Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Ia ingin mencari kebenaran.
Tetapi kebenaran tidak bisa dicari dengan tubuh yang runtuh dan pikiran yang berantakan. Jadi selama beberapa hari berikutnya, Kiana melakukan hal yang paling tidak dramatis sekaligus paling sulit: ia hidup teratur.
Pagi untuk Navara Tech. Siang untuk Vista Home. Malam untuk Kitab Cyber.
Hans datang hampir setiap hari menjelang makan malam. Kadang membawa ikan kukus dari pos, kadang sayur, kadang hanya telur dan tahu. Ia tidak banyak bicara tentang kejadian di rumah sakit. Kiana juga tidak memaksa dirinya menjelaskan semua isi kepalanya.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Panci di dapur Kiana sudah terbiasa menanak nasi untuk dua orang. Hans sudah tahu laci mana yang menyimpan sumpit. Kiana sudah tidak merasa perlu meminta izin ketika menaruh potongan daging ke piringnya sebagai balasan. Diam mereka bukan lagi canggung. Ia seperti meja yang sudah dibereskan setelah badai.
"Obat lambung?" tanya Hans pada malam ketiga.
Kiana menunjuk cangkir air. "Sudah."
"Makan?"
"Sedang."
"Kopi?"
"Tidak."
Hans menatap gelas di samping laptop.
Kiana langsung menutupinya dengan telapak tangan. "Itu teh."
Ia mengambil gelas itu, mencium aromanya, lalu mengembalikannya. "Teh kental juga bukan makan."
Kiana memutar mata, tetapi ia mengambil dua suap nasi lagi.
Di meja yang sama, Kitab Cyber terbuka dengan penuh tanda stabilo. Prof. Yansen menulis seperti orang yang sengaja menyembunyikan pintu di balik dinding. Kiana harus membaca satu paragraf tiga kali, lalu menggambar ulang pola serangannya di kertas terpisah. Beberapa bagian terasa seperti jebakan. Beberapa bagian lain seperti surat rahasia dari seseorang yang tahu masa depan teknologi jauh sebelum orang lain menyadarinya.
Pada hari kelima, Kiana menyusun catatan setebal hampir tiga puluh halaman.
Ia juga memperbarui tesisnya, menambahkan lampiran tentang reverse honeypot dan kaitannya dengan deteksi penyusupan pada model terdistribusi. Jika Prof. Yansen ingin menguji apakah ia hanya datang karena tersingkir dari Jovian, Kiana akan menjawab dengan kerja, bukan air mata.
Pagi berikutnya, ia kembali ke Kediaman Prof. Yansen.
Kali ini ia tidak membawa roti. Ia membawa laptop, catatan baca, tesis yang sudah diperbaiki, dan keberanian yang masih terasa kasar di genggaman.
Asisten rumah langsung mempersilakannya masuk.
Prof. Yansen duduk di ruang kerja seperti hari sebelumnya tidak pernah terjadi. Di layar besar di dinding, lima jendela video call terbuka. Beberapa wajah tidak tampak jelas karena kamera dimatikan, tetapi suara mereka terdengar. Murid-murid lama Prof. Yansen. Orang-orang yang dulu hanya bisa Kiana baca namanya di jurnal dan seminar.
Kiana berhenti satu langkah.
Prof. Yansen mengangkat alis. "Kenapa? Baru lihat manusia di layar?"
"Tidak, Prof."
"Masuk."
Kiana masuk dan meletakkan mapnya di meja.
"Prof," katanya sebelum keberaniannya bocor. "Saya datang untuk meminta maaf dengan benar. Dulu saya muda dan bodoh. Saya pernah melepaskan kesempatan yang paling penting karena seseorang yang tidak pantas."
Satu suara dari layar tertawa kecil. "Wah, Guru Besar, ini dramatis."
Prof. Yansen melotot ke layar. "Diam. Kamu dulu juga hampir gagal sidang karena pacaran."
Suara itu langsung sunyi.
Kiana menahan napas agar tidak tersenyum.
Prof. Yansen kembali menatapnya. "Jadi sekarang apa? Ditinggal laki-laki, lalu ingin pakai nama saya supaya mantan menyesal?"
Kiana sudah tahu ia akan ditusuk. Tetap saja rasanya tidak nyaman.
"Tidak, Prof."
"Semua orang bilang begitu."
"Saya tidak ingin mengejar Jovian. Saya bahkan tidak ingin dia melihat saya." Kiana menatap lurus. "Saya ingin belajar dengan serius. Kalau Prof menolak saya, saya tetap akan belajar. Tapi jika Prof masih mau memberi kesempatan, saya tidak akan menyia-nyiakannya lagi."
Beberapa jendela video call hening.
Prof. Yansen mengetuk meja dengan ujung pena. "Ulangi."
"Maaf?"
"Ulangi permintaan maafmu. Mereka semua perlu dengar. Biar kalau nanti kamu kabur lagi, saksi saya banyak."
Kiana tahu itu cara Prof. Yansen menyelamatkan gengsinya sendiri. Ia bisa saja marah. Ia bisa merasa dipermalukan. Tetapi anehnya, yang ia rasakan justru lega.
