Bagaimana jadinya saat tiba - tiba ibumu menanyakan saat ini berapa umurmu dan menawari hadiah ulang tahunmu yang ke 21 dengan hadiah jodoh?.
"Nis, Nisa sekarang umurmu berapa?." Tanya Dewi tiba-tiba saat masuk kamar putrinya. Nisa yang ditanya sang ibu pun langsung menjawab tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang sang ibu terkadang sangat random. " Dua puluh tahun sebelas bulan ".
" Berarti sudah boleh menikah, hadiah ulang tahunnya jodoh mau? "Jawab sang ibu yang membuat Nisa kaget dan langsung tertawa.
Nisa yang sudah hafal betul tentang kerandoman ibunya pun berniat meladeni pembicaraan ini yang dia kira adalah candaan seperti yang sudah sudah.
" Boleh... Asal syarat dan ketentuan berlaku, yang pertama seiman, yang kedu-".Belum selesai Nisa bicara dia mendengar ibunya sudah tertawa lepas yang membuat Nisa juga ikut tertawa dan langsung pergi dari kamar putrinya.
Tanpa Nisa ketahui bahwa yang ia anggap candaan itu adalah sesuatu yang serius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PERMATABERLIAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.
"Ah terus Mas ... lebih cepat."
"Apa seenak itu?" tanya pria yang sedang memacu tubuhnya diatas tubuh sang kekasih.
"Iyah ah ini enak sekali." racau sang wanita yang semakin menggila dibawah kungkungan kenikmatan tiada tara.
"Ah istri kamu beruntung sekali bisa menikmati pe nis kamu ini sepuasnya... hah ... aku jadi iri."
"Hey kenapa harus iri, bukannya pe nis ini juga milikmu." jawab sang pria yang semakin menghentakkan pusakanya semakin dalam.
"Ah terus Mas... lebih kasar lagi aku suka."
"Sesuai permintaanmu sayang."
Malam semakin larut tetapi dua insan yang berada di sebuah kamar penginapan itu semakin gencar memadu kasih seakan telah lama tidak bertemu padahal mereka setiap harinya selalu bersama.
"Ahhh"
Terdengar lenguhan panjang keduanya saat sama-sama mendapatkan puncak kenikmatannya.
"Mas kamu mau apa?" tanya sang wanita saat melihat kekasihnya itu bukannya berbaring disebelahnya tetapi malah kembali mencari posisi baru untuk kembali memasukinya.
"Ayolah sayang katanya kamu rindu dengan pe nis ku ini, malam masih panjang jadi ayo kita bersenang-senang lagi." ucap sang pria yang lalu kembali memasuki tubuh sang kekasih.
"Ah Mas tapi aku baru saja keluar ah."
"Bukannya kamu suka bercinta dengan gaya kasar seperti ini."
"Iyah suka ... tapi ini bikin aku gila ah."
"Ini belum seberapa sayang karena aku akan buat kamu semakin menggila lagi hingga kamu tidak akan melupakan pe nis ku ini."
Tanpa aba-aba sang pria mengangkat satu kaki sang kekasih dan mengarahkannya ke pundaknya hingga sang kekasih dapat merasakan jika pusakanya semakin dalam menusuknya.
"Ah ah ah Mas ini terlalu dalam."
Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat akhirnya dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu selesai dengan acara bercinta mereka yang tidak cukup satu ronde.
"Sayang banget deh besok siang kita udah harus pulang." adu sang wanita yang saat ini sedang asik menggambar abstrak didada kekar sang kekasih.
"Emang kamu belum puas juga?" tanya si pria.
"Aku si pengennya kita sehari lagi disini nya." ucap sang wanita yang memasang tampang merajuk.
"Itu bisa diatur, tapi apa suami kamu tidak mencarimu?"
"Itu biar aku yang urus Mas, kan kamu tahu sendiri dia itu mudah dibohongi dan selalu percaya kepadaku."
Belum sempat menjawab perkataan sang kekasih tiba-tiba saja telpon sang pria berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk.
Hal itu mendorong sang pria untuk melepas sejenak dekapannya kepada sang kekasih untuk menjawab panggilan itu, dan tentu saja sang wanita sedikit sebal dengan hal itu karena ia merasa terganggu sebab mengganggu waktu kebersamaannya.
"Ya halo ... iya ini masih ada urusan jadi pulangnya bakal diundur ... ya dadah."
Selesai mengakhiri panggilan teleponnya sang pria kembali lagi menghampiri sang kekasih yang sedang menyibukkan diri dengan gawainya.
"Sepertinya istrimu ya yang menghubungi?" tebak sang wanita karena menurutnya tidak akan ada yang menghubungi kekasihnya di jam segini.
"Iya."jawab singkat sang pria karena memang tebakan sang kekasih benar seratus persen.
*
*
Di hari rabu sore ini Yuda pulang kerumahnya yang ia tempati bersama Rita, istri pertamanya dan walaupun ini sudah sore tetapi istrinya itu belum terlihat juga berada dirumah.
Memang kemarin istrinya itu sempat pamit kepadanya bahwa ia akan keluar kota sebab ada keperluan kantor yang memaksanya untuk pergi dan seharusnya akan pulang siang hari ini, tetapi sampai hari sudah akan kembali gelap nyatanya sang istri belum juga menampakkan dirinya.
Tidak mau berpikir macam-macam Yuda mengambil handphonenya dan langsung menghubungi sang istri untuk menanyakan keberadaannya.
Panggilan pertama dan kedua dari Yuda tidak dijawab oleh istrinya itu dan barulah panggilan telepon yang ketiga telepon darinya diangkat.
"Halo."
Terdengar sapaan dari seberang sana, tetapi suara yang menyapanya bukanlah suara sang istri tetapi suara seoarang laki-laki yang sepertinya baru saja bangun tidur dan hal itu membuat kening Yuda berkerut dalam dan kembali mengecek layar handphonenya memastikan barang kali ia yang salah menghubungi.
Tetapi saat sudah memastikan bahwa ia tidak salah nomer barulah Yuda bertanya kepada si penjawab telepon dimana keberadaan istrinya itu dengan nada penuh kecurigaan.
"Halo, dengan siapa saya berbicara dan dimana istri saya, pemilik handphone ini berada?"
Mendengar kata istri, barulah Ari teman kerja sekaligus kekasih gelap Rita sadar bahwa ia salah mengangkat telepon.
Dengan terburu-buru ia membangunkan Rita yang masih tidur disebelahnya dan memberikan handphone itu kepadanya.
"Hey sayang bangun dulu, ini suamimu telepon."
Mendengar jika Yuda menelponnya, dengan nyawa yang belum terkumpul penuh Rita segera menerima telepon itu.
"Halo Mas Yuda?"
"Halo kamu dimana dan siapa tadi yang mengangkat panggilan dariku?" tanya Yuda beruntun.
"Aku masih di luar kota Mas, dan tadi yang mengangkat teleponku itu rekan kerjaku disini, kebetulan tadi aku sedang di toilet." jawab Rita yang sangat lancar mengucapkan kebohongannya.
"Di luar kota? katanya hari ini pulang?"
"Iya aku lupa kasih kamu kabar jika masih ada urusan lainnya."
"Kamu berubah sekarang Rita." ucap Yuda dengan nada kecewa kepada sang istri.
"Apaan si Mas, aku gak berubah."
"Kamu ini anggap aku apa? bahkan untuk memberi kabar kepadaku saja sampai lupa."
"Kamu yang sebenarnya kenapa, masa masalah sepele seperti ini saja dibesar-besarkan."
Saat tahu bahwa pembicaraan ini akan sia-sia saja karena ia dan Rita sudah sama-sama terbawa emosi, Yuda mengakhiri begitu saja teleponnya.
"Selalu seperti ini." Yuda menghela nafasnya dalam karena untuk bicara secara baik-baik dengan Rita itu entah mengapa begitu susah berbeda dengan saat ia berbicara dengan Ami.
"Ami..." ucap lirih Yuda yang tiba-tiba teringat akan istri sirinya itu.
Sedangkan Ami yang saat ini baru saja selesai mandi tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu apartemen yang seperti terbuka. Jujur Ami menjadi sedikit waspada, ia takut jika tadi ia lupa menutup kembali pintunya dan saat ini ada orang yang menyusup masuk ke dalam apartemen yang ia tempati.
Ami membuka pintu kamarnya dengan perlahan supaya tidak menimbulkan bunyi dan saat dikiranya aman ia baru mengeluarkan sebagian kepalanya untuk melihat sekitar.
Tidak berhenti di sana Ami perlahan tapi pasti berjalan mengendap-endap menuju ruang tamu untuk mengecek dugaannya, dan sesuai dugaannya ia melihat sesosok pria yang berdiri membelakangi dirinya didekat meja televisi.
Ami yang sedari tadi membawa senjata ditangannya berupa kemoceng semakin mengeratkan genggamannya untuk bersiap-siap memberikan serangan.
Tapi baru saja Ami mengumpulkan keberaniannya tiba-tiba saja sosok itu membalikkan tubuhnya hingga saat ini Ami dapat melihat lebih jelas sosok itu.