Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Operasi Penyelamatan
Langit malam diselimuti awan hitam ketika iring-iringan mobil milik Arsen berhenti sekitar lima ratus meter dari rumah tua di tepi Danau Harapan. Lampu kendaraan dimatikan agar keberadaan mereka tidak diketahui.
Arsen membuka peta yang telah disiapkan Rangga.
"Tim satu mengawasi pintu depan."
"Siap."
"Tim dua berjaga di belakang rumah."
"Siap."
"Jangan bergerak sebelum ada perintah dariku."
Semua pengawal mengangguk.
Aluna berdiri beberapa langkah di belakang Arsen. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Aku ikut."
Arsen langsung menggeleng.
"Tidak."
"Aku ingin bertemu Ibu."
"Aku mengerti."
"Kalau begitu biarkan aku ikut."
Arsen menatap Aluna beberapa saat.
"Aku sudah berjanji akan membawa ibumu pulang."
"Dan aku juga berjanji akan menjagamu."
"Karena itu, tetaplah di sini bersama Nenek Ratih dan Tiara."
Aluna menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan.
"Baik... tapi berjanjilah akan kembali."
Arsen tersenyum tipis.
"Aku janji."
Beberapa menit kemudian, Arsen dan Rangga bergerak menuju pintu masuk lorong bawah tanah yang tersembunyi di balik semak-semak.
Lorong itu sempit, lembap, dan dipenuhi akar pohon yang menjulur dari langit-langit.
"Pak, hati-hati," bisik Rangga.
Arsen hanya mengangguk.
Mereka berjalan perlahan sambil membawa senter kecil.
Setelah hampir sepuluh menit, lorong itu berakhir di sebuah pintu besi tua.
Rangga mencoba membukanya.
Klik.
Pintu itu ternyata tidak terkunci.
Mereka saling berpandangan.
"Jangan-jangan..."
"Victor sengaja membiarkannya terbuka," bisik Arsen.
Meski curiga, mereka tetap melangkah masuk.
Di lantai atas rumah tua, Victor sedang melihat layar monitor CCTV.
Ia tersenyum saat melihat Arsen berhasil memasuki rumah.
"Selamat datang."
Anak buahnya bertanya,
"Tuan, kenapa tidak langsung menyerang?"
Victor menggeleng.
"Belum."
"Aku ingin dia merasa hampir berhasil."
"Tapi sebenarnya dia sedang berjalan menuju perangkap."
Arsen dan Rangga terus menyusuri lorong dalam rumah.
Tiba-tiba terdengar suara pelan.
"Tolong..."
Arsen langsung menghentikan langkahnya.
"Itu suara wanita."
Mereka mengikuti arah suara hingga tiba di sebuah kamar yang terkunci.
Arsen mendobrak pintu.
Brak!
Di dalam ruangan, seorang wanita tampak duduk dengan rantai di kedua kakinya.
Wajahnya pucat, tetapi matanya langsung berkaca-kaca saat melihat Arsen.
"Siapa... kalian?"
"Saya Arsen Mahardika."
"Kami datang menjemput Anda."
Wanita itu menutup mulutnya sambil menangis.
"Aluna..."
"Apakah putriku selamat?"
Arsen mengangguk.
"Dia menunggu Anda."
Mendengar jawaban itu, Clara menangis tanpa mampu menahan emosinya.
"Alhamdulillah..."
"Terima kasih..."
Rangga segera memutus rantai yang mengikat kaki Clara.
"Bu, kita harus pergi sekarang."
Namun, tepat saat mereka hendak keluar, terdengar suara tepuk tangan dari luar kamar.
"Tepat seperti dugaanku."
Victor berdiri di lorong bersama belasan anak buahnya.
Senyumnya dipenuhi kemenangan.
"Terima kasih sudah menemukannya untukku."
Arsen berdiri di depan Clara.
"Permainanmu selesai, Victor."
Victor tertawa keras.
"Justru baru dimulai."
Ia mengangkat sebuah alat kecil di tangannya.
Lampu merah pada alat itu mulai berkedip.
Rangga langsung membelalakkan mata.
"Pak Arsen!"
"Itu pemicu bom!"
Victor mengangguk sambil tersenyum.
"Seluruh rumah ini sudah dipasangi bahan peledak."
"Kalau aku tidak bisa memiliki semua rahasia keluarga Prasetya..."
"...maka tidak seorang pun akan keluar hidup-hidup dari sini."
Victor menekan tombol pada alat tersebut.
Bip... Bip... Bip...
Hitungan mundur dimulai.
Arsen menggenggam tangan Clara erat.
Sementara di luar rumah, Aluna yang menunggu bersama Ratih tiba-tiba mendengar suara alarm dari dalam bangunan.
Entah mengapa, hatinya langsung dipenuhi firasat buruk.
Tanpa memedulikan larangan Arsen, Aluna berlari menuju rumah tua itu.
Ia tidak tahu bahwa setiap langkah yang diambilnya justru membawanya ke dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.