Orang tua itu memberinya panggung untuk kembali.
Kiana menghadap layar.
"Saya Kiana Lim. Saya pernah menolak bimbingan Prof. Yansen dua kali karena keputusan pribadi yang bodoh. Saya minta maaf. Kali ini saya datang bukan untuk gelar, bukan untuk membalas siapa pun, tetapi untuk belajar. Jika saya diberi kesempatan, saya akan menyelesaikan apa yang seharusnya saya mulai sejak lama."
Satu suara perempuan di layar berkata lembut, "Bagus. Setidaknya kali ini jujur."
Prof. Yansen mendengus. "Belum tentu pintar."
Ia mengambil satu map lain dari meja dan melemparkannya ke depan Kiana.
"Baca ini."
Di sampulnya tertulis nama Vanya Pai.
Kiana membuka halaman pertama. Paper itu rapi, bahasanya halus, referensinya banyak. Struktur argumennya bahkan terlihat meyakinkan. Ia membaca cepat, lalu lebih pelan di bagian metodologi.
Prof. Yansen menatapnya. "Bagaimana?"
Kiana bisa saja menyerang. Bisa saja mengatakan Vanya tidak mungkin menulis sendiri. Bisa saja memakai kesempatan itu untuk membalas semua penghinaan di ruang sidang.
Namun Prof. Yansen sedang menguji sesuatu yang lebih dalam daripada dendam.
"Tulisannya baik," jawab Kiana. "Literaturnya luas. Penyusunan masalahnya rapi."
Di layar, seseorang berdeham.
Prof. Yansen menyipit. "Tapi?"
"Tapi kerangka utamanya bukan baru. Ia menggabungkan beberapa pendekatan yang sudah ada dengan bahasa yang bersih, tetapi tidak menawarkan fondasi orisinal. Lebih seperti berdiri di bahu orang lain dan mengatur ulang pemandangan."
"Plagiat?"
Kiana menutup paper itu. "Saya tidak bisa menuduh tanpa perbandingan sumber. Tapi dari gaya berpikirnya, ini bukan karya orang yang membangun sistem dari nol. Ini karya orang yang sangat pandai membaca hasil akhir."
Prof. Yansen diam.
Lalu ia mengangguk sekali.
Kiana baru sadar ia menahan napas.
"Tidak buruk," kata Prof. Yansen.
Dari mulut pria itu, dua kata itu hampir seperti tepuk tangan.
Ia membuka Kitab Cyber miliknya, mencabut satu lembar fotokopi yang penuh simbol, lalu meletakkannya di atas catatan Kiana.
"Ini masalah dari bab terakhir. Saya tidak memasukkannya ke buku yang kuberikan padamu. Sistem komunikasi terenkripsi berbasis pola alami. Banyak orang mengira ini permainan. Saya ingin kamu pecahkan struktur dasarnya."
Kiana menatap lembar itu. Ada deretan karakter, pola ritme, dan gambar kecil seperti rumpun alang-alang.
"Kenapa alang-alang?" tanyanya tanpa sadar.
"Karena orang meremehkan rumput liar," jawab Prof. Yansen. "Padahal ia tumbuh di tanah yang paling keras, bergerak mengikuti angin, dan kalau cukup banyak, bisa menyembunyikan jejak."
Kalimat itu terdengar seperti teka-teki tambahan. Kiana menatap gambar kecil itu lebih lama. Rumpun tipis, garis miring, jarak antar batang yang tampak acak. Entah mengapa, bagian itu justru terasa seperti pintu yang belum punya gagang.
"Batas waktu?"
"Satu bulan."
Satu bulan untuk sesuatu yang bahkan belum ia pahami apakah itu matematika, kriptografi, atau puisi.
"Kalau selesai?"
Prof. Yansen menyandarkan tubuh. Matanya tajam, tetapi kali ini tidak seluruhnya dingin.
"Kalau selesai, kamu murid terakhir saya."
Ruang kerja itu mendadak sunyi.
"Kalau tidak?"
"Jangan datang lagi."
Kiana menunduk melihat lembar itu. Di dadanya, rasa takut dan semangat saling bertabrakan. Satu bulan. Vista Home. Navara Tech. Mama. Mendiang Bu Loe. Jovian. Kitab Cyber. Semuanya seperti menariknya ke arah berbeda.
Namun untuk pertama kalinya, tarikan itu tidak membuatnya ingin mundur.
Ia mengambil lembar soal itu dengan kedua tangan.
"Saya akan selesaikan."
Prof. Yansen mendengus lagi. "Semua orang juga bilang begitu."
"Kalau begitu saya akan menjadi orang yang benar-benar melakukannya."
Di layar video call, seseorang tertawa pelan.
Prof. Yansen melambai kesal ke arah layar. "Kalian semua kembali kerja. Tidak ada tontonan gratis."
Satu per satu jendela video mati.
Kiana berjalan keluar dari Kediaman Prof. Yansen dengan lembar soal tersimpan di antara halaman Kitab Cyber. Udara Menteng siang itu panas, tetapi telapak tangannya terasa dingin karena gugup.
Di dalam tasnya, ada satu bulan masa depan.
Dan kali ini, ia tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun.