(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Don't Bite Me!
"Kin..."
"Ya?"
"Aku tidak mau program hamil,"
"Aku juga tidak berminat menghamili kamu."
Aku memicingkan mata, menatap sebal lelaki yang duduk di sampingku yang menunggu resep obat di bagian farmasi. Paham kan kenapa aku tidak menyukainya? Dia minim empati, mulutnya pedas.
"Terus bagaimana?"
"Ikuti saja alurnya, siapa tahu nanti hamil sungguhan.." ucapnya ringan sambil membelai perutku.
Gila!
Jika itu benar-benar terjadi pasti menjadi awal mimpi buruk yang akan mengutukku seumur hidup. Aku tidak ingin berada di pernikahan dengan lelaki berhati dingin seperti Kin, setidaknya suamiku harus berhati lembut dan hangat. Mungkin seperti Biru ya?
Mulai besok aku mau menghentikan sandiwara sakit kaki karena sungguh menyiksa. Kin sepertinya sudah curiga kalau ini pura-pura, beberapa kali dia mengerjaiku. Mengunci di tangga darurat, melempar mainan kecoa, dan baru saja dia menaruhku di depan kamar mayat rumah sakit.
See? Lelaki ini memang titisan iblis yang tidak pantas dicintai manusia normal!
"Kenapa sih harus pura-pura sakit? Cari perhatianku? Kangen ya?"
Tiba-tiba dia berucap seperti itu saat mengangkatku dari kursi roda ke kasur kamar. Aku tak menjawab, hanya mengaduh, mendramatisir seolah kakiku benar sakit.
Kin melemparku keatas kasur, menarik kaki ini, membuatnya lebih merapat dengan tubuhnya. Dia memelukku dari belakang, menjadikan aku seperti guling, mengunci hingga tidak bisa bergerak.
"Apa ya hukuman yang tepat untuk pembohong kecil?," lelaki itu berkata sambil mencium-cium tengkuk belakangku.
Sensasi goosebumps menggerayangi, aku bergidik geli.
"What do you want?" tanyaku gugup, membuat gerakan kecil geli, selaras ritme kecupannya.
"I'm really in the mood to tease you today," Lelaki itu berkata sambil masih menciumi leherku. Sungguh aku dibuatnya tidak bisa berkutik, membeku.
Kin berhenti mencium dan membalikkan tubuhnya. Kini posisinya berada diatas, ia memandangku dengan tatapan sayu.
"You're looking tasty. Can i take a bite?" katanya lembut, sambil menggigiti bibir bawah.
"Jangan gigit aku!" sahutku cepat menutup leher, karena matanya terlihat lapar saat memandangi leherku.
"Kalau cium? Jilat?"
Kenapa dengan dia? Tidak biasanya dia jadi agresif seperti ini, tapi melihat puppy eye yang ditunjukkannya, aku jadi luluh.
"You can lick it," jawabku sambil membuang wajah ke samping, menghindari tatapan itu.
Tanpa aba-aba, ia mendekati leherku lalu memberikan sebuah jilatan panjang, menyusuri leher lembut, memberikan hisapan kecil.
Aku bisa merasakan nafasnya menghela di leherku. Jilatan panjangnya membuat aku menggeliat, tapi tidak ingin menunjukkan bahwa aku menyukai itu. Mencoba untuk tetap tenang, tapi suaraku tidak bisa menyembunyikan getaran yang terjadi.
"Berhenti," aku berkata, mencoba untuk terdengar tegas. Tapi ia tidak mendengarkan, ia terus mencium leherku lebih intens.
Aku merasa aku tidak bisa menahan diri lagi, aku ingin merespons pada sentuhan itu. Tapi aku tidak ingin menyerah, aku ingin melihat seberapa jauh batasnya.
"How dare you," aku berkata, mencoba untuk terdengar marah. Tapi ia hanya tersenyum dan terus mencium leherku.
Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku ingin merespons pada sentuhan itu. Tapi apa yang akan terjadi jika aku menyerah?
"Aku tidak tahan lagi!" ucapku dengan suaraku terdengar bergetar.
Aku mendorong tubuhnya, membalikkan keadaan. Dia cukup lama bermain-main, kini giliranku mengambil kendali. Aku mencium bibirnya, .
"Wanna have some fun?" aku berkata dengan suara menggoda. Kin tersenyum dan mengangguk.
Rakus, aku melumat bibirnya, dia balas melahap bibirku. Kami berdua terjebak dalam ciuman penuh nafsu, memberi makan rasa rindu yang sudah kelaparan.
Tak bisa mengendalikan, aku tak mau berhenti. Aku membuka kemeja lalu melucuti kancingnya. Lilith di dalam tubuhku ingin kembali menyerang, mencium, menyesap lembut, dan menggigit kulit dada lelaki dihadapannya dengan buas.
"Argh..."
Kin mengerang, tubuhnya sedikit melengkung ke belakang saat merasakan kesenangan yang intens. Aku bisa merasakan denyut jantungnya berdegup makin cepat, membuat permainan semakin menarik.
Dia membuka mata dan menatapku tajam. "You like that?," ia berkata, suaranya terdengar berat.
"Sangat lezat, aku menyukainya!" sahutku, menyapu bibirnya dengan lidahku.
Kami saling menatap, helaan nafas ini sudah terasa panas. Sepertinya aku ingin lebih dari ini, aku pun bisa merasakan hasratnya sudah semakin kuat.
"Ayo main lebih jauh," aku berkata nakal.
"Sebentar, jadi gimana kakinya? Nanti tambah sakit,"
"Screw it, i don't care!"
Aku mendorong tubuhnya kasar hingga terbaring. Tangannya tangkas, membantuku melucuti pakaian atas, melepaskan kaitan bra lalu melemparkannya ke lantai.
Dan kemudian, kami bercumbu, menikmati sisa malam sempit dengan rindu berselimut nafsu.
***