Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vina Sakit
Vina dengan tingkat ke- kepoan yang tinggi pun mencoba mendekati dua orang yang sedang berbincang itu. Dia sudah lupa niat awalnya tadi hendak meminjam remot AC. Vina berdiri di balik dinding dan mencoba memasang telinga.
‘Wih ada adegan tembak- tembakan nih,’ batin Vina antusias.
“Fa, gue udah suka sama lo sejak kelas sepuluh dulu. Gue tau lo sadar kalo gue suka sama lo, tapi kenapa lo pura- pura nggak tau?!” ucap sang cewek, Vina masih sulit mengenali siapa dua orang itu.
“Karena gue nggak suka sama lo,” kini sang cowok yang berucap.
“Terus kenapa lo baik sama gue? Sikap lo buat gue salah paham.”
Vina mendengar cewek itu mulai terisak, dalam hati ia masih bertanya- tanya siapa dua orang itu.
“Bukan salah gue sikap gue kayak gini. Lo sendiri yang salah mengartikan sikap gue. Asal lo tau, masih ada seseorang di hati gue yang masih belum bisa keluar darisana,” ucap cowok itu.
“Tapi kalian udah putus, lo sendiri yang putusin dia. Kenapa lo masih nyimpen dia di hati lo?!”
“Hish, tau gitu tadi gue bawa jajan,” gumam Vina yang kini duduk melantai di lorong kamar hotel.
Vina masih bertahan di sana, mendengarkan setiap ucapan dari cewek dan cowok yang masih belum Vina kenali. Namun dari suaranya, gadis itu merasa familiar. Sepertinya dulu ia pernah sangat hapal dengan suara itu, tapi entahlah.
“Gue yang salah udah putusin dia! Gue bener- bener nyesel sekarang. Nggak tau lagi gimana harus bersikap di depan dia! Dia udah terlanjur benci sama gue, mungkin dia juga udah berhasil move on dari gue,” ucap cowok itu tertawa sumbang, mentertawakan kebodohannya.
PLAK!
Vina terlonjak kaget saat seseorang menggeplak kepalanya dari belakang, ia menoleh dan mendapati Candra yang sedang berkacak pinggang.
“Ngapain lo ngemper di sini? Mana remot AC- nya? Anak- anak pada nungguin tau,” omel Candra.
“Hehehe, tadi ada orang nembak. Gue kepo jadi nguping di sini,” jawab Vina cengengesan.
“Eh, siapa?” tanya Candra antusias dan ikut jongkok di sebelah Vina.
“Itu…,” tunjuk Vina, “Lho? Cowoknya udah pergi, ish lo sih. Gue jadi nggak tau kelanjutannya gimana,” ganti Vina yang mengomel.
“Vin, mata lo rabun ya? Lo tau siapa cewek itu?”
“Hah? Siapa? Lo kenal?”
“Dia Fena, bege,” jawab Candra gemas pada sahabatnya ini.
Vina kembali melihat cewek yang masih berdiri mematung dengan tangis yang belum mereda itu, ia menyipitkan matanya untuk melihat lebh jelas. Seketika matanya membulat, benar cewek itu adalah Fena. Lalu, apakah berarti yang berbincang dengan Fena tadi adalah Dafa?
Liburan Vina menjadi tidak menarik, ia merasa tidak bersemangat setelah memikirkan kejadian malam itu. Dia masih menerka- nerka apa benar yang berbincang bersama Fena saat itu adalah Dafa. Selama perjalanan pun, Vina tidak melihat keberadaan Dafa. Entah kemana cowok itu, padahal sebelumnya Dafa akan berseliweran didekatnya. Ah, Vina kembali di buat galau oleh Dafa.
“Dek, mana oleh- olehnya?” palak Eky yang mendapati sang adik baru pulang.
Vina tidak menjawab, dirinya merebahkan diri di sofa ruang tengah. Raganya benar benar lelah saat ini, di tambah ia sedang menstruasi.
“Abang, adeknya baru pulang jangan di tanya yang aneh- aneh. Biar adek istirahat dulu,” ucap Bunda yang membawakan secangkir teh hangat untuk Vina.
“Dek, di minum dulu tehnya.”
Dengan malas Vina mencoba untuk bangun, rasanya seluruh tubuhnya remuk. Perutnya benar- benar nyeri dan moodnya saat ini sedang sangat buruk. Vina menyeruput teh panas itu, bukan hangat. Memang definisi hangat menurut Bunda dengan Vina berbeda.
“Mandi, habis itu istirahat. Kalo besok masih capek nggak usah masuk sekolah aja,” ucap Bunda dan kembali ke dapur.
‘Bunda emang the best deh,’ batin Vina.
Setelah mandi, Vina mengurung di kamar seharian. Tubuhnya benar- benar lelah dengan pikiran yang masih berkelana bebas. Ia berusaha untuk tidur, tapi pikirannya tidak bisa tenang. Ponsel yang berada di dekatnya bergetar menandakan ada seseorang yang menelpon, Vina sengaja menyalakan mode getar agar dirinya tidak terganggu saat tidur tadi. Ia meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.
“Halo?” sapa Vina.
‘Sial, gue kayaknya bakal kena flu nih,’ batin Vina.
“Suara lo kenapa, Vin?”
“Kayaknya gue kena flu, Kak.”
“Hmm, ya udah deh lo istirahat aja. Gue hubungi lo nanti lagi.”
“Oke, Kak.”
Vina memutus sambungan telepon dari Galang itu. Ia melempar ponselnya ke sebelah dan segera menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Tiba- tiba Vina merasa menggigil, lalu matanya terasa berat dan akhirnya cewek itu tertidur dengan deru nafas yang teratur.
Beberapa jam kemudian, Vina merasakan seseorang mengguncang tubuhnya pelan. Mata Vina yang masih terasa berat berusaha untuk membuka. Dilihatnya Bunda sudah duduk di tepi ranjang berusaha membangunkan putrinya.
“Dek, bangun. Makan malam dulu, ya?”
Vina berusaha untuk bangun, kepalanya terasa berdenyut dan ia merasakan tubuhnya hangat. Bunda pun menyuapi Vina yang terlihat pucat itu. Sementara di ambang pintu ada Eky dan Faris mengintip kepo. Vina sempat melirik kelakaun aneh saudaranya itu, tapi dirinya tidak peduli. Pasti mereka hendak menagih oleh- oleh dari Bali.
“Kalian ngapain sih?” tanya Ayah melihat dua putranya berdiri di depan pintu kamar Vina.
Pertanyaan Ayah membuat Bunda menoleh kearah pintu. Mengernyit melihat dua putranya itu. Sementara Ayah berlalu pergi dan masuk ke kamar.
“Kak Vina sakit, ya?” tanya Faris masuk dengan membawa Oren, Mercy yang mengendus keberadaan Oren langsung terbangun dari tidurnya.
Eky berjalan mengikuti langkah Faris, ia segera duduk di ranjang milik Vina. Sementara Faris sedang berusaha menjauhkan Oren dari jangkauan Mercy yang terlihat kelaparan.
“Iya. Kak, Bunda minta tolong belikan obat di apotek depan, ya?”
“Obatnya apa, Bun?”
“Kakak, apa yang dirasain?” tanya Bunda pada Vina.
“Meriang, Bun. Merindukan kasih sayang. Vina galau gundah gulana, udah nggak bersemangat lagi memikirkan kisah percintaan yang rumit ini,” jelas Vina dengan wajah melas.
Bunda menabok paha Vina, sementara Eky dan Faris menatap datar saudaranya itu. Mereka berpikir Vina kerasukan leak Bali selama study tour kemarin.
Eky pun menjalankan perintah Bunda, cowok itu segera berangkat menuju apotek yang berada di sebelah rumah Mas Kasdi. Cowok itu memacu motornya dengan semangat. Matanya berbinar saat melihat pohon mangga milik Mas Kasdi berbuah lebat.
“Ntar gue mampir, deh. Bertamu,” gumam Eky.
Eky memparkirkan motornya di depan apotek dan masuk ke dalam. Ia menghampiri seorang apoteker itu.
“Mbak, beli obat dong,” ucap Eky.
“Lho? Eky? Beli obat buat siapa?” tanya seseorang menepuk bahu Eky.
“Buat Vina. Vina sakit,” jawab Eky.
...🐈🐈🐈...
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