Anara Putri, gadis delapan belas tahun yang harus mengandung benih lelaki yang merupakan Kakak iparnya, atas kecelakaan di sebuah hotel tanpa kesengajaan. Padahal saat itu Anara baru saja lulus sekolah menengah kejuruan.
Bagi sang ayah, Anara hanyalah anak pembawa sial. Oleh sebab itu, dia begitu di benci oleh keluarganya sendiri. Bahkan, Anara harus menutup rapat identitas ayah dari bayi yang di kandungnya karena tidak mau menyakiti hati sang Kakak.
Lantas, akankah Anara mendapat kebahagiaannya? Bagaimana dengan Anara ketika semua rahasia itu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part.30
Terlihat Pak Indra, Vanesa, dan Andika yang baru keluar dari mobil. Saat ini mereka ada di depan rumah Aldi.
Tok tok
Pak Indra mengetuk pintu rumah itu. Kebetulan Bi Inem yang membukakan pintunya.
“Silahkan masuk!” ucap Bi Inem dengan ramah.
“Terima kasih,” ucap Pak Indra.
“Sama-sama,” jawab Bi Inem.
Bi Inem mengarahkan mereka untuk pergi ke ruang makan.
“Selamat datang Om Indra, Kak Dika, dan Kak Nesa,” Aldi menyambut kedatangan mereka.
“Terima kasih juga Al, karena sudah mengundang kita,” ucap Pak Indra.
Aldi menyuruh mereka duduk, lalu dia pergi untuk memanggil Anara yang masih berada di kamar. Anara menitipkan anaknya kepada Bi Inem, lalu dia bergabung dengan Aldi dan yang lainnya.
“Pah, Nara senang karena Papah sama Kakak mau datang,” Anara menatap Ayah dan Kakaknya secara bergantian.
“Iya, Nak.” Jawab Pak Indra.
“Ayo sekarang kita langsung makan saja!” ajak Aldi.
Semuanya memulai untuk makan malam. Tidak ada yang bersuara, hanya dentuman sendok yang terdengar oleh mereka.
Setelah selesai makan malam, Pak Indra meminta ijin untuk menemui cucunya. Begitu juga dengan Vanesa dan Andika.
Anara mengantar mereka ke kamar untuk melihat Baby Adel.
Pak Indra senang saat melihat bayi mungil itu. Walaupun dia masih belum menerima Anara, tapi dia akan mengakui bayi mungil itu sebagai cucunya. Vanesa merasa cemburu saat melihat Ayahnya begitu perhatian kepada bayi mungil itu.
Vanesa menatap intens bayi mungil itu. Saat melihat matanya, dia merasa tidak asing.
Kenapa melihat bayi ini rasanya tidak asing,” Vanesa mencoba mengingat-ingat sesuatu, namun dia tidak menemukan jawaban apa pun.
“Namanya siapa Al?” Pak Indra bertanya kepada Aldi.
“Namanya Adelia Anastasya, panggilannya Adel,” ucap Aldi.
“Wah bagus sekali namanya, cantiknya cucu Kakek,” Pak Indra memandangi wajah cantik cucunya.
Anara merasa senang karena sepertinya Ayahnya mau mengakui Baby Adel sebagai cucunya.
Tidak apa-apa jika Papah belum menerimaku, yang penting Papah mau menerima cucunya,” batin Anara sambil tersenyum menatap Pak Indra.
Vanesa menatap suaminya yang juga ikut mendekati Baby Adel.
Jika seperti ini, bisa-bisa semua orang perhatian sama Anara. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi,” batin Vanesa sambil menatap Anara dan Baby Adel dengan tatapan tak suka.
Setelah cukup puas melihat Baby Adel, kini Aldi mengajak yang lainnya untuk bersantai di ruang keluarga.
“Om, sebenarnya ada yang mau Aldi bicarakan,” Aldi menatap Pak Indra.
“Bicaralah!” pinta Pak Indra.
“Aldi berniat untuk menikahi Anara,” ucap Aldi.
Semua yang ada di sana merasa terkejut mendengar penuturan Aldi.
