NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 Salah Paham

Celia dan Alfian sama-sama keluar dari toko tersebut dengan Alfian membawa kantong plastik berwarna putih.

"Heh! nanti kita di rumah hitung-hitungan ya, gue nggak mau punya hutang seperak pun dengan lo!" tegas Celia.

"Terserah," sahut Alfian

"Hmmmm, ini sudah sore dan kita tidak mungkin melanjutkan untuk mengerjakan kesenian ini, kita bisa mengatur waktu kembali untuk melanjutkan mengerjakan tugas dari Bu Tati," ucap Celia.

Celia mengerutkan dahi melihat ekspresi Alfian tampak menyebalkan dengan tersenyum penuh arti.

"Apaan lu, memang ada yang lucu?" tanya Celia.

"Lo ternyata memang benar-benar secinta itu sama gue, sampai-sampai ingin bertemu setiap hari, memangnya di sekolah tidak cukup," ucap Alfian tampak menggoda.

"Heh! Alfian nggak usah kepedean, bisa nggak sih satu hari aja kepercayaan dirinya itu direndahkan bukan semakin ditingkatkan!" tegas Celia.

"Terus kenapa harus mengulur waktu untuk mengerjakan di lain waktu, bukankah setelah ini kita pulang dan kita kerjakan, selesai jam berapa itu urusan belakang yang penting selesai," ucap Alfian.

"Besok ujian bulanan, gue harus belajar dan tidak punya waktu buat ngerjain ini, emang lu yang tidak peduli dengan pelajaran sekolah!" jawab Celia dengan tegas.

Alfian hanya menghela nafas mendengarnya.

"Laper jadinya, kebanyakan main sama anomali kayak lu," ucap Celia berlalu dari hadapan Alfian.

"Apa tidak kebalik? bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa aku adalah anomali," sahut Alfian dengan geleng-geleng kepala.

Celia dan Alfian ternyata tidak pulang ke rumah dan melainkan mereka tampak mampir di warung bakso, abang-abang tukang bakso sudah memberikan pesanan keduanya dan terlihat mulai menikmati bakso tersebut.

"Oh iya Alfian, lo kok bisa sih hafal alat-alat musik dengan waktu yang sangat singkat dan bahkan begitu lancar?" tanya Celia dengan penasaran sembari menikmati bakso tersebut.

"Alat-alat musik dan daerahnya itu adalah dasar dari pelajaran kesenian, justru aneh jika tidak mengetahuinya dan harus dihafalkan dengan waktu yang lama," jawab Alfian.

"Jangan-jangan dia sebenarnya pintar," batin Celia menduga-duga.

"Kenapa? Lu butuh waktu berhari-hari untuk menghafal alat-alat musik itu?" tanya Alfian.

"Nggak juga, aku sudah hafal dan hanya gugup saja, makanya hafalanku tidak selancar lo," jawab Celia.

"Begitu," sahut Alfian dengan mengangguk-anggukan kepala.

Celia melihat ke arah Alfian tampak menikmati bakso tersebut.

"Aku pikir dia tidak akan memakan makanan seperti ini," batin Celia tidak menyangka bahwa Alfian akan makan di warung pinggir jalan.

Salah satu mobil berhenti di pinggir jalan dengan kaca di bagian kursi pengemudi terbuka. Ternyata orang yang ada di sana melainkan adalah Kania dan mungkin saja memberhentikan mobil itu ketika melihat temannya tampak duduk bersama dengan Celia.

"Ternyata benar Alfian, kok dia malah makan bareng sama Celia, apa-apaan ini, pantesan aja tadi pas nongkrong pengen cepat-cepet pulang karena ternyata janjian sama Celia, kok mereka jadi dekat sih," ucap Kania dengan penuh pertanyaan.

"Nggak bisa dibiarkan ini!" Kania mengambil ponselnya dan memotret kedua orang tersebut.

"Valery harus tahu tentang mereka berdua," ucap Kania hanya membutuhkan bukti.

******

Celia berada di kamarnya terlihat belajar dengan serius.

"Tok-tok-tok!"

"Masuk!" sahut Celia fokus pada laptopnya dan juga tangannya yang sejak tadi menulis.

"Bunda potong apel yang tadi dibelikan oleh Alfian," ucap Ratih meletakkan buah yang sudah dipotong tersebut di atas meja.

"Bunda disogok olehnya, lama-lama nanti jadi patuh," sahut Celia.

"Kamu ini suudzon terus terhadap Alfian, Alfian itu anak baik seperti apa yang dikatakan Om kamu, anaknya sopan dan rendah hati," sahut Ratih.

"Bunda belum tahu aja kelakuan aslinya di sekolah, menyebalkan, angkuh, sombong, songong dan yang paling parahnya tingkat kepercayaan dirinya tuh tidak bisa diubah," ucap Celia mengungkapkan semua penilaiannya terhadap Alfian.

