Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Malam harinya. Pukul 20.00.
Setelah Bi Tun pergi ia menginap di rumah saudaranya di dekat kos lusi hanya berjarak 500 m, Lusi duduk sendirian di kamarnya. Di hadapannya, kotak kayu pemberian Ki Sarowang masih tertutup.
Ia ingin membukanya. Sangat ingin. Tapi ia ingat pesan kakek buyutnya: Jangan dibuka dulu.
Untuk apa kotak ini? Apa isinya? Apa hubungannya dengan Bayu dan Ki Suryo?
Ponselnya bergetar. Pesan WhatsApp dari Irawan.
"Lus, gue baru aja selesai mandi. Terus gue mikir... nanti Sabtu lo mau pake baju warna apa? Biar gue bisa matching. Kita kan harus kompak. Pacaran harus kompak. Iya kan? Iya dong. Oh iya, tadi gue lewat depan apartemennya Rendy. Dia nggak keluar-keluar. Tapi gue denger suara nangis dari dalem. Kayaknya dia makin parah."
Lusi membalas singkat:
"Bagus."
"Bagus apanya, Lus?"
"Semuanya."
Dan ia meletakkan ponselnya. Menatap kotak kayu itu lagi. Hangat. Bergetar pelan.
"Sabar, Nduk. Nanti kamu akan tahu kapan waktunya."
Suara Ki Sarowang dalam kepalanya. Atau mungkin hanya sugesti. Tapi Lusi memilih untuk percaya.
Ia menyimpan kotak itu di laci meja. Menguncinya. Lalu berbaring di kasur, menatap langit-langit yang retak.
Sabtu nanti, Rendy akan datang. Ia akan melihat seberapa kuat ikatan Semar Mesem pada dirinya. Dan setelah itu... ia akan menemukan Bayu.
Bagaimanapun caranya.
Sabtu pagi. Kampus Universitas Adiloka. Pukul 08.00.
Langit pagi itu cerah, tapi udara terasa berat. Mungkin karena kelembapan sisa hujan semalam. Atau mungkin karena sesuatu yang lain sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu meteorologi.
Lusi tiba di gerbang kampus lebih awal dari biasanya. Di sampingnya, Irawan berjalan dengan langkah ringan, membawa dua gelas kopi dan sekantong roti. Matanya berbinar, wajahnya berseri, lesung pipinya muncul setiap kali ia menatap Lusi. Ia terlihat seperti laki-laki paling bahagia di dunia.
"Hari ini cerah ya, Lus. Cocok buat acara. Lo mau duduk di mana nanti? Gue carikan tempat yang enak. Yang teduh. Tapi jangan terlalu teduh, nanti lo kedinginan. Tapi jangan terlalu panas juga, nanti lo kepanasan. Harus yang pas. Gue cariin ya."
Lusi tidak menjawab. Matanya menyapu area kampus yang mulai ramai. Mahasiswa berlalu-lalang, beberapa membawa peralatan untuk bazar. Panggung masih berdiri di ujung lapangan basket, sekarang dihiasi spanduk baru bertuliskan "PENTAS SENI & BAZAR MAKANAN - HIMAPSI".
Tapi bukan panggung yang menarik perhatiannya. Bukan bazar. Bukan keramaian.
Melainkan satu sosok yang berdiri di bawah pohon trembesi dekat lapangan basket.
Rendy.
Ia datang.
Lusi hampir tidak mengenalinya. Laki-laki yang dulu selalu ceria, selalu tertawa, selalu memamerkan dompet mahalnya kini tampak seperti mayat hidup. Badannya yang dulu gendut sekarang menyusut drastis. Pipinya cekung. Matanya kosong. Rambutnya berminyak, tidak terawat. Ia memakai kaos oblong kusut dan celana jeans yang sama yang mungkin sudah dipakai seminggu berturut-turut.
Tapi begitu matanya menemukan Lusi, wajahnya langsung berubah. Seperti seseorang yang baru saja disuntik morfin. Matanya berbinar. Bibirnya tersenyum. Langkahnya gontai tapi cepat menghampiri.
"Lusi... Lusi... akhirnya gue ketemu lo..."
Irawan langsung berdiri di antara mereka. "Rendy. Jangan deket-deket."
"Wan, please... gue cuma mau ngomong..."
"Lusi itu pacar gue. Lo mundur."
"Gue tahu... gue tahu dia pacar lo..." Rendy menatap Irawan dengan mata yang basah. "Tapi gue... gue nggak bisa berhenti mikirin dia, Wan. Setiap hari. Setiap jam. Setiap detik. Lo ngerti nggak rasanya? Lo ngerti kan? Lo juga ngerasain hal yang sama kan?"
Irawan terdiam. Karena ya, ia mengerti. Ia juga merasakan hal yang persis sama. Bedanya, ia sudah sepenuhnya menerima. Rendy masih berjuang.
"Lo kenapa, Ren?" tanya Irawan akhirnya. "Lo sakit?"
"Sakit?!" Rendy tertawa getir. "Gue nggak sakit, Wan. Gue... gue kena sesuatu. Kita semua kena sesuatu. Lo, gue, Dimas... kita semua..."
"Aku nggak kena apa-apa. Aku cinta Lusi."
"ITU DIA! Lo cinta Lusi! Tapi kenapa?! Kenapa tiba-tiba?! Dua bulan lalu lo benci sama dia! Lo yang ngajakin kita…"
"RENDY." Suara Lusi memotong. Bukan suara keras. Tapi cukup untuk membuat Rendy langsung menutup mulutnya.
Lusi melangkah maju, berdiri di depan Rendy. "Kakak... kangen sama aku?"
Rendy menelan ludah. "I...iya. Kangen. Banget."
"Kenapa kangen?"
"Nggak... nggak tahu. Tiba-tiba aja. Semenjak lo balik ke kampus... gue nggak bisa berhenti mikirin lo. Gue mimpiin lo setiap malam. Gue..."
"Mimpiin apa?"
Wajah Rendy memerah. "Nggak... nggak penting."
"Jawab."
Nada suara Lusi seperti perintah. Dan entah kenapa, Rendy tidak bisa menolak. "Gue... gue mimpiin lo... senyum. Lo senyum ke gue. Lo tatap gue. Lo... lo sentuh pipi gue..."
Air matanya jatuh. Di depan umum. Di depan semua orang yang mulai memperhatikan.
"Gue nggak ngerti, Lus. Gue nggak ngerti kenapa gue jadi gini. Tapi gue... gue kangen sama lo. Gue butuh lo. Gue..."
"Cukup." Lusi mengangkat tangannya. "Kamu mau buktiin rasa kangen kamu?"
"Mau! Apa aja!"
Lusi menoleh ke panggung. "Naik ke panggung."
Rendy menatap panggung. Lalu menatap Lusi. "Terus...?"
"Terus, kamu bilang ke semua orang... apa yang baru kamu bilang ke aku."
Rendy ragu. Tapi hanya sedetik. Karena begitu matanya bertemu dengan mata Lusi, semua keraguan itu lenyap. Digantikan oleh kepatuhan buta yang sama yang dimiliki Irawan.
"Oke. Gue lakuin."
Ia berjalan ke panggung. Langkahnya gontai, tapi pasti. Semua mata tertuju padanya. Mahasiswa yang dulu mengenalnya sebagai Rendy si gendut ceria, anak orang kaya yang selalu tertawa menatapnya dengan campuran heran dan ngeri.
Rendy naik ke panggung. Mengambil mikrofon.
"Aku Rendy," suaranya bergetar. "Aku mau ngomong sesuatu."
Kerumunan mulai berbisik. "Lagi? Kayak Irawan kemarin?"
"AKU KANGEN LUSI ARIMBI!" teriaknya. Suaranya pecah. "AKU MIMPIIN DIA SETIAP MALAM! AKU BUTUH DIA! AKU... AKU... AKU RELA NGELAKUIN APA PUN BUAT DIA!"
Tawa mulai bermunculan. Tapi kali ini, berbeda dengan Irawan. Tawa itu lebih pelan. Lebih tidak nyaman. Karena ada sesuatu dalam cara Rendy berteriak yang tidak lucu. Ada nada putus asa di sana. Ada nada... kegilaan.
"AKU TAHU GUE BUKAN SIAPA-SIAPA! AKU TAHU LUSI PUNYA IRAWAN! TAPI GUE TETEP SAYANG DIA! GUE TETEP KANGEN! GUE…"
Air matanya mengalir deras. Ia tidak bisa melanjutkan. Ia hanya berdiri di panggung, memegang mikrofon, menangis seperti anak kecil yang tersesat.
Dan di bawah panggung, Lusi menonton. Tanpa ekspresi.
Dua sudah, batinnya. Tinggal Dimas yang belum naik panggung. Dan Bayu... Bayu masih di luar sana.
\[BERSAMBUNG…\]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