Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Kenapa Kamu Begitu Tahu
"Satu tidak cukup."
Kalimat itu membuat Naomi lupa bahwa ia sebenarnya hanya ingin turun membeli pulpen.
Kelvin masih memegang pergelangan tangannya, ringan, tidak menarik lebih jauh. Matanya turun sebentar ke bibir Naomi, lalu kembali ke matanya. Di luar jendela, hujan menempel pada kaca seperti garis-garis halus.
Naomi tidak bergerak.
Ia juga tidak berkata tidak.
Tapi Kelvin melihat sesuatu di wajahnya, mungkin panik yang terlalu cepat muncul, mungkin cara ia menahan napas seolah tubuhnya belum tahu harus maju atau mundur.
Kelvin melepaskan tangannya.
"Simpan dulu," katanya.
Naomi berkedip. "Apa?"
"Yang tidak cukup."
Wajah Naomi langsung panas.
Kelvin mengambil jaket dari sandaran sofa. "Aku ikut turun. Pulpenmu bisa tunggu, tapi hujan tidak."
"Minimarket gedung dekat."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa ikut?"
"Karena kamu selalu membeli yang paling murah, lalu mengeluh tintanya macet."
Naomi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Itu benar.
Terlalu benar.
Di lift, Naomi menatap pantulan mereka di pintu logam. Kelvin berdiri di belakangnya sedikit, tidak terlalu dekat. Jaket gelapnya menutupi bahu, rambutnya agak berantakan karena baru selesai kerja. Ia terlihat seperti seseorang yang seharusnya tidak peduli pada pulpen murah.
"Kenapa kamu begitu tahu?" tanya Naomi tiba-tiba.
Kelvin melirik pantulan wajahnya. "Tentang pulpen?"
"Tentang banyak hal."
Lift turun perlahan.
Naomi memegang dompet kecil di depan dada. "Saya suka jeruk. Saya tidak kuat pedas. Saya sering lupa makan. Saya beli pulpen murah. Saya..." Ia berhenti sebelum menyebut pinjol, mimpi buruk, kertas lama. "Kamu selalu tahu."
Kelvin tidak langsung menjawab.
Pintu lift terbuka di lantai fasilitas.
"Karena kamu tidak pernah bilang," katanya akhirnya. "Jadi aku harus lihat."
Jawaban itu seharusnya terdengar menyebalkan.
Di telinga Naomi, justru terdengar terlalu hati-hati.
Mereka masuk ke minimarket kecil di lantai bawah. Naomi berjalan ke rak alat tulis, otomatis mengambil pulpen paling murah isi tiga. Kelvin mengambil dari tangannya, lalu memilih merek lain yang sedikit lebih mahal.
"Ini tidak macet."
"Itu dua kali lipat harganya."
"Dan bisa dipakai lebih dari dua kali."
Naomi menatapnya. "Kamu punya pendapat tentang pulpen."
"Aku punya pendapat tentang barang yang membuatmu mengomel tengah malam."
"Saya tidak mengomel."
"Kamu menghela napas seperti orang mau perang."
Naomi menunduk, menyembunyikan senyum. "Itu bukan mengomel."
"Itu versi sopanmu."
Di kasir, Naomi tetap mencoba membayar sendiri. Kelvin tidak merebut dompetnya. Ia hanya menunggu. Hal kecil itu membuat Naomi sedikit lega. Setelah keluar, ia memegang pulpen baru di dalam kantong plastik kecil seperti benda yang tidak seharusnya membuatnya bahagia.
"Terima kasih," katanya pelan.
"Pakai cara lain nanti."
Naomi hampir tersandung lantai lift.
Kelvin menatap lurus ke depan, seolah tidak baru saja menjatuhkan satu kalimat yang membuat seluruh lantai terasa miring.
Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah dari cara Kelvin memperlakukannya.
Bukan menjadi lebih manis secara mencolok. Kelvin tetap Kelvin. Masih berbicara pendek, masih menyebalkan ketika mengoreksi cara Naomi menghemat barang, masih memakai Felix sebagai penerjemah palsu ketika ingin menggoda.
Tapi sentuhannya menjadi lebih hati-hati.
