kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB. Regan mengantar Luna pulang setelah mereka cukup berbincang-bincang selama pertemuan ini.
Mobil nya melaju dengan kecepatan sedang menembus jalan raya, Regan sama sekali tidak berbicara apapun, bahkan sepatah katapun tidak keluar dari mulut nya, ia seperti bingung dengan keputusan yang baru saja di ambil, menikahi Luna adalah kebahagiaan bagi Mama nya, namun menjadi penderitaan bagi nya.
Tanpa sadar mereka sudah tiba di depan kontrakan milik Luna, Regan sengaja tak mau turun dengan alasan masih ada urusan lain.
"Aku langsung pulang ya.? " pamit nya setelah memastikan Luna turun dan kembali menutup pintu mobil.
"Yakin gak mau mampir dulu? " tawar Luna basa-basi.
"Enggak deh, masih ada urusan lain. " jawab Regan.
"Oke deh, aku juga mau pergi habis ini, ada janji sama teman. " kata Luna yang langsung melambaikan tangan ke arah Regan. Mobil milik Regan juga sudah menjauh dari pekarangan kontrakan nya.
Luna berjalan memasuki pintu utama, sejak Regan menyatakan akan melamar nya, Luna begitu bahagia, bahkan kebahagiaan itu seolah tidak dapat ia sembunyikan dari siapapun termasuk Ayana.
"Loh kak mau kemana? " Luna berlarian kecil menghampiri Ayana yang sedang berjalan keluar dari arah kamar, tampak Ayana berjalan sempoyongan, ia berpengan pada dinding agar tubuh nya bisa seimbang, kepala nya sedikit pusing.
"Ayo saya bantu.kakak mau ke toilet?" tanya Luna sembari menuntut Ayana sampai ke depan pintu kamar mandi.
Dua menit kemudian, Ayana keluar dari dalam toilet, Luna masih setia menunggu di depan pintu kamar mandi. ia kembali membantu Ayana untuk berjalan ke kamar.
"Sebaiknya kakak jangan banyak bergerak dulu. " Luna tampak begitu perhatian meskipun Ayana merupakan orang asing yang baru ia kenal, namun demikian, Luna merupakan gadis yang baik dan mudah kasihan pada sesama. meskipun ia sempat salah pergaulan karena masalah ekonomi keluarga.
kedua orang tua Luna bercerai, sedangkan Ayah nya sudah meninggal, Ibu nya menikah lagi dan hidup dengan suami baru nya tanpa perduli dengan Luna.
"Bisa antar saya pulang? saya gak mau merepotkan kamu terus. " lirih Ayana lembut.
"Tolong, saya pengen pulang ke kontrakan saya. " Sambung Ayana memohon, ia merasa menjadi beban bagi Luna, meskipun dengan kesadaran penuh Ayana yakin Luna ikhlas menolong nya,karena Luna adalah gadis yang baik.
"Kakak yakin mau pulang? " wajah Luna seperti tidak yakin dengan keputusan Ayana, ia takut terjadi sesuatu dengan Ayana nanti nya, mengingat peristiwa yang baru saja di alami ketika Ayana mencoba mengakhiri hidup.
Tatapan Ayana seolah memohon, ia juga tak ingin berlama-lama di sini karena pasti akan kembali bertemu Regan. apa lagi gadis yang menolong nya adalah kekasih dari pria yang sangat di cintai, Ayana tak ingin menjadi pemicu retak nya hubungan mereka. lagi pula akan semakin sakit hati nya jika melihat Regan dan Luna bersama.
"Oke aku antar kakak pulang, tapi kalau ada apa-apa, kakak jangan sungkan hubungi aku ya? "
Luna bersikap baik hanya karena belum tau hal yang sebenarnya, jika sampai ia tau Ayana mengenal Regan, bahkan sampai memiliki perasaan pada pria itu, mungkin Luna tak akan bersikap demikian.
"Kak, " wajah Luna berbinar-binar, ia tiba-tiba duduk di sebelah Ayana lebih tepat nya di sisi tempat tidur.
"iya, kamu kenapa kok kelihatan nya senang banget gitu? '' tanya Ayana penasaran.
"Aku mau tanya dong kak, emmmm, kakak punya pacar? ''
Mendengar pertanyaan itu, Ayana terdiam bingung, ia tidak tau harus menjawab apa,? sampai akhir nya ia menganggukan kepala.
"Kalau misalkan, pacar kita, mau melamar kita, apa itu artinya dia benar-benar mau serius ya kak sama kita,? emmm maksud ku,! apa dia mau menikahi kita,! ya bisa aja kan cuma di lamar tapi gak dinikahin.?"
Ayana tertawa lirih mendegar perkataan Luna yang terkesan konyol.
"Kamu kok tanya gitu, memang nya kamu mau di lamar siapa? " tanya Ayana tanpa sadar jika Regan adalah kekasih Luna.
"Iya kak, tadi-tadi Regan bilang mau ngelamar aku. " Luna tampak malu-malu menjelaskan nya, kedua pipi nya juga ikut merah merono.
Mendengar pernyataan itu, seketika hati Ayana seperti di sayat, rasa nya begitu sakit, ia tersenyum di balik rasa getir yang di rasakan, bak jatuh tertimpa tangga, sudah menderita karena pernikahan nya dengan Om Wijaya, dan kini Ayana harus menerima kenyataan jika pada akhirnya Regan justru hendak meminang wanita lain.
"apa yang harus aku cemburui, Regan bahkan sudah menemukan pujaan hati nya, aku saja yang terlalu percaya diri jika Regan juga jatuh cinta pada ku, itu hanya cerita masa SMA, perasaan itu bisa saja berubah seiring berjalan nya waktu. " Ayana mengulas senyum saat hati nya bicara.
"Kak eh kok bengong? ''
"Apa? kamu tadi bilang Regan mau ngelamar kamu ya? "
Luna mengangguk mantap.
"Itu berarti dia memang serius sama kamu,dan.., dan kalian akan menikah. "
Mendengar kalimat itu, Luna langsung memeluk Ayana, tangis nya pecah, Luna sangat bahagia, akhirnya penderitaan itu akan segera berakhir, hidup nya akan jauh lebih baik jika sudah menikah nanti, ia benar-benar menemukan pelindung, sejauh ini Luna tidak memiliki arah tujuan hidup, namun setelah bertemu Regan, ia menyadari satu hal, bahwa cinta bisa merubah segalanya, ia juga tidak pernah menyangka jika Regan akan memilih diri nya untuk menjadi pendamping hidup.
Ayana akhir nya kembali ke kontrakan di antar oleh Luna, namun diam-diam Regan membuntuti agar ia bisa tau di mana Ayana tinggal selama ini.
Jadi pada saat Regan pamit pulang, dirinya tidak benar-benar pergi, Regan hanya mampir di sebuah warung yang tidak terlalu jauh dari lokasi kontrakan milik Luna. Regan memiliki tujuan, ia hanya ingin mengambil kesempatan untuk bertemu Ayana tanpa harus melibatkan Luna, Regan ingin bicara empat mata dan ingin meluapkan segala rasa yang terpendam selama ini, bahkan jika di beri kesempatan, Regan ingin sekali memeluk Ayana untuk terakhir kali nya sebelum ia benar-benar menikahi Luna.
Melihat sebuah taksi keluar dari pekarangan kontrakan milik Luna, Regan mulai curiga, ia berharap Luna benar-benar sudah pergi, dan di saat itulah ia bisa menemui Ayana secara diam-diam.
namun saat ia kembali ke kontrakan milik Luna, tidak ada siapa-siapa di sana, Regan mengetuk pintu berkali-kali, sama sekali tidak ada jawaban. ia yakin Ayana ada di dalam sendirian karena Luna juga sudah pergi.
"Luna.!! Luna.!"
panggil nya hanya untuk memastikan apakah Luna benar-benar sudah tidak ada.
"Cari siapa Mas? " Tiba-tiba wanita paruh baya menghampiri Regan yang masih berdiri di depan pintu. ia menoleh dan mendapati wanita itu berdiri di depan kontrakan nya yang bersebelahan dengan kontrakan milik Luna.
"Buk, Luna nya di mana ya? " Tanya nya sopan.
"Mbak Luna pergi Mas, sama temen nya. " jawab ibu itu.
"Teman nya, maksud Ibu, orang yang tinggal di sini? " timpal Regan yang yakin jika Luna ternyata pergi bersama Ayana.
"Iya Mas. "
"Ya udah makasih Buk. "
Lekas Regan kembali menuju warung tempat nya nongkrong tadi, ia mengambil mobil nya lalu membuntuti taksi yang membawa Ayana dan Luna dari Belakang. untung lah laju mobil yang di tumpangi Ayana dan Luna cukup lambat, hingga Regan masih bisa menyusul meskipun dari jarak agak jauh, sesekali Regan kehilangan target, namun kemahiran nya dalam berkendara membuat nya mudah mengatasi hal seperti ini.hanya bermodalkan plat nomor nya saja Regan berhasil sampai di tempat tujuan.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi