NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Ternyata, tidak ada apapun di sini. Lalu, berasal dari manakah bunyi bedebum keras tadi?

Aku mengecek lagi ke dalam kamar. Nihil, tetap tidak kutemukan sesuatu yang aneh di sini. Simbok menyusulku yang masih celingak-celinguk di kamar.

"Sebenarnya ada apa to, Nduk?" Kulihat wajah simbok masih kebingungan.

"Tadi tuh aku seperti mendengar benda jatuh Mbok, bedebum gitu. Aku kira atapnya ambruk atau bagaimana, tapi gak ada apa-apa di sini."

"Tapi simbok bener-bener ndak denger suara itu, Nduk."

"Aneh ya, Mbok."

Simbok mengangguk masih dengan wajahnya yang kebingungan.

Azan 'isya berkumandang, seperti biasanya, aku bergegas menunaikan kewajibanku. Setelah itu, simbok mengajakku makan malam. Setelah kenyang dan membereskan meja makan, aku membuka pintu depan, kemudian duduk di bangku teras menatap ke arah jalan depan rumah. Angin semilir menerpa wajahku. Jalan di depan rumah ini, sangat sepi apalagi di saat malam. Awalnya aku juga merasa tidak nyaman dengan suasana malam di luar rumah, tapi setelah mengetahui sedikit rahasia rumah ini, perasaan itu sudah tidak ada lagi.

Aku merasa ada yang duduk di sebelahku, dengan agak ragu aku menolehkan kepalaku.

"Astagfirullah! Nyai ni bikin kaget aja!"

Nyai Sekar tersenyum jahil.

"Kamu itu lho Nduk, sekarang lebih sering melamun, sampai aku datang saja kamu Ndak tau," ujar Nyai Sekar sambil tertawa kecil.

"Iya ya Nyai, biasanya juga aku selalu mencium aroma Mawar saat kedatangan Nyai, tadi seperti gak ada tanda-tandanya."

"Nah makanya, Nduk. Melamunkan apa to?"

"Gak melamun kok,Nyai."

"Ah masa? Tadi aku lewat depan situ lho Nduk, terus melihat genduk nyengoh, gitu."

"Nyengoh itu apa Nyai?"

"Gini lho, Nduk." Kemudian Nyai mencontohkan poseku tadi. Nyai menopang kepalanya dengan satu tangan di dagu dan mulut agak terbuka sedikit. Kalau untukku itu tentu saja pose paling konyol, tapi untuk Nyai Sekar, tetap terlihat cantik.

"Hah? Sejelek itu kah ekspresiku tadi Nyai? Hahaha." Aku malah menertawakan diri sendiri.

Nyai Sekar ikut tertawa bersamaku.

"Lain kali, kalo nyengoh , mulutnya jangan lebar-lebar Nduk, nanti ada nyamuk masuk lho!"

Aku makin terpingkal-pingkal sambil memegangi perutku. Nyai Sekar terkekeh-kekeh.

"Oh iya Nyai, tadi ada kejadian aneh. Aku dan simbok sedang menikmati teh bunga yang tadi Nyai kasih itu. Tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh sangat keras. Simbok gak mendengar suara itu. Setelah aku cek, di kamarku gak ada apa-apa Nyai."

"Kapan kejadiannya Nduk?"

"Tadi, sehabis magrib Nyai."

"Tunggu sebentar, Nduk." Setelah berkata seperti itu, Nyai Sekar menghilang.

"Ngobrol sama siapa, Nduk?" suara simbok mengagetkanku.

"Sama Nyai Sekar, Mbok."

"Oh, kirain sama siapa. Ya sudah, simbok balik ke kamar lagi. Jangan terlalu lama di luar lho Nduk, udaranya semakin dingin."

"Ya, Mbok."

Simbok masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Nyai Sekar sudah kembali lagi dan duduk di sampingku, bau semerbak aroma Mawar memenuhi hidungku.

"Di kamarmu, masih ada energi negatif Nduk, besar kemungkinan, ada sesuatu di sana. Tapi aku juga belum menemukan sesuatu yang mencurigakan. Dalam artian, ada jejak makhluk gaib yang jahat di kamarmu."

"Tapi makhluk apa itu Nyai?"

Kulihat Nyai Sekar menggelengkan kepala.

"Aku belum tau Nduk. Tapi genduk ndak usah khawatir. Aku akan mengerahkan semua kemampuanku untuk melindungimu."

"Terimakasih Nyai."

