Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 019: AMARAH DAN KEDATANGAN AYAH
Malam semakin larut saat Reyna terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa lapar, membuatnya berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Setelah perutnya terisi, ia berjalan santai menuju ruang tamu tempat ayahnya duduk menikmati secangkir kopi hangat. Di tangannya, tergenggam sebuah amplop putih berisi surat resmi dari sekolah.
"Ini," ucap Reyna singkat dan datar sembari menyodorkan amplop itu ke hadapan Pak Ardan.
Pak Ardan meletakkan cangkir kopinya, lalu mengambil amplop itu dengan ragu. "Apa ini?" tanyanya sambil menatap tulisan di sampul amplop yang tertera jelas logo sekolah putrinya.
"Surat panggilan. Sekolah meminta kehadiran Ayah," jawab Reyna datar, lalu berbalik badan meninggalkan ayahnya yang masih duduk diam di sana. Ia tidak menunggu respon apa pun, melainkan langsung kembali ke kamarnya seolah hal itu bukan lagi urusannya.
Pak Ardan hanya bisa menghela napas panjang, rasa lelah dan kesal mulai menyelimuti hatinya. Lisa, ibu tiri Reyna yang duduk di sampingnya, segera mengusap pelan punggung suaminya berusaha menenangkan.
"Ayah, sabar ya... jangan terus-terusan marah. Nanti kesehatan Ayah malah terganggu," ucap Lisa lembut. Ia tahu betul betapa sulitnya mendekati Reyna, gadis itu memiliki tembok pertahanan yang sangat tinggi dan dingin.
Pak Ardan menatap kosong ke depan, pikirannya mulai melayang pada rencana yang sudah lama ia pendam. "Sebenarnya, Ayah sudah punya niat lain. Mungkin langkah kita selanjutnya adalah melanjutkan rencana perjodohan itu, dengan putra sahabat mendiang Ibumu. Ayah sudah mulai kehabisan cara untuk mengatur Reyna," ucapnya dengan nada putus asa namun tegas.
Lisa hanya mengangguk pelan. "Aku setuju saja, Yah. Apapun yang Ayah anggap baik dan bisa membuat Reyna lebih terarah, aku akan selalu mendukung. Aku juga ingin Reyna berubah menjadi lebih baik," jawabnya lirih, meski di dalam hati ia sadar betapa sulitnya mengubah sifat keras kepala gadis itu.
Keesokan harinya di sekolah, Reyna berjalan sendirian menyusuri koridor panjang. Tatapannya tetap dingin dan wajahnya datar, seolah tidak ada satu pun hal yang menarik perhatiannya di lingkungan itu. Namun, langkahnya terhenti saat Citra berlari kecil mendekatinya sambil tersenyum.
"Reyna..." panggil Citra dengan napas sedikit terengah.
Reyna mengerutkan kening, sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Citra berinisiatif mendekat dan mengajaknya berjalan bersama. Biasanya teman sekelasnya itu hanya berani bicara seperlunya saja.
"Ayo jalan bareng ke kelas, yuk," ajak Citra ramah.
Reyna diam sejenak, lalu hanya mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya. Keduanya pun berjalan berdampingan menuju ruang kelas XI IPA 1. Sesampainya di sana, mereka segera duduk di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, guru pengajar masuk dan mulai menjelaskan materi pelajaran di depan kelas. Suasana hening dan tenang, hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang memecah konsentrasi semua murid.
Tok... Tok... Tok...
Guru itu menghentikan penjelasannya dan menoleh ke arah pintu. "Assalamu'alaikum, Bu," sapa Reyhan sambil membuka pintu sedikit dan menengokkan kepalanya.
"Walaikum salam. Ada apa, Rey?" tanya guru itu bingung melihat ketua OSIS itu datang di tengah jam pelajaran.
"Maaf mengganggu, Bu. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari ruang kesiswaan. Reyna dipanggil oleh Pak Sopyan sekarang juga," jelas Reyhan sambil melirik sekilas ke arah Reyna.
"Reyna, maju ke depan," panggil guru itu.
Reyna bangkit berdiri dengan malas, berjalan santai menghampiri meja guru. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Lo dipanggil Pak Sopyan. Ikut gue," ucap Reyhan singkat, lalu berjalan keluar kelas.
Reyna menghela napas panjang, lalu berjalan mengikuti Reyhan dari belakang. Namun, saat Reyhan terus berjalan di sampingnya menuju ruang guru, Reyna berhenti dan menatap tajam.
"Lo enggak usah ikutin gue sampai masuk. Gue bisa jalan sendiri dan ngurus urusan gue sendiri," ucapnya ketus, lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Reyhan yang hanya bisa menatap punggungnya.
Sesampainya di depan ruangan Pak Sopyan, Reyna mengetuk pintu sebentar lalu masuk begitu saja. Ia duduk di kursi yang tersedia tanpa menyapa atau mempedulikan siapa saja yang ada di ruangan itu. Di sana sudah ada Pak Sopyan, dan sepasang suami istri yang berpakaian sangat glamor dan mewah. Itu adalah Bu Salma, ibu dari siswa yang kemarin berkelahi dengan Reyna.
"Jadi ini anak gadis yang berani sekali menampar dan menyakiti anak saya?" tanya Bu Salma dengan nada sinis namun penuh amarah, menatap Reyna dari ujung kepala hingga kaki.
"Anak saya sekarang terbaring lemah di rumah sakit! Tangannya harus digips dan patah tulang semua gara-gara kelakuan kamu yang kasar ini!" bentak Bu Salma sambil menunjuk-nunjuk wajah Reyna. Matanya menyala penuh kemarahan.
Reyna hanya menatap balik dengan tatapan tak berdosa dan enteng. "Masih beruntung cuma tangannya yang gue patahkan. Bagaimana kalau kemarin gue patahkan juga kakinya? Pasti dia enggak bisa jalan sama sekali sampai sekarang," jawabnya santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kurang ajar! Anak saya juga masuk UGD karena ditendang sekeras itu sama kamu! Apa tidak ada orang tua yang mendidikmu di rumah hah?!" sergah Bu Salma semakin meledak emosinya mendengar jawaban tak tahu diri itu.
Kalimat terakhir itu membuat tangan Reyna mengepal erat di bawah meja. Ia menahan diri agar tidak meledak di sana.
"Bu Salma, tolong tenanglah. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin ya, Bu," cegah Pak Sopyan berusaha meredakan ketegangan.
"Pokoknya Pak Sopyan, saya tidak terima! Saya mau dia yang bertanggung jawab penuh! Semua biaya pengobatan, perawatan, sampai anak saya benar-benar sembuh, semuanya harus dia dan keluarganya yang bayar!" tuntut Bu Salma dengan tegas.
Belum sempat Pak Sopyan menjawab, pintu ruangan terbuka kembali. "Assalamu'alaikum Pak, maaf saya terlambat datang," sapa seseorang dengan suara berwibawa.
Semua mata tertuju pada pintu. Itu adalah Pak Ardan, ayah Reyna. Kehadirannya langsung membuat suasana berubah hening. Siapa yang tidak kenal Pak Ardan Alexandria? Orang terkaya kedua di kota ini, namanya begitu terpandang dan disegani.
"Perkenalkan, saya Ardan Alexandria, ayah kandung Reyna," ucapnya tenang namun berkarisma, berjalan masuk dan menyalami Pak Sopyan serta pasangan itu.
"Begini Pak Ardan, putri Bapak terlibat perkelahian dan membuat teman sekelasnya harus dirawat karena patah tulang," jelas Pak Sopyan menjelaskan pokok masalahnya.
Pak Ardan menatap Bu Salma yang masih tertegun melihat siapa ayah dari gadis yang dianggap nakal itu. Ia kemudian tersenyum sopan namun terlihat lelah.
"Saya meminta maaf sebesar-besarnya atas kelakuan putri saya. Saya mengerti kekhawatiran Ibu dan rasa sakit yang dialami anak Ibu. Jangan khawatir, Bu. Saya akan menanggung semua biaya pengobatan, perawatan, hingga pemulihan anak Ibu sepenuhnya. Semuanya saya yang tanggung jawab," ucap Pak Ardan dengan nada tegas, berusaha meredakan kemarahan ibu yang sedang berduka itu, sekaligus menyelesaikan masalah yang dibuat oleh putrinya yang keras kepala.
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.