Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06 - Putra Bu Laras
"Mama masuk urusan perceraian orang?"
Suara laki-laki itu terdengar dari pintu kamar VIP, rendah dan dingin.
Ratna yang sedang menuangkan air hangat untuk Bu Laras langsung menoleh. Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu. Jas hitamnya rapi, kemejanya putih tanpa kerutan, wajahnya tenang dengan sorot mata yang membuat ruangan seolah mendadak lebih sepi.
Arga Wijaya.
Ratna pernah melihat wajahnya di layar ponsel Bu Laras ketika video call. Tapi melihat langsung berbeda. Pria itu membawa aura orang yang terbiasa membuat keputusan dan tidak suka dibantah.
Bu Laras malah mendengus.
"Baru datang sudah mengomel. Duduk dulu, Arga."
"Mama baru keluar dari pemeriksaan. Seharusnya istirahat, bukan mengatur tim legal untuk urusan..."
Tatapan Arga berhenti pada Ratna.
Ratna spontan menunduk.
"Maaf, Pak. Ini bukan salah Bu Laras. Saya yang..."
"Dia tidak meminta," potong Bu Laras cepat. "Aku yang menawarkan."
Arga masuk dan meletakkan tas kerjanya di sofa. Hanif ikut di belakangnya dengan wajah sedikit tegang. Mungkin ia sudah melaporkan semuanya.
"Saya tahu garis besarnya," kata Arga. "Tapi saya ingin mendengar langsung."
Ratna menggenggam gelas.
Bu Laras menatap putranya tajam.
"Nada bicaramu jangan seperti sedang memeriksa karyawan. Ratna bukan tersangka."
Arga diam dua detik. Lalu ia menoleh pada Ratna.
"Maaf."
Satu kata itu terdengar kaku, tapi tulus.
Ratna mengangguk kecil.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Duduk, Bu Ratna."
Ia ragu.
Orang seperti Arga duduk di sofa kulit ruang VIP dengan cara seperti pemilik tempat. Ratna terbiasa berdiri di samping ranjang pasien, siap jika dipanggil. Duduk sejajar dengan keluarga Bu Laras terasa tidak pantas.
Bu Laras menepuk kursi.
"Duduk. Kalau kamu berdiri terus, anakku akan merasa makin tinggi."
Ratna akhirnya duduk.
Arga membuka map yang dibawa Hanif. Ia membaca cepat. Tidak banyak ekspresi muncul di wajahnya. Tapi semakin lama, garis di rahangnya semakin keras.
"Dua belas tahun?" tanyanya.
Ratna menjawab pelan. "Kemungkinan."
"Anak laki-laki itu?"
"Namanya Alif. Dia memanggil Mas Hendra Papa."
Arga menutup map.
"Ibu sudah menunjuk kuasa hukum?"
"Belum tanda tangan. Mbak Siska bilang bisa besok."
"Bagus. Jangan tunda."
Ratna mengangkat wajah, terkejut dengan jawaban singkat itu.
Arga menatapnya.
"Orang seperti suami Ibu akan menggunakan waktu untuk menghilangkan jejak. Semakin lama Ibu ragu, semakin banyak yang dia pindahkan."
Ratna menelan ludah.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Arga bicara. Ia tidak berkata sabar. Tidak berkata pikirkan keluarga. Tidak berkata kasihan anak dan cucu.
Ia bicara seperti masalah ini punya jalan.
Bu Laras tersenyum puas.
"Nah, kalau sudah bicara begini, baru mirip anak Mama."
Arga mengabaikan komentar itu.
"Hanif."
"Ya, Pak."
"Minta audit lanjutkan penelusuran. Pastikan semua bukti diperoleh secara legal. Jangan ada celah untuk dibantah. Koordinasikan dengan Siska."
"Baik, Pak."
Ratna buru-buru berkata, "Pak Arga, saya sungguh tidak ingin merepotkan Wijaya Group."
Arga menoleh.
"Ini tidak memakai nama perusahaan."
"Tapi orang-orang Bapak..."
"Mereka bekerja untuk saya. Dan Ibu merawat ibu saya."
Ratna terdiam.
Arga melanjutkan, "Saya tidak suka berutang budi."
Bu Laras memutar mata.
"Bahasanya kaku sekali. Bilang saja kamu ingin membantu."
"Mama."
"Apa?"
Ratna hampir tersenyum melihat Bu Laras dan putranya. Hubungan mereka hangat dengan cara yang aneh. Bu Laras cerewet, Arga dingin, tapi ada perhatian yang jelas di antara keduanya.
Sesuatu yang tidak pernah Ratna rasakan dari Mama Sulastri.
Ponsel Ratna tiba-tiba berdering.
Hendra.
Semua orang melihat layar itu.
Ratna ragu.
Arga berkata, "Angkat. Rekam."
Ratna mengaktifkan perekam, lalu menerima panggilan.
"Kamu di mana?" suara Hendra langsung menyerbu.
"Kerja."
"Jangan bohong. Aku ke rumah sakit, kamu tidak ada di pos bawah."
Ratna menatap Arga dan Bu Laras. Bu Laras memberi isyarat agar ia tenang.
"Saya di kamar pasien."
"Pasien mana? Perempuan tua kaya itu? Ratna, aku peringatkan kamu. Jangan jual cerita rumah tangga kita ke orang luar. Kamu mempermalukan aku."
Ratna menggigit bibir.
Arga menatap ponsel itu dengan wajah dingin.
"Yang mempermalukan kamu bukan saya, Mas."
