Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Saksi
Namun untuk pertama kalinya sejak fitnah itu meledak, Sekar melihat celah di dinding yang dibangun Adrian.
Celah itu harus dijaga.
Keesokan paginya, Bu Wati mengirim pesan ke grup kelas. Semua siswa yang melihat kejadian tangga diminta memberi keterangan setelah jam pelajaran terakhir. Sekolah juga akan memeriksa rekaman CCTV di koridor, meski Pak Arief sudah memberi tahu bahwa sudut kamera tidak menangkap tangga bagian samping dengan jelas.
Adrian datang ke sekolah dengan perban tipis di siku.
Tidak berlebihan. Tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat orang bertanya, lalu merasa kasihan.
Sekar melihatnya dari ujung koridor. Adrian sedang berbicara dengan beberapa siswa, tersenyum lemah, berkali-kali berkata, "Aku nggak apa-apa." Setiap kali ia mengatakannya, tatapan orang-orang pada Kevin menjadi sedikit lebih buruk.
Di depan loker, seorang siswa yang biasanya meminjam charger pada Bryan langsung menutup pintu lokernya saat Kevin lewat. Dua siswi yang sedang tertawa mendadak berhenti, lalu menyingkir ke sisi lain koridor. Tidak ada yang mengatakan sesuatu secara langsung, tetapi jarak yang mereka buat lebih menyakitkan daripada tuduhan.
Sekar menggenggam buku biru di depan dada.
Seorang siswi dari kelas sebelah memberanikan diri bertanya, "Sekar, kamu yakin masih mau bela Kevin? Adrian kelihatannya benar-benar sakit."
Koridor mendadak menunggu jawaban.
Sekar menatap siswi itu. "Aku membela fakta."
"Tapi kamu pacarnya."
"Justru karena aku pacarnya, aku tahu kapan dia marah dan kapan dia menahan diri." Suara Sekar tidak tinggi, tetapi cukup jelas. "Kemarin dia menahan diri."
Siswi itu terdiam. Beberapa orang menunduk, tetapi bisikan tidak hilang. Sekar sadar, tanpa saksi lain, kata-katanya akan selalu dianggap pembelaan pacar.
Kevin berdiri di samping Sekar, wajahnya datar.
"Jangan lihat dia," kata Sekar pelan.
"Gue lihat orang yang bikin masalah."
"Aku tahu."
"Lo sudah makan?"
Sekar menoleh. "Kamu masih sempat tanya itu?"
"Kalau lo marah sambil perut kosong, nanti pusing."
Di tengah semua tekanan, kalimat itu hampir membuat Sekar tertawa. Ia mengambil roti yang disodorkan Kevin, menggigitnya kecil. Kevin baru terlihat sedikit lega.
Saat istirahat, mereka berkumpul di sudut perpustakaan. Steven membawa salinan video yang sudah diperlambat. Yola menyiapkan tangkapan layar pesan-pesan pertama yang menyebarkan rumor. Bryan menulis daftar nama siswa yang berada di sekitar tangga, meski tulisannya lebih mirip resep dokter.
"Ini nama apa?" tanya Yola.
"Nama orang."
"Kelihatan seperti gambar cacing."
"Yang penting gue bisa baca."
Kevin menatap kertas itu. "Gue nggak bisa."
Bryan tersinggung. "Kalian tidak menghargai seni."
Sekar menahan senyum sebentar, lalu kembali fokus. "Yang paling penting tetap Rio. Kalau dia bicara, video buram itu cukup jadi pendukung."
"Kalau dia nggak bicara?" tanya Steven.
Sekar diam.
Itulah ketakutan terbesar mereka.
Rio bukan teman dekat. Ia tidak punya kewajiban membela Kevin. Bahkan reputasinya sendiri tidak terlalu bersih. Kalau ia memilih diam, semua yang mereka punya hanya keyakinan dan video buram.
Bel masuk berbunyi.
Sebelum kembali ke kelas, Sekar mencari Rio di dekat gudang olahraga, tetapi ia tidak ada. Di kantin juga tidak ada. Di lapangan, beberapa siswa berkata Rio pergi ke belakang aula.
Sekar hampir menyusul ketika Kevin menahan tangannya.
"Gue yang cari."
"Jangan."
"Sekar."
"Kalau kamu yang datang, dia bisa merasa ditekan."
