Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.
Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.
Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.
Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.
Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.
Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31
“Maaf, Tuan, Nyonya. Saya menyela.”
Seketika, suara Bi Erni pun memecah keheningan. Arya dan Gendis, yang tadinya tengah bertukar pandang dengan raut wajah campur aduk. Kini, keduanya menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
“Apa sebaiknya Tuan dan Nyonya masuk dulu? Lanjutkan pembicaraannya di dalam, biar Nyonya bisa sambil istirahat.” lanjut Bi Erni.
Arya menghela nafas pelan, benar apa kata Bi Erni. Larut dalam suasana haru, sejenak membuat Arya lupa keadaan Gendis yang harus banyak istirahat. Ia mengangguk setuju, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
“Benar juga, Bi. Ayo, Sayang, kita masuk.” ajaknya lembut, meraih tangan Gendis.
Deg.
Sentuhan tangan Arya yang terasa hangat, cukup membuat hati Gendis merasa tenang. Namun, perasaan canggung dan kaku pasca perpisahan mereka, masih belum bisa Gendis hilangkan.
Meski terasa aneh, tapi Gendis mencoba untuk menerima dan membiasakan diri dengan kehadiran Arya lagi di sampingnya.
Arya menggenggam erat jemari istrinya, menuntunnya masuk ke dalam rumah baru mereka yang megah. Keduanya melangkah secara berdampingan.
Arya tak melepaskan genggamannya pada Gendis, seolah takut istrinya akan terjadi sesuatu kepada sang istri. Mereka berjalan menuju tangga yang menuju ke lantai atas di mana kamar utama rumah itu berada.
Sebelum melanjutkan langkahnya, menaiki anak tangga pertama, Arya menoleh ke arah Bi Erni yang berdiri di ambang pintu.
“Bi, tolong siapkan makan siang untuk kami, ya,” titah Arya.
“Baik, Tuan. Akan segera saya siapkan,” jawab Bi Erni, mengangguk patuh.
“Sama, tolong siapkan juga susu hamil untuk istri saya,” lanjut Arya. Kembali menatap istrinya, mengusap lembut punggung tangannya. Matanya berbinar penuh kasih saat menatap Gendis.
Seketika, kening Bi Erni berkerut halus. Ia menatap Gendis dengan tatapan menyelidik, lalu kembali menatap Arya dan bertanya.
“Susu untuk ibu hamil? Maksud anda, Nyonya……”
Arya tersenyum lebar, sebuah kebahagiaan yang tak bisa lagi ia sembunyikan terpancar jelas dari wajahnya. Ia merangkul bahu Gendis dengan sayang, mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya seolah ingin berbagi kebahagiaan yang tengah dia rasakan.
“Iya, Bi. Alhamdulillah, kami kembali dipercaya untuk memiliki keturunan.” jawab Arya. Dengan suara yang bergetar karena rasa haru yang menyelimuti hatinya.
Mata Bi Erni membulat sempurna. Beberapa saat ia terdiam, mencerna kabar yang baru saja dia dengar. Kemudian, bibirnya tertarik membentuk senyum lebar, air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Alhamdulillah ya Allah!” serunya penuh syukur, kedua tangannya mengatup di depan dada.
“Ya Allah, Nyonya! Selamat, Nyonya! Saya ikut senang sekali mendengar kabar ini. Semoga, Nyonya dan adek bayi sehat selalu dan dilimpahi keberkahan, Aamiin.”
Gendis, yang tadinya masih diliputi kebingungan dan sedikit rasa tidak nyaman, kini mulai merasakan kembali kehangatan dan ketulusan dari Bi Erni dan juga suaminya, Arya.
Kabar kehamilannya, yang tadinya terasa begitu mengejutkan dan membuatnya merasa khawatir, kini terasa lebih nyaman dan membahagiakan saat berbagi bersama dengan orang lain yang menyayanginya.
Arya yang berdiri di sampingnya, ikut tersenyum haru melihat kebahagiaan Bi Erni. Ia merasa lega bisa berbagi kabar baik ini, terutama dengan Bi Erni yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga mereka.
Rumah baru ini, yang tadinya terasa kosong dan asing, kini mulai terasa lebih hangat dan penuh harapan dengan kabar kehamilan Gendis.
“Terima kasih, Bi,” ucap Gendis lembut, menatap penuh rasa haru.
