NovelToon NovelToon
The Mysterious Rose

The Mysterious Rose

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Detektif / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Minnie Harissa

A Mystery Thriller Novel

Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."

Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?

Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.

Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh: Hanselio Kaban

Konsekuensi dari keputusanku beberapa jam lalu adalah aku harus bersedia pergi ke sekolah saat malam hari tiba. Goblok memang. Kuakui aku sekarang memang begitu. Sekarang aku malah berpikir bahwa ini adalah jebakan. Bisa saja kan inilah yang dialami oleh para korban sebelum-sebelumnya. Diminta untuk datang ke suatu tempat dengan iming-iming sesuatu yang ia inginkan, lalu boom, tiba-tiba saja sudah di ambang maut.

Aku berjalan menyusuri koridor lantai satu di gedung ekstrakurikuler dibantu pencahayaan seadanya dari lampu senter. Bisa saja sebenarnya sekarang aku memutuskan untuk pergi dari sini. Tapi entah kenapa ada ego yang begitu kuat menahanku untuk tetap tinggal. Lagi-lagi aku berpikir, jangan-jangan ini juga yang dipikirkan para korban sebelum-sebelumnya.

Gerakku terhenti sesampainya di depan tangga menuju lantai dua. Setelah memantapkan hati, aku menaiki anak tangga yang pertama, bersamaan dengan bunyi jantung yang semakin memacu cepat, menemaniku yang sendirian di tempat ini. Atau mungkin tidak. Ya, sepertinya aku tidak sendirian di sini. Sebab tadi aku mendengar pintu depan terbuka.

Hantu? Oh, ayolah. Hantu tak akan membuka pintu dengan sopan. Jelas itu manusia. Namun entah manusia yang bagaimana.

Aku memutuskan mematikan senter dan bersembunyi begitu yakin ada suara langkah kaki terdengar semakin jelas mendekati tempatku. Dan tempat persembunyianku kurasa cukup keren dan mumpuni, yaitu sebuah tanaman hias, yang entah apa namanya, yang cukup besar sehingga cukup untuk menyembunyikan diriku.

Saat suara langkah semakin jelas menapaki lantai koridor, perlahan-lahan bayangan hitam pun ikut muncul bersamaan dengan cahaya dari lampu senter. Tanpa sadar aku menahan napas.

Kesulitan bernapas entah mengapa terasa sama sekali bukan masalah besar sekarang. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyamarkan diriku dengan tanaman hias saat sesosok laki-laki berdiri di depan. Dengan celana pendek putih dan kaus putih yang tampak serasi.

Sial.

"Bos ngapain di situ?" kata makhluk sial tersebut saat menoleh padaku sambil menyorotkan senternya. "Ada orang jahat, ya." Ia mendekat padaku dan ikut berjongkok.

Aku berdecak. "Lo kok bisa kemari?" tanyaku kesal bercampur curiga. Sudah kubilang kan sekarang aku tak bisa percaya siapa pun.

"Tadi Bang Randall telepon. Katanya Bos pergi malem-malem, aneh banget. Jadi dia nanya gue tau gak Bos pergi ke mana. Ya gue jawab, gue gak tau. Karena gue curiga Bos macem-macem makanya gue ikutin ke sini."

Aku mengernyit menyadari keanehan dalam ceritanya. "Lo ngikutin gue gimana?"

"Hehe, sebenarnya waktu itu gue iseng-iseng aktifin lokasi di hape, Bos. Jadi gue bisa lacak Bos lewat GPS."

Aku buru-buru membuka ponselku dan melihat lokasiku menyala. "Ini pelanggaran. Lo gak bisa sembarangan masang GPS kayak gini."

"Sorry, Bos. Abis kita sekarang kan lagi dalam misi penting. Kalo Bos sama Grisel kejebak lagi kayak waktu itu, kan gue bisa ngelacak kalian lewat hape. Kan hape gue udah canggih sekarang." Cowok di depanku cengar-cengir.

Dia benar sih. Kami bisa saling melacak posisi kami masing-masing itu berguna juga. Tapi kenapa pas saat aku tak berharap ditemukan begini.

"Bos ngapain di sini?" Ah, itu pertanyaan yang paling kuhindari. Aku harus menjawab apa coba.

"Gue..."

"Bos kenapa sih? Kok sekarang jadi main sembunyi-sembunyiin sesuatu gitu."

Dahi Tengku dipenuhi kerutan, pertanda si empunya tengah kecewa atau mungkin kesal padaku.

Apa aku harus memercayainya?

Harus. Sebuah suara menjawab pertanyaanku barusan. Tapi kusadari bahwa yang menjawab itu adalah diriku sendiri. Jika aku bisa percaya pada orang yang tidak kukenal. Kenapa aku harus meragukan teman sendiri. Lagi pula aku belum tahu pasti yang mana yang sebenarnya berada di pihakku. Kalau aku terus menghindar, mungkin aku tak akan pernah tahu kebenaran.

Baiklah, aku akan mencoba memercayainya. Lagi pula aku hanya diminta datang. Tak ada aturan aku harus datang sendiri atau bawa teman.

"Oke, gue bakal jelasin semuanya." Aku pun menjelaskan pada Tengku mengapa aku harus melakukan semua ini, yaitu pasal si King of Remi. Juga alasan mengapa aku tiba-tiba menghindar dari dia dan Grisel. Aku sengaja memberi tahu hal ini karena aku ingin melihat sendiri bagaimana ekspresi wajah Tengku mendengarnya.

"Bos curiga sama gue!" pekiknya kesal bukan main. "Bisa-bisanya Bos kayak gitu. Bos kira gue ini apa. Kaki tangan kejahatan gitu? Kalo emang iya, buat apa gue bantuin Bos. Dan kalo Grisel juga kayak gitu, buat apa dia bantuin kita. Lebih baik kita diem-diem aja kan kalo emang kita penjahatnya."

Ya, Tengku memang benar. Kurasa akhir-akhir ini aku menjadi sangat kacau.

"Lagi pula pasti penjahat di balik semua kejadian ini tuh pinter, Bos, sampe polisi gak bisa ngendus kejahatannya. Kalo gue sepinter itu, mending gue pake buat belajar terus jadi dokter kayak yang diharapkan emak-abah gue. Lagi pula gini-gini gue sayang emak gue. Gue sayang keluarga gue. Buat apa gue ngelakuin hal kayak gitu."

Ah. Aku jadi merasa bersalah kan. Bagaimana bisa aku meragukan Tengku. Dia sudah berusaha semampunya untuk semua kasus ini, tapi bisa-bisanya aku lebih memercayai orang aneh yang baru kukenal.

"Sorry, Ku. Kayaknya emang gue sekarang jadi goblok."

"Ya emang!" sentak Tengku dengan suara menggelegar.

Aku memelototinya.

"Maap, Bos. Kesel. Abisnya Bos kayak gitu."

"Iya, gue ngaku salah."

Kemudian aku menjelaskan pada Tengku tentang pesan-pesan yang kuterima dari King of Remi, dan penyebab kedatanganku kemari.

"Jadi si King-King itu minta Bos ngikutin permainannya. Dan permainan itu adalah Bos harus nyari surat yang kayak Bos dapet di loker sebelum-sebelumnya."

"Iya. Dia bilang surat selanjutnya gak ditaruh di loker gue. Jadi gue harus ke sini buat nyari di mana surat itu disembunyikan."

"Tapi buat apa dia ngelakuin hal ini? Sebelum-sebelumnya dia ngasi cuma-cuma aja."

"Gue gak tau pasti. Tapi entah kenapa gue ngira-ngira, mungkin karena gue goblok."

"Ha?" Tengku melongo.

"Dia terus nyebut gue goblok. Mungkin dia pingin nantang gue buat liat kemampuan gue gitu. Dan gue pastiin gue bakal nemuin surat itu, biar dia sadar kalo gue gak segoblok itu."

"Maksudnya, karna dia yang ngirim petunjuk. Dia mau orang yang dia kirimi surat itu punya kemampuan yang mumpuni untuk menyelesaikan teka-teki ini. Terus karena selama ini kita gagal terus, dia pingin nguji kita dulu, apa pantas untuk dipercaya atau enggak, gitu?"

"Bisa jadi, tapi bisa juga kita ditipu."

"Ditipu sama penjahat aslinya gitu?"

"Iya."

"Wah, wah, wah. Ini jelas berbahaya kalo bener ada penjahat aslinya di sini. Bisa-bisa kita ikut dibuat bunuh diri. Tapi kalo bukan, juga gawat. Kalo kita gak berhasil, kita gak bakal dapet petunjuk lain lagi untuk ngungkapin semuanya."

"Gitu deh. Dan misi lainnya... kita harus nangkep seseorang juga nantinya."

"Siapa?"

"Dia bilang seseorang yang mengenakan jaket. Dia bilang orang berjaket itu juga ngincer surat yang sama dengan kita. Jadi bisa dibilang kita kayak lagi di-battle gitu."

"Kalo gitu tunggu apa lagi?" Tengku kini berubah on fire. "Ayo kita cari sebelum keduluan!"

Lalu selanjutnya, aku sudah diseret oleh bocah itu.

***

Sincerely,

Dark Pappermint

1
Ira Resdiana
"ya udah, cium deh tu taneman" .. wkekwkek mau²nya loh si Ali .. bukannya bareng² nyari aroma pesing sama²..
Erni Sasa
pantes aja sh di bunuh si nixie
puas juga gk apa"x dia mati😏
Erni Sasa
lebih enak dn elegant kaya gini thor bacanya❤❤pokoke
Erni Sasa
kalw menurutku sih ini novel ter epic terkeren dalam segi bahasa,dalm segi pov aah entahlah gk bisa di jabarkan dan seakan qt tuh ikut main di dalam,y🥰🥰❤❤
PENGGILA NOVEL
bagus banget
Nur Mutmainna Patta
in hp Tengku d hack bgtu yachhh
Ryoka2
😭
Ryoka2
😭😂
Ryoka2
Wkwkwk😂
zkdlinmy
emang ya cerita ini baguss banget, menarik. aku udah baca tentang Hansel, Grisel, Tengku dkk bener bener seruu, seremnya dapet, tegang apalagi. dari wp jadi kesini gara-gara penasaran lanjutan ceritanya. good job thor^^
Rani nay
ekstrim bgt berasa lagi ditempat kejadian 😭
Rani nay
nah benar kan si Jared
Rani nay
berarti pelakunya ada 3.
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku
Rani nay
fiks pelakunya Gisel sama Tengku.
Rani nay
akhirnya setelah berabad-abad nyari novel yg sesuai kriteria ku akhirnya dapat juga
Adinda
serem dan menegangkan
Febiana Safitri
ali tuh yg mencurigakan.. sok akting
Febiana Safitri
kayanya albino deh
atmaranii
Mr grey mah udh psti Dieter...aplg cm Dy yg blm ktngkep
atmaranii
mungkin dah janji ma grissel klo Dy GK bkl SMPe bnuh hansel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!