"Ini sudah semakin larut, masuk lah ke dalam Nduk, untuk beristirahat. Aku akan menempatkan beberapa prajuritku di depan rumah ini."

Aku mengangguk dan berjalan masuk. Ketika aku menutup pintu depan, Nyai Sekar sudah menghilang.

Kurebahkan badanku di ranjangku sembari mengecek handphone-ku.

"Senang rasanya, bisa ngobrol sambil berjalan denganmu, Dek."

Kulihat pesan dari Mas Lingga. Jantungku bergemuruh.

"Lagi apa Dy ?"

Sebuah pesan dari Reno.

Aku bermaksud membalas pesan-pesan yang masuk. Tiba-tiba di layar tertera nama kontak "Ibu" menelpon. Buru-buru kuangkat.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam Nduk. Gimana kabarmu Nduk? Sehat?"

Ibu memang menikah dan tinggal di ibu kota, tapi logat khas ibu akan muncul ketika berbicara denganku atau keluarga simbah putri.

"Sehat Bu, alhamdulillah ... Ibu, bapak, gimana?"

"Alhamdulillah juga. Oh ya, masih betah kan, Nduk?"

"Kenapa, Bu? Kangen sama Dyah?"

"Ya jelas kangen. Sepi rumah gak ada kamu Nduk. Jadi kadang ibu main ke rumah temen ibu yang udah pada punya cucu. Biar gak kesepian."

"Baru beberapa hari kan, Bu. Apa ibu nyusul aja kesini?"

"Kalo ibu nyusul kamu, bapak yang ngurus siapa?"

"Kan udah gede, bisa ngurusin diri sendiri, Bu."

"Hush, kamu ni. Gak sopan sama orangtua."

"Maaf bu ...."

"Ya udah kalo kamu sehat. Udah malam, tidur Nduk. Jangan sering begadang."

"Siappp bu bossss!!"

"Kamu ini Nduk." Terdengar suara ibu tertawa kecil di seberang sana.

"Salam buat simbok, jaga diri baik-baik ya Nduk. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Sambungan pun terputus.

Aku meneruskan niatku membalas pesan yang perlu dibalas.

"Iya Mas. Mas Lingga juga enak diajak ngobrol."

Aku membalas pesan mas Lingga. Kemudian membalas pesan Reno.

"Maaf, baru buka chatmu. Bentar lagi mau tidur."

Handphone-ku bergetar. Ternyata Mas Lingga belum tidur dan membalas pesanku

"Boleh kan Dek, kapan-kapan main ke rumah langsung."

"Boleh aja kok mas, tapi ntar gak enak diliat tetangga, gimana?"

"lah kan deket rumah simbahmu, gak ada tetangga. Hehehe."

Eh iya juga ya. Aku menertawai diri sendiri.

"Ya gak enak aja mas, kalo nanti ada berita aneh-aneh gimana?"

"Gini aja, aku main ke rumah bareng Aripin, apa Murni, gitu? Biar gak jadi omongan tetangga."

Apa? Dengan Murni? Mas Lingga ini tidak tahu perasaan perempuan, apa bagaimana? Masa bertandang ke rumah seorang perempuan, dengan seorang perempuan!

"Ya gak apa-apa Mas. Terserah Mas aja, gimana bagusnya. Aku mau tidur dulu ya Mas."

"Oke Dek. Met tidur aja."

Pada akhirnya, aku terpaksa membolehkan. Mau bagaimana lagi?

Handphone-ku bergetar lagi.

"Oh, ya udah. Met tidur aja Dy. Nanti kita ketemu di mimpi ya?"

Pesan dari Reno. Membaca pesannya, aku malah bergidik, geli.

Aku menuju ke kamar mandi, seperti biasa, rutinitas menjelang tidur. Membersihkan diri. Setelah mengganti bajuku, aku merebahkan badanku di ranjang dan menarik selimutku sampai sebatas dada. Rasanya, ada yang aneh. Seperti ada yang menarik selimutku dari bawah. Aku seketika duduk, tapi tidak ada apapun di bagian kakiku. Aku berbaring lagi. Selimutku ditarik lagi. Apa-apaan?!

Kutarik lagi selimutku sampai sebatas dada. Aku mulai mengantuk, dan merasa tidak perduli lagi dengan masalah selimut yang ditarik dari bawah terus menerus. Eh, tapi tunggu! Kenapa selimutku bisa tertarik seperti itu? Karena rasa penasaranku, aku melongokkan kepalaku ke kolong ranjang. Aku hampir saja terjungkal dari ranjangku, aku melihat sesuatu di sana!

Bersambung ....

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!