"Sttt...dia tidak akan tahu, dia kan buta..." Suara bisikan seorang wanita.
"Kamu begitu agresif..." Suara seorang pria juga turut terdengar.
Stefanie Triatmaja memang buta, tapi tidak tuli. Dirinya yang kehilangan arah saat persiapan pesta pernikahannya, mendengar dengan mata kepalanya sendiri, calon suaminya Danu berselingkuh.
Air matanya mengalir, dirinya tahu tapi pura-pura tidak tahu. Menunggu saat yang tepat, mencari cara untuk membatalkan pernikahan ini.
Hingga, saat di altar, dirinya mengucapkan kalimat yang membuat pernikahannya dapat dibatalkan dengan mudah.
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku hamil anak Derrel Virgo Chandradinata." Wanita yang mengatakan terus terang tentang perselingkuhan palsunya.
Semua mata tertuju pada Chandra."Aku tidak menghamilinya---"
Tapi Chandra, pemuda yang merupakan musuh Stefani pada masa SMU itu, entah kenapa perlahan tersenyum penuh obsesi dan kegilaan."Benar! Aku kemari untuk mencuri pengantin."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Stefanie menelan ludahnya, menghirup nafas beraroma mint di dekat lehernya. Chandra, pemuda ini adalah musuh besarnya. Seseorang yang seharusnya tidak membuat perasaannya menjadi seperti ini.
Apa dirinya diguna-guna? Sehingga tidak dapat bergerak seperti ini. Apakah pemuda ini memasukkan sesuatu ke dalam makanan atau minumannya? Sehingga dirinya merasakan perasaan tidak nyaman. Menelan ludahnya sendiri, dirinya ingin marah dan menghentikan pemuda ini. Tapi sejenak dirinya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang ini.
“Stefanie…” bibir pemuda itu merayap.
“Ah…” mulut Stefanie terbuka sejenak, ketika merasakan kulit lehernya terhisap. Benar-benar sebuah hisapan yang dalam, namun bibir itu juga terasa begitu dingin dan lembut.
Sensasi yang aneh, tubuhnya bagaikan memanas. Pemuda ini tetap bergerak, lebih tepatnya bibirnya yang bergerak.
“Ah…” tanda kedua diberikan, Stefanie bagaikan tidak dapat melawan. Dirinya ingin mendorong orang ini, tapi tubuhnya malah mencengkram pinggang Chandra begitu erat.
Bagaikan menyalurkan bagaimana perasaannya ketika bibir itu menarik kulitnya. Perasaan yang membuat aliran darahnya semakin cepat. Perasaan yang memberikan rasa serakah. Hanya sedikit bagian tubuhnya yang disentuh, tapi bagaikan seluruh tubuhnya menginginkan sentuhan yang sama.
Sebuah perasaan yang berpusat pada bagian bawah tubuhnya. Tapi memberikan perasaan gelisah pada keseluruhan tubuh.
“Ah…ah…” pemuda itu masih saja memberikan beberapa tanda lagi. Terkadang menjilat lehernya, tangan pemuda itu begitu gelisah di punggungnya. Mengantarkan rasa serakah dalam setiap gerakannya di punggung Stefanie.
Jantungnya berdegup cepat, benar-benar berdebar-debar, seakan-akan menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang ini lagi.
Hingga pada akhirnya.
“Baiklah! PR ku untuk hari ini sudah selesai.” Kalimat yang diucapkan oleh pemuda itu tanpa rasa bersalah.
“PR?” Stefanie mengerutkan keningnya tidak mengerti. Nada bicaranya terdengar murka, tentu saja sedang enak-enaknya…Maksudnya, seharusnya dirinya yang mendorongnya. Bukan pria ini yang menghentikannya.
“Tentu saja itulah PR untuk hari ini. Membuat beberapa tanda keunggulan seakan kita telah selesai bercinta.” Sebuah kalimat tanpa rasa bersalah dari pemuda itu.
Benar-benar tanpa rasa bersalah, perlahan Chandra mengerutkan keningnya.”Dari wajah Stefanie yang memerah. Kelihatannya Stefanie berpikir bahwa kita akan membuat anak malam ini. Kenapa? Kamu ingin membuat anak denganku untuk memperbaiki keturunanmu? Mengingat Bagaimana perbedaan wajahku dengan wajahmu. Wajahku kan high class…sedangkan wajahmu buluk.” Suara tawa Chandra terdengar.
“Brengsek!” Teriak Stefanie memukul pria itu asal. Wajah sang wanita yang memerah, memendam rasa benci dan malunya. Kenapa dirinya bisa berpikiran begitu kotor jika berdekatan dengan pria ini?
Bukan pria! Lebih tepatnya seekor amoeba yang sulit untuk dibasmi.
Suara derit tempat tidur terdengar. Disertai dengan suara tawa Chandra yang menjauh.”Ternyata isi pikiran seorang Nona Stephanie Triatmaja begitu mesum. Bahkan bisa bernafsu kepada diriku yang biasa-biasa ini. Eh maksudnya luar biasa.”
“Chandra!” Suara pekikan dari mulut Stefanie. Lebih tepatnya suara teriakan yang terdengar bagaikan monster.
Sedangkan Chandra bukannya melarikan diri keluar. Pria itu malah masuk ke dalam kamar mandi. Pemuda yang menghela nafas kasar. Dirinya memang hanya berniat memberikan tanda di leher wanita itu.
Tapi sentuhan tangan yang sebelumnya. Ditambah dengan suara erotis yang keluar dari mulut Stefanie membuatnya menelan ludah berkali-kali. Membuatnya merasa benar-benar gila.”Sial! Sial! Sial! Sabun! Mana sabun!” Pemuda yang kembali memasuki ruangan shower. Tanpa bisa berbuat apapun, tentu saja dirinya ingin memiliki Stefanie dalam kesadaran mutlak oleh wanita itu.
Dalam artian, wanita yang benar-benar mengatakan akan bersedia. Bukan hanya sekedar karena rayuan dan godaan darinya.
Chandra menatap ke arah cermin ketika melepaskan pakaiannya. Tubuh atletis yang terlihat, dirinya menghela nafas. Lagi-lagi harus seperti ini.
Namun wajahnya perlahan tersenyum. Sedikit demi sedikit akan ada kemajuan. Perlahan Stefanie akan mencintainya. Ataukah hubungan ini akan berakhir dengan perceraian?
“Oh…gila…” gumamnya, mungkin kembali tidak dapat berkembang biak malam ini. Ya…itulah nasib seorang pengantin kontrak.
***
Stefanie hanya dapat menahan malunya atas kejadian semalam. Dirinya bahkan tidak bersedia berbicara dengan Chandra pagi ini.
Bagaimana bisa dirinya begitu bodoh mengira hal yang dilakukan oleh Chandra adalah sungguh-sungguh. Padahal itu semua dilakukan oleh Chandra hanya untuk membuat mereka semua mengira bahwa hubungannya dengan Chandra adalah hubungan yang nyata.
“Jelek! Kenapa kamu menjadi pendiam sejak bangun tidur?” Tanya Chandra ketika Stefanie sudah berada di dalam bak mandi.
“Mphhh…” wanita itu membuang muka ke arah samping.
“Ini menjadi begitu aneh, anehnya ketika kamu marah terlihat sedikit lebih cantik. Jangan salah paham, hanya sedikit, dapat dikatakan 0,001mm lebih cantik.” Itulah yang diucapkan oleh Chandra, pria yang sudah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Hingga sekarang hanya menggunakan jubah mandi.
Kini berusaha merayu Stefanie untuk kembali bicara.”Ayolah…Jangan hanya diam. Kalau kamu hanya diam nanti mati seperti ayam. Ayam peliharaanku saat kecil sering bengong, pada akhirnya mati.”
“Mati?” Stefanie bagaikan iseng bertanya. Mengingat dirinya tidak memiliki teman bicara saat ini selain pemuda ini.
“Benar! Saat aku pulang dari sekolah, tiba-tiba ayam itu sudah mati. Terhidang di meja makan sebagai ayam goreng tepung yang dimasak oleh ibuku.” Itulah yang diucapkan olehnya dengan raut wajah datar tidak bersalah.
“Aku ingin membunuhmu! Mphhh…” lagi wanita itu membuang muka ke arah samping.
“Jujur saja, perbanyaklah marah-marah seperti ini. Agar mulut cemberutmu seperti anak bebek lebih terlihat. Anak bebek yang manis, nah sekarang kita cuci rambutmu ya…nanti kalau sudah besar akan aku jadikan bebek goreng.” Pemuda yang entah kenapa membuatnya begitu kesal. Tapi perlahan Stefanie juga tertawa karenanya.
“Nah! Bebek goreng sekarang sudah bisa tertawa. Kalau badanmu sudah sedikit besar, kamu akan bisa mengapung di atas air. Seperti bebek-bebek berkualitas lainnya.” Komat-kamit entah apa yang diucapkan oleh pemuda itu kali ini.
Yang jelas Stefanie cukup terhibur.
“Dan…Maaf kemarin aku menggodamu, Aku hanya ingin bercanda denganmu. Aku tidak tahu bercandaan itu terlalu serius untukmu. Hanya saja, jika memberikan banyak tanda di lehermu, aku rasa itu akan terlihat lebih seperti hubungan yang nyata.” Pemuda yang pada akhirnya berucap pelan.
Stefanie mengerutkan keningnya, pria ini benar-benar meminta maaf padanya? Pria yang bahkan sering mengerjainya ketika SMU? Sekarang mengatakan kata maaf?
“Apa kamu tulus?” Pertanyaan yang diucapkan oleh Stefanie pada akhirnya.
“Aku selalu tulus kepada uang. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan uang, tapi tanpa uang rasanya seperti mau mati. Karena itu, kamu sebagai ladang uangku saat ini. Sama sekali tidak boleh menyesal dengan keputusanmu. Di jari manis kita masing-masing sudah terikat cincin pernikahan. Lebih tepatnya, anggap saja ini adalah pengikat kontrak pernikahan.” Chandra pada akhirnya mulai mencuci rambut Stefanie.
Stefanie memberanikan dirinya bertanya pelan. Mengingat memang dirinya yang menolak Chandra ketika SMU.”Apa kamu benar tidak memiliki pacar?”
“Tentu saja aku tidak memiliki pacar. Tapi aku mempunyai seorang istri yang sedang berada di dalam bak mandi, banyak bertanya menggunakan mulut cerewetnya.” Jawaban singkat dari Chandra.
“Chandra, Apa kamu tidak memiliki kekasih karena trauma aku tolak di depan umum?”
siap2 diterkam kau
dan ga bakalan ngelepas sampe kita mati kering 😒
siap" ya
🤣🤣🤣
dg alasan apapun semoga jd ide utk derrel menendang danu dan lisa dari stefanie
😍
udah pake mobil stefanie... ehh... masih nambah black card stefanie juga
stefanie begitu kamu sudah bisa melihat,, kamu akan terpesona dg kegantengan derrel 😄😄😄