Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nongkrong di Cafe
Setelah aku membagi-bagikan oleh-oleh kepada rekan-rekan kerjaku, aku juga tak lupa berbagi kepada sahabatku Rey dan Nabila. Mereka selalu menjadi orang pertama yang aku pikirkan setiap kali pergi keluar kota. Tentu saja, mereka sudah tahu aku baru saja kembali dari perjalanan, dan mereka langsung mengajak aku untuk bertemu. Kami janjian untuk bertemu di cafe dekat taman kota, tempat yang sudah menjadi favorit kami sejak lama.
Aku pun tiba di cafe itu lebih dulu, memilih tempat duduk di sudut yang sepi dengan pemandangan taman yang hijau. Sambil menunggu mereka datang, aku memesan kopi hangat dan mulai membuka tas, menata oleh-oleh yang aku bawa. Ada beberapa kotak kue, cokelat, dan beberapa barang kecil yang aku yakin pasti mereka suka. Aku tak sabar untuk melihat reaksi mereka nanti.
Tak lama kemudian, Rey dan Nabila datang. Mereka terlihat ceria, seolah sudah tidak sabar untuk bertemu denganku. Rey dengan senyumnya yang khas, sementara Nabila mengenakan gaun biru muda yang cantik, tampak segar setelah beberapa minggu tidak bertemu. Kami saling berpelukan, dan aku merasa sedikit rindu dengan momen-momen seperti ini—momen kebersamaan tanpa beban.
“Akhirnya ketemu juga setelah lama nggak ngobrol! Kamu kelihatan segar banget,” kata Rey sambil duduk di kursi di hadapanku.
“Maklum, baru pulang liburan ikut ke rumahnya buk de nya Mas Yuda. Aku bawa oleh-oleh nih buat kalian,” jawabku seraya mengeluarkan barang-barang dari tas.
Nabila langsung tertarik dan membuka satu per satu kotak yang aku berikan. “Wah, kamu tahu banget apa yang kita suka,” ucapnya, matanya berbinar melihat cokelat-cokelat premium dan makanan khas yang aku bawa.
Rey mengangkat kotak kue yang ada di depannya. “Ini dari mana? Kelihatan enak banget!” tanyanya.
“Dari kue khas di tempat aku pergi. Rasanya enak banget, kalian harus coba,” jawabku, sambil menuangkan kopi ke dalam cangkir.
Kami melanjutkan obrolan ringan, mengenang masa-masa ketika masih sering berkumpul bersama. Ada banyak cerita lucu yang keluar dari mulut Rey dan Nabila, membuat aku terkekeh dan merasa semakin dekat dengan mereka. Rasanya seperti tidak ada jarak, meskipun sudah beberapa waktu kami tidak bertemu secara langsung.
“Gimana, say? Ada cerita menarik dari perjalananmu?” tanya Nabila, matanya penuh rasa penasaran.
Aku pun mulai bercerita tentang perjalanan singkatku, tentang tempat-tempat yang aku kunjungi, dan orang-orang yang aku temui. Rey dan Nabila mendengarkan dengan seksama, sesekali tertawa mendengar kelucuan yang terjadi. Namun, ada satu cerita yang aku masih ragu untuk ceritakan. Aku masih belum bisa memberitahu mereka tentang hangatnya keluarga dari Mas Yuda, meskipun baru dikenalkan saudara-saudaranya saja, belum dikenalkan kepada orang tuanya, tapi suatu saat Mas Yuda janji akan mengajak aku bertemu orang tuanya di Surabaya.
Aku mengalihkan perhatian mereka dengan cerita lainnya, berharap mereka tidak merasa ada yang aneh. Rey dan Nabila tidak curiga, mereka justru makin asyik dengan cerita-cerita perjalananku. Sesekali aku melihat ponselku yang tergeletak di atas meja, teringat akan dunia yang kutinggalkan sejenak. Dunia yang lebih kompleks dan lebih menantang daripada apa pun yang ada di dunia nyata.
Namun, untuk saat ini, aku memilih menikmati momen kebersamaan ini. Terkadang, hal-hal sederhana seperti duduk bersama sahabat di cafe sudah cukup untuk membuat semuanya terasa lebih ringan.
