NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Retakan di Dinding Kaca

Pukul satu siang, terik matahari Jakarta membakar aspal di kawasan bisnis SCBD. Di dalam lobi gedung V-Tech Investment, pendingin ruangan yang berembus konstan tidak mampu mendinginkan ketegangan yang mendadak tercipta di dekat meja resepsionis.

Seorang wanita dengan gaun hamil berwarna merah muda pastel tampak berdiri dengan napas memburu. Gaun yang dikenakannya adalah sutra mahal, namun keanggunan pakaian itu kontras dengan rambutnya yang sedikit berantakan dan riasan wajah yang luntur oleh keringat.

Dia adalah Sheila.

"Saya bilang, saya harus bertemu dengan Davira, Sekarang!" teriak Sheila, suaranya yang melengking membuat beberapa karyawan yang melintas di lobi menoleh dengan tatapan risih

Petugas keamanan bertubuh tegap yang berjaga di depan pintu putar langsung melangkah maju, menghalangi jalan Sheila dengan sikap profesional namun tegas. "Mohon maaf, Ibu. Seperti yang sudah saya sampaikan, Ibu Vira Mahendra tidak menerima tamu tanpa janji temu yang terdaftar secara resmi. Jika Ibu tidak memiliki kepentingan bisnis, kami terpaksa meminta Ibu untuk meninggalkan area gedung."

"Kepentingan bisnis?." Sheila tertawa sumbang, matanya membelalak penuh kilat keputusasaan yang bercampur amarah. "Dia sudah merampok mobil saya. Dia memblokir kartu kredit saya. Dia menghancurkan hidup saya dan anak di dalam kandungan ini. Dan kamu bilang saya tidak punya kepentingan?."

Di atas lantai mezanin yang memandangi lobi utama, Vira Mahendra sedang berdiri di balik dinding kaca tebal. Kedua tangannya terlipat di depan dada, menyaksikan pertunjukan murahan yang sedang dimainkan oleh madunya dulu. Di sampingnya, Reno berdiri dengan senyum sinis yang tak pernah lepas dari wajahnya sejak pagi.

"Perlu aku suruh sekuriti untuk melempar wanita gila itu ke jalanan, Kak?" tanya Reno, melirik Vira yang masih menunjukkan wajah sedatar permukaan es.

"Jangan dulu, Reno," jawab Vira, suaranya terdengar lembut namun menyimpan dingin yang mencekat. "Wanita seperti Sheila, jika semakin ditekan oleh kekerasan, dia akan merasa dirinya adalah korban yang teraniaya. Dia akan menggunakan kehamilannya untuk menarik simpati publik. Biarkan dia berteriak sedikit lagi. Aku ingin melihat seberapa jauh harga dirinya bisa jatuh ketika dia sadar bahwa teriakannya tidak lebih dari sekadar angin lalu di gedung ini."

Vira memutar tubuhnya perlahan, berjalan kembali menuju meja kerjanya. Pikirannya mendadak melayang pada memori tiga tahun lalu.

POV: Davira (Vira Mahendra) – Tiga Tahun Lalu

Rasa sakit itu tidak datang bagai badai yang tiba-tiba. Dia datang merayap, bermula dari denyut halus di perut bagian bawah yang semula kukira hanya efek kelelahan karena mengurus seluruh keperluan rumah tangga mansion Narendra.

Hari itu, usia kandunganku baru menginjak minggu kesebelas. Sebuah keajaiban kecil yang sangat kujaga, buah dari doa-doa yang kulambungkan setiap malam di sudut kamar yang sepi. Aku masih ingat bagaimana jemariku gemetar saat pertama kali melihat dua garis merah di alat uji kehamilan itu. Di dalam rahimku, ada kehidupan baru yang tumbuh. Ada darah dagingku sendiri yang kelak akan memanggilku 'Ibu'.

"Dihabiskan supnya, Davira. Jangan manja, itu jamu kesuburan mahal yang Ibu pesankan khusus dari tabib," suara Siska Narendra terdengar dari ujung meja makan, memecah lamunanku. Wajahnya tampak tersenyum, sebuah senyuman yang saat itu kuanggap sebagai bentuk perhatian seorang ibu mertua.

Di sampingnya, Arka duduk sembari sibuk menatap layar ponselnya, sesekali tersenyum tipis, sebuah senyuman rahasia yang entah untuk siapa.

"Iya, Bu. Terima kasih," bisikku patuh.

Aku mengangkat mangkuk keramik itu, menyesap cairan bening yang terasa agak getir di pangkal lidah. Aku tidak pernah menaruh curiga. Aku terlalu polos, atau mungkin terlalu bodoh untuk menyadari bahwa setiap tegukan dari cairan itu adalah dosis racun yang sengaja ditingkatkan secara bertahap oleh Siska dan Sheila. Mereka tidak menginginkan anak ini lahir. Jika anak ini lahir mereka tidak memiliki alasan mencemoohku dan mengusirku dari kediaman Narendra.

Pukul sebelas malam, rasa sakit itu mendadak berubah menjadi cengkeraman yang teramat hebat. Perutku seperti diaduk, dipelintir oleh tangan tak kasatmata yang menusuk hingga ke tulang belakang.

Aku terbangun dengan peluh dingin yang membanjiri dahi. Kamar tidur utama sepi. Arka belum pulang, katanya ada rapat kerja lembur.

"Ah..."

Aku meringis, mencoba menurunkan kakiku dari ranjang untuk mengambil air minum. Namun, saat kakiku menyentuh lantai marmer yang dingin, ada sesuatu yang hangat dan kental mengalir deras di sela paha mengenai gaun tidur putihku.

Jantungku mencelos. Rasa takut yang teramat sangat seketika mencengkeram dadaku, jauh lebih menyakitkan daripada rasa fisik di perutku. Dengan tangan yang bergetar hebat, aku menyalakan lampu meja dan menyibak gaun tidurku.

Darah.

Merah pekat, kontras, dan mengerikan, menetes dan mengotori lantai marmer putih bersih.

"Nggak... Tolong, jangan..." tangisku pecah dalam kesunyian malam.

Aku merangkak keluar kamar mencari pertolongan, mengabaikan rasa sakit yang kian mengganas membuat pandanganku mengabur. Aku terduduk di atas lantai porselen, memeluk perutku sendiri dengan kedua tangan yang berselimut cairan merah. Di lantai yang dingin itu, aku merasakan sesuatu yang teramat berharga luruh dari dalam tubuhku. Sebuah serpihan hidup, sebuah harapan terbesar yang kumiliki, mati bahkan sebelum sempat melihat dunia.

Aku kehilangan bayiku.

Di tengah isak tangis yang menyesakkan dada, pintu kamar terbuka pelan. Siska berdiri di sana dengan piyama sutranya. Dia melihat darah yang berceceran, melihat tubuhku yang ringkih bersandar di dinding dengan wajah sekuning kertas.

Tidak ada kepanikan di matanya. Tidak ada jeritan ngeri atau niat untuk memanggil bantuan. Wanita tua itu hanya berdiri diam, menatapku dengan sepasang mata yang teramat dingin, lalu melirik ke arah genangan darah di bawah kakiku. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat sinis dan lega.

"Makanya, jadi wanita itu jangan penyakitan, Davira. Menjaga janin saja tidak becus," ucapnya lirih, suaranya terdengar seperti bisikan iblis di telingaku sebelum dia berbalik dan menutup pintu kamar, meninggalkanku sendirian dalam kegelapan, memeluk kehancuranku sendiri.

Sejak malam itu, duniaku runtuh sepenuhnya. Efek racun yang tersisa terus menggerogoti rahimku secara perlahan, membuat perutku sering sakit-sakitan selama berbulan-bulan ke depan, sebuah siksaan fisik konstan yang berujung kanker yang mengharuskanku mengangkat rahimku. Dan yang paling jahanam, ingatan tentang malam pendarahan hebat di mana Arka Narendra dengan tega menandatangani surat penolakan tindakan medis, lalu membuangnya ke klinik kumuh agar mati perlahan demi mencairkan polis asuransi jiwa senilai sepuluh miliar rupiah guna menyelamatkan proyek mereka yang gagal. Sayangnya aku masih hidup.

Kembali ke Masa Kini...

Di bawah lobi, keributan yang dibuat Sheila semakin tidak terkendali. Dia mulai memukul-mukul pembatas besi otomatis dengan tas tangannya. "Davira, Keluar kamu! Jangan jadi penakut di atas sana. Kamu sengaja melakukan ini karena kamu iri, kan?. Kamu iri karena aku bisa memberikan Arka anak, sedangkan kamu wanita mandul yang dibuang?."

Keheningan mendadak menyergap lobi ketika pintu kaca otomatis utama terbuka lebar. Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam legam melangkah masuk terlebih dahulu, membuka jalan dengan sikap siaga yang teramat ketat.

Detik berikutnya, aura di dalam lobi itu mendadak berubah menjadi sangat pekat dan mengintimidasi ketika sesosok pria dengan tinggi hampir seratus delapan puluh lima sentimeter melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dijahit khusus, tanpa dasi, dengan kancing kemeja atas yang terbuka sedikit. Goresan wajahnya yang tegas, dengan rahang yang mengeras dan sepasang mata elang yang tajam, seketika mengunci perhatian seluruh orang di dalam ruangan.

Dia adalah Adrian Atmadja. Sang kaisar bisnis tertinggi yang kehadirannya di depan publik selalu memicu gempa di lantai bursa.

Langkah kaki Adrian yang konstan dan berat bergema di atas lantai marmer lobi. Dia tidak melirik ke arah mana pun, tujuannya hanya satu, lift khusus menuju ruangan Vira. Namun, teriakan Sheila yang menyebut nama 'Davira' dan kata 'mandul' beberapa detik lalu rupanya sempat tertangkap oleh indra pendengarannya.

Adrian menghentikan langkah kakinya tepat lima meter di samping Sheila. Dia tidak menoleh sepenuhnya, hanya melirik dari sudut matanya dengan pandangan yang begitu dingin, pandangan yang biasa dia gunakan untuk meruntuhkan nyali lawan bisnisnya di meja negosiasi.

Yuda yang berjalan di belakang Adrian langsung tanggap. Dia melangkah maju satu kali, menghalangi pandangan Sheila agar tidak menatap langsung ke arah tuannya.

"Siapa wanita ini?" tanya Adrian, suaranya yang bariton rendah terdengar bergetar oleh amarah yang tertahan dengan sangat rapi.

"Melaporkan, Pak Adrian," petugas keamanan gedung buru-buru membungkuk hormat dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. "Beliau adalah istri dari Tuan Arka Narendra. Beliau tidak memiliki janji temu namun memaksa masuk untuk membuat keributan dengan Ibu Vira."

Sheila, yang semula dipenuhi oleh amarah, mendadak merasa lidahnya kelu dan lututnya lemas ketika menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Aura kekuasaan yang dipancarkan oleh Adrian begitu nyata, membuat eksistensi Sheila terasa sekecil semut di bawah kaki raksasa.

"A-Anda... Tuan Adrian Atmadja?" bisik Sheila, suaranya bergetar hebat. Dia mencoba menegakkan punggungnya, mengingat bahwa dirinya sedang hamil dan berharap pria di hadapannya ini akan menunjukkan sedikit rasa iba kelak. "Tuan Adrian... tolong dengarkan saya. Wanita di atas sana, Davira... dia adalah wanita yang sangat jahat. Dia menggunakan kuasanya untuk menghancurkan keluarga kami, dia menyita mobil saya, dia..."

"Yuda," potong Adrian tanpa memedulikan satu patah kata pun yang keluar dari mulut Sheila. Dia memutar tubuhnya sepenuhnya, menatap Sheila dengan pandangan menjijikkan yang teramat kentara. "Hubungi pemilik gedung SCBD ini. Katakan bahwa mulai menit ini, saya tidak ingin melihat wajah wanita ini, suaminya, atau siapa pun yang memiliki hubungan darah dengan nama Narendra berada dalam radius satu kilometer dari kawasan bisnis ini."

"Baik, Pak Adrian. Akan segera saya laksanakan," jawab Yuda takzim.

Adrian melangkah satu kali lagi mendekati Sheila, membuat jarak di antara mereka mengikis hingga Sheila bisa merasakan dinginnya tatapan mata sang kaisar bisnis.

"Nyonya Narendra," ucap Adrian, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman mutlak yang sanggup mencabut napas seseorang. "Jika sekali lagi aku mendengar mulut kotormu itu melontarkan kata-kata penghinaan pada Vira Mahendra... aku bersumpah, anak yang ada di dalam kandunganmu itu akan lahir di dalam sel penjara bawah tanah yang paling gelap di negeri ini. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."

Setelah melontarkan kalimat mematikan itu, Adrian berbalik dan melanjutkan langkah kakinya menuju lift privat dengan langkah yang teramat tenang, meninggalkan Sheila yang langsung jatuh terduduk di atas lantai marmer lobi dengan tubuh yang bergetar hebat dan tangis ketakutan yang pecah tanpa suara.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!