Saat Naomi tanpa sadar memegang folder lama dari koper, Kelvin tidak bertanya lagi. Saat suara motor keras dari jalan bawah membuat Naomi menoleh kaget, Kelvin hanya mengecilkan volume televisi dan menutup jendela. Saat ia bangun dari mimpi dengan mata bengkak, di meja dapur sudah ada air hangat, tapi Kelvin pura-pura sibuk membaca email.
Hal-hal kecil.
Terlalu kecil untuk disebut perhatian jika dilakukan sekali.
Terlalu banyak untuk disebut kebetulan jika terjadi terus-menerus.
Suatu pagi, Naomi menemukan pulpen baru yang sama dengan yang mereka beli di minimarket, satu kotak penuh, di laci meja makan.
"Ini apa?" tanyanya.
Kelvin lewat membawa kopi. "Pulpen."
"Saya tahu ini pulpen."
"Kalau tahu, kenapa tanya?"
"Kenapa banyak sekali?"
"Supaya kamu tidak memakai yang macet."
Naomi menatap kotak itu, lalu menatap Kelvin. "Kenapa kamu begitu tahu?"
Kelvin berhenti sebentar.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab dengan godaan.
"Karena aku mulai ingin tahu dengan benar," katanya.
Kalimat itu membuat Naomi diam lebih lama daripada yang seharusnya.
Ia belum tahu apakah harus merasa dijaga, atau justru takut karena pintu-pintu lamanya mulai diketuk pelan.
Sama sekali belum siap.
***
Malam itu, setelah Naomi masuk kamar dan apartemen menjadi sunyi, Kelvin tidak langsung tidur.
Ia duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka. Di layar, ada beberapa dokumen yang dikirim asistennya. Bukan laporan bisnis. Bukan jadwal meeting.
Nama di folder itu: Naomi Liem.
Kelvin menatap nama itu cukup lama sebelum membuka file pertama.
Ia tahu ia melewati batas.
Tapi selama beberapa minggu terakhir, terlalu banyak hal tidak masuk akal tentang Naomi. Pinjol yang tidak hanya untuk kebutuhan hidup. Kontak lama bernama Mama Rosa yang tidak pernah dihubungi. Reaksi berlebihan pada kertas ulangan SMA. Mimpi buruk tentang sekolah. Cara ia hidup seperti seseorang yang sejak lama belajar bahwa meminta bantuan adalah dosa.
Kelvin tidak suka menebak.
Lebih tepatnya, ia tidak suka menebak ketika tebakan itu bisa membuat Naomi terluka lebih lama.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari asistennya masuk.
"Data sekolah lama sudah ditemukan. Masih perlu verifikasi beberapa arsip kesehatan. Ada indikasi biaya pengobatan lama dan perpindahan wali. Detail menyusul."
Kelvin mengetik balasan.
"Jangan hubungi Naomi. Jangan ganggu kontak pribadinya."
Balasan datang cepat.
"Baik."
File kedua terbuka.
Beberapa data masih kosong. Beberapa bagian tertutup karena perlu akses resmi. Ada nama SMA lama, area tempat tinggal, catatan beasiswa, dan potongan berita kecil tentang warung nasi bungkus dekat sekolah yang pernah tutup mendadak bertahun-tahun lalu.
Kelvin berhenti pada satu lampiran.
Foto.
Buram. Mungkin diambil dari arsip kegiatan sekolah atau unggahan lama yang kualitasnya rusak.
Di foto itu, seorang gadis SMA berdiri di tepi kerumunan, memakai seragam putih abu-abu. Tubuhnya tampak berbeda dari Naomi sekarang. Wajahnya tidak jelas, sebagian tertutup rambut dan bayangan. Di tangannya ada bungkusan nasi.
Kelvin memperbesar foto.
Piksel pecah.
Tapi matanya tetap berhenti pada gadis itu.
Naomi.
Wajah Kelvin perlahan mengeras.
Di layar, di bawah foto buram itu, ada catatan singkat dari asistennya:
"Kemungkinan subjek adalah Naomi Liem saat SMA. Perlu konfirmasi. Ada jejak bullying terkait julukan lokal di grup lama."
Kelvin membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Di luar ruang kerja, apartemen tetap sunyi. Naomi tidur di kamar tamu, tidak tahu bahwa masa lalunya baru saja membuka pintu kecil di layar laptop Kelvin.
Kelvin menatap foto buram itu, ekspresinya semakin gelap.