Setelah puas di cafe, lalu Rey dan Nabila mengajak untuk pulang karena langit mulai mendung dan gelap. Tiba-tiba Mas Yuda juga berkirim pesan lewat WhatsApp bahwa dia pulang dari latihan futsal di area kantornya.
Rey dan Nabila saling berpandangan sebelum akhirnya berdiri dari tempat duduk mereka. Langit yang mulai mendung membuat suasana cafe yang tadinya hangat terasa agak berbeda. Nabila meraih tasnya dan menghela napas pelan.
“Kita pulang aja, ya? Kayaknya hujan bentar lagi,” katanya sambil melihat ke arah luar jendela, di mana awan gelap mulai menggantung rendah.
Rey mengangguk, menyusun beberapa paperbag di mejanya dan merapikan barang-barangnya. "Iya, mending pulang sekarang daripada kehujanan."
Saat mereka berjalan menuju pintu, ponselku bergetar. Tampaknya pesan dari Mas Yuda. Aku mengambil ponselnya dan membuka WhatsApp, membaca pesan dari Mas Yuda yang baru saja masuk.
Mas Yuda
[ Aku baru selesai latihan futsal nih, lagi di jalan pulang. Ada yang mau aku jemput? Kebetulan Mas bawa mobil inventaris kantor, tadi disuruh bos sebentar, makanya mobilnya disuruh bawa dan pakai mobil itu.]
Aku menunjukkan pesan itu kepada Nabila, yang langsung mengangguk.
“Kayaknya Mas Yuda juga udah mau pulang. Bisa sekalian kita tumpang, kan?” ujar Nabila sambil tersenyum.
Aku mengirim balasan ke Mas Yuda.
Anne
[ Nggak usah, Mas, kita udah jalan kok. Nanti ketemu di rumah aja, ya.]
Aku menaruh ponselnya kembali di dalam tas dan bergegas keluar dari cafe, sementara Rey dan Nabila mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan perlahan menuju tempat parkir yang tak jauh dari situ, berbicara ringan tentang aktivitas masing-masing di minggu ini. Hujan mulai turun rintik-rintik saat mereka sampai di mobil, dan keduanya segera masuk untuk menghindari basah.
“Panas banget ya di dalam mobil,” keluh Rey, sambil menyalakan AC dan membuka jendela sedikit untuk udara segar.
Nabila hanya tersenyum dan menyandarkan punggung di kursi, menikmati suasana tenang sejenak. Dia sering merasa suasana hati berubah begitu hujan turun, dan kali ini juga tidak berbeda. Udara yang lebih dingin membuatnya merasa sedikit lebih rileks setelah hari yang cukup sibuk.
“Eh, kamu dengar kabar tentang pertandingan esports minggu depan nggak?” tanya Rey, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Nabila menoleh, matanya berbinar. "Iya, aku denger ada event besar di kota, kan? Kalau nggak salah, pro player dari luar negeri juga datang.”
“Betul! Aku udah daftar jadi volunteer, bisa ketemu beberapa pemain profesional juga. Seru banget kalau kamu bisa ikut, Nabil,” jawab Rey dengan antusias.
Nabila mengangguk, tampak berpikir sejenak. “Hmm, boleh juga sih. Aku bisa bantu apa gitu.”
Sementara aku sibuk dengan ponsel berbalas pesan dari mas Yuda.
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, ponsel aku bergetar kembali. Pesan dari Mas Yuda masuk.
Mas Yuda
[ Oke deh, kalau gitu hati-hati di jalan. Nanti kabarin ya kalau udah sampai.]
Aku membalas singkat.
Anne
[ Siap, Mas! Sampai nanti.]
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan area parkir. Keduanya menikmati perjalanan yang semakin sepi, hanya suara tetesan hujan yang terdengar di kaca mobil. Rey dan Nabila jarang bisa duduk diam seperti ini, karena biasanya mereka selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tetapi saat seperti ini, bersama teman yang sudah lama dikenal, rasanya sangat nyaman.
***