“Sama-sama, Nyonya. Ini kabar yang sangat membahagiakan. Saya akan segera menyiapkan makanan yang terbaik untuk Nyonya dan juga calon bayi.” kata Bi Erni dengan semangat, air matanya kini benar-benar tumpah namun diiringi senyum lebar.
Bi Erni pun bergegas menuju dapur, meninggalkan Arya dan Gendis yang saling bertukar pandang dengan senyum lega.
Di anak tangga pertama, Arya kembali menggandeng tangan Gendis.
Mereka melanjutkan langkah menuju kamar utama, meninggalkan jejak kebahagiaan di rumah baru yang kini terasa lebih hangat.
Kabar kehamilan ini menjadi babak baru dalam kehidupan mereka, sebuah harapan dan kebahagiaan yang akan mengisi setiap sudut rumah ini dengan cinta dan tawa seorang bayi.
“Ayo, sebaiknya kita ke kamar. Agar kamu bisa istirahat.” ajak Arya. Nada suaranya terdengar lembut dan penuh dengan ke hati hatian, seolah takut Gendis akan menolak ajakannya.
Gendis hanya mengangguk kecil. Meski keraguan masih menyelimuti hatinya. Karena pengkhianatan Arya masih terasa seperti duri yang menusuk, menyakiti hati.
Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, Gendis ingin mencoba untuk memberi Arya kesempatan. Setidaknya, sampai pria itu menjelaskan, kenapa dia bisa melakukan pengkhianatan itu?
Dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara, Arya menggandeng tangan Gendis. Membawa Gendis ke kamar pribadi baru mereka.
Setiap langkah Gendis terasa berat, seolah kakinya berbalut timah. Pikirannya berkecamuk, membayangkan bagaimana kehidupan mereka akan berjalan di rumah ini, di kamar ini, setelah badai perselingkuhan itu menerjang rumah tangganya.
Akhirnya setelah beberapa saat, mereka pun tiba di depan sebuah pintu kayu berwarna coklat. Arya melepaskan genggaman tangannya, agar bisa membukakan pintu untuk Gendis.
Gendis menatap punggung Arya yang kini tengah membelakanginya, meraih kenop pintu lalu memutar benda tersebut agar pintu di hadapannya bisa terbuka. Ada kerinduan terselip di antara rasa sakit yang Gendis rasakan. Ia merindukan Arya yang dulu, Arya yang ia cintai dan juga mencintainya.
Akan tetapi, setelah melihat Arya bersama dengan wanita lain. Rasa ragu pun mulai tumbuh dihati Gendis. Ia sudah tidak yakin lagi, jika suaminya masih mencintai dirinya. Atau mungkin, sejak mereka bertemu, rasa cinta itu hanya tumbuh di hati Gendis, tapi tidak di hati Arya.
“Kreeekkkk….”
Deg.
Gendis tersentak kaget, lamunan nya tiba tiba buyar saat mendengar pintu kamar itu terbuka, menampilkan sebuah kamar yang belum sepenuhnya ia lihat. Cahaya terang dari jendela kamar yang dibiarkan terbuka menyambut kedatangannya.
Arya berbalik, menatap Gendis dengan senyum tipis terukir indah di wajah tampan nya. Tangan kekarnya kembali terulur, berharap Gendis akan meraihnya.
“Ayo, masuklah. Mulai sekarang, ini akan jadi kamar kita dan tidak akan ada yang bisa masuk ke sini tanpa izin,” ucap Arya, men jeda sejenak ucapannya.
“Termasuk juga Bi Erni, beliau tidak akan bisa masuk sebelum kamu atau aku yang memberikannya izin.” lanjut Arya.
Gendis terkesiap. Pernyataan dari Arya bagai tamparan halus di pipinya. Ia tidak menyangka Arya akan bertindak sek protektif ini.
Bahkan, untuk Bi Erni sekalipun, wanita baya yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri, kini harus meminta izin hanya untuk sekedar memasuki kamar mereka?
Gendis benar benar dibuat kaget dengan perubahan sikap Arya saat ini. Pria itu tampak begitu bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. Sepertinya, kesalahan yang dia perbuat telah memberikan Arya banyak pelajaran.
Hingga membuat pria itu berubah menjadi pria yang posesif dan protektif. Namun, apakah luka di hati Gendis bisa semudah itu disembuhkan? Hanya karena melihat perubahan sikap Arya? Lalu, apa yang harus dia lakukan, agar kepercayaan itu kembali tumbuh untuk pria itu?
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