Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Langkah kaki Dimas yang tadinya terasa berat karena kelelahan, perlahan-lahan kembali ringan begitu ia memasuki gang sempit yang menuju ke arah rumah kontrakan baru mereka. Rantai sepedanya yang tadi sempat lepas di jalan memang sudah ia pasang kembali dengan tergesa-gesa menggunakan tangan kosong, meski bunyinya masih agak berdecit kasar setiap kali pedalnya dikayuh. Kedua telapak tangan remaja itu kini tampak sedikit hitam berlumuran oli rantai, dan peluh sisa terik matahari siang tadi masih membasahi kerah seragam putih-birunya.
Namun, rasa lelah yang menjalar di kedua kakinya seolah-olah menguap begitu saja tanpa bekas ketika pandangan matanya menangkap pemandangan dari kejauhan. Di halaman samping rumah kontrakan baru yang berpagar kayu rendah itu, tampak sosok Mas Danu yang sedang sibuk membetulkan posisi tiang jemuran lipat agar mendapatkan sinar matahari maksimal. Tidak jauh di sampingnya, Mbak Anita berdiri sembari melipat beberapa kain serbet bersih, sesekali melempar tawa kecil menanggapi ucapan suaminya.
Senyum tipis yang sangat tulus dan lepas seketika merekah di wajah Dimas. Tidak ada lagi gurat kecemasan, ketakutan, atau rasa enggan yang biasanya selalu menghiasi wajahnya setiap kali ia hendak melangkah pulang ke rumah kontrakan lama mereka dulu. Kali ini, perasaan yang hinggap di dadanya sangat berbeda. Rumah bukan lagi menjadi sebuah tempat yang menakutkan atau penuh dengan ancaman bentakan, melainkan sebuah pelabuhan aman yang terasa begitu hangat dan menenangkan.
"Assalamualaikum," ucap Dimas dengan suara yang cukup lantang saat ia mulai menuntun sepedanya melewati pintu pagar kayu.
Mbak Anita yang pertama kali menyadari kehadiran keponakan laki-lakinya itu langsung meletakkan kain serbet yang sedang dilipatnya ke atas meja teras. Wajah wanita paruh baya itu seketika berseri-seri penuh dengan binar kebahagiaan.
"Waalaikumsalam! Eh, jagoan Bude sudah pulang sekolah ternyata," seru Mbak Anita dengan nada suara yang sangat renyah. Ia langsung melangkah cepat menghampiri Dimas, mengabaikan debu jalanan yang menempel pada tubuh remaja itu. "Sini, Nak, langsung ditaruh saja sepedanya di sudut teras. Duh, wajahmu sampai merah begini karena kepanasan di jalan. Istirahat dulu di dalam, Bude sudah memasak semur daging sapi kesukaanmu tadi siang."
Mbak Anita meraba saku gamisnya, mengeluarkan selembar sapu tangan kain yang bersih dan wangi, lalu dengan penuh kasih sayang seorang ibu, ia mengusap butiran peluh yang membasahi dahi dan pelipis Dimas. Sentuhan jemari Mbak Anita terasa begitu lembut dan tulus, sangat bertolak belakang dengan perlakuan neneknya ibu dari Bagas yang selama ini selalu menatap Dimas dengan pandangan menuntut, dingin, dan penuh penghakiman seolah-olah Dimas hanyalah beban.
Dimas merasakan sebuah kehangatan yang asing namun sangat ia rindukan merayap perlahan di dalam hatinya. Sebuah bentuk afeksi nyata yang selama ini hampir tidak pernah ia dapatkan dari keluarga besar ayahnya. Remaja itu hanya bisa tertegun sembari menikmati perhatian tulus dari sang bude.
Mas Danu yang mendengar kehebohan di teras depan pun turut menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan mendekat dengan langkahnya yang tegap, lalu menepuk-nepuk pundak keponakannya itu dengan pandangan yang sarat akan rasa bangga. "Gimana sekolahnya hari ini, Dim? Semua lancar? Ndak ada kendala dengan pelajaran yang tertinggal kemarin, kan?"
"Lancar semua, Pakde. Tugas-tugas dari guru juga sudah Dimas catat semua tadi, tinggal dikerjakan nanti malam," jawab Dimas dengan sopan. Sorot matanya menunjukkan rasa hormat yang teramat mendalam kepada kakak kandung ibunya itu.
Di dekat Mas Danu, Dimas merasa dirinya begitu terlindungi dan dihargai sebagai seorang laki-laki yang sedang tumbuh dewasa. Bagi Dimas, Mas Danu dan Mbak Anita adalah representasi nyata dari sosok figur pelindung yang ideal mereka tegas, bijaksana, penuh pengertian, dan yang paling penting, mereka tidak pernah meledak-ledak mengeluarkan makian kasar tanpa alasan yang jelas seperti yang biasa dilakukan oleh Abahnya.
Dari arah dalam rumah, Adinda muncul di ambang pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih segar, cerah, dan tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Beban batin yang selama belasan tahun mengurungnya seolah lenyap setelah ia mendaftarkan gugatan cerai tadi siang. Ia membawa segelas besar air jeruk manis dingin yang permukaannya sudah berembun.
"Sudah pulang, Sayang? Ini diminum dulu air jeruknya biar segar. Setelah itu langsung masuk ke kamar, ganti bajumu dengan kaos rumahan yang santai. Ibu sudah siapkan air hangat di kamar mandi kalau kamu mau bersih-bersih dulu," ucap Adinda lembut, menyodorkan gelas tersebut kepada putranya.
Dimas menerima gelas itu dengan mata berbinar. Ia meminum air jeruk dingin itu hingga tandas dalam beberapa kali tegukan besar, menyisakan rasa segar yang seketika mengusir dahaga di tenggorokannya. Namun, sembari melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang masih menyisakan aroma samar cat baru, pikiran Dimas kembali melayang pada kejadian mengejutkan di pinggir jalan raya perempatan ruko tadi siang.
Rasa tidak nyaman dan ganjal di hatinya akibat benturan ego dengan sosok Bagas masih tersisa sedikit di dalam benaknya. Dimas tahu, ia tidak boleh menyimpan rahasia apa pun dari ibunya sekarang. Konfrontasi mendadak dengan ayahnya tadi siang adalah hal penting yang harus diketahui oleh Adinda agar mereka bisa tetap waspada.
Setelah menyelesaikan mandi sore dan mengganti seragam sekolahnya dengan kaos oblong serta celana pendek santai, Dimas melangkah menuju ke area dapur. Di sana, Adinda sedang sibuk mengelap beberapa wadah plastik bersih untuk keperluan katering esok hari. Sementara itu, Mas Danu dan Mbak Anita sengaja memilih untuk duduk bersila di ruang tengah sembari memeriksa beberapa dokumen hukum, memberikan ruang privat bagi ibu dan anak itu untuk berbicara di dapur.
Dimas menarik sebuah kursi kayu kecil, lalu duduk di dekat meja dapur dengan gerakan yang pelan. "Bu..." panggil Dimas dengan nada suara yang sengaja direncanakan agar tidak terdengar oleh paman dan bibinya di depan.
Adinda yang sedang memegang kain lap katun seketika menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah putranya, menangkap adanya perubahan ekspresi yang cukup serius di wajah remaja itu. "Ya, Dimas? Ada apa, Nak? Kok mukanya mendadak serius begitu?"
Dimas menundukkan kepalanya sejenak, menatap jemari tangannya yang kini sudah bersih dari oli sepedanya. "Tadi... waktu Dimas sedang menuntun sepeda yang rantainya lepas di dekat perempatan jalan pasar induk, Dimas ketemu sama Abah."
Mendengar kata Abah, tubuh Adinda sempat membeku selama beberapa detik. Kain lap di tangannya ia cengkeram sedikit lebih erat. Meskipun hatinya sudah bulat seratus persen untuk berpisah dan tidak akan pernah menengok ke belakang lagi, mendengar nama pria yang telah menindasnya selama belasan tahun itu tetap saja memberikan efek getir yang tipis di dalam dadanya. Namun, tidak ada lagi rasa ketakutan atau kepanikan yang meluap seperti dulu. Adinda menarik napas dalam-dalam, menjaga agar suaranya tetap terdengar stabil dan tenang di depan putranya.
"Terus? Abahmu sedang apa di sana? Apa dia membentakmu atau memaksamu ikut?" tanya Adinda lembut, matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Dimas, memastikan anak laki-lakinya tidak terluka secara fisik.
Dimas menggelengkan kepala dengan cepat. Ia kemudian menceritakan seluruh kronologi pertemuan mendadak itu dengan sangat jujur dan detail. Dimas menjelaskan bagaimana sebuah mobil MPV hitam mewah yang masih baru tiba-tiba berhenti mendadak di depannya, dan bagaimana terkejutnya Bagas saat menyadari bahwa anak dan istrinya ternyata tidak kabur ke luar kota ke rumah Mas Danu, melainkan masih bertahan di kota ini.
"Abah langsung turun dari mobil itu dan marah-marah, Bu," cerita Dimas, suaranya terdengar sangat datar, mencerminkan betapa ia sudah tidak lagi menganggap amarah ayahnya sebagai sesuatu yang harus ditakuti. "Abah menuntut ingin tahu di mana kontrakan baru kita. Abah membentak Dimas, bilang kalau kita berdua ndak akan bisa hidup mandiri tanpa uang dari Abah. Abah juga menuduh Ibu sengaja mengajari Dimas jadi anak kurang ajar karena Dimas ndak mau kasih tahu alamat rumah ini."
Adinda mendengarkan penuturan putranya dengan saksama. Tidak ada raut wajah sedih, marah, atau kecewa yang berlebihan di wajahnya. Ia justru merasa aneh karena dirinya sama sekali tidak merasa terkejut dengan tabiat Bagas yang selalu merendahkan kemampuan finansialnya.
"Lalu, apa lagi yang dikatakan abahmu, Dim?" tanya Adinda lagi, nadanya tetap tenang.
Dimas menarik napas pendek sebelum melanjutkan, kali ini ada secercah rasa sinis yang tipis di sudut bibirnya saat mengingat tingkah polah ayahnya tadi siang. "Setelah marah-marah, Abah langsung pamer mobil baru itu ke Dimas, Bu. Abah menepuk-nepuk kap mesinnya dengan sombong. Abah bilang kalau itu mobil bonus dari kantor karena proyeknya sukses besar. Abah juga bilang kalau jabatannya naik dan uangnya sekarang melimpah. Abah bilang... Ibu adalah perempuan bodoh yang kualat karena berani meninggalkan suami sesukses Abah. Abah yakin banget kalau Ibu bakal menangis menyesal kalau tahu kabar ini."
Adinda tertegun sesaat, bukan karena ia merasa silau atau menyesal mendengar mantan suaminya kini mendapatkan limpahan materi dan karier yang cemerlang, melainkan karena ia merasa iba melihat betapa dangkalnya cara berpikir Bagas. Di saat fondasi rumah tangganya sudah hancur lebur dan berkas gugatan cerai sudah resmi terdaftar di pengadilan, pria itu justru masih sibuk memikirkan gengsi, validasi eksternal, dan pamer harta di pinggir jalan raya kepada anaknya sendiri.
Adinda meletakkan kain lapnya ke atas meja, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi kosong tepat di hadapan Dimas. Ia meraih kedua tangan putranya, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat.
"Dimas, dengar Ibu baik-baik ya, Nak," ucap Adinda dengan suara yang sangat jernih dan sarat akan kebijaksanaan hidup. "Sukses atau tidaknya seorang laki-laki, atau seorang kepala keluarga, itu sama sekali tidak pernah diukur dari seberapa mewah mobil yang ia kendarai, seberapa mahal sepatu yang ia pakai, atau seberapa tinggi jabatan yang ia miliki di dalam kantornya. Orang yang benar-benar sukses dan terhormat di mata Allah dan manusia adalah orang yang mampu membawa ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan sejati bagi istri dan anak-anaknya di bawah atap rumah mereka sendiri."
Adinda tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kebebasan jiwa yang mutlak. "Kalau sekarang Abahmu merasa sangat bangga dan bahagia dengan mobil baru atau kenaikan jabatannya, itu adalah hak dia. Biarkan saja dia menikmati dunianya bersama nenekmu. Tapi kita berdua... kita berdua sama sekali tidak membutuhkan kemewahan yang penuh dengan tekanan mental seperti itu untuk bisa hidup bahagia, kan?"
Dimas menatap mata ibunya yang kini tampak begitu teduh dan jernih. Semua keraguan dan sisa-sisa rasa tidak nyaman akibat konfrontasi tadi siang seketika runtuh runtuh dari dalam dadanya. "Iya, Bu. Tadi Dimas juga langsung bilang begitu ke Abah. Dimas bilang kalau mobil mewah barunya itu ndak akan pernah bisa membeli ketenangan di dalam rumah kita. Dimas bilang, Dimas lebih memilih jalan kaki menuntun sepeda rusak setiap hari, daripada harus tinggal satu atap dengan orang yang selalu membuat Ibu menangis dan ketakutan setiap subuh."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anak laki-lakinya yang baru berusia empat belas tahun itu, air mata haru seketika menggenang di kelopak mata Adinda. Ia tidak menyangka bahwa penderitaan yang mereka lalui selama ini telah menempa Dimas menjadi sosok remaja yang memiliki kedewasaan mental dan keteguhan prinsip yang begitu luar biasa. Adinda langsung menarik tubuh Dimas ke dalam dekapannya, memeluk pundak putranya dengan sangat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rasa bangga yang membuncah di dalam hatinya.
"Terima kasih ya, Nak... Terima kasih karena kamu sudah berdiri paling depan untuk membela Ibu," bisik Adinda di sela-sela rasa harunya, mengusap rambut Dimas dengan penuh kasih sayang. "Tapi mulai sekarang, Ibu minta satu hal padamu. Kalau suatu hari nanti kamu secara tidak sengaja berpapasan atau bertemu lagi dengan Abah atau keluarga besarnya di jalan, Dimas tidak perlu repot-repot meladeni atau berdebat dengan mereka lagi, ya? Cukup diam saja, atau langsung tinggalkan tempat itu dengan sopan."
Adinda melepaskan pelukannya, menatap wajah putranya dengan senyuman yang menenangkan. "Urusan hukum, urusan pengadilan, dan segala macam bentuk konfrontasi dengan Abahmu mulai hari ini sudah menjadi tugas Pakde Danu dan Pak Baskoro. Mereka yang akan pasang badan untuk melindungi kita. Tugas utamamu sekarang hanya satu: fokus sekolah yang rajin, bantu Ibu sebisanya, dan yang paling penting, kamu harus hidup dengan bahagia di rumah baru kita ini. Mengerti, Nak?"
"Iya, Bu. Dimas mengerti," jawab Dimas dengan anggukan yang sangat mantap, seulas senyuman lega kini sepenuhnya terukir di wajah remajanya.
Dari arah ruang tengah yang beralaskan tikar plastik hijau, suara bariton Mas Danu tiba-tiba terdengar memanggil dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria, memecah keseriusan obrolan di dapur.
"Heii, Dinda! Dimas! Ini semur daging sapinya keburu dingin lho di atas meja! Ayo sini kita gabung makan malam sama-sama. Bude Anita kalian ini masaknya sudah pakai bumbu spesial dari kampung, kalau ndak dihabiskan sekarang nanti Budemu bisa ngambek seminggu!" seru Mas Danu sembari tertawa lepas.
Mbak Anita ikut menyahut dari dalam dengan nada pura-pura merengut. "Ih, Mas Danu ini kok malah menuduh yang ndak-ndak. Ayo Dimas, ajak Ibumu sini makan yang banyak. Tadi Bude sengaja potong dagingnya besar-besar khusus buat jagoan Bude yang baru pulang sekolah!"
Mendengar gurauan dari paman dan bibinya, Dimas langsung bangkit dari kursi dapur dengan perasaan yang luar biasa ringan dan lapang. Ia menoleh ke arah Adinda, memberikan kedipan mata kecil yang jenaka sebelum melangkah keluar menuju ruang tengah.
Bagas mungkin merasa dirinya adalah seorang pemenang mutlak di luar sana karena memiliki mobil MPV hitam baru yang mengkilap dan karier yang sedang cemerlang di atas kertas. Namun, di dalam rumah kontrakan kecil yang sederhana ini, Dimas sadar bahwa dirinya dan ibunya telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak akan pernah bisa dibeli oleh Bagas dengan uang miliaran rupiah sekalipun sebuah kebebasan sejati, kedamaian jiwa yang hakiki, dan sebuah keluarga besar yang tulus menyayangi serta melindungi mereka tanpa adanya syarat atau tuntutan yang manipulatif.
Malam itu, di bawah temaram lampu neon putih kontrakan baru yang tenang, tawa kecil dan obrolan hangat terus mengalir pecah di antara mereka berempat. Mbak Anita dengan ceria mulai menceritakan kisah-kisah masa kecil Adinda yang lucu dan menggemaskan di kampung halaman, membuat Dimas beberapa kali tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Bagi Dimas, rasa haus akan kasih sayang keluarga yang selama belasan tahun ini sengaja ditahan di dalam dadanya, kini telah terbayar lunas sepenuhnya di tempat ini.
Ia telah pulang ke pelabuhan yang tepat. Sebuah pelabuhan di mana tidak ada lagi suara bentakan yang menembus sekat tripleks di tengah malam, tidak ada lagi tuntutan utang yang tidak masuk akal, dan tidak ada lagi air mata ibunya yang tumpah secara tersembunyi di sudut dapur saat subuh tiba. Bagi Dimas, ini adalah awal dari sebuah babak baru kehidupan yang benar-benar nyata ia impikan selama ini sebuah babak di mana ia bisa tumbuh dewasa dengan kepala tegak, berjalan mendampingi ibunya yang kini tidak akan pernah bisa disakiti lagi oleh siapa pun.