NovelToon NovelToon
Rumah Kutukan Istri Pertama

Rumah Kutukan Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis / Konflik etika / Tamat
Popularitas:38k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Satu persatu teror datang mengancam keselamatan Gio dan istri keduanya, Mona. Teror itu juga menyasar Alita, seorang anak yang tidak tahu apa-apa. Konon, pernikahan kedua Gio menjadi puncak kengerian yang terjadi di rumah mewah milik Miranda, istri pertama Gio.

“Apakah pernikahan kedua identik dengan keresahan?”

Ada keresahan yang tidak bisa disembuhkan lagi, terus membaji dalam jiwa Miranda dan menjadi dendam kesumat.

Mati kah mereka sebagai tumbal kemewahan keluarga Condro Wongso yang terus menerus merenggut bahagia? Miranda dan Arik kuncinya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Kutukan Istri Pertama ³¹

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sebaik-baiknya hubungan dengan jin, masih lebih baik sejelek-jeleknya hubungan dengan manusia. Sebab manusia masih memiliki sifat welas asih, dan memaafkan. Sedang persekutuan dengan jin, janji yang terucap tidak bisa digugat, akan terus mengikat, menjejak dan menjadi bumerang bagi diri sendiri saat janji tidak ditepati, menjadi malapetaka tak berkesudahan, dan tak lekang oleh waktu.

-

Arik langsung menyadari bahwa lelembut bermahkota tanduk rusa itu tidak bercanda. Ekspresinya betul-betul marah, tenaganya betul-betul prima, dan napasnya menyembur ke wajahnya. Membuat risih dan jijik.

“Seumur-umur, baru kali ini nyium bau jigong demit lebih sedep dari bangkai tikus got! Bau banget. Anjir!”

Arik merasa keberatan jika harus merasakan napasnya terus-menerus, dia terlalu lemah untuk menanggung bau itu dan terlalu benci mendengar Miranda meneriakkan namanya dengan khawatir yang berlebih.

Di tengah penderitaannya yang baru dimulai, Arik kesulitan mementahkan tenaga si lelembut bermahkota tanduk rusa itu dengan tenaganya. Iblis satu itu betul-betul cemburu padanya, betul-betul ingin menghabisi Arik yang tidak tahu-menahu soal hasrat dan cintanya kepada Miranda.

Arik memanggil-manggil Mbah Redjo, minta tolong. Telapak kakinya sudah ngilu, perutnya sudah mual.

Mbah Redjo menelengkan kepala sambil menendang dan meninju peliharaan Condro Wongso yang berwujud tinggi tanpa kepala, berkulit hitam dan bersisik. Serangannya terus mengenai sasaran, tepat di dada. Garis wajahnya yang keras tanpa letih menghabisi satu persatu energi ingon-ingon wong sinting itu tanpa jeda, tanpa pamrih, ibaratnya itulah pekerjaannya.

“Inilah wujud nyata yang kamu kehendaki, anakmas Arik. Peringatan dari Mbah tidak kamu gubris!” Mbah Redjo menghabisi sosok di depannya dengan doa pun dengan keistimewaan yang dianugerahkan kepadanya dalam sekali jadi.

Aku berlindung dengan dzat Allah yang maha mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampuainya.

“Kamu bahkan tergoda dengan mata perempuan itu! Perempuan yang sama sekali tidak ada baik-baiknya!”

Arik sekonyong-konyong nyengir kuda mendengar sindiran pedas itu, tapi pengalaman telah membawanya pada satu hal yang tidak akan pernah membuatnya jera mendengar sindiran pedas dari Mbah Redjo.

Mbah Redjo adalah perwujudan dari kasih sayang yang bertubi-tubi hingga membuatnya terkesan posesif. Lagipula siapa yang tidak tergoda dengan mata indah seperti buah semangka dingin itu?

Lelembut bermahkota tanduk rusa itu pun menyukai dua mata Miranda yang baginya bagai intan permata di tengah kegelapan.

“Kepepet aku, Mbah. Aku dipaksa!” Arik berseru, meski benaknya menyimpan ketidaksetujuan Mbah Redjo yang menganggap Miranda bukan perempuan baik-baik. “Kak Mira itu sepertinya suka sama aku.”

Sambil melangkah ke arah anakmas kesayangannya, Mbah Redjo menampakkan ketidaksukaan mendengar pernyataan itu.

“Kamu hanya dimanfaatkan, anakmas. Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk perempuan tidak baik! Kamu merugi.”

Arik menggelengkan kepala, bukan tak setuju dengan ungkapan itu, dia tahu semua benar. Tapi bicara langsung di depan Miranda akan membuat wanita itu semakin kasian. Lihat saja wajahnya sekarang, kusam, matanya nyaris mengeluarkan air. Mana pundaknya terlihat merosot.

“Aku harap Mbah bersedia membantuku sekarang, Mbah tidak mau kan aku merugi sampai mati?”

“Penjilat!” Mbah Redjo mempercepat langkah kakinya sebelum menendang lutut belakang lelembut bermahkota tanduk rusa dengan cepat dan tepat. Karuan saja, tendangan itu membuatnya goyah. Arik pun gegas melayangkan pukulan ke moncong lelembut itu sekuat tenaga. Tangannya ngilu, namun bibir lelembut itu berhasil mengeluarkan darah hitam.

“Jika kamu sanggup menghabisinya, maka Mbah percaya omonganmu bukan sesumbar!” Mbah Redjo menghindar... Membiarkan Arik memberi tendangan ke leher lelembut itu dan pangkal pahanya selagi kekagetan lelembut itu masih menggoyahkan kemarahannya.

“Omongan yang mana, Mbah?” Arik lagi-lagi menggerakkan kakinya dengan cepat. Dada lelembut bermahkota tanduk rusa itu menjadi sasarannya.

“Lepas mahkotanya, Arik. Dia tanpa mahkota tidak akan percaya diri!” seru Miranda sambil mencegah Condro Wongso membekap mulutnya. “A—rik...”

Miranda kepayahan melepas tangan Condro Wongso yang begitu kuat menahan mulut dan pergerakan tubuhnya.

Mbah Redjo menatap perempuan tidak baik itu, sementara Arik mengikuti perintah Miranda. Hanya saja melepas mahkota tanduk rusa yang menempel dan terhubung langsung pada kepala lelembut itu tidak semudah melepas mahkota cincin kawin. Arik perlu tendangan yang lebih kuat, dan dia harus melompat!

Arik mencoba mencari pijakan, tiada apapun di alam itu. Hanya gelap, dan bunyi bag-bug-bag-bug...

Mbah Redjo mendengus sebelum menghampiri Miranda dengan yakin. Ada rasa tidak suka melihat perempuan itu tidak berdaya di tangan ayahnya. Tidak adil, hewan saja lebih berperikemanusiaan!

Mbah Redjo dan Condro Wongso saling bertatap-tatapan. Dan ditengah kelamnya pertempuran sengit, tanpa berpikir panjang, Miranda mencubit dan memelintir perut ayahnya, Condro Wongso memekik. “MIRA!”

Miranda berlari ke arah Mbah Redjo setelah berhasil mengelak dengan lihai. Dia tersenyum kecil. “Aku tidak akan merebut Arik, Mbah.”

“Mati dalam keadaan bertobat jauh lebih baik dari pada mati dalam keadaan musyrik.”

Entah untuk siapa ucapan itu, Mbah Redjo hanya bergeming, tidak menyerang Condro Wongso atau Miranda seolah membiarkan mereka mencerna ucapannya dengan baik. Semoga...

Karma tetap ada. Hukuman dari-Nya mutlak adanya. Bahkan jin pun akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Namun bertobat sebelum ajal tiba akan meringankan hukuman dari-Nya.

Miranda mungkin telah memahami persoalan itu, tapi si kepala batu Condro Wongso agaknya telah meleset jauh dari-Nya. Dia berdecak kesal. Tidak bisa mengikis sedikit saja persekutuan dengan iblis.

“Aku pria sejati, memegang teguh janji yang terucap! Dan makhluk sepertimu tidak perlu mengajariku.” ucap Condro Wongso, berdiri angkuh.

Mbah Redjo menggaungkan ayat-ayat suci dengan suara menggelegar seolah dia tidak ingin memakan waktu lama jika mereka tetap melakukan perkelahian yang hasilnya mengkhianati usaha dan di luar prediksi.

“Sempurna!” Mendengarnya saja Arik dapat merasakan energinya bertambah, membalut kelelahannya, dan menjadikan sosok tak terkalahkan dan meruntuhkan satu persatu tabir kekuatan lelembut bermahkota tanduk itu dengan doa dan ambisi.

“Mereka masih pantas menjadi manusia yang lebih baik, Mbah. Nanti kita bagi tugas!”

Mbah Redjo tidak menoleh atau menanggapi ucapan. Dia hanya mengangguk dan menumpahkan segala yang dimilikinya untuk membawa Arik, Miranda, Condro Wongso dan Pak Bagyo kembali ke dunia manusia. Kembali pada takdir nyata tanpa menghiraukan risiko yang akan diterima.

Perubahan setimpal atas pengkhianatan dan kemunduran yang berarti. Mengubah segalanya yang ada. Menjadi resah dan gembira dalam mempertahankan hidup.

Tetapi dari semua yang tampak kelam. Pulang adalah keharusan. Sehat atau sakit. Waras atau gila. Jiwa lama hilang, jiwa baru datang.

-

next

1
oca
aku baru tau ada novel ini😁
estycatwoman
the best 👍💯👋
Jessica
Luar biasa
Aya
buset dah, tuh kake2 omongannya horor bgt dah 😱
Aya
dapet bgt ketakutan nya
Aya
waaaaaaaaaa ..... jump scare gw bacanya Thorrr ... 😱😱😱😱😱
choowie
lanjutin dong mbak,jgn selesai sampe sini🙏🙏🙏
choowie
apa sekarang giliran s Mona yg jdi pengabdi setan😒
Wahyu
semoga Miranda tetep imannya
yuli anisa
seyeem mba vi bacanya takut tapi penasaran
Muhammad Dimas Prasetyo
untung selesai kalo ga Mona akan merajalela dengan dendam nya
☘️ gιмϐυℓ ☘️
Yaaahhh... kirain Arik & Mira bakal nikah 🤭🤭🤭 Syukurlah Gio & Mona menerima karma dari perbuatan mereka sendiri
Me mbaca
ini sudah tamat kak?
👍 great...
menegangkan, seru
mommyanis
nakal dikit gpp rik...asal jgn maen fisik aj,ckp maen hati lah 🤭🤭🤭🤭
Muhammad Dimas Prasetyo
masalah nya gio udah ga waras,emng bisa orang ga waras mengucapkan talak
☘️ gιмϐυℓ ☘️
Sama Gio kelarin dulu Mir, baru bisa posesif ke Arik si brondong manis 🤣🤣🤣
Me mbaca
Arik ..love you...
say Miranda
duh punya berondong manise disanding terus, alibi jadi sekretaris pribadi nih...
choowie
jdi sekpri ya Rik😁
choowie
cieeeee😍
choowie
bisa aza ah😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!