah kenapa, malam ini terasa lebih panjang dari biasanya.
Sementara itu, di rumah keluarga Dirgantara, Nayya berdiri di depan jendela besar di kamarnya, menatap langit gelap di luar sana, dimana bulan tampak redup, tertutup oleh awan tipis.
Ia menghela napas panjang. Pikirannya kalut karena putranya. "Keynan, apa yang sebenarnya kau rasakan?"
Nayya menggigit bibirnya, ragu-ragu. "Tidak, aku tidak bisa diam saja. Aku harus memberitahu Keyvan." Nayya baru saja berbalik ketika suara pintu kamar terbuka. Ia tersenyum melihat suaminya yang baru saja masuk ke kamar.
"Kau sudah pulang." Tanpa menunggu, Nayya sigap menghampiri Keyvan, membantunya melepas jas dan sepatunya seperti yang biasa ia lakukan selama ini.
"Apa kau lapar? Aku akan menghangatkan makanan untukmu," ucap Nayya sambil merapikan jas suaminya.
Keyvan menarik tangan Nayya, menariknya hingga jatuh di pangkuannya. "Ya, aku lapar," bisiknya dekat di telinga istrinya. "Tapi ... aku ingin memakan mu."
Nayya terkesiap, pipinya memanas. "Astaga, Keyvan! Kau harus mandi dulu!" tegurnya dengan nada menggoda.
Keyvan hanya terkekeh. Tangannya melingkar di pinggang Nayya, membuat wanita itu sulit untuk menghindar.
"Kalau begitu, bantu aku mandi," pintanya santai.
Nayya berdecak, lalu menepuk bahu suaminya sebelum akhirnya berhasil berdiri.
"Kau bukan anak kecil lagi, Van. Mandi sendiri sana," ujarnya sambil menahan senyum. "Setelah itu ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Keyvan mengernyitkan kening, penasaran. Mereka memang selalu punya ritual sebelum tidur, duduk bersama di ranjang dan berbagi cerita tentang hari masing-masing.
Tapi, selama ini, dirinya lah yang lebih sering berbicara, tentang kantor, bisnis, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Dan seperti biasa, Nayya akan menjadi pendengar setia. Wanita itu tidak pernah mengeluh, selalu mendengarkan dengan ekspresi lembut di wajahnya. Sesekali, ia akan memberikan tanggapan positif, membuat Keyvan merasa dihargai dan dimengerti.
Tapi sekarang, tidak biasanya Nayya ingin mengatakan sesuatu yang serius.
"Tentang apa?" tanya Keyvan penasaran.
"Putramu, Keynan."
Sorot mata Keyvan berubah tajam. Ia tahu, jika Nayya sampai membicarakan Keynan, pasti ada sesuatu yang besar.
Tanpa bertanya lebih lanjut, ia bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Nayya, hanya menatap punggung suami nya yang menghilang di balik pintu, dalam diam.
Malam ini, ia harus membuka semua pemikirannya tentang Keynan.
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya