Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
[ Mawar Putih ]
Hujan masih turun membasahi jalanan kota. Rhea Azlyn berdiri di balik meja kasir sambil menatap pria yang duduk tenang di kursi belakang mobil hitam itu.
"Kalau menurutmu... bunga apa yang cocok untuk seseorang yang sudah lama kehilangan kepercayaan pada siapa pun?"
Pertanyaan Vincent membuat Rhea terdiam beberapa saat.
Ia mengambil setangkai mawar putih dari vas bunga, lalu membungkusnya dengan kertas cokelat sederhana.
"Mawar putih?"
Rhea mengangguk pelan.
"Kenapa mawar putih?"
"Karena bunga ini melambangkan kepercayaan yang lahir kembali. Walaupun sulit, selalu ada kesempatan untuk memulainya lagi."
Vincent menatap bunga itu cukup lama.
Lalu tanpa berkata apa pun, ia mengambilnya.
"Berapa?"
"Anggap saja hadiah."
Vincent mengangkat alis.
"Kau memberi hadiah pada orang yang bahkan tidak kau kenal?"
Rhea tersenyum kecil.
"Ibu saya dulu bilang, seseorang yang membeli bunga biasanya sedang membawa perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan."
Tatapan Vincent berubah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Ada seseorang yang berbicara kepadanya tanpa rasa takut.
Tanpa basa-basi.
Tanpa berusaha mengambil keuntungan.
Vincent mengeluarkan beberapa lembar uang.
Rhea buru-buru menggeleng.
"Tidak usah sebanyak itu."
"Simpan."
"Tapi—"
"Itu bukan untuk bunganya."
Vincent menatapnya sesaat.
"Itu untuk jawabanmu."
Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan toko.
Rhea mengembuskan napas panjang.
Pertemuan pertama berjalan lebih baik dari yang ia perkirakan.
Namun ia tahu...
Semakin Vincent mempercayainya, semakin besar kebohongan yang harus ia pertahankan.
Di dalam mobil, salah seorang anak buah membuka tablet.
"Bos, hasil penyelidikan tentang gadis itu sudah keluar."
Vincent menerima tablet tersebut.
Nama : Rhea Azlyn.
Usia dua puluh empat tahun.
Pemilik toko bunga.
Yatim piatu.
Tidak memiliki catatan kriminal.
Tidak memiliki hubungan dengan organisasi mana pun.
Semua data tampak sempurna.
Terlalu sempurna.
"Terus awasi dia," ucap Vincent singkat.
"Bos curiga?"
"Aku tidak percaya pada kebetulan."
Anak buahnya mengangguk.
"Baik, Bos."
Malam itu...
Rhea kembali ke apartemen kecil yang telah disiapkan kepolisian.
Begitu pintu tertutup, senyum ramahnya langsung menghilang.
Ia membuka laci meja, mengeluarkan ponsel khusus operasi.
"Komandan."
"Bagaimana perkembangan?"
"Target sudah melakukan kontak pertama."
"Bagus. Jangan terburu-buru."
"Dia pria yang sangat berhati-hati."
Komandan terdiam sejenak.
"Zhava."
"Ya?"
"Jangan sampai dia membaca perasaanmu."
Rhea tersenyum pahit.
"Tenang."
"Aku masih ingat siapa musuhku."
Namun setelah sambungan telepon berakhir...
Tatapan Vincent kembali terlintas di benaknya.
Tatapan seorang pria yang tampak begitu dingin...
tetapi menyimpan kesepian yang sulit dijelaskan.
Rhea segera menggeleng.
"Aku tidak boleh terbawa perasaan."
"Dia hanya target operasi."
Keesokan paginya, toko bunga kembali buka seperti biasa.
Belum lama Rhea merapikan buket di etalase, sebuah mobil sport berhenti di depan toko.
Bukan mobil hitam milik Vincent.
Seorang pria turun sambil membawa buket mawar merah.
"Permisi."
Rhea menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu tersenyum ramah.
"Saya ingin memesan bunga."
"Tentu."
"Untuk Bos saya."
"Siapa nama Bos Anda?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Vincent Lawson."
Jantung Rhea berdetak sedikit lebih cepat.
"Beliau bilang..."
"...mulai hari ini, semua bunga untuk kantornya hanya akan dibeli dari toko ini."
Rhea membeku.
Sementara di lantai paling atas gedung Black Raven, Vincent berdiri di depan jendela sambil memandangi toko bunga kecil di seberang jalan.
Entah mengapa...
Di antara begitu banyak orang yang pernah mencoba mendekatinya...
Hanya gadis sederhana bernama Rhea Azlyn yang membuatnya ingin mengetahui lebih banyak.
Dan tanpa mereka sadari...
Benang takdir mulai mengikat keduanya semakin erat.
Satu langkah lebih dekat menuju cinta...
dan satu langkah lebih dekat menuju pengkhianatan terbesar dalam hidup mereka.