"Tetapi Bunda tidak melihat hal itu," sahut Bunda.

"Alfian itu hanya pencitraan saja, anak-anak SMA Bintang itu memang paling pintar cari-cari perhatian agar orang-orang berpikir bahwa mereka itu anak-anak baik dan termasuk Bunda yang sudah menjadi korban, otaknya mereka itu penuh akal-akalan jika sudah berurusan dengan hal-hal seperti itu tetapi untuk pelajaran saja otaknya tidak sampai," ucap Celia.

"Kamu ini sembarangan menilai seseorang, belum tentu juga kamu lebih baik daripada mereka," sahut Ratih.

"Ihhhhh, Bunda apa-apaan sih, kok terus-terusan belain Alfian," sahut Celia terdengar begitu manja.

"Ya sudah kalau begitu kamu lanjutkan belajarnya agar besok mendapat nilai tinggi. Bunda mau ke kamar dulu dan jangan lupa apel dari calon suami kamu dimakan agar otak kamu semakin encer," ucap Ratih menggoda putrinya itu.

"Isssss, Bunda," Celia terdengar mengayun suaranya semakin kesal membuat Ratih geleng-geleng kepala dan keluar dari kamar.

"Dasar caper!" umpat Celia emosi.

******

SMA Bintang.

Suasana kelas 10 A tampak begitu tenang dengan keheningan murid-murid yang fokus pada lembar ujian yang baru saja dibagikan oleh guru mata pelajaran.

Celia juga berusaha untuk mengerjakannya dengan baik, setelah pindah sekolah dan ini pertama kali dia menghadapi ujian yang pasti ada beberapa pelajaran yang berbeda dengan sekolahnya sebelumnya.

Celia melihat di sekitarnya, murid-murid yang lain tampak tenang mengerjakannya dan Alfian dan gengnya juga terlihat biasa, perawat wajahnya tampak santai.

Tring....tring-tring

Bel berbunyi membuat suara hembusan nafas terdengar serentak.

"Anak-anak silakan kumpulkan ujiannya, pulang sekolah nanti kalian bisa melihat nilainya langsung terpajang di Mading," ucap guru wanita tersebut memberi arahan.

Celia menghela nafas berdiri dari tempat duduknya dan mengumpulkan ujian tersebut, saat ingin kembali ke tempat duduknya harus berpapasan dengan Alfian, jalanan sangat sempit membuat keduanya berdiri saling berhadapan.

Benar-benar sama-sama tidak ada yang mau mengalah, ternyata Kania memperhatikan keduanya.

"Issss!" Celia akhirnya mengalah dengan menepi.

Alfian tetap santai yang melanjutkan langkahnya mengumpulkan ujian tersebut.

"Kayaknya tadi aku salah deh di nomor 19," ucap Yogi tampak mengingat-ingat.

"Alah sudahlah, salah satu itu hal biasa," sahut Diego.

"Salah satu, kok mereka tenang banget jawabnya," batin Celia tanpa kepikiran dengan nilai hasil ujiannya yang menurutnya cukup sulit.

******

Tringgg

Bel sekolah berbunyi membuat Celia mengambil tasnya keluar dari kelas tampak buru-buru, ternyata tujuannya adalah Mading yang sudah dikerumuni oleh kelas 10 A untuk melihat hasil ujian bulanan mereka.

"Weeees, ternyata tetap menjadi yang pertama!" Celia melihat bagaimana Yogi dan Diego tampak menepuk bahu Alfian memberikan ucapan selamat.

"Tenang Valery hanya turun 2 tingkat saja, bulan depan juga pasti naik lagi!" Yogi berusaha untuk menenangkan sahabatnya sepertinya mendapatkan masalah dengan nilainya.

"Tahu nih gue aja peringkat 10 biasa aja," sahut Kania.

"Masih mending 10 daripada terakhir," sahut Diego dengan matanya melihat Celia yang perlahan menghampiri Mading tersebut untuk memastikan nilai ujiannya.

Celia melihat kerumunan melihat namanya dari atas sampai bawah dan ternyata namanya tertera paling bawah.

"Ha-ha-ha-ha- ha !"

"Ternyata bloon juga, dikirain bakalan pintar!" Celia tampak sedih dan lebih sedih lagi ketika perkataan yang baru saja dilontarkan Yogi kepadanya adalah sebuah ejekan.

"Huhhhhh, ternyata bukan hanya kepribadian yang jelek, nilainya juga jelek dan sama-sama kampungan," sahut Kania tidak kalah mengejek dengan mereka tertawa terbahak-bahak.

Ekspresi Alfian tampak biasa saja datar dan tidak terbaca dan sementara Valery tidak memiliki niat untuk ikut mengejek karena nilainya juga tampak turun.

Bersambung....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!