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Ia menahan diri lagi. Bagi orang lain, mungkin itu hal kecil. Bagi Sekar, itu bukti Kevin sedang berusaha melawan kebiasaan hidupnya sendiri.
Ternyata mereka tidak perlu mencari terlalu lama.
Setelah pelajaran terakhir, Sekar melihat Rio di koridor belakang aula. Ia tidak sendiri.
Adrian berdiri di depannya.
Sekar berhenti di balik pilar, menahan langkah Bryan yang hampir langsung maju. Kevin belum datang karena dipanggil Pak Arief lebih dulu. Yola dan Steven berada beberapa langkah di belakang.
Suara Adrian terdengar pelan, tetapi koridor cukup sepi.
"Aku dengar Sekar mencarimu."
Rio bersandar pada dinding, ekspresinya malas. "Terus?"
"Aku cuma mau bilang, jangan ikut campur kalau kamu tidak yakin."
"Gue nggak bilang mau ikut campur."
Adrian tersenyum. "Bagus. Masalah ini sudah cukup rumit. Kevin punya banyak pendukung yang emosional. Kalau kamu memberi keterangan yang salah, nanti kamu yang terseret."
Rio menatapnya lama.
"Lo ngancam gue?"
"Bukan. Aku mengingatkan." Adrian menunduk melihat perban di sikunya. "Aku tidak ingin memperpanjang masalah. Tapi kalau ada yang memutarbalikkan cerita, sekolah pasti akan menindak."
Rio tertawa pendek. "Lucu."
Adrian mengangkat alis.
"Lo jatuh sendiri, terus ngomong soal orang lain mutarbalikkan cerita."
Senyum Adrian membeku.
Sekar merasakan jantungnya melonjak.
Rio melihat perubahan wajah Adrian dan menyeringai. "Nah. Muka asli lo keluar sedikit."
Adrian melangkah lebih dekat. "Hati-hati bicara."
"Kenapa? Mau jatuh lagi?"
Untuk pertama kalinya, Adrian tampak benar-benar marah. Namun suara langkah dari ujung koridor membuatnya langsung kembali tenang. Dua siswa lewat sambil membawa buku. Adrian menoleh, lalu mengatur senyumnya lagi.
"Aku harap kamu bijak, Rio."
"Gue juga berharap lo berhenti main drama."
Adrian pergi tanpa melihat ke arah Sekar. Mungkin ia tidak tahu mereka mendengar. Atau mungkin ia tahu, tetapi percaya masih bisa mengendalikan situasi.
Rio baru menoleh setelah Adrian hilang di tangga.
"Keluar," katanya.
Sekar dan Bryan muncul dari balik pilar. Yola dan Steven ikut mendekat.
Bryan mengangkat ibu jari. "Kalimat 'mau jatuh lagi' itu bagus."
Rio menatapnya. "Gue nggak butuh fans."
Sekar melangkah maju. "Rio, sekolah akan minta keterangan setelah jam terakhir."
"Gue tahu."
"Kamu akan bicara?"
Rio menatap ujung koridor tempat Adrian pergi. Wajahnya tidak lagi malas. Ada sesuatu yang keras di matanya.
"Awalnya gue malas," katanya. "Gue pikir ini urusan kalian. Tapi gue paling benci orang yang pura-pura jadi korban setelah bikin orang lain kena."
Sekar menahan napas.
Rio memasukkan tangan ke saku. "Gue akan bilang yang gue lihat. Tapi jangan berharap gue bikin pidato."
Bryan hampir melompat. "Nggak usah pidato. Satu kalimat juga cukup."
"Bisa diam nggak?"
"Susah, tapi untuk hari ini gue coba."
Di ujung koridor, Pak Arief muncul dan memanggil nama-nama siswa yang akan memberi keterangan.
Kevin berdiri di sampingnya. Saat melihat Sekar bersama Rio, matanya bergerak cepat, mencari jawaban.
Sekar mengangguk kecil.
Ketegangan di wajah Kevin turun sedikit.
Rio berjalan melewati Sekar menuju ruang guru. Ketika sampai di depan Kevin, ia berhenti sebentar.
"Gue belum belain lo," katanya.
Kevin menatapnya. "Gue belum bilang makasih."
Rio mendengus. "Bagus. Simpan dulu."
Lalu ia membuka pintu ruang guru dan masuk.
Sekar menggenggam buku biru di depan dadanya.
Kali ini, kebenaran tidak lagi berdiri di luar pintu.