“Nak Aldi serius? Tapi Nara ini sudah punya anak loh, dan ayah dari anak itu juga tidak jelas,” ucap Pak Indra.
“Saya siap menerima Anara apa adanya,” ucapnya.
“Syukurlah, saya setuju jika memang Nak Aldi tidak mempermasalahkannya.”
Enak bener sih Nara, udah hamil di luar nikah, sekarang dapat perjaka,” batin Vanesa.
Vanesa menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.
“Sayang, Aldi ini kan adik kamu. Memangnya boleh yah kalau dia menikahi Anara yang masih ada hubungan darah sama aku,” ucap Vanesa.
“Saya bukan adik sedarah dengan Kak Dika, saya hanya anak angkat,” ucap Aldi.
“Oh iya, apa Bu Sinta tidak ada disini?” tanya Pak Indra.
“Mamah lagi di luar negeri, om.” Jawab Aldi.
“Tapi, apa Bu Sinta sudah tahu mengenai niat kamu menikahi Nara?”
“Belum, saya belum bicara,” ucap Aldi.
“Sebaiknya bicarakan dulu, takutnya jika nanti Bu Sinta tidak menyetujui hubungan kalian,” ucap Pak Indra.
“Baik, Om. Nanti Aldi akan bicara sama Mamah,” ucap Aldi.
Hanya sebentar mereka mengobrol. Saat ini ketiganya berpamitan untuk pulang.
Anara baru saja menutup pintu rumah. Namun dia mendengar pintu rumah kembali di ketuk dari luar.
Siapa yang datang? Apa mungkin Papah balik lagi,” batin Anara.
Anara kembali membuka pintu itu. Dia melihat Pak Bram dan Ica berdiri di depan pintu.
“Eh Ica, Om Bram, silahkan masuk!” ucap Anara begitu ramah.
Kini keduanya mengikuti Anara masuk ke rumah.
Sebenarnya Anara sedikit bingung saat melihat kedatangan sahabatnya itu. Dia tidak pernah berbicara apa pun mengenai masalahnya. Termasuk bicara jika dia sekarang tinggal bersama Aldi.
“Eh Om Bram, Ica, kalian datang? Kamu pulang kapan dari luar negeri, Ca?? Bukankah baru juga akan berkuliah?” Aldi melontarkan beberapa pertanyaan.
“Iya nih aku pulang gara-gara lihat postingan Kak Aldi di IG. Kakak jahat sekali sih sudah hamilin Anara?” Ica memukul lengan Aldi.
“Aduh sakit, kamu bar-bar sekali sih?”
“Memangnya Kak Aldi posting apa?” tanya Anara.
“Itu loh, Kak Aldi posting foto kalian sama anak kecil. Terus captionnya keluarga kecilku. Aku kaget loh lihatnya. Jadinya aku memutuskan untuk pulang.” Jelas Ica.
“Itu benar, Al?” tanya Pak Bram.
“Benar, Om. Secepatnya kami memang akan menikah,” ucap Aldi.
“Ra, kamu kok tidak bicara apa-apa sama aku?” Ica berekspresi merajuk di depan Anara.
“Maaf, Ca. Aku hanya malu saja untuk bercerita.”
Ica mendekati Anara lalu memeluknya.
“Kasihan sekali kamu, Ra. Masih muda tapi harus menanggung beban berat.” Lalu Ica melepaskan pelukannya. Dia menatap Aldi yang berdiri di sebelah Ayahnya. “Awas saja yah kalau Kak Aldi bikin Anara sedih, nanti Ica bawa Anara pergi ke luar negeri. Biar ikut kuliah disana.”
“Jangan dong, kalau Anara pergi, nanti aku kesepian,” ucap Aldi.
“Eh kita duduk dulu yuk, kasihan Om Bram pasti cape,” ucap Anara.
“Tidak, Nak. Kami mau bertemu anakmu saja,” ucap Pak Bram.
“Ayo ikut Nara! Kebetulan Adel sedang tidur.”
Kini mereka mengikuti Anara menuju ke kamar untuk melihat Baby Adel.
°°°°
awas andika punya saingan 😂😂😂😂😂