Persahabatan antara laki-laki dan perempuan apakah benar-benar murni? ataukan sebenarnya salah satu atau bahkan keduanya saling menyembunyikan perasaan satu sama lain untuk sebuah ikatan yang dinamakan Persahabatan. Sandra Dinata seorang dokter yang memiliki sahabat yang sangat ia cintai dan sayangi siapa lagi kalau bukan Dave Samudra. Persahabatan mereka terjalin sejak TK, dan bahkan hingga bekerja pun mereka bekerja ditempat yang sama. Dave selalu ada untuk Sandra begitupun sebaliknya. Hingga suatu ketika mereka mereka dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat persahatan mereka menjadi renggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namuseo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dave Sakit
Setelah mematikan telpon dari Dave, Sandra langsung membersihkan dirinya. Tidak lama setelah itu dia langsung menuju dapur untuk membuat kan makanan pesanan dari Dave yaitu Soup Daging. Sebenarnya Sandra merasa aneh kenapa tiba-tiba Dave minta dimasakkan Soup Daging, karena biasanya Dave minta dimasakkan Soup Daging saat dirinya sakit saja.
"Apa Dave sakit ya?kenapa tiba-tiba minya dimasakin soup daging?tapi tadi dia kelihatan baik-baik saja. Ah sudah lah mungkin dia lagi pengen makan saja."ucap Sandra
Tidak ingin larut dalam pemikiran nya yang belum tentu benar, akhirnya Sandra melanjutkan kegiatan nya. Tidak butuh waktu lama akhirnya masakan nya pun matang. Tidak lama setelah itu bel pun berbunyi dan ternyata Dave yang datang, Dave langsung saja masuk ke apartemen Sandra begitu pintu terbuka. Dave berjalan ke arah sofa dan langsung merebahkan tubuh nya.
"Dave,,,are you oke?"tanya Sandra karena Dave terlihat pucat
"Hmmm."lirih Dave
Melihat Dave yang seperti itu pun dia langsung memeriksa suhu tubuh Dave, dan ternyata benar Dave demam. Sandra langsung mengambil soup daging yang tadi dia masak.
"Makan dulu ya, habis itu minum obat." ucap Sandra yang diangguki oleh Dave.
Dave menegakkan tubuh nya yang terasa lemas itu dan mulai makan soup daging bikinan Sandra.
Setelah selesai makan, Sandra memberikan obat penurun panas pada Dave.
"Istirahat dulu disini nggak papa sampai demam kamu turun."
Dave hanya menggangguk saja, tidak lama setelah minum obat Dave pun tertidur. Sandra mengambilkan selimut untuk Dave dan juga mengompres kening Dave agar demam nya turun. Setelah beberapa jam akhirnya demam Dave turun juga, Sandra yang melihat Dave tertidur dengan nyenyak pun akhirnya meninggalkan nya sendiri dan menuju kamarnya untuk beristirahat.
Dave terbangun dari tidurnya setelah mendengan lantunan Adzan Subuh, dia berjalan menuju kamar kamar mandi dan melihat kamar Sandra yang masih tertutup, dia melanjutkan langkah kaki nya ke kamar mandi. Setelah nya dia mengambil air untuk wudhu dan mengerjakan shalat Sandra yang telah lebih dulu selesai shalat pun kemudian keluar dari kamar nya untuk mengecek keadaan Dave. Namun, saat keluar dari kamarnya dia melihat Dave yang sedang mengerjakan shalat pun menghentikan langkahnya dan tersenyum, karena itu berarti kondisi Dave sudah membaik.
Sandra melanjutkan langkah nya menuju dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya dan juga Dave. Dave yang telah selesai melakukan kewajiban nya pun juga ikut ke dapur untuk membantu Sandra.
"Sudah enakan badan nya Dave?"tanya Sandra ketika Dave berjalan menuju ke arahnya.
"Alhamdulillah sudah enakan, makasih ya Sand. Maaf juga aku jadi tidur di apartemen kamu."Ujar Dave ketika sudah berdiri di samping Sandra.
"Its oke Dave, yang penting sekarang kamu sudah baikan. Lain kali jangan terlalu diforsir kerja nya, akibatnya kan seperti kamu jadi tumbang. Bukan nya kamu sendiri yang bilang ke aku beberapa hari yang lalu kalau dokter juga manusia butuh istirahat, jangan cuma bisa menasehati pasien tapi tidak bisa menasehati diri sendiri."ucap Sandra panjang lebar yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Dave.
"Kamu mau masak apa?"tanya Dave
"Emmm mau masak soto daging, kemarin kan sudah soup daging, biar kamu nggak bosen."jawab Sandra yang diangguki oleh Dave
"Aku bantu apa ini?"tawar Dave
"Nggak usah, kamu lanjutin istirahat aja di sofa sana, nanti kalau sudah matang aku bangunin kamu."
"Beneran nih nggak mau dibantuin?"
"Iya, beneran. Udah sana istirahat lagi, lagi pula kan ini hari libur."
"Ya udah kalau gitu."
Dave berjalan ke arah sofa dan kembali merebahkan tubuhnya, karena sebenarnya tubuh nya belum sepenuhnya kuat, dia masih merasakan pusing pada kepalanya.