Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Sesampainya di rumah sakit, petugas polisi segera mendatangi korban yang masih sadar untuk menanyakan data diri dan nomor keluarga yang bisa dihubungi. Tak lama kemudian, kabar buruk itu pun tersampaikan ke nomor yang terdaftar.
Di sisi lain, David terus memacu kendaraannya tanpa henti, bertekad tak membiarkan pelaku yang mencelakai mereka dan istrinya lolos begitu saja. Rara yang panik sama sekali tak menyadari ia sedang dibuntuti. Sesampainya di parkiran apartemennya, ia langsung melompat turun dan bergegas masuk. Ia sudah memutuskan akan segera pergi meninggalkan kota dan bersembunyi agar tak tertangkap polisi.
Dengan tangan gemetar ia mengemasi semua barang miliknya ke dalam koper. Rasa takut dan cemas terlihat jelas di wajahnya. “Tenanglah, Rara. Kamu harus bisa keluar dari sini dengan selamat. Jangan panik, kamu pasti bisa,” bisiknya sendiri untuk menenangkan hati.
Begitu semua selesai, ia menarik koper menuju pintu keluar. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati David dan Fitri sudah berdiri menunggu tepat di depan pintu apartemennya.
Sementara itu, Raka dan Laras kembali ke kantor setelah makan siang. Laras ikut menemani suaminya karena Raka melarangnya pulang, meski wanita itu sempat mengeluh lelah.
“Kalau capek, kamu bisa istirahat di kamar tidurku di dalam sini,” ucap Raka sambil menunjuk ruangan kecil di belakang kantornya.
Laras mengangguk dan berjalan perlahan menuju ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat ponsel di saku celananya berdering nyaring.
“Halo, ini siapa?” tanyanya ragu saat melihat nomor tak dikenal.
Tak lama kemudian wajahnya pucat pasi. “Apa? Tidak mungkin, kalian pasti berbohong!” teriaknya histeris sambil menangis tersedu‑sedu, hingga tubuhnya lemas jatuh ke lantai.
Raka yang mendengar segera berlari mendekat, panik melihat istrinya yang mengguncang bahunya sendiri. “Ada apa? Apa yang terjadi?”
Laras tak sanggup menjawab, hanya terus memanggil nama Mama dan Papa di sela tangisnya. Raka segera mengambil ponsel yang tergeletak di lantai dan meminta penjelasan dari pihak yang menelepon.
Setelah mendengar kabar itu, ia langsung memeluk istrinya erat, berusaha memberi kekuatan. “Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat, ada aku di sini. Kita berdoa semoga Mama dan Papa selamat,” bujuknya lembut.
Setelah Laras sedikit tenang, Raka segera menghubungi orang tua mertuanya untuk memastikan kabar, sekaligus meminta saran dan bimbingan dari ayahnya. Ia sendiri juga merasa kacau, apalagi melihat kondisi istrinya yang hancur lebur.
Segera setelah itu ia memanggil asisten dan sekretarisnya masuk ke ruangan. Keduanya terkejut melihat keadaan sang istri, dan segera bertanya apa yang terjadi.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya asistennya dengan sigap.
“Aku harus pergi ke luar kota beberapa hari karena mertuaku mengalami kecelakaan serius. Semua urusan di sini aku serahkan padamu,” ucap Raka dengan nada tegas namun masih terlihat cemas.
“Siap, Pak. Semoga mertua Bapak segera pulih dan sehat kembali,” jawab asistennya.
“Dan kamu,” Raka menoleh ke sekretarisnya, “tolong atur ulang semua jadwalku. Undur semua pertemuan dengan rekan bisnis, sampaikan permohonan maafku dan beri tahu ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda.”
Setelah itu Raka meraih tas kerjanya, lalu mengajak Laras yang masih duduk terisak di sofa untuk segera berangkat. Kini mereka melaju menuju rumah orang tua Raka, sesuai kesepakatan bahwa kedua orang tuanya akan ikut pergi ke luar kota bersama mereka. Bima dan Sari tak bisa hanya diam mendengar kabar kecelakaan yang menimpa sahabat dekat mereka.
“Bersabarlah, sayang. Kita singgah sebentar ke rumah Mama dan Papa dulu, mereka juga ingin ikut menemani,” ucap Raka lembut sambil mengusap rambut istrinya.
Laras hanya diam dan mengangguk pelan. Dunianya terasa runtuh seketika mendengar kabar buruk itu, pikirannya kacau dan tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menuruti kata‑kata suaminya.
David tersenyum dingin melihat wanita di hadapannya kini terdiam dan gemetar ketakutan. Rara menelan ludah berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Sungguh sial nasibnya; begitu membuka pintu apartemen, ia sudah mendapati David dan Fitri berdiri tegak menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Mau apa kalian kesini?” tanya Rara berusaha tenang, berlagak biasa saja agar tidak dicurigai.
“Kami hanya ingin bertemu, tapi sepertinya kamu sedang terburu‑buru ingin pergi,” ucap Fitri sambil menatap tajam koper besar di tangan Rara.
“Bukankah ini yang kalian inginkan? Aku pergi dari sini agar kalian bisa hidup bahagia,” jawab Rara ketus.
“Pintar sekali bicaramu. Tapi apakah kamu yakin semua itu benar?” sahut David dengan nada mengancam.
Rara mulai gugup. “Ma… maksud kalian?”
Dari sorot mata mereka, Rara yakin pasangan itu sudah tahu apa yang baru saja terjadi. Namun ia harus tetap tenang, berusaha menutupi rasa takutnya dengan wajah angkuh.
“Jangan berbelit‑belit, Rara. Aku tahu persis apa yang kamu lakukan. Kamu mengikuti mobil kami dan berniat mencelakai kami,” ucap David tegas.
“Jangan menuduh sembarangan. Minggir, aku mau pergi,” sergah Rara yang ingin segera menjauh.
Namun David dan Fitri tidak bergeming. Mereka malah tersenyum melihat Rara yang makin gelisah.
“Kamu memang gagal mencelakai kami karena aku sadar sejak awal kamu membuntuti. Tapi kamu berhasil mencelakai orang yang sama sekali tidak bersalah,” kata David dingin.