Hendra tertawa kasar.
"Sejak kapan kamu berani bicara seperti ini? Siapa yang mengajari? Pengacara? Atau laki-laki lain?"
Ratna membeku.
Bu Laras langsung hendak bicara, tapi Arga mengangkat tangan, meminta semua diam.
Hendra melanjutkan dengan suara lebih tajam.
"Ingat umurmu. Jangan merasa setelah pakai baju mahal kamu jadi perempuan muda lagi. Tidak ada laki-laki waras yang mau menanggung perempuan tua penuh drama."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Ratna merasakan telapak tangannya dingin.
Ia tahu Hendra bisa kasar. Tapi mendengarnya di depan orang lain tetap terasa seperti ditelanjangi.
Arga tiba-tiba berdiri. Ia mengambil ponsel dari tangan Ratna dengan gerakan tenang.
"Pak Hendra," katanya.
Di seberang, Hendra terdiam.
"Siapa ini?"
"Arga Wijaya."
Hening.
Nama itu rupanya cukup membuat Hendra kehilangan suara beberapa detik.
Arga melanjutkan, tetap datar.
"Bu Ratna sedang bekerja. Kalau Anda ingin bicara, hubungi pengacaranya. Kalau Anda menghina, mengancam, atau mencoba menghalangi proses hukumnya, semua rekaman akan disimpan."
Hendra berusaha tertawa.
"Pak Arga, ini urusan rumah tangga saya."
"Betul. Dan rumah tangga Anda sedang masuk proses hukum."
"Anda tidak berhak ikut campur."
"Saya tidak ikut campur. Saya memastikan ibu saya tidak terganggu oleh keributan Anda di rumah sakit."
Ratna menatap Arga.
Kalimatnya seperti pagar. Tidak mesra. Tidak berlebihan. Tapi jelas melindungi.
Hendra menahan marah.
"Suruh Ratna pulang."
Arga melihat Ratna.
"Bu Ratna mau pulang?"
Ratna menarik napas.
"Tidak."
Arga kembali ke telepon.
"Dia tidak mau."
Lalu ia menutup panggilan.
Ratna terkejut.
"Pak..."
Arga mengembalikan ponselnya.
"Mulai sekarang, jangan menerima panggilan sendirian kalau dia sedang emosi."
"Terima kasih."
"Tidak perlu."
Bu Laras tersenyum lebar.
"Nah, Ratna. Bagaimana? Anakku memang mukanya seperti kulkas, tapi lumayan berguna."
"Mama."
Ratna tidak bisa menahan senyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak kemarin, dadanya tidak terasa sepenuhnya sesak.
Namun ketenangan itu tidak lama.
Ponsel Ratna bergetar lagi.
Bukan telepon.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Sebuah foto masuk.
Clara berdiri di depan apartemen mewah bersama Hendra dan Alif. Mereka tersenyum seperti keluarga bahagia.
Di bawah foto itu ada pesan pendek.
"Mbak Ratna, kalau sudah tahu, sebaiknya sadar diri. Mas Hendra bahagia bersama kami."
Ratna menatap layar.
Arga melihat wajahnya berubah.
"Apa?"
Ratna menunjukkan ponselnya.
Bu Laras langsung mengumpat pelan.
Arga hanya menatap foto itu beberapa detik.
Lalu ia berkata kepada Hanif, "Cari alamatnya."
Hanif mengangguk.
Ratna memegang ponsel erat.
Clara ingin ia hancur.
Sayangnya, Ratna mulai terlalu lelah untuk hancur.
Kali ini ia ingin perempuan itu melihatnya berdiri.
Bu Laras meminta Ratna duduk lagi sebelum ia sempat kembali bekerja.
"Jangan langsung memijat kakiku. Duduk. Marah dulu."
Ratna memegang ponsel dengan kedua tangan.
"Saya tidak tahu harus marah bagaimana, Bu. Rasanya seperti terlalu banyak pintu terbuka sekaligus."
Arga yang masih berdiri dekat jendela berkata, "Kalau terlalu banyak, tutup satu per satu. Hari ini cukup simpan pesan itu sebagai bukti. Jangan balas."
Ratna menatap layar. Jarinya memang sempat ingin mengetik sesuatu. Ingin bertanya pada Clara, apakah ia tidak malu. Ingin bertanya pada Hendra, berapa kali lagi ia harus melihat bukti.
Namun Arga benar.
Balasan emosional hanya akan memberi mereka ruang.
Ratna mengirim tangkapan layar pada Siska, lalu memblokir nomor itu sementara.
"Selesai," katanya.
Arga mengangguk.
Bu Laras tersenyum kecil.
"Bagus. Berdiri tidak selalu berarti berteriak."
Arga mengambil map dari meja dan menyerahkannya pada Hanif.
"Pastikan nomor itu terdokumentasi. Kalau ada pesan lagi dari nomor baru, jangan langsung dibalas."
Ratna menatapnya.
"Pak Arga biasa sekali mengatur perang."
"Bisnis kadang tidak jauh berbeda."
Bu Laras mendengus.
"Jangan samakan hidup Ratna dengan rapat direksi."
Arga diam, lalu berkata lebih pelan, "Maaf. Maksud saya, jangan memberi lawan apa yang mereka inginkan."
Ratna mengangguk. Ia mengerti. Clara ingin air matanya, Hendra ingin kepanikannya, Mama Sulastri ingin rasa bersalahnya.
Mulai sekarang, Ratna harus lebih hemat memberi